
“Nak, kamu masih dengar suara Ayah?” Sudah hampir satu menit Yanto mengakhiri kalimat terakhirnya, tapi hanya hening. Tidak ada tanggapan dari balik telepon. Dia menduga mungkin karena sinyal sedang tidak bagus karena sekali-kali dia pernah mengalaminya.
“Ah, iya Yah. Masih kok,” jawab Lisa dengan nada senormal mungkin, masih ada sisa-sisa air mata yang membasahi kelopak matanya.
“Kamu masih ingat dengan Yolanda, yang anak Pak RT di perumahan kita?”
“Masih Yah. Memangnya kenapa, Yah?” Lisa hanya sekadar mengenalnya, beberapa kali mereka saling menyapa jika berpapasan. Yolanda merupakan kakak kelas di SMA dan lebih tua dua tahun. Tidak ada yang tidak mengetahui namanya di sekolah maupun di tempat tinggal mereka. Dia terkenal sebagai primadona karena paras dan prestasinya. Terakhir informasi yang Lisa dengar, sekarang dia juga sedang berkuliah di Jakarta namun tidak di kampus yang sama.
“Dia ditemukan meninggal di dalam kosan. Sudah ada beritanya di TV. Dari yang Ayah dengar, dia ditemukan setelah tiga hari tewas di dalam kamar oleh penjaga kosan. Dia diduga mengalami pendarahan hebat karena melahirkan tanpa bantuan orang lain dan anehnya teman-teman kosnya tidak ada yang tahu kalau dia sedang hamil,” jelas Yanto dengan nada prihatin, mengingat dia dan Pak RT berteman baik dan sering bermain catur bersama.
Lisa merasa dadanya menjadi sesak mendengar kata terakhir sang Ayah. Dia merasa seperti pencuri yang sedang tertangkap basah, padahal jelas Yanto sedang tidak menyinggungnya.
“Kamu harus selalu jaga diri di perantauan, ya Nak. Ayah tak melarangmu untuk berpacaran. Ayah juga pernah muda. Tapi pacaran itu ada batasnya, tidak boleh melanggar larangan agama dan adat,” nasihat Yanto. “Ayah percaya kalau kamu dan Yuda tidak akan melakukan perbuatan yang dilarang itu. Yuda adalah pemuda yang baik dan sopan, dia pasti akan menjagamu,” tambah Yanto yang terdengar begitu sangat percaya.
Lisa melirik Yuda yang duduk di sofa dan juga sedang memperhatikannya. “Tidak Yah. Yuda tidak baik seperti apa yang Ayah pikirkan. Dia merusakku dan membuat aku memiliki status sebagai perempuan yang hamil di luar nikah.” Ingin rasanya dia melontarkan semua kalimat bantahan atas pemikiran Yanto tentang Yuda, namun dia tak bisa. Dia tidak ingin mengecewakan Yanto, menghancurkan kepercayaan yang sudah diberikan untuk bisa berkuliah di Jakarta. Jadi Lisa hanya menjawab singkat, “Iya Yah.”
“Sudah dulu ya Nak, nanti kita sambung lagi. Ayah harus pergi ke sekolah,” kata Yanto ingin mengakhiri pembicaraan mereka.
“Iya Yah dan hati-hati di jalan,” ucap Lisa dan panggilan itupun berakhir. Lisa lantas mengembus napas panjang. Pembicaraan tadi begitu menguras emosi, dia merasa menjadi pendosa dan pembohong ulung. Namun hanya itu yang bisa dilakukannya. Dia nggak mungkin mengungkapkannya.
Kemudian Lisa membuka chat grup angkatan. Dua hari yang lalu ada salah satu temannya yang mem-repost link berita beserta gambar yang cukup mengerikan, sosok wanita yang terbujur kaku dalam posisi terlentang dan kaki terbuka. Darah dan bekas air ketuban berceceran di lantai dan di dekat kakinya terdapat sesosok bayi yang juga telah meninggal dengan tali pusar masih utuh. Setelah diperhatikan saksama, Lisa baru menyadari kalau dia mengenalnya.
Lisa tercenung, membayangkan apa dia akan berakhir tragis seperti Yolanda jika janin itu masih ada. Dari berita yang dibaca dan penjelasan ayahnya tadi, teman kosan Yolanda tidak ada yang tahu kalau dia sedang hamil. Yolanda pasti menyembunyikannya mati-matian. Lisa sangat memahami tindakan Yolanda itu, karena dia pun pasti akan bertindak sama. Dia maupun Yolanda belum siap untuk menerima berbagai caci maki dan tatapan kekecewaan.
“Aku ingin kita segera menikah,” ucap Yuda memecahkan lamunan Lisa. “Jadi kapan kita akan memberitahu orang tuamu?”
Lisa terdiam cukup lama, “Aku nggak mau.”
“Kenapa?” tanya Yuda dengan nada yang sedikit tinggi. Dia tidak habis pikir kenapa Lisa terus menolak. Dulu Lisa mengatakan karena dia mandul dan sekarang alasan apa lagi yang akan diberikannya.
“Aku masih ingin kuliah.”
“Jika kita menikah bukan berarti kita harus berhenti kuliah. Banyak pasangan suami istri yang tetap kuliah seperti biasa meskipun sudah menikah.”
“Kasta kita terlalu jauh,” lirih Lisa.
Sekonyong-konyong Yuda berdiri dengan rahang tegang dan tangan mengepal. “Jangan memberikan alasan yang mengada-ada. Orang tuaku jelas sangat menyukaimu dan keluargaku tidak pernah melarang untuk menikah dengan si miskin atau si kaya.”
“Aku tetap tidak ingin menikah,” ucap Lisa sambil menatap jendela, dia ingin perdebatan ini segera berakhir karena pendiriannya masih sama.
Setelah terdengar pintu tertutup, Lisa mengambil hp-nya yang terletak di samping kiri dan mengetik sesuatu di google. Dia membaca beberapa artikel sebagai referensi, kemudian membuka aplikasi belanja online. Dia harus mencegah sebelum terulang kembali. Dia belum ingin menikah, dia belum ingin terikat dengan siapapun. Dia juga merasa belum membahagiakan orang tuanya. Lisa masih ingin fokus dengan keluarganya.
Dari yang didengarnya selama ini, ketika menikah wanita dan pria sama-sama meninggalkan orang tua masing-masing untuk membangun rumah tangga. Sejak itu mereka harus menjadikan pasangan sebagai prioritas pertama dalam kehidupan satu sama lain, karena mengabdi kepada pasangan sangat penting agar pernikahan sukses. Bukan berarti mereka tidak mencintai orang tua mereka, bukan pula menjadi anak durhaka, namun begitulah adanya. Dan menurut Lisa, dia belum siap untuk melaksanakannya.
“Ibu Lisa sudah bisa pulang hari ini. Tapi ibu harus datang satu minggu lagi untuk melakukan kontrol. Kontrol ini bertujuan untuk evaluasi kondisi rahim dengan melakukan USG dan memastikan rahim sudah bersih,” jelas sang dokter.
Lisa mengangguk pelan, “Baik Dok.”
“Ibu Lisa juga sebaiknya tidak melakukan aktivitas berat, mengendarai kendaraan sendirian, dan berenang,” tambah Dokter berkacamata itu. Sebelum melanjutkan, dia menatap Yuda. “Sebaiknya untuk sekarang tidak melakukan hubungan intim dulu demi mencegah masuknya bakteri ke dalam rahim yang dapat menyebabkan infeksi v4g1na atau rahim.”
Pipi Lisa bersemu merah mendengarnya. Sementara Yuda tampak biasa saja. Sang dokter kembali memberikan beberapa wejangan dan mengingatkan kembali jadwal yang harus dikunjungi sebelum berpamitan pergi.
“Kamu sebaiknya tinggal di apartemenku saja, supaya aku bisa menjagamu,” tukas Yuda seraya memegang gagang pintu kamar, dia ingin pergi ke bagian administrasi untuk menyelesaikan pembayaran biaya rumah sakit selama Lisa dirawat di sini.
“Antar aku ke kosan,” tolak Lisa.
“Kondisimu sedang tidak baik, jadi kalau—“
“Aku tidak ingin dianggap kumpul kebo. Aku malu dengan tetanggamu dan teman-teman kosanku,” potong Lisa. Sudah terlalu sering dia menginap di apartemen laki-laki itu. Meskipun tidak mendengarkan secara langsung, dia yakin ada beberapa orang yang mencemoohnya di belakang. Hidup serumah tanpa hubungan yang jelas masih sangat tabu dan buruk di Indonesia.
“Kita tidak akan dianggap kumpul kebo jika kita menikah,” lontar Yuda terdengar sedikit sinis.
Lisa tak berniat merespons, malas untuk saling berdebat. Dia memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya sambil memandang langit sore. Dan dia masih tetap dengan pendiriannya, dia tidak ingin menikah sekarang.
Saya kebanyakan menginfokan karya-karya saya via Instagram ya. Kalian juga bisa tanya-tanya :)
IG: @alsaeida0808
Mohon kritik dan sarannya ya. Terima kasih.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA.