Connected

Connected
Episode 23 Yuda versus Vian part 2




“Mas Vian!" teriak Lisa sambil mendekati Vian yang terjerembap di lantai.


Vian memegang pipinya yang menjadi sasaran pukulan Yuda. Bola matanya menatap bingung ke sosok laki-laki jaket kulit hitam yang sedang menatap nyalang, begitu pula orang-orang yang duduk di sekitar mejanya dan Lisa. Beberapa orang bahkan berteriak kecil melihat kejadian mengerikan yang tiba-tiba terjadi di depan mata mereka.


"Kamu tidak apa-apa, Mas?” tanya Lisa memperhatikan saksama wajah Vian.


Melihat sikap Lisa yang terlihat sangat khawatir, Yuda menjadi berang. Amarah menguasainya. Dia menarik lengan Lisa dengan kasar dan membawa gadis itu menjauh. Lisa mencoba memberontak, berusaha melepaskan cengkeraman Yuda yang sedikit menyakitkan. Mungkin menimbulkan jejak merah nanti.


"Lepaskan!” tukas Lisa seraya menggerak-gerakkan lengannya.


Jemari Yuda tidak bergeming, justru semakin erat. Dia menyeret Lisa menuju parkiran dan mendorong gadis itu untuk masuk ke dalam mobil Fortuner-nya. Lisa tidak bisa menutupi keresahannya selama mobil putih ini membelah jalanan. Laki-laki di sampingnya kini terlihat sangat menakutkan. Suara nafas Yuda terdengar bergemuruh, dengan rahang  mengeras dan tatapan sengit yang sekali-kali melirik.


Rasa resahnya semakin menjadi-jadi ketika mobil memasuki area parkir apartemen Yuda. Dia bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Butir keringat kecil mulai muncul di keningnya.


“Turun!“ kata Yuda dengan nada yang sedikit tinggi. Lisa tak terlihat berniat turun.


Lisa memperhatikan keadaan sekitar parkiran, berharap ada seseorang yang lewat dan bisa menolongnya.


"Turun!" sekali lagi Yuda memerintah, nada suaranya masih sama.


"Tidak,” tolak Lisa.


Gigi Yuda saling beradu, menimbulkan bunyi menggeletuk. Rahangnya semakin menegang. Dengan tarikan kasar, Yuda memaksa Lisa turun. Lisa mencoba bertahan di posisinya, tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan. Lelaki itu menyeretnya memasuki lift. Lisa terus memberontak, berharap cengkeraman itu bisa lepas. Namun semua usahanya sia-sia, justru cengkeraman yang kuat dan menyakitkan.


Yuda melempar tubuh Lisa ke atas kasur. Dia melepaskan jaket kulitnya dan kancing-kancing kemejanya. Sedangkan Lisa menatap ngeri. Dia berusaha turun dari kasur, tapi Yuda kembali membanting tubuh Lisa ke atas kasur, menumpukan kedua lututnya di sisi kiri dan kanan.


Sekarang mata Lisa berkaca-kaca. Dia tidak ingin mengalaminya lagi. Dia tidak mau Yuda kembali menyentuh tubuhnya. Dengan kekuatan yang masih tersisa, Lisa terus berusaha untuk lepas sebelum akhirnya memilih untuk menyerah. Air matanya tidak berhenti mengalir. Penyatuan ini sungguh menyakitkan. Yuda melakukannya tanpa menunggu Lisa siap. Raut wajah Yuda terlihat sangat mengerikan.



Yuda merasa terusik. Matanya sedikit demi sedikit mulai terbuka sebelum menoleh asal sumber suara. Deringan dari arah sofa kembali berbunyi. Perlahan dia bangkit dan menapakkan kakinya ke lantai keramik. Diambil celana boxer yang tergeletak tak jauh dari tempat tidur. Dia memperhatikan Lisa yang masih terlelap dengan sisa air mata yang masih membekas.


Kesekian kalinya deringan itu kembali terdengar. Yuda menggerakkan kakinya ke sofa, mengambil ponsel Lisa dari dalam tas. Melihat nama Anin, Yuda melangkah mendekati Lisa yang sedang mengerjap-ngerjap pelan, mungkin merasa terganggu.


"Dari Anin,” ujar Yuda sambil menyodorkannya.


Dengan kesadaran yang masih belum terbangun, Lisa terpaksa mengambil ponsel itu dan langsung menjawabnya. “Ya Nin? Ada apa?”


“Lo di mana?” balas Anin di balik telepon.


“Kenapa Nin?” Lisa memilih tidak menjawab. Tidak mungkin dia mengatakan kalau sedang berada di apartemen Yuda dan sedang berada di atas tempat tidur laki-laki itu dengan tubuh telanjang yang ditutupi selimut.


