
Mata Yuda perlahan terbuka, dan penglihatan pertamanya langsung tertuju pada sosok yang masih menutup kedua matanya. Deru napas Lisa sangat teratur, menunjukkan kalau dia masih tertidur dengan pulas. Wajahnya terpancar kelelahan. Tadi malam dia memberontak dengan penuh tenaga sebelum akhirnya pasrah, membiarkan Yuda mendominasi seluruh tubuhnya. Untuk kedua kalinya, Yuda kembali memaksa ga—ah, wanita itu—untuk memuaskan napsu bejatnya. Sama seperti sebelumnya, Yuda tak pernah menyesal melakukannya.
Perlahan Yuda membangunkan tubuhnya. Ditatap lekat wajah Lisa yang sedang berbaring terlentang. Lantas telapak tangannya mendarat ke perut Lisa yang tertutup selimut. Dia mengelus-elusnya dengan pelan.
“Cepatlah tumbuh Nak!” ucapnya seraya menyungging senyum lebar.
Yuda mencium kening Lisa singkat sebelum turun dari ranjang. Dia berjalan menuju kamar mandi tanpa busana. Bertepatan dengan bunyi pintu kamar mandi yang tertutup dan terdengar suara gemericik air, mata Lisa langsung terbuka. Dia sebenarnya sudah sadar sejak beberapa menit lalu. Gerakan tubuh Yuda membangunkannya.
Lisa meletakkan telapak tangan di perutnya, juga mengelus-elus seperti yang dilakukan Yuda tadi. Tetapi tiba-tiba matanya berkaca-kaca dan berubah menjadi linangan air mata. Jemari Lisa buru-buru mengusap kedua matanya ketika terdengar suara pintu yang terbuka.
“Udah bangun?” tanya Yuda sambil mendekat, masih dengan menggunakan handuk yang melilit pinggangnya.
Lisa tidak menanggapi. Dia justru memilih untuk bangun, mengambil kebaya yang tergeletak di lantai. Diliriknya sebentar ke jam yang ada di atas lemari kecil di samping tempat tidur. Ternyata sudah malam, hampir larut. Lisa segera mengambil rok kebayanya beserta pakaian dalam. Dia memakainya tanpa menjauhkan selimut dari tubuhnya.
“Kamu nginap di sini saja,” ujar Yuda, terkesan seperti memerintah.
Mulut Lisa masih bungkam. Sekarang dia sibuk mencari-cari clutch bag-nya. Ada kunci kamar, dompet, dan ponselnya di sana.
Yuda menarik lengan atas Lisa, memaksa wanita itu untuk memandang wajahnya. “Malam ini kamu nginap di sini,” tukas Yuda dengan nada yang dinaikkan beberapa oktaf.
“Tidak. Aku mau pulang,” bantah Lisa.
“Bisakah kamu tidak membantahku?”
Lisa menepis tangan Yuda. Dia lantas menuju tasnya yang tadi tertangkap retina mata. Diambil tas berwarna putih itu dan langsung berjalan ke arah pintu.
Yuda kembali menarik lengan Lisa. “Kamu nggak boleh kemana-mana. Urusanku denganmu belum selesai."
“Apa lagi yang kamu mau?”
“Aku masih belum puas dengan tubuhmu,” jawab Yuda sambil menyeringai.
“Dasar brengsek!” maki Lisa dengan menepis kasar tangan Yuda.
Yuda kembali memegang lengan Lisa. “Aku memang brengsek. Tapi orang brengsek inilah yang akan menjadi suami dan ayah anak-anakmu nanti.”
“Sampai kapanpun lo nggak akan pernah menjadi suami gue, apalagi menjadi ayah dari anak-anak gue,” sangkal Lisa, dia kembali menepis tangan Yuda sebelum pergi menjauh.
Mendengar ucapan Lisa yang memakai panggilan gue-lo beserta kalimat sangkalannya, Yuda langsung mengeram marah. Matanya menatap tajam di setiap pergerakan Lisa. “Gue punya video telanjang lo,” beritahunya.
Kaki Lisa refleks berhenti tanpa membalikkan badan.
“Tadi gue videoin tubuh lo,” tukas Yuda sambil menampakkan seringai mengejek.
Lisa kembali menggerakkan kakinya menuju pintu.
“Sekali lagi lo menggerakkan kaki lo, gue nggak segan-segan nyebarin video itu,” ancam Yuda.
Tapi Lisa tampak tak mengindahkan, dia tetap melangkah mendekati pintu. Terserah, dia tidak peduli apa yang akan dilakukan cowok itu. Dia sudah muak dengan segala sikap dan perbuatan Yuda. Sekarang ini dia hanya ingin menjauh sejauh mungkin darinya.
“Adnan!” panggil Lisa setelah memastikan kalau sosok itu memang benar Adnan.
Merasa namanya dipanggil, Adnan yang baru saja hendak menyalakan motor maticnya spontan menoleh. Dia sedikit menatap heran ke sosok Lisa yang berlari kecil menghampirinya, dengan penampilan formal cewek itu yang sedikit acak-acakan.
“Gue boleh nebeng nggak?” tanpa berbasa-basi, Lisa mengutarakan keinginannya.
Setelah keluar dari apartemen Yuda, dia cukup kebingungan untuk bisa pulang ke kosannya. Sekarang dia tidak bisa memesan gojek online, ponselnya sedang mati, pasti karena kehabisan baterai. Dia juga tidak mungkin menggunakan kendaraan umum. Kawasan apartemen elit ini cukup jauh dari halte. Dia juga tidak mungkin untuk kembali ke apartemen Yuda dan meminta laki-laki itu untuk mengantarnya.
