Connected

Connected
Episode 14 Tidak Akan Pernah Menikah



MOHON VOTE, LIKE, DAN COMMENT NYA YAN😄😄😄


“Lis... Lisa,” panggil Anin dari balik pintu diikuti suara ketukan.


“Ya, bentar Nin,” jawab Lisa sambil bangkit dari kasurnya dan segera mendekati pintu. Dahinya sedikit mengernyit melihat sosok tak dikenalnya berdiri di samping Anin. “Kenapa Nin?”


Anin melangkah memasuki kamar Lisa, “Yuk siap-siap!”


“Siap-siap apa?” Kernyitan di dahi Lisa semakin terlihat jelas.


“Silakan Mbak! Dia yang akan di make up,” ujar Anin pada sosok yang tadi mengikutinya. “Dia Mbak Widi Lis, seorang MUA,” terangnya.


“Yuk kita mulai,” ucap Widi sambil membuka kotak hitam yang tadi dibawanya.


Baru saja Lisa hendak melontarkan beberapa pertanyaan, karena masih bingung kenapa seorang MUA, alias Make Up Artis, datang ke kamarnya, nada dering By The Seaside terdengar. Lisa segera menghampiri bufet di mana ringtones tersebut berasal. Ada panggilan telepon dari Yuda.


“Halo,” sapa Lisa setelah menggeser tombol hijau.


“Mbak Widinya sudah datang?” sahut sosok di balik ponsel.


“Sudah.”


“Udah lihat kebayanya?”


Lisa melihat beberapa kepala hanger yang tergeletak di dekat Widi dan sebuah paperbag. Dia menduga kalau itu pasti kebaya yang dikatakan Yuda tadi, meskipun dia tidak bisa melihat bagaimana bentuknya karena tertutup oleh sampul berwarna hitam. “Ya,” balasnya.


“Satu jam lagi aku jemput.”


“Memangnya mau ke mana?”


“Kita akan pergi ke pernikahan anak dari adik ipar abang Mama. Papa dan Mama tidak bisa pergi ke sana, karena sudah ke Singapura. Jadi kita yang mewakili mereka,” jelas Yuda yang terdengar sangat antusias.


“Tapi aku—“


“Jangan membantah. Satu jam lagi kamu sudah harus siap,” sela Yuda sebelum memutuskan sambungan telepon mereka.


Lisa kontan menghela napas panjang. Semakin hari Yuda semakin mengaturnya dan semakin mengekangnya. Semua keinginan cowok itu harus dituruti. Dia tidak menerima penolakan atau bantahan. Bila menolaknya, Yuda tidak segan-segan membuat kegaduhan. Dia memiliki seribu satu cara untuk memaksa kehendaknya. Bahkan kemarin, Yuda nekat memberhentikan mobilnya di tengah-tengah jalan yang sedang ramai-ramainya, hanya karena Lisa menolak untuk ikut ke kafe Connected miliknya.


“Bang Yuda?” tebak Anin.


Lisa hanya mengangguk pelan. Kemudian dia menghampiri Widi yang sudah siap dengan peralatan make up-nya. “Kita mulai sekarang aja Mbak,” lirih Lisa, terdengar sangat enggan untuk melakukannya.


“Kalau rambutnya mau di gimanain nanti?”


“Terserah aja Mbak.”


“Mbak Widi udah lama kenal dengan Bang Yuda?” tanya Anin kepo. Mengingat Yuda yang sangat acuh dengan cewek-cewek yang mencoba mendekatinya, dan jika dilihat dari profesi Widi yang merupakan seorang MUA yang cukup terkenal di Instagram, jelas Anin merasa sangat penasaran bagaimana dia dan Yuda bisa saling mengenal.


“Nggak kok. Baru kemarin kenalnya,” jawab Widi di sela-sela mengrias wajah Lisa. “Mbak dan teman-teman Mbak sering makan di kafenya Yuda. Dan kemarin, tiba-tiba Yuda menghampiri meja kami dan bertanya apakah Mbak seorang make up artis. Dia meminta Mbak untuk make up-in pacarnya. Katanya mereka mau ke pernikahan keluarga,” sambungnya.


