
Episode 11 ini aku dedikasikan untuk Hilma Hilam karena sudah memberikan vote yang sangat banyak (No. 1) untuk cerita ini. Aku semakin bersemangat menulis kisah Yuda dan Lisa lagi.
Kalau berkenan, berikan kartu ucapan HAPPY NEW YEAR 2020 untuk karya ini ya. Terima kasih yang sudah membaca, vote, comment, like, and memfavoritkannya. THANK YOU VERY MUCH...
“Lis, mau ikut ke Senayan nggak?” tanya Anin, tangannya sibuk memasukkan beberapa buku ke dalam tas. Mata kuliah terakhir hari ini baru saja selesai.
“Siapa aja yang ikut?”
“Rina dan Clara, juga ada beberapa anak cowok di kelas kita.”
Lisa berdiri dari kursinya. Dia sudah selesai membereskan alat tulis dan bukunya. “Memangnya mau nonton apa?”
“Nggak tahu, masih belum nentuin judulnya. Terus habis nonton, kita mau pergi makan-makan. Sekali-kali merefreshing lidah dengan makanan Mal,” sahut Anin sambil terkekeh kecil diakhir kalimatnya.
“Boleh deh. Tapi sebelum ke Senayan, anterin gue dulu ke GOC ya."
“Lo beneran mau jadi tutor di GOC?” Anin mensejajarkan langkahnya dengan Lisa yang sudah berdiri di depan pintu keluar kelas.
Lisa mengangguk mantap. “Bokap gue udah ngizinan.”
“Kalau Bang Yuda udah ngizinan nggak?”
Lisa mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa gue harus minta izin sama dia?”
“Bang Yuda kan pacar lo. Siapa tahu dia nggak ngizinin lo.”
“Dia nggak punyak hak untuk melarang gue. Dia bukan siapa-siapa, dan sudah gue bilang kalau dia bukan pacar apalagi suami gue,” ucap Lisa bersungut-sungut.
“Oh iya Lis, hampir semingguan ini gue jarang banget lihat Bang Yuda di sekitar fakultas kita maupun di kosan. Memangnya Bang Yuda sedang pergi ke mana?” Anin melihat Yuda terakhir kali ketika dia baru saja turun dari taxi yang mengantarnya dan Lisa dari Bandara. Sejak hari itu, dia tidak pernah melihat sosok laki-laki tersebut, padahal biasanya hampir setiap hari Anin melihatnya, entah saat dia menjemput atau mengantar Lisa ke kosan. Juga selama semingguan ini, Lisa selalu pergi bersamanya ke kampus. Wajar kalau dia jadi bertanya-tanya sekarang.
“Nggak tahu,” jawab Lisa sambil mengedikkan bahu.
“Apa lo nggak penasaran ke mana Bang Yuda pergi?” Sebagai orang yang nggak terlalu dekat dengannya saja, Anin merasa sangat penasaran. Ibarat nih, ada sesuatu yang hilang saja karena biasanya dia selalu melihat sosok Yuda.
“Nggak,” sahut Lisa acuh tak acuh.
Lisa memang tak peduli ke mana Yuda pergi, ataupun bagaimana kabarnya saat ini. Bahkan selama hampir semingguan ini, dia merasa sangat senang atas ketidakberadaan Yuda, merasa kehidupannya kembali adem-ayem seperti saat masa-masa SMA dulu. Bukan hanya keberadaannya saja yang tak terlihat, hampir semingguan ini juga Lisa tidak menerima panggilan telepon atau chat dari Yuda. Sosok itu bak menghilang tanpa jejak.
“Kita berangkat jam berapa nanti?” tanya Lisa mengalih topik pembicaraan. Dia tidak ingin membahas tentang Yuda lagi.
“Agak sorean, mungkin jam 4-an.”
“Oke deh. Nanti lo gedor aja kamar gue."
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam dengan kemacetan yang selalu melanda Jakarta, motor matic milik Anin akhirnya berhenti di depan sebuah ruko dua lantai dengan banner besar bertuliskan Garuda Operation Course. Anin memilih tetap bercokol di atas motornya, sedang malas berjalan katanya, sedangkan Lisa segera memasuki ruko bernuasa merah orange tersebut.
“Lisa?” seru Adnan cukup terkejut dengan kedatangan Lisa di tempat bimbingan belajar ini.
“Adnan? Kok lo ada di sini?”
“Bimbel ini punya Oom gue. Biasanya kalau nggak ada jadwal kuliah seperti hari ini, gue suka bantu-bantu di sini, misalnya jadi resepsionis atau pengajar. Sekalian mempraktekkan ilmu manajemen yang sudah gue pelajari, mungkin bisa sedikit berguna untuk perkembangan bimbel ini,” jelas Adnan sambil menunjukkan cengiran lebar. “Lo sendiri ada keperluan apa datang ke sini?”
Lisa menyerahkan amplop coklat tali eksklusif yang tadi dibawanya. “Gue mau nyerahin surat lamaran gue. Kemarin gue lihat di Pasebook, di sini katanya sedang buka lowongan tutor.”
“Iya, kami memang sedang butuh banyak tutor, terutama untuk tutor privat,” sahut Adnan seraya mengambil amplop tersebut. “Nanti kalau sudah diproses, akan dihubungi segera mungkin.” Adnan meletakkan amplop itu ke dalam lemari di belakangnya, menumpukkannya dengan amplop-amplop yang lain. “Lo ke sini bareng siapa? Bareng cowok lo?”
“Gue bareng Anin. Dia ada di depan tuh.”
“Kok nggak masuk?”
“Mager katanya.”
“Habis ini kalian mau ke mana?”
“Mau ke Senayan. Rencananya mau nonton.” Lisa melirik jam tangannya. “Sepertinya gue harus pergi sekarang, teman-teman gue mungkin sudah nunggu.”
“Oke, hati-hati di jalan!” ujar Adnan sebelum Lisa berjalan menuju pintu.
Melihat Lisa yang baru saja melewati pintu, Anin memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket. “Kok lama? Bukannya hanya mengantar lamaran saja?”
“Ngobrol dulu sebentar sama Adnan.”
“Ada Adnan di dalam?”
Kepala Lisa mengangguk. “GOC ternyata milik Omnya.”
“Trus lo diterima?”
“Nggak tahu, masih diproses, tapi doakan saja,” sahut Lisa sambil mengambil helm yang tergantung di tangkai kaca spion. “Yuk berangkat sekarang! Mungkin Clara dan yang lainnya sudah tiba di Senayan.”
“Tenang saja, mereka masih di jalan waktu gue WA tadi. Mungkin duluan kita yang sampai ke sana,” tukas Adnin dengan menyalakan sepeda motornya.
Perlahan sepeda motor itu meninggalkan area GOC dan membawa kedua gadis tersebut menuju daerah Tanah Abang. Seperti perkataan Anin tadi, Clara dan kelima teman mereka yang lain belum tiba. Lisa dan Anin memutuskan untuk mengelilingi Mal dulu, siapa tahu mereka bisa ketemu artis terkenal seperti Raffi Ahmad dan sebagainya.
“Lis!” panggil Anin sambil menepuk-nepuk bahu Lisa.
“Kenapa?” Lisa menoleh ke Anin sebentar, sebelum menatap ke bawah, melihat lalu lalang para pengunjung. Sekarang mereka berdua sedang berdiri di depan pagar pembatas.
“Bukannya itu Bang Yuda?”
Lisa mengikuti arah pandangan Anin yang tertuju ke depan. Dikerumunan para pengunjung yang sedang menikmati hidangan mereka, Lisa bisa melihat jelas sosok Yuda yang saling duduk berhadapan-hadapan dengan Raya. Mereka berbincang dengan sangat akrab, bahkan Yuda menunjukkan tawa kecilnya.
“Bang Yuda sama siapa tuh, Lis? Lo kenal?”
“Sama mantannya, Mbak Raya. Mungkin cinta lama mereka bersemi kembali,” jawab Lisa tak acuh, matanya kembali tertuju ke bawah.
“HAH? SERIUS?” Saking terkejutnya dengan lontaran Lisa, Anin tanpa sadar telah meninggikan suaranya, hingga beberapa pengunjung yang ada di sekitar mereka menoleh ke arahnya.
“Apaan sih suara lo? Malu tahu!” celetuk Lisa sambil pergi menjauh.
“Mau ke mana?” Anin mengekorinya.
“Mau ke kamar mandi. Mau pipis.”
“Lo nggak marah melihat kedekatan mereka?”
“Tapi Bang Yuda kan pacar lo.”
“Udah gue bilang berapa kali, Yuda bukan pacar gue,” ucap Lisa bersungut-sungut, kemudian dia berjalan dengan tergesa-gesa lagi.
Untunglah kamar mandi di lantai ini tidak terlalu ramai seperti biasanya, hanya ada sekitar lima orang termasuk mereka berdua dan seorang petugas kebersihan. Lisa jadi tak perlu mengantri, dia langsung menempati toilet paling depan yang pintunya memang sudah terbuka. Beberapa menit kemudian, perasaan lega terpancar di wajahnya. Saat dia melangkah ke westafel, hendak mencuci tangannya, mimik terkejut tidak bisa tidak hadir di wajahnya. Kemudian dia melihat sekeliling, tidak ditemukan sosok Anin di manapun. Apa dia pergi setelah melihat keberadaan Raya di area kamar mandi ini?