Semula dia cukup ragu kalau laki-laki berhodie biru yang dilihatnya memanglah Adnan. Tapi untunglah sosok itu benar-benar seperti dugaanya. Raut kelegaan langsung muncul di wajah Lisa. Setidaknya malam ini masih ada sedikit keberuntungan setelah melalui berbagai ketidakmujuran, yang semuanya diakibatkan oleh Yuda.
“Gue boleh nebeng sama lo nggak?” pinta Lisa lagi.
“Boleh kok,” jawab Adnan setelah cukup lama bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan di otaknya.
Lisa segera menaiki boncengan sepeda motor matic itu. Karena dia sedang memakai rok, Lisa memilih untuk duduk menyamping. Adnan pun mulai menyalakan sepeda motornya dan mulai mengendarai menjauh dari kawasan apartemen. Tanpa sepengetahuan mereka, sosok Yuda sedang melihat interaksi Lisa dan Adnan dari kejauhan. Raut wajahnya menegang dan matanya menatap dengan sangat sinis.
Satu jam kemudian, motor berwarna merah hitam tersebut berhenti di kosan Melati Ragunan.
“Lis, kita sudah sampai!” ujar Adnan.
Mata Lisa mengerjap, tersadar dari lamunan. Dia lantas turun dari boncengan. “Makasih ya Nan,” ucapnya sembari memberinya senyum kecil.
“Sama-sama,” sahut Adnan. Dia melirik jam di pergelangannya. “Sepertinya gue harus pulang sekarang. Udah malem banget nih.”
“Sekali lagi terima kasih Nan,” kata Lisa sebelum Adnan mengendarai motornya menjuahi kosan.
Setelah tidak terlihat lagi sosok Adnan, Lisa segera membuka pintu pagar kosan. Dia berencana untuk langsung mandi ketika sudah berada di dalam kamar nanti. Badannya terasa lengket karena keringat. Dia juga sangat risi dengan aroma tubuhnya yang tercium aroma tubuh Yuda.
“Gimana kondangannya Lis?” tanya Anin yang baru keluar dari dapur umum.
“Sangat meriah, Nin,” jawab Lisa dengan memasukkan kunci kamar di lubang kunci.
“Gue lihat di jendela, lo diantar Adnan. Memang Bang Yuda ke mana?”
“Lagi ada urusan.”
“Lis, itu...,” Anin menatap lekat ke leher Lisa. Sebenarnya dia nggak yakin, tapi tanda merah-merah itu memaksanya untuk menduga yang tidak-tidak.
Merasa Anin sedang memperhatikan lehernya, Lisa buru-buru menutupnya dengan telapak tangan. “Gue mau segera tidur, gue tutup pintunya ya,” ucap Lisa beralasan.
Tapi tiba-tiba Anin ikut masuk ke dalam kamar Lisa. Dia menutup pintu kamar itu sambil menguncinya. Anin tidak ingin ada orang lain yang masuk nanti dan mengetahui pembicaraan mereka.
Dia menghela napas panjang sebelum menatap Lisa yang sedang terlihat gelisah. “Gue nggak bermaksud menggurui. Hanya saja, sebagai teman dekat lo, yang berjanji untuk saling menjaga, setidaknya gue harus memberitahu jika perbuatan lo sudah terlalu jauh.” Sekali lagi Anin mengambil napas dan mengembuskannya. “Itu kissmark, kan?”
Jemari Lisa menggosok-gosok lehernya, berharap tanda tersebut hilang.
“Gue nggak tahu apakah lo hanya make out atau sudah having sex dengan Bang Yuda. Tapi yang jelas, perbuatan kalian sudah sangat salah. Lo tahu kan kalau perbuatan kalian itu dilarang?”
Lisa mengangguk, “Gue tahu. Tapi gue sudah berusaha menolak.”
“Apa Bang Yuda...,” Anin bimbang untuk mengucapkannya, dilihat dari tipikal Yuda, dia merasa kalau laki-laki itu tidak mungkin bisa melakukannya. “Memaksa lo?” sambungnya.
Seketika tangis Lisa pecah. Mata Anin langsung terbelalak lebar. Tangisan tersebut sudah menjadi jawaban. Kemudian dia merengkuh tubuh Lisa, memeluknya seraya mengucap-ngusap punggung Lisa, mencoba menenangkannya.
"Gue... gue sudah berusaha me-menolaknya...," ucap Lisa dengan sesenggukkan.
“Tapi Bang Yuda mau bertanggung jawab, kan?”
Lisa menjawab dengan anggukkan.
“Jadi kalian akan menikah?”
“Ng-nggak.”
“Kenapa?” Tampak jelas dahi Anin sedang mengerut tajam, bingung. Yuda sudah mau bertanggung jawab, tapi kenapa Lisa tetap menolak?
Lisa semakin terisak-isak. “Ka-karena gue nggak ingin... menjadi penghalang kebahagiaannya. Dia pasti bisa... bisa bertemu dengan pe-perempuan yang sempurna di luar sana, tidak seperti gue,” jelasnya.
“Kamu sakit?” Kini benak Anin mulai memikirkan asumsi-asumsi buruk.
“Se-sejak gue mengetahui vonis gue se-setahun yang lalu, gue... sudah memutuskan untuk tidak me-menikah selamanya. Aku takut ditinggalkan di kemudian hari. Tapi gue pasti akan baik-baik saja meskipun tidak menikah dan selalu sendiri selamanya,” lirih Lisa yang mencoba tersenyum di akhir kalimatnya.
**TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. TERIMA KASIH JUGA SUDAH MENANTIKANNYA MESKIPUN TERBITNYA AGAK SLOWLY.
MOHON LIKE, VOTE, DAN COMMENT NYA YA 😄😄😄😄**