
Lisa melirik jam tangannya. Sudah jam 12.55. Pesawat ini mendarat tepat waktu. Lisa sungguh tak sabar bertemu keluarganya, terutama sang Ayah. Dia sangat merindukan sosok paruh baya itu. Biasanya mereka tidak berpisah dalam waktu yang cukup lama seperti ini.
“Lis, gue duluan ya. Ortu gue udah nunggu di depan,” kata Anin setelah mendapatkan koper dari area baggage claim.
“Titip salam untuk kedua orang tua lo,” sahut Lisa.
Anin membalas dengan anggukkan singkat sebelum menyeret kopernya ke pintu keluar. Lisa kembali fokus menatap tempat baggage claim yang sedang berputar. Dia menyunggingkan senyum saat menangkap wujud kopernya. Setelah memastikan kalau koper tersebut benar-benar miliknya, Lisa segera menuju pintu keluar. Dari chat WhatsApp Ayahnya tadi, mereka sudah tiba dan sedang menunggu di parkir area utara.
Sunggingan senyum Lisa semakin lebar saat retina matanya menangkap sosok Yanto yang sedang melambaikan tangan. Dia setengah berlari mendekati laki-laki paruh baya tersebut.
“Lisa rindu banget sama Ayah,” ungkap Lisa tatkala mereka sudah berhadapan dan sedang memeluk Yanto.
“Ayah juga rindu kamu, Nak,” sahut Yanto.
“Yuk Yah, kita pulang sekarang! Aku sudah nggak sabar bertemu Aldo dan Mama,” ucap Lisa dengan menggebu-gebu. “Ayah parkir motor Ayah dimana?” Lisa sedikit celingak-celinguk mencari motor bebek berwarna hitam Yanto, tapi di area sini hanya terlihat kendaraan roda empat. Sejak sang ayah mengatakan kalau sedang menunggunya di area parkiran utara, dia sedikit heran, karena setahunya parkiran ini hanya khusus untuk parkir mobil dan sementara keluarga mereka tidak memiliki kendaraan tersebut.
“Mbak!” panggil seorang anak laki-laki.
Mendengar panggilan familiar itu, Lisa langsung menoleh dan matanya menatap binar sosok Aldo yang berlari-lari kecil mendekatinya. Sesaat kemudian, pupil matanya membesar ketika menangkap sosok bertubuh jangkung yang berjalan di belakang Aldo. Benaknya mulai bertanya-tanya, kenapa Yuda bisa berada di parkiran ini? Dan kenapa Yuda bisa bersama Aldo?
“Mbak, kangen!” ucap Aldo dengan nada manja.
Lisa menunduk, menatap Aldo yang sedang memeluk pinggangnya. “Mbak juga kangen dengan Aldo,” balasnya.
“Mbak, Mas Yuda tadi belikan aku ini,” Aldo mengadu sambil menunjukkan kantong berlogokan KFC dan Cokelat Monggo.
Lisa hanya merespons dengan memberikan senyum kecil. Bingung harus bereaksi seperti apa. Keberadaan Yuda di sini sungguh mengejutkannya.
“Udah bilang terima kasih kan sama Mas Yudanya?” tanya Yanto.
Aldo mengangguk mantap. “Udah Yah.”
“Sebaiknya kita pulang sekarang aja, Yud,” usul Yanto.
“Baik Pak,” tanggap Yuda dengan sedikit mengangguk. “Biar aku masukkan kopermu ke bagasi,” ujarnya sebelum mengambil koper dari tangan Lisa dan membawanya menuju belakang mobil.
Tanpa sadar Lisa menghela napas lega. Dia bersyukur untuk tidak duduk di samping kemudi, persis di samping Yuda. Sang Ayahlah yang duduk di sana. Sedangkan Aldo duduk anteng di samping Lisa.
Selama perjalanan menuju rumahnya yang ada di Kaliurang KM 16, Lisa menjadi sedikit pendiam, hanya sekali-kali dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan Yanto. Pikirannya sedang berkecamuk, memikirkan alasan Yuda bisa bersama Ayahnya.
“Boleh Ayah masuk Lis?” tanya Yanto dibalik pintu kamar setelah suara ketukan terdengar.
Lisa yang sedang baring-baring santai di atas tempat tidurnya spontan bangun. “Iya Yah, masuk saja.”
Pintu berwarna merah hati itu terbuka, menampakkan sosok Yanto yang sedang tersenyum lebar ke arah Lisa. Dia berjalan mendekati tempat tidur, kemudian duduk di atas kasur sehingga sekarang mereka saling berhadap-hadapan.
“Gimana kuliahmu, Nak?” tanya Yanto.
“Syukurlah lancar Yah. Teman-teman di sana juga baik-baik.”
“Betah tinggal di Jakarta?”
“Lebih enak di Yogya, Yah. Nggak kena macet,” jawab Lisa sambil terkekeh kecil.
“Hubunganmu dengan Yuda gimana?”
“Gimana bagaimana maksudnya, Yah?” Sebenarnya Lisa ingin melontarkan pertanyaan itu, sedikit tidak mengerti dengan arah pembicaraan ini. Namun bibir ini tidak ingin bergerak dan akhirnya hanya bersuara di dalam hati.
“Kemarin sore Yuda datang ke sini. Awalnya Ayah nggak mengenalnya, wajah Yuda sedikit berbeda jauh ketika SMP. Setelah dia menyebutkan namanya, barulah Ayah sadar kalau dia adalah Yuda yang sering datang ke rumah kita dulu,” kata Yanto mulai bercerita.
Lisa masih memilih bungkam, tidak tahu harus menanggapi seperti apa.
“Katanya kamu dan dia masih menjalin hubungan seperti saat masih SMP dulu, dan maksud kedatangannya ke sini, dia ingin meminta restu untuk menikahimu.”
Reaksi Lisa biasa-biasa saja, tidak terlalu terkejut. Dia sudah mengira sebelumnya mengingat watak Yuda yang sekarang. Namun Lisa masih memilih untuk mengatup mulutnya, membiarkan sang Ayah kembali bersuara.
“Ayah tidak mempermasalahkan kalau kamu mau menikah muda. Apalagi Ayah lihat, Yuda sepertinya sangat bertanggung jawab dan bisa mengayomi. Dari ceritanya, Yuda juga sudah bisa menafkahimu tanpa meminta dengan kedua orang tuanya. Makanya Ayah merestui kalian berdua.”
“Tapi aku belum mau menikah Yah,” ucap Lisa lirih.
“Kenapa Nak?”
“Karena aku belum siap Yah.”
Yanto mengusap-usap kepala Lisa dengan penuh sayang. Ada sedikit rasa lega di dalam hatinya. Yanto memang masih belum ingin melepaskan tanggung jawab anak gadisnya ke tangan laki-laki lain. Tapi melihat keberanian Yuda yang mendatanginya dan mengutarakan keinginannya, entah kenapa dia tidak bisa langsung menolak. Sikap yang ditunjukkan Yuda membuatnya kagum. Meminta restu ke orang tua kekasih itu bukanlah tindakan yang mudah. Butuh keberanian dan tekad yang besar.
“Baiklah, Ayah akan mengatakannya ke Yuda nanti,” ujar Yanto setelah saling diam cukup lama. “Sekarang sudah jam 10, sebaiknya kamu segera tidur,” sambungnya sambil melihat jam dinding.
“Yah!” panggil Lisa saat Yanto hendak berdiri.
“Ada apa Nak?”
“Memang kenapa kamu mau menjadi tutor? Apakah uang yang Ayah kasih kurang?”
Lisa dengan cepat menggeleng. “Nggak Yah. Aku hanya ingin menambah pengalaman saja.”
“Selama tidak mengganggu kuliahmu, silakan!”
“Terima kasih Yah,” ungkap Lisa dengan senyum lebar.
“Istirahatlah! Ayah mau ke kamar dulu,” ujar Yanto sebelum berdiri, segera melangkah menjauh meninggalkan kamar Lisa.
Setelah pintu kamarnya tertutup, Lisa kembali berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Pikirannya berkelana. Menikah. Tidak pernah kata itu terlintas di otaknya sebelum Yuda mengatakan minggu-minggu lalu. Bukan berarti dia tidak ingin menikah, hanya saat ini bukan waktunya. Dia masih terlalu muda, masih belum genap sembilan belas tahun, dan masih ingin menikmati masa-masa kuliahnya.
Sampai sekarang Lisa tidak habis pikir, mengapa Yuda bisa bertindak sampai sejauh ini. Mereka sudah tidak bertemu hampir empat tahun, seharusnya kisah mereka sudah berakhir dan seharusnya cowok itu telah melupakannya. Namun mengapa Yuda masih menyangkut-pautkannya. Apakah alasannya? Apakah dia masih dendam dengan kejadian perselingkuhan tak beralasan itu? Atau karena Yuda hanya ingin mempermainkannya saja? Mungkin saja laki-laki itu membuat taruhan dengan teman-temannya, kan?
Tok... tok... tok... Lisa dan Ria refleks saling berpandangan. Siapa kira-kira yang bertamu di pagi hari seperti ini. Ayahnya baru saja berangkat ke kantor desa, mengikuti acara gotong royong yang diadakan sebulan sekali. Aldo saja belum bangun, masih terlelap nyenyak di dalam kamarnya.
“Biar Mama saja yang bukakan pintu, Lis,” ujar Ria sebelum pergi meninggalkan dapur.
Lisa kembali mencuci daging ayam yang sudah dipotong. Nanti daging-daging itu akan dimasukkan di dalam kulkas. Ria memiliki usaha katering yang cukup banyak diminati pembeli. Besok saja ada sekitar 40 kotak pesanan. Biasanya Ria selalu mempersiapkan segala bahan sehari sebelum pesanan diantar.
Sayup-sayup terdengar suara langkah mendekat diikuti suara yang saling bersahut. Tubuh Lisa mendadak terpaku ketika menangkap nama Yuda yang disebut-sebut.
“Itu Lisanya,” kata Ria saat sudah melewati pintu dapur. “Kamu sudah sarapan, Yud?”
“Sudah Tan. Terima kasih.”
“Segeralah bersiap-siap, Lis!” suruh Ria.
“Bersiap-siap?” Alis Lisa sedikit terangkat.
“Biar Mama saja yang meneruskan mencuci ayam-ayamnya. Kamu ke kamar saja, segera bersiap-siap. Bukankah kamu dan Yuda mau pergi ke SMP kalian dulu?”
Lisa tertegun. Dia memang berencana pergi ke sekolahnya dulu, tapi bukan gedung SMP-nya. Rencananya besok dia dan Anin akan pergi ke SMA mereka. Belum sempat Lisa hendak menyangkal, Ria sudah lebih dahulu mendorongnya untuk menjauh dari dapur. Dengan sangat terpaksa, Lisa menuju kamarnya. Dia tidak langsung memasuki kamar mandi, justru duduk di atas kasur tanpa melakukan apapun. Dia sengaja agar Yuda menunggunya dan ingin membuat cowok itu merasa jengkel. Sejam kemudian, barulah Lisa keluar dari kamarnya. Itupun setelah pintu kamarnya diketuk Ria.
“Kami pergi dulu, Tan,” pamit Yuda sebelum menyalami tangan Ria.
“Ma, Lisa pergi.” Lisa juga menyalami tangan Ria.
Lisa berjalan sangat pelan menuju mobil Yuda yang terparkir di depan rumah, berharap ada sebuah kesempatan yang bisa menghalangi keberangkatan ini. Namun dewi fortuna sedang tidak mendukung. Kendaraan roda empat itu tetap membawanya pergi bersama Yuda.
“Masih ingat dengan cilok Pak Ujang?” tanya Yuda sambil melirik Lisa di sebelahnya.
Lisa memilih bungkam. Tidak sedikitpun berminat untuk menyahutnya.
“Mau singgah ke sana setelah dari sekolah?” ajak Yuda yang kembali mengajak Lisa untuk berinteraksi.
Tidak ada jawaban. Lisa mengunci rapat mulutnya. Sedangkan Yuda yang melihat gelagat Lisa yang tidak tertarik dengan ajakannya, memilih fokus mengendarai mobil. Hening, hanya terdengar suara deru bisingnya kendaraan lain. Akhirnya mobil berwarna silver itu berhenti di sebuah gerbang bertulis SMP Pelita Nusantara II.
“Yuk turun!” ajak Yuda setelah melepas savebelt-nya.
Kali ini Lisa tidak membantah. Dia segera turun dan menatap rindu ke gedung dua tingkat dihadapannya. Sudah hampir empat tahun berlalu dia tidak pernah ke sini. Karena insiden pembullying verbal yang didapatnya, Lisa tidak pernah menginjak kakinya ke SMP Pelita Nusantara II lagi sejak kelulusan. Dia selalu takut datang ke sini, takut kembali mendengarkan kata-kata yang menyakitkan hati, apalagi kata-kata itu kebanyakan dikaitkan dengan ibunya. Meskipun Lisa membenci wanita yang telah melahirkannya tersebut, karena telah meninggalkannya dan sang Ayah untuk laki-laki lain, Lisa tetap tidak mau mendengar orang lain menjelek-jelekkan ibunya. Sejahat-jahatnya dia, wanita itu tetap ibu kandungnya.
“Kamu Yuda, kan? Yang sering nongkrong sama teman-temanmu di Pos Bapak?” tanya seorang laki-laki paruh baya di depan pintu pos saptam yang berada tepat setelah melewati gerbang sekolah, keningnya sedikit mengerut, mencoba mengingat-ingat tentang dugaannya.
Yuda tersenyum ramah. “Iya Pak Marwan.”
“Kamu makin tinggi saja. Dulu sepertinya kamu hanya setinggi hidung Bapak,” tukas Pak Marwan sambil mengingat-ingat sosok Yuda dulu. “Kata teman-temanmu, kamu sekeluarga sudah pindah ke Jakarta?”
“Iya Pak,” angguk Yuda. “Sekarang sedang libur semester, makanya saya ingin lihat-lihat sekolah ini Pak. Kangen sama sekolah ini Pak.”
“Di sebelahmu siapa Yud?” Pak Marwan menyelidik wajah Lisa dengan saksama. “Ini pacarmu dulu, kan Yud?” Wajah Lisa memang tidak asing baginya. Gadis itu memang sering bersama Yuda. Dia memang jarang berbicara dengannya karena Lisa termasuk gadis yang pendiam. Dari teman-teman Yudalah dia tahu kalau gadis berponi tersebut adalah pacarnya. Cowok itu terlihat sangat menyayangi Lisa. Dia akan menunggu Lisa sampai gadis itu dijemput.
“Iya Pak,” sahut Yuda dengan anggukan semangat. Dia begitu bangga karena masih ada orang di masa lalunya dan Lisa yang mengingat status mereka dulu. “Kami boleh masuk ke dalam, kan Pak?”
“Boleh. Masuk saja,” jawab Pak Marwan.
Setelah mengucapkan terima kasih, Yuda dan Lisa berjalan menuju lapangan basket sekaligus lapangan untuk upacara senin pagi. Di sini terlihat cukup sepi. Wajar, sekarang hari sabtu dan tidak ada kegiatan belajar-mengajar.
“Di lapangan itulah pertama kalinya aku jatuh cinta kepadamu,” ungkap Yuda sambil melihat ke arah lapangan.
Lisa tidak merespon, tapi ikut menatap ke arah pandangan Yuda. Dia masih ingat jelas bagaimana interaksi pertama mereka. Saat itu Yuda dan teman-teman sedang bermain bola basket, tidak sengaja bola mereka menggelinding hingga ke kaki Lisa yang hendak menuju ke ruang guru. Yudalah yang menghampirinya karena ingin mengambil bola itu. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya saja dia menatap Lisa dengan lekat. Beberapa hari kemudian, Yuda mulai mendekatinya dan mengajak berinteraksi. Sebulan berlalu, Yuda pun mengungkapkan perasaannya dan tanpa ragu Lisa menerimanya.
“Mas Yuda?”
Yuda dan Lisa refleks menoleh ke belakang. Yuda sedikit mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat siapa nama cewek berbandana merah muda yang tadi memanggil namanya. Sedangkan raut wajah Lisa langsung menegang. Tidak menyangka akan bertemu dengan salah satu orang yang pernah merundungnya dulu.