Connected

Connected
Episode 24 Luruh



“Sorry ya, gue telat,” kata Lisa merasa tak enak hati karena semua teman sekelompoknya yang terdiri dari empat orang itu sudah datang. Dia sudah terlambat hampir tiga puluh menit, padahal dia sudah pergi tepat waktu. Dan alasannya hanya satu, hanya karena laki-laki bernama Yuda Bastian Mandapa yang selalu mengintilnya.


Sekitar satu jam Lisa bersiap-siap, dia mengira Yuda sudah tidak ada di depan kosannya. Yuda tidak mengatakan apa-apa ketika turun dari mobil, seperti akan mengantarnya ke perpusatakaan. Sempat terjadi perdebatan kecil yang akhirnya dimenangkan Yuda. Perdebatan itu tidak hanya sekali. Mereka kembali berdebat karena Yuda menyuruhnya ke rumah sakit. Lisa memang masih merasakan bagian bawah perutnya terasa nyeri, seperti ditusuk-tusuk. Tapi dia menganggap kalau sakitnya akan segera menghilang, mungkin dia hanya maag saja.


“Tadi jalanan sedikit macet,” sambungnya berbohong.


“Kami juga baru sampai kok,” sahut Ridho, satu-satunya laki-laki di kelompok itu.


“Lo kelihatan pucat Lis, lo baik-baik saja kan?” Anin memperhatikan wajah Lisa dengan kening mengernyit. Jarang sekali dia melihat Lisa dalam kondisi pucat bak mayat seperti ini.


Lisa mengusap-usap bibirnya, berharap bisa sedikit memerah. "Gue baik kok. Mungkin kurang darah saja. Gue juga lupa pakai lipgloss tadi.” Dia membuka tas dan mengeluarkan buku beserta alat tulisnya. “Yuk kita mulai kerja kelompoknya. Gue dapat bagian yang mana nih?” tuturnya mencoba mengalihkan topik.


Anin dan ketiga temannya yang lain mengangguk menyetujui. Ridho yang ditunjuk sebagai ketua kelompok mulai membagi-bagi tugas. Lisa kedapatan membuat powerpoint untuk dipresentasikan dan juga sebagai moderator. Sementara yang lain mencari bahan referensi yang akan dibahas. Dan setelah tiga jam berlalu, tugas mereka akhirnya selesai. Mereka juga berlatih cara presentasi yang akan ditampilkan dua hari lagi. Kemudian satu persatu beranjak dari kursi untuk pulang.


“Lo pulang sama gue?” tanya Anin sambil memasukkan peralatan tulisnya ke dalam tas.


“Iya, sama lo,” jawab Lisa dengan merogoh saku tas. Dia mendengar nada bergetar yang berasal dari ponsel yang diberikan Yuda tadi. Ada sebuah chat singkat tanpa nama, menanyakan kabar dan memperkenalkan diri. Dari Amora. Lisa menatap datar layar di depannya. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Namun tak memungkiri kalau ada rasa lega. Anehnya, dia juga merasa sedikit sedih. Meskipun sekarang hubungannya dan Yuda sedang tidak baik, tetapi ada kisah indah yang pernah mereka lalui.


"Siapa?” Anin menatap heran kala menangkap ekspresi muka gadis yang blank.


“Bukan siapa-siapa kok,” ujar Lisa sambil mengetik balasan singkat, memberikan satu langkah maju agar Amora semakin gencar mendekati Yuda.


“Kita singgah dulu ke Indomarch ya. Gue mau beli pembalut.”


“Oke,” angguk Lisa sebelum berdiri.


“Lo sudah datang bulan? Biasanya lo duluan baru gue.”


Sekonyong-konyong langkah kaki Lisa berhenti. Tertegun. Baru disadarinya kalau dia belum menstruasi bulan ini, sudah hampir tiga minggu sejak jadwal rutin. Bulan sebelumnya dia juga tidak datang bulan. Dan tidak mungkin dia hamil karena Yuda tidak menggunakan pengaman, kan? Jelas-jelas dokter sudah mengatakan kalau dia akan kesulitan mempunyai anak, atau bahasa kasarnya dia adalah wanita mandul. Penyebab telat datang bulan ini pasti karena dia sedang stres saja, mengingat banyaknya tugas sebagai mahasiswa baru dan harus menghadapi kelakuan Yuda.


Baru saja mengutuk sikap Yuda kepadanya, laki-laki beralis tebal itu muncul di depan pintu masuk perpustakaan. Dia sudah berganti pakaian dengan kemeja jeans dongker dan celana jeans hitam. Dipikir-pikir Yuda seperti jelangkung saja, datang tak dijemput pulang tak diantar.


“Sudah selesai?” tanya Yuda ketika sudah berdiri berhadapan dengan Lisa dan Anin.


“Ya,” jawab Lisa tak acuh.


"Ya bang, baru saja selesai,” tambah Anin berbasa-basi.


“Lo pulang pakai apa, Nin? Bareng kami saja.”


Kepala Anin spontan menggeleng, "Nggak bang. Gue bawa motor.”


“Hati-hati bang, Lis,” lontar Anin sebelum Yuda membawa Lisa menuju pintu keluar. Semula Anin berniat ingin mencegah agar Lisa bisa pulang bersamanya. Lisa jelas tampak enggan mengikuti Yuda. Tapi segera diurungkan saat melihat Lisa hanya membiarkan saja. Karena kalau Lisa menolak atau membantah, dia mungkin bisa sedikit membantu. Setidaknya memberi alasan yang masuk akal.


Sementara Lisa sedang malas untuk berdebat, dia sedang tak bertenaga untuk mengeluarkan kalimat penolakan. Bagian bawah perutnya semakin terasa sakit. Dia langsung merebahkan diri setelah mobil Fortuner ini. Matanya terpejam dengan kedua lengan memeluk perut, berharap rasa nyeri tersebut bisa sedikit mereda. Tiba-tiba dia merasa sesuatu mengalir yang berasal dari organ intimnya, membasahi celana kain warna khaki yang sedang dipakainya.


Saat dia menyentuhnya, mata Lisa terbelalak lebar. “Darah...,” gumamnya.


Yuda yang sedang fokus menyetir dan bermaksud membiarkan Lisa beristirahat, lantas menoleh ke sumber suara. Matanya ikut terbelalak melihat telapak tangan Lisa yang berlumuran darah. “A-apa yang terjadi, Sa?”


Lisa tidak bisa mendengarkan lagi apa yang diucapkan Yuda. Pendengarannya mendadak samar-samar dan penglihatannya menjadi memburam, sebelum akhirnya kelopak mata tertutup perlahan dengan rasa sakit yang semakin hebat.



Sekali-kali mata Yuda menatap ke pintu putih bertuliskan IGD yang ada di depannya. Raut cemas terlihat nyata memenuhi wajahnya. Tak dihiraukan bekas darah yang tertempel di kaos ketika mengangkat tubuh Lisa ke atas brankar. Dia tidak ingin beranjak dari posisinya sekarang hanya sekedar untuk membersihkan diri.


Ada rasa penyesalan yang sangat besar di hati Yuda. Seharusnya dia tidak mengalah dan tetap memaksa Lisa untuk pergi ke rumah sakit. Mungkin kejadian berdarah ini tidak akan pernah terjadi.


Ketika pintu terbuka dan menampakkan sosok berkacamata dalam balutan jas putih, Yuda sontak berdiri dan menghampirinya. "Bagaimana keadaannya, Dok?”  tanyanya.


“Apakah Anda keluarganya?”


“Saya suaminya, Dok,” jawab Yuda percaya diri.


Sang dokter mengambil nafas pelan sebelum berkata, “Begini Pak, ibu Lisa mengalami pendarahan sehingga janinnya tidak bisa diselamatkan.”


“Janin Dok?” tanya Yuda merasa tidak yakin dengan pendengarannya.


Dokter itu sedikit memandang heran. “Apakah Anda tidak tahu kalau ibu Lisa sedang hamil?”


Yuda memilih bungkam, masih terlalu syok dengan apa yang didengarnya.


“Kami membutuhkan izin bapak untuk melakukan kuretase, sebab ibu Lisa mengalami abortus inkomplit atau keguguran tidak lengkap sehingga kami harus mengeluarkan janin yang masih tertinggal,” jelas sang dokter. “Nanti akan ada perawat yang meminta penandatanganan formulir informed consent. Setelah itu kami akan segera melakukan prosedur kuretasenya,” imbuh sang dokter lagi.


Yuda masih tak bersuara, bahkan dia masih berdiri terpaku ketika dokter itu sudah tidak berdiri di depannya. Matanya mulai berkaca-kaca, merasa sangat sedih. Dia menginginkan anak itu, tapi mengapa harus pergi begitu cepat. Kemudian dia mengusap kedua matanya dan mengambil nafas panjang. Kini rasa marah yang sedang memenuhi rongga dada. Berani-beraninya Lisa menyembunyikan keberadaan janin itu, apalagi sampai berbohong kalau dia mandul. Dan lihatlah nanti, dia akan membuat perhitungan dengan cewek itu, membuat Lisa sangat menyesal.



Terima kasih sudah membaca. Follow IG-ku juga ya: @alsaeida0808