Connected

Connected
Episode 22 Yuda versus Vian part 1



“Lo sudah punya nomor Yuda?” Lisa merogoh saku celana, mengambil ponselnya.


Amira belum menggubris, masih dengan pupil membesar dan mulut yang sedikit terbuka.


Lisa mengambil sticky note di dalam saku kecil tas selempangnya, menuliskan dua belas digit nomor di sana, kemudian menyodorkannya ke Amira. “Ini nomor Yuda. Lo bisa menghubunginya kalau lo memang berniat ingin dekat dengannya.”


“Ke-kenapa?” tanya Amira, tangannya ragu-ragu mengambil kertas kecil berwarna kuning tersebut.


“Gue sudah muak menjadi pacar Yuda.”


“Tapi—“


Diliriknya jam di pergelangan tangan sebelum memasukkan ponselnya ke tempat semula. “Lo bisa menghubungi nomor gue kalau lo butuh bantuan. Lo bisa cari nomor gue di grup angkatan kita. Gue siap membantu untuk bisa mendekatkan bahkan membuat lo bisa pacaran dengan Yuda.” Lisa lantas membalikkan badannya. Baru dua langkah, suara dari grup BTS terdengar. Dia langsung mengambil benda segiempat itu dan tersenyum kecil saat melihat nama yang terpampang di layar. Step pertama sudah dimulai dan akan segera berjalan. Dan selanjutnya step kedua.


Kakinya berjalan cepat menuju depan gedung fakultas. Setelah beberapa hari ini merenung, akhirnya Lisa telah memutuskan. Dengan lisan, sepertinya Yuda tidak akan pernah meninggalkannya. Laki-laki itu masih terus menghubunginya, masih sering mendatanginya ke kosan. Sekarang saatnya menggunakan tindakan, dan bisa dikatakan tindakan yang sedikit ekstrim. Pertama, mendekatkan Yuda dengan cewek lain. Kedua ....


“Mas Vian!” Tangan Lisa melambai-lambai pada sosok berjaket kulit di atas sepeda motor berwarna merah yang terparkir tidak terlalu jauh dari pohon mangga di samping papan nama fakultas. Dia berlari kecil menghampiri Vian yang sedang tersenyum dan melambaikan tangannya. “Sudah lama nunggunya, Mas?”


“Nggak kok, baru saja,” geleng Vian.


“Mas sedang nggak sibuk, kan?”


Lagi-lagi Vian menggeleng. “Nggak kok. Urusan Mas di Jakarta sudah hampir selesai kok. Cuman, ya... aku sedikit kaget karena tiba-tiba kamu nge-chat dan nyuruh ke sini, padahal kemarin-kemarin pesanku diabaikan.”


Lisa memberikan senyum kecut dan tatapan sedikit bersalah. “Maaf Mas, kemarin-kemarin sedang sibuk.”


“Nggak apa-apa, kan, pake aku-kamu, masih terbawa suasana Jogja nih, soalnya kalau di sini, aku-kamu punya makna yang mendalam?!”


“Iya Mas, nggak papa. Sebenarnya lebihnya enak pake aku-kamu, daripada lo-gue. Tapi seperti kata pepatah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sebisa mungkin aku berusaha mengikuti kebiasaan di sini.”


Vian mengangguk pelan, setuju. “Jadi mau berangkat sekarang atau gimana?”


Lisa melirik jam di pergelangannya, kemudian melihat satu-satunya jalan aspal yang menjadi jalan menuju ke fakultas MIPA ini. Saat dilihatnya mobil fortuner putih yang sedang mendekat, dia langsung berujar, “Sekarang aja yuk, Mas!”


“Nih!” Vian menyodorkan helm putih yang memang sengaja dibawanya.


“Kita langsung ke Cinema XII saja, Mas.”


“Nggak makan dulu?”


“Habis nonton saja, Mas,” jawab Lisa sambil menduduki boncengan di belakang Vian.


Tepat saat mobil fortuner itu berhenti, sepeda motor merah yang dinaiki Lisa berjalan menjauh. Dia juga dengan sengaja melingkarkan lengannya di pinggang Vian kala berpapasan. Inilah step kedua, menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Mungkin terdengar sedikit jahat, karena terdengar memanfaatkan saja, tapi dia tidak bisa memikirkan cara lain selain cara ini. Sejujurnya dia sedikit pesimis dengan step yang pertama, mengingat watak Yuda yang selalu tak acuh dengan perempuan yang mencoba mendekatinya.


Maafkan aku, Mas Vian. Aku akan memohon maaf dengan bersujud setelah semua ini selesai, batinnya dengan rasa bersalah.



“Nggak diangkat? Siapa tahu penting,” kata Vian setengah berbisik, takut orang-orang yang fokus menatap layar besar itu terganggu.


Dua jam berlalu, Lisa dan Vian keluar dari pintu bioskop dan langsung menuju KFC terdekat. Vian ingin mengajak Lisa makan di restoran jepang, hanya saja Lisa menolak, beralasan kalau mereka harus memutar lebih jauh dan malam kian larut.


“Sudah pernah bertemu dengan Yuda, Lis?” tanya Vian di sela-sela kunyahannya.


Refleks tangan Lisa yang sedang memegang gelas, hendak menyeruput minuman soda itu, menjadi menggantung di udara.


“Aku bertemu Yuda terakhir kali sebelum aku operasi. Sejak Yuda pindah ke Jakarta, aku nggak pernah bertemu dengannya lagi. Dulu katanya, setelah kalian putus, dia berpacaran dengan Raya,” beber Vian yang tidak menyadari raut wajah Lisa yang tiba-tiba menegang. “Aku juga sudah lama nggak bertemu Raya. Kira-kira mereka masih pacaran atau nggak ya?”


“N-nggak tahu Mas,” lirih Lisa ketika Vian menatapnya dengan tatapan agar dirinya menanggapi.


Vian menghentikan mengambil potongan kentang, memandang wajah Lisa dengan lekat. Dia terlihat ragu-ragu, tapi rasa penasaran tercetak jelas di ekspresi wajahnya. “Waktu kalian putus, aku sebenarnya sangat syok. Aku nggak menyangka saja karena seingatku, Yuda sangat menyayangimu dan sedikit posesif denganmu. Sebenarnya alasan kalian putus kenapa sih?”


“Itu salahmu. Itu karenamu.” Ingin rasanya Lisa melontarkan kalimat saraktis seperti itu. Tapi melihat raut Vian dengan binar ingin tahu yang kuat, dia hanya bisa mengucapkannya dalam hati. Kebanyakan orang-orang tahu alasan dia dan Yuda putus memang karena dirinya yang selingkuh, tapi tak banyak yang tahu kalau Vianlah yang menjadi tersangka orang ketiga itu. Anehnya, Vian terlihat sepertinya tidak tahu apa-apa. Lisa menjadi kembali jadi bertanya-tanya lagi, sama seperti empat tahun lalu, mengapa bisa Yuda menuduhnya berselingkuh dengan Vian? Siapa yang telah memfitnahnya? Kenapa pula bisa Yuda bisa percaya dengan kebohongan itu?


“Benar karena kamu selingkuh?”


“Aku nggak pernah selingkuh,” bantah Lisa dengan suara lantang, beberapa orang tampak melihat ke arah mereka.


Vian manggut-manggut, tampak tak peduli dengan reaksi orang-orang di sekitarnya. “Aku sudah menduga, aku yakin kamu tidak mungkin berselingkuh. Tapi kenapa anak-anak sekolah kita dulu berpikir kalau kalian putus karena kamu berselingkuh?”


“Nggak tahu,” celetuk Lisa yang terdengar sinis.


“Jadi apa alasannya kamu dan Yuda bisa putus?”


Lisa memutuskan tak menjawab, kembali sibuk memakan junkfood di atas meja.


“Apa kamu sudah punya pacar sekarang?”


“Nggak,” jawab Lisa singkat sambil mengambil kentang goreng.


Helaan lega keluar dari mulut Vian, lantas ditatap lekat wajah Lisa yang sedang setengah menunduk dengan bibir yang menyungging senyum kecil. “Sebenarnya dulu aku sangat senang kamu putus dengan Yuda, karena aku ...,” Vian meletakkan telapak tangannya di tangan Lisa di atas meja sebelum melanjutkan, “merasa mempunyai kesempatan.”


Lisa memperhatikan tangannya yang digenggam Vian, lalu memandang wajahnya.


“Aku... aku sudah menyukaimu sejak melihatmu saat MOS sekolah. Aku berusaha mendekatimu, tapi ternyata aku keduluan sama Yuda." Terdengar nada kecewa di akhir kalimatnya. "Dan saat aku mendengar kalau kalian sudah putus, aku benar-benar merasa sangat bahagia, merasa kalau Tuhan sedang memberikan kesempatan. Setelah aku sembuh dan setelah disibukkan dari awal-awal masuk SMA, aku berusaha kembali untuk bertemu denganmu, tapi kamu selalu menghindari. Akhirnya aku memilih untuk mundur, menganggap kalau kamu mungkin sulit move on, karena bagaimanapun kalian telah berpacaran selama hampir dua tahun ,” lanjut Vian mengakui sambil memberikan tatapan lembut.


Lisa berusaha untuk melepas genggaman Vian yang menggenggamnnya dengan kuat, dia mulai merasa risi dengan perbincangan ini. Apa yang dilontarkan Vian ini tidak pernah terbesit di otaknya.


“Beberapa minggu lalu, setelah kita bertemu lagi sejak beberapa tahun berlalu, aku benar-benar senang bisa bertemu. Tapi aku kembali pesimis karena kamu tidak pernah menjawab teleponku atau membalas chat-ku. Dan kemarin, saat kamu nge-chat aku dan mengajak bertemu, aku memutuskan untuk tidak jadi pengecut lagi. Aku tidak boleh mundur lagi.” Vian mengelus pelan tangan Lisa, berharap rasa sayang yang dimiliki tersampaikan. “Maukah kamu menjadi pacarku, atau setidaknya kita mencoba dulu untuk saling mende—“


Belum sempat Vian menyelesaikan kalimatnya, kerah bajunya terasa ditarik dan rasa sakit tiba-tiba menghantam pipi kirinya. Beberapa pengunjung tampak terpekik, begitu juga dengan Lisa yang sedang menatap prihatin.



TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. MAAF KARENA TELAH MENUNGGU LAMA.


KALAU ADA TYPO, BILANG YA. ATAU CERITANYA KURANG LOGIS, BILANG YA.