“Lo ke Senayan City juga?” Raya melihatnya dari cermin besar yang ada di depannya.
“Iya, mau nonton sama teman-teman Mbak,” jawab Lisa sambil menghidupkan kran air.
“Gue ke sini sama Yuda,” ucap Raya dengan angkuh.
“Saya lihat kok, Mbak.”
“Kenapa lo nggak nyamperin?” tanya Raya bak menantang.
“Saya takut ganggu Mbak,” sahut Lisa santai, merasa sedikitpun tidak terganggu dengan aura permusuhan yang ditunjukkan secara terang-terangan oleh Raya. “Duluan ya Mbak,” ucapnya sebelum pergi keluar.
“Gimana?” tanya Anin dengan raut cemas ketika melihat Lisa.
“Apanya?” Lisa mengerutkan kening.
“Lo bertemu dengan mantan Yuda kan di dalam?”
“Iya. Memang kenapa?”
“Lo nggak jambak-jambakan, kan? Lo nggak tonjok-tonjok, kan di dalam?” Anin menatap Lisa dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Nggaklah. Ngapain juga kami tonjok-tonjokkan?”
“Kan dia sama cowok lo,” tukas Anin.
Lisa menghela napas panjang. Dia sudah capek menjelaskan ke gadis itu kalau Yuda bukanlah cowoknya, alias bukan pacarnya. Tapi kenapa Anin masih juga tidak paham. “Udah deh, jangan bahas mereka lagi. Yuk ke XII!” Lisa beranjak terlebih dahulu.
Saat mereka tiba di Bioskop XII, Clara dan kelima teman mereka sudah di sana. Mereka terlihat sedang memilih-milih mau menonton apa. Akhirnya disepakati untuk menonton film bergendre action. Dan hampir dua jam ke depan, mereka larut dalam aksi seru sang pemeran utama.
Hari minggu, bagi anak kosan, selain pergi jalan-jalan sama teman-teman, juga waktunya bersantai di atas kasur sambil main ponsel. Begitulah yang dilakukan Lisa saat ini setelah menyelesaikan mengepel lantai kamarnya dan mencuci pakaian. Dia sedang asyik membaca berita tentang BTS yang selalu mengukir prestasi terbaru mereka. Di antara anggota BTS, Lisa sangat mengagumi RM, si Leader BTS. Alasannya karena selain ganteng, RM memiliki otak yang pintar dan kemampuan bahasa inggris yang hampir menyerupai native speaker.
Beep. Notifkasi chat dari Whatsapp berbunyi. Lisa segera keluar dari website KpopInStar dan segera membuka chat tersebut. Ternyata dari Adnan.
[Adnan] Lg di mana Lis?
[Adnan] Sibuk nggak?
Lisa tanpa pikir panjang langsung membalasnya.
[Lisa] Di kosan. Knp?
[Adnan] Hangout yuk sm teman2 SMA kita dlu
[Adnan] Ajak Anin jg
[Adnan] Kami di Mal Anggrek skrg
[Lisa] Sedang #MAGER Nan 😅😅😅
[Lisa] Mungkin Anin bisa
[Lisa] Lo langsung WA dia aja
[Adnan] Yah😧😧😧 kok gitu
[Adnan] Teman2 mau jumpa sama lo
[Lisa] Maaf ya Nan, ngk bisa ikut
[Lisa] Sedang males ke mana2
[Adnan] Ya, ngk papa Lis
[Adnan] Oh ya, kayaknya lo diterima deh
Mata Lisa langsung membulat lebar sebelum bibirnya tersenyum merekah. Spoiler ini membuatnya merasa sangat senang. Lisa memang bercita-cita ingin mejadi seorang dosen. Makanya dia sangat berharap bisa bekerja di GOC, supaya bisa memiliki pengalaman mengajar. Meskipun ada beberapa orang yang bilang, cara mengajar yang dilakukan seorang dosen sangat berbeda dengan guru-guru biasanya. Tapi setidaknya dia sudah memiliki pengalaman mengajar. Pengalaman apapun pasti akan membantu menghadapi berbagai problema kehidupan dunia kerja nanti.
[Lisa] Lo nggak bohong kan?
[Adnan] Amplop lo ada ditumpukkan yg diterima
[Adnan] Selamat datang di GOC
[Adnan] Semoga betah mengajar di sini
[Lisa] Thanks Nan 😄
[Adnan] Panggilan resminya nyusul ya
[Lisa] Terima kasih skali lgi Nan
[Adnan] Sama2 😊
Setelah chat terakhir dari Adnan, chat diantara mereka benar-benar berakhir. Lisa menekan tombol back, hendak menutup aplikasi massenger tersebut. Tapi pupil matanya sedikit membesar saat melihat di kolom nama Yuda sedang berstatus mengetik. