Connected

Connected
Connected 28 Paket



Lisa melirik sekilas ponselnya yang kembali berdering, masih dari orang yang sama dan dia tetap tidak ingin mengangkatnya. Dia melanjutkan lagi menatap layar laptop yang sedang menampilkan penampilan dari BTS. Ini hari Sabtu, tidak ada jadwal kuliah, dan dia berniat untuk berleha-leha saja setelah pagi tadi membersihkan dan merapikan kamarnya.


Saat sedang berdecak kagum atas aksi ketujuh laki-laki Korea Selatan itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan, memaksa Lisa untuk menekan tombol pause dan berjalan mendekati pintu. “Oh, Mbak Yuli? Ada apa, ya Mbak?”


“Ada Yuda di depan. Dia minta tolong mbak memanggilmu, katanya kamu tidak mengangkat teleponnya,” terang Yuli.


“Ehm, iya Mbak. Makasih,” kata Lisa yang merasa tidak enak hati karena Yuda harus melibatkan orang lain. Seharusnya cowok itu sudah tahu mengapa dia tidak mengangkat teleponnya, bahkan me-reject-nya. Dia juga sudah menjelaskan via WhatsApp, mengatakan kalau dia sedang tidak ingin diganggu, tapi sepertinya Yuda tak mengacuhkannya.


Lantas Lisa masuk ke dalam kamar, mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu. Mau tak mau dia terpaksa harus menemui Yuda dan kali ini dia akan mengatakan secara gamblang, dia tidak ingin pergi ke mana-mana, ingin berada di dalam kosan saja sambil menonton BTS di laptop. Dan tidak bisakah Yuda meninggalkannya sendiri di waktu weekend seperti ini? Tidak cukupkah selama ini dia selalu mengintil ya? Dia juga butuh privasi.


Bertepatan Lisa memasuki teras,  Yuda baru saja menyerahkan bukti terima yang selesai ditandatangani dan menerima sebuah paket.


“Paket untuk siapa?” tanya Lisa sambil duduk di kursi bambu yang sengaja diletakkan di sana.


“Untukmu,” jawab Yuda tanpa menoleh, sedang sibuk memperhatikan tulisan yang tertempel di bungkus paket, ingin mengetahui apa yang dibeli Lisa, karena ukuran paket tersebut cukup kecil, sekitar sepuluh centimeter saja.


Lisa refleks hendak merampasnya, namun Yuda sudah lebih dulu mengangkatnya ke atas. “Berikan padaku!” pinta Lisa sambil berusaha menggapai-gapai paketnya. Dia harus segera mendapatkannya sebelum Yuda mengetahui apa isi paket tersebut.


“Aku akan memberikannya asalkan kamu ikut denganku.”


“Sudah kubilang kalau aku mau di kosan saja, aku nggak mau ke mana-mana.” Lisa masih tetap dengan pendiriannya, karena dia sudah terlalu jenuh dengan keberadaan Yuda di sekelilingnya yang hampir 7/24. “Itu paketku, kamu tidak berhak mengambilnya,” kata Lisa yang terus berusaha mengambil paketnya, namun sia-sia karena tubuh Yuda terlalu menjulang.


“Aku nggak akan memberikannya jika kamu tidak mau ikut denganku. Dan memangnya kamu membeli apa sih, sehingga kamu tidak sabar untuk membukanya? Apa ini kosmetik?” ujar Yuda yang tiba-tiba menjadi penasaran.


“Baiklah, aku akan ikut. Jadi segera berikan paket itu.” Akhirnya Lisa memilih untuk mengalah, daripada membuat Yuda semakin penasaran. “Aku janji,” sambungnya sambil menunjukkan jarinya yang membentuk huruf V saat melihat reaksi Yuda yang seolah tidak percaya.


“Ganti pakaianmu, aku tunggu sepuluh menit,” kata Yuda dengan menyerahkan paket tersebut.


Lisa tidak menyahut, hanya memberi dengusan kasar sebelum meninggalkan teras. Dia cukup beruntung karena Yuda tidak membuka paketnya mengingat bagaimana sikap egois laki-laki itu. Lisa langsung mengunci kamarnya dan menutup pintu jendela setelah masuk ke dalam kamar. Dia tidak ingin ada seorang pun yang tahu tentang isi paket ini. Akhirnya paket yang dipesannya saat di rumah sakit datang juga, setelah sempat mengalami kendala pengiriman karena overload.


Di zaman sekarang apa pun bisa dibeli secara online. Baru-baru ini saja ada kasus yang sedang viral karena babi ngepet, dan ternyata babi tersebut dibeli secara online dengan kondisi hidup. Jadi membeli morning after pill atau pil kontrasepsi darurat bukanlah sesuatu yang sulit. Lisa sengaja membelinya sebagai bentuk antisipasi, sebab dia tahu kalau Yuda berniat menyentuhnya lagi. Dia tidak ingin hamil di luar nikah lagi. Tapi jauh di lubuk terdalamnya, Lisa berharap kalau dia tidak akan pernah menggunakan obat ini, karena pil tersebut tidak disarankan untuk dikonsumsi secara rutin. Pil kontrasepsi darurat ini bisa digunakan jika lupa memakai pengaman atau dipaksa untuk berhubungan s3ksual.


Ponsel Lisa yang ada di samping laptop berbunyi, pasti dari Yuda. Lisa segera memasukkan pil tersebut ke dalam tas, kemudian mengambil celana panjang di lemari plastik dan hoodie di belakang pintu. Dia tidak lupa mematikan laptopnya dan memastikan tidak ada cok listrik yang tersambung.


“Kita mau ke mana?” tanya Lisa yang tampak ogah-ogahan menghampiri Yuda.


“Temani aku main basket,” jawab Yuda.


Bukan pertama kalinya Yuda meminta Lisa untuk menemaninya. Dulu saat mereka masih SMP, sambil menunggu jemputan sang ayah, Lisa sering duduk di pinggir lapangan untuk menonton Yuda bermain basket. Tapi Lisa tidak dapat menyembunyikan keheranannya ketika mobil Fortuner ini memasuki kampus. Dikiranya Yuda akan mengajak ke lapangan di dekat apartemen laki-laki itu seperti biasanya.


“Kok di sini?”


“Aku ada tanding basket dengan anak-anak di fakultasku,” jawab Yuda dengan memutar kunci mobil.


“Kenapa nggak bilang dari awal? Kalau aku tahu, aku tidak mau di ajak ke sini. Aku tidak mengenal satu pun anak FE,” ungkap Lisa yang terdengar kesal. Dia juga baru menyadari kalau Yuda sedang memakai seragam basket bertuliskan Manajemen34.


“Tapi aku—“


“Gue kira lu nggak datang Yud?” potong seseorang yang menghampiri Yuda.


“Macet nih,” sahut Yuda beralasan. “Lo kenapa ada di parkiran, Lang? Nggak ikut tanding?”


“Ngambil handuk gue yang tertinggal di mobil.”


“Sudah kuartal berapa?”


“Baru selesai kuartal pertama. Sekarang sedang break.”


“Yuk Sa!” ajak Yuda dengan menggenggam tangan kiri Lisa, menuntun agar mengikutinya.


Lisa hanya pasrah, membiarkan Yuda membawanya memasuki area fakultas ekonomi. Dia hendak menolak, namun malu jika laki-laki yang tidak diketahui namanya itu melihat perdebatan mereka, apalagi mereka sedang berada di parkiran fakultas. Meskipun sedang weekend, tempat ini terlihat penuh dan beberapa kendaraan yang keluar masuk.


Lapangan fakultas ini tampak riuh, bersorak-sorak. Ternyata banyak juga yang menonton, bukan hanya dari fakultas ekonomi saja. Lisa juga melihat kakak-kakak angkatannya, serta sosok Amira di antara para penonton. Sudah hampir sebulan sejak pertemuan mereka di rumah sakit, memang tidak terdengar gosip apa pun yang menyangkut namanya. Amira juga tampak tidak lagi menunjukkan ketertarikan terhadap Yuda, entah apa penyebabnya. Meskipun begitu Lisa masih belum bisa menghilangkan kegelisahan ini. Beberapa kali dia berniat untuk berbicara empat mata, hanya saja tidak ada kesempatan. Amira selalu dikelilingi teman-temannya.



“Kami sudah datang bulan?” tanya Yuda di sela-sela fokus menyetir.


Lisa kontan menoleh ke samping kanan, menatap dengan tatapan sinis.


“Setahuku, kamu selalu PMS di tengah-tengah bulan seperti ini, kan?” imbuh Yuda lagi.


“Bukan urusanmu,” tukas Lisa ketus.


Yuda terkekeh kecil melihat reaksi Lisa. Cewek itu terlihat menggemaskan. “Kita ke apartemenku dulu ya?!” tanpa menunggu persetujuan Lisa, Yuda membelokkan mobilnya.


“Tidak, kamu sudah janji akan mengantarku ke kosan,” bantah Lisa yang sekarang menatap Yuda dengan horor dan raut cemas.


Kembali Yuda tertawa kecil, ekspresi Lisa begitu menghiburnya. “Tenang saja, kamu tidak perlu khawatir seperti itu. Aku tidak akan menidurimu, setidaknya tidak untuk sekarang. Kamu masih dalam proses pemulihan. Aku hanya ingin mandi, tubuhku benar-benar berkeringat.”



TERIMA KASIH SUDAH MENANTIKAN KELANJUTAN CONNECTED MESKIPUN SELALU NGARET :( 


PLEASE LIKE, COMMNET, AND VOTE BIAR SEMAKIN RAJIN UPLOAD


BISA JUGA FOLLOW IG AKU: @ALSAEIDA0808