“Lo jadi ikut kerja kelompok di perpus, kan?“


“Jadi kok.” Lisa melirik jam dinding di atas cermin, “jam 8, kan?”


“Gue mau makan dulu di hot chicken. Lo mau ikut nggak?”


“Oke. Sampai bertemu di perpus.”


“Ya,” sahut Lisa dan panggilan itu pun berakhir.


Lisa bergerak turun dari kasur, hendak melangkah ke kamar mandi dan segera membersihkan diri dari sisa-sisa pergumulan paksa Yuda. Baru beberapa langkah berjalan, perutnya merasa kram dan sedikit menyakitkan. Keningnya bahkan menunjukkan kenyitan kecil.


“Kenapa?” tanya Yuda sambil menghampiri Lisa.


Lisa memilih bungkam. Dia kembali menggerakkan kakinya menuju kamar mandi. Dia menatap prihatin ke sosoknya yang tampak menggemaskan dan terlihat kacau di depan kaca. Jejak air mata masih terlihat jelas menghiasi kelopak matanya. Ruam-ruam merah di sekitar leher seolah mengejek. Perut bagian bawahnya juga masih terasa sakit. Yuda bermain dengan sangat kasar. Laki-laki itu bahkan menggigit pundaknya, meninggalkan tanda gigitan di sana.


Lisa keluar dari balik pintu kamar mandi dengan bathrobe putih yang membungkusnya. Dia memungut pakaian yang berceceran di lantai. Tak diindahkan sosok Yuda yang sedang duduk di atas kasur dengan ponsel di tangannya. Rambut Yuda terlihat basah. Kemungkinan dia mandi di kamar yang lain.


"Kembalikan HP-ku,” pinta Lisa yang terdengar memohon. Dia baru menyadari kalau ponsel di tangan Yuda adalah ponselnya setelah mengobrak-abrik tas selempangnya.


“Aku akan memblokir nomor Vian,” sahut Yuda yang masih berkutat dengan ponsel di tangannya, mengabaikan permintaan Lisa.


“Kembalikan HP-ku,” sekali lagi Lisa meminta.


Yuda merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya. "Kamu pakai HP-ku saja.”


“Aku mau ponselku!”


“Tidak. Ponselmu aku sita dulu. Kamu pakai ponselku saja.”


“Kamu tidak bisa bertindak semena-mena seperti ini,” tukas Lisa setengah berteriak.


“Aku bisa, karena kamu milikku,” sahut Yuda lantang, kemudian memaksa meletakkan ponselnya ke tangan Lisa.


Mata Lisa menatap tajam, tampak sangat kesal dan marah. Dia berjalan menuju sofa, mengambil tasnya yang tergeletak di sana dan menuju pintu keluar. Yuda segera menyusul melihat kepergian perempuan berkemeja kata-kata itu. Dia merampas tas yang terselempang di bahu Lisa, menggeser resleting dan memasukkan ponselnya.


“Dalam ponselku jika ada kontak Anin, kamu bisa menghubunginya dengan itu,” ucap Yuda yang terdengar memerintah. Dia tidak akan mengembalikan ponsel Lisa sebelum memastikan chat dengan Vian. Dia ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Kali ini dia akan benar-benar memastikan hubungan apa yang sebenarnya terjalin diantara mereka. Tidak ingin kejadian masa lalu terulang kembali hanya karena gosip belaka.


Lisa tidak merespons, bantahannya akan sia-sia belaka. Bahkan dia hanya membiarkan saja saat tangannya ditarik untuk memasuki lift dan menuju basement. Tidak ada yang bersuara di antara mereka. Hanya sekali-kali Yuda melirik samping kemudi. Dia sedikit mengernyit heran ketika melihat raut wajah Lisa. Dia terlihat menahan kesakitan sambil memegang perutnya. Bibirnya juga terlihat sangat pucat.


“Kamu baik-baik saja?” Sebelah tangannya yang tidak memegang kemudi menyentuh pundak Lisa. Yuda terlihat khawatir. Apa dia terlalu bermain kasar tadi? Diakuinya kalau dia sedikit emosi sehingga tidak peduli saat Lisa memohon-mohon untuk berhenti. “Apakah ada yang sakit?” Sekali lagi Yuda bertanya khawatir.


“Nggak,” jawab Lisa tanpa menoleh, dia menjauhkan jemari dari perutnya, berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


“Apa kita harus ke rumah sakit?” Yuda tak puas dengan jawaban Lisa.


“Antarkan aku ke kosan saja,” cegah Lisa.



TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. MAAF KARENA TELAH MENUNGGU LAMA.


KALAU ADA TYPO, BILANG YA. ATAU CERITANYA KURANG LOGIS, BILANG YA.