“Kalau itu apa Mbak?” Anin menunjuk hanger yang di sampul plastik hitam yang sejak tadi menari perhatiannya.


“Kebaya untuk Lisa.”


“Mbak yang milih?”


Widi menggeleng. “Nggak. Yuda yang memberikan.”


“Gue lihat ya, Lis,” izin Anin.


Tanpa menunggu balasan Lisa, Anin sudah mengambil hanger tersebut dan membukanya. Kedua maniknya berbinar takjub menatap kebaya yang sedang dipegangnya. Kebaya tersebut benar-benar sangat cantik, dengan warna coklat susu dan brokat yang memiliki tekstur timbul yang tegas, memberikan kesan mewah.


“Kebaya itu berbahan brokat prada, kan?” tanya Widi.


“Nggak tahu Mbak,” jawab Anin dengan menggeleng.


Widi berhenti sebentar mengusap kuas ke wajah Lisa. Dia menghampiri Anin untuk menemukan jawaban pertanyaannya. “Ternyata memang benar brokat prada,” ujarnya terkagum-kagum.


“Memang kenapa kalau brokat prada, Mbak?”


“Brokat prada itu jenis kain yang harganya paling mahal dari kain lain,” jelas Widi.


“Benarkah Mbak?” tanya Anin, ingin memastikan lagi.


“Iya,” angguk Widi.


“Ck, ck, ck, dasar Bang Yuda bucin!!” Anin berdecak heran.


“Bucin? Budak cinta maksudnya?” tanya Widi.


Anin mengangguk semangat. “Bang Yuda itu nggak bisa jauh-jauh dari Lisa Mbak, makanya kami sering menyebut Bang Yuda itu bucin. Mereka juga pasangan paling fenomenal di kampus, nggak ada yang nggak tahu di fakultas MIPA dan Ekonomi. Pokoknya di mana ada Lisa, di situ ada Bang Yuda. Dan beberapa hari lalu, Bang Yuda baru saja membelikan IPhone Xs untuk Lisa.”


“Ternyata Yuda sangat royal ya,” puji Widi.


“Bukan hanya royal saja Mbak, Bang Yuda itu setia banget. Dia juga tampan, kaya, baik, pokoknya tipe cowok idaman banget deh,” timpal Anin.


Sedangkan Lisa hanya bisa menghela napas panjang saja. Tidak sedikitpun berminat untuk mengikuti pembahasan kedua cewek tersebut. Memang diakui, Yuda memanglah tipe cowok idaman bagi cewek-cewek. Adakalanya dia juga jadi baperan, meskipun begitu Lisa tetap tidak bisa menerimanya. Dia juga tidak tahu sampai kapan Yuda akan bersikap seperti ini kepadanya. Sejujurnya dia mulai jengah, terutama dengan semua pemberian cowok itu.



Lisa memperhatikan saksama penampilannya di depan kaca. Dia terlihat sangat cantik dengan bulu mata lentik, tulang hidung yang terlihat jelas, dan rahang pipi yang tirus. Inikah kekuatan dari make up yang banyak dirasakan orang-orang? Walaupun begitu, tidak terlihat sunggingan senyum di bibirnya. Dia hanya menatap datar pantulan dirinya di cermin.


“Lo cantik banget Lis, kayaknya pengantin saja,” puji Anin terkagum-kagum. Kebaya berbrokat prada tersebut sangat cocok dengan make up natural yang dipakai Lisa. Cewek itu terlihat bersinar, aura kecantikannya keluar.


“Lisa tanpa make up pun udah cantik,” gumam Widi.


Kepala Anin mengangguk menyetujui. “Makanya Bang Yuda nggak bisa jauh-jauh, takut Lisa diambil orang.”


“Biaya untuk make up-nya berapa Mbak?” tanya Lisa sambil melangkah mendekati belakang pintu, berniat mengambil dompetnya. Dalam hati dia berharap, uangnya bisa cukup untuk membayarnya mengingat Widi seorang MUA dan harganya pasti mahal.


Lisa mengembuskan napas panjang. Setiap Yuda membayarnya atau membelinya barang-barang mahal, sebenarnya Lisa merasa terbebani. Dia sangat tidak mengharapkan itu semuanya. Lisa merasa menjadi cewek materialistis meskipun bukan dia yang meminta.


Widi melihat layar ponselnya sebelum mengangkat kotak peralatan make up-nya. “Jemputan Mbak sudah di depan. Mbak harus pulang sekarang. Terima kasih sudah memakai jasa Mbak. Kalau butuh jasa make up lagi, bisa hubungi Mbak.”


“Sama-sama Mbak. Terima kasih juga sudah mengrias wajahku Mbak,” balas Lisa.


Anin tiba-tiba berdiri dari kasur. “Biar aku antar ke depan Mbak.”


Setelahnya kedua cewek tersebut keluar dari kamar Lisa. Sementara Lisa berjalan menuju IPhone-nya yang kembali berbunyi.


“Halo,” ucap Lisa ogah-ogahan.


“Udah selesai?” tanya Yuda di ujung telepon.


“Sudah.”


“Aku sebentar lagi sampai di kosanmu.”


“Ya,” sahut Lisa masih terdengar enggan sebelum panggilan telepon itu berakhir.


“Bang Yuda?” tanya Anin bertepatan dengan Lisa yang meletakkan ponselnya di atas bufet kembali dan dibalas anggukkan singkat. “Bang Yuda pasti akan terpesona sama lo Lis. Malam ini lo cantik banget,” timpalnya memuji.


“Thanks,” sahut Lisa dengan nada datar.


“Jangan-jangan Bang Yuda mau ngajak lo ke KUA,” tebak Anin, dia terdengar sangat senang karena tebakannya tersebut.


“Nggak mungkin. Karena gue tak akan pernah menikah dengannya,” bantah Lisa cepat.


“Kenapa? Kenapa lo nggak mau menikah dengan Bang Yuda? Pasti bukan hanya karena masih dendam, kan? Meskipun dia pernah menyakiti lo dulu, tapi sekarang dia sudah berubah. Dia terlihat sangat mencinta lo. Lagian kejadian itu sudah bertahun-tahun lalu, tidak perlu diungkit-ungkit.”


“Karena gue—“


Nada dering By The Seaside menyela ucapan Lisa. Dia segera mengambil ponsel tersebut dan melihat layarnya. “Yuda sudah di depan. Gue harus pergi sekarang,” ucapnya tanpa berniat menjawab panggilan tersebut. Dia segera memasukkan IPhone dan dompetnya ke dalam tas yang juga diberikan Yuda, sepaket dengan Kebaya tersebut.


“Oke, hati-hati di jalan,” sahut Anin mengantar kepergian Lisa.


Saat Lisa keluar dari pintu kosan, Yuda sudah berdiri di depan pintu mobilnya. Seperti perkataan Anin, Yuda benar-benar terpesona dengan penampilan Lisa. Matanya seolah tak berkedip mengikuti setiap pergerakan cewek itu. Baginya, setiap hari Lisa selalu terlihat cantik. Tapi malam ini Lisa terlihat lebih cantik daripada hari-hari biasanya. Mata Yuda tak bisa lepas untuk terus memandang paras itu.


“Masuklah!” ujar Yuda setelah sadar dari kekagumannya. Dia membuka pintu di samping kemudi.


Lisa masuk ke mobil tersebut dengan mulut bungkam. Yuda juga segera menduduki kursi di depan setir. Kemudian mobil fortuner putih itu mulai bergerak, menjauh dari area kosan. Hampir satu jam perjalanan menuju tempat acara pernikahan itu. Selama perjalanan, Yuda sangat sering melirik ke Lisa, menatap wajah ayu Lisa yang bersinar. Dia benar-benar terpikat.


Yuda mengambil tangan kiri Lisa, memegangnya. “Genggam tanganku!” perintah Yuda saat mereka berdiri di gapura pintu masuk yang sudah disulap sangat indah dengan taburan bunga-bunga putih. “Kita bertemu dengan Om Ridwan dulu,” sambungnya.


Lisa tak menanggapi. Dia memilih pasrah saja Yuda mau membawanya ke mana, selagi laki-laki tidak bertingkah berlebihan, seperti menciumnya. Setelah bertemu dengan keluarga Om Ridwan, Yuda membawanya ke panggung pelaminan, mengajak bersalaman dengan Bagas dan Ratih yang menjadi raja dan ratu sehari tersebut. Kemudian baru mereka menikmati hidangan yang sudah disediakan. Beberapa kali, di sela-sela mereka makan, ada beberapa orang yang menyapa Yuda.


“Gue kira lo nggak dateng,” ucap sosok berambut gondrong yang tiba-tiba duduk di samping Yuda.


“Bokap nyokap gue nggak bisa datang, Vin. Jadi gue yang dateng.”


Sosok bernama Kevin itu kini melihat Lisa dengan penuh penasaran. “Siapa? Bini lo?”


“Iya,” jawab Yuda mantap.


“Hah? Kapan lo nikahnya? Kenapa lo nggak ngundang-ngundang gue?”


Yuda terkekeh kecil. “Nanti gue kirim undangannya.”


Kevin mendengus kecil setelah menyadari maksud perkataan Yuda. Dia sungguh terkejut tadi saat Yuda mengatakan kalau cewek cantik berkebaya coklat susu itu adalah istrinya. Niatnya hanya bercanda, tak menduga Yuda menjawabnya tanpa keraguan.


Kevin mengulurkan tangannya. “Gue Kevin. Sepupunya cowok sok tampan ini.”


“Lisa,” jawab Lisa dengan membalas uluran tangan itu.


Tiba-tiba, raut wajah Kevin menunjukkan keterkejutan, kemudian berubah menjadi sumringah dengan kerlingan menggoda. “Jadi lo yang namanya Lisa?!”


“Jangan lama-lama salamannya,” tukas Yuda sambil menepis tangan Kevin.


“Cih, sok posesif lo!” celetuk Kevin.


“Hush... hush... pergi sana lo!” usir Yuda.


“Jangan lupa besok tanding futsal di tempat biasa,” ujar Kevin sebelum bangkit dari tempat duduknya dan beranjak menjauh.


“Kamu jangan dekat-dekat dengannya!” peringat Yuda.


“Ya,” sahut Lisa singkat.


“Habiskan makanmu, setelah itu kita pulang.”


Lisa menghela napas lega. Akhirnya mereka akan pulang juga. Dia mulai merasa tidak nyaman di tempat ini.


Beberapa menit kemudian, Lisa dan Yuda sudah berada di dalam mobil. Kendaraan roda empat itu membawa mereka pergi dari keramaian pesta.


“Apa kamu tidak ada keinginan menjadi seperti Mbak Ratih tadi?”


“Tidak,” jawab Lisa tanpa menolehkan kepala. Sebenarnya dia memang ada keinginan, tapi dia tahu kalau keinginannya tersebut tidak akan terwujud. Sudah lama dia memutuskan untuk tidak menikah, mungkin sejak dia mengetahui adanya keabnormalan di dalam tubuhnya. Dia memilih untuk sendiri saja, daripada merusak kebahagiaan seseorang.


Cukup lama hening sebelum tiba-tiba Yuda berucap dengan menggebu-gebu, “Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Sejak meninggalkan kosanmu, aku sudah ingin menyentuhmu. Aku ingin merasakan tubuhmu yang membuatku candu itu lagi.”


Lisa refleks menoleh ke samping kemudi. Matanya menatap horor ke Yuda yang ternyata sedang menatapnya dengan kilatan berhasrat.



TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. JANGAN LUPA BERI KRITIK DAN SARAN SUPAYA CERITA INI SEMAKIN BAGUS 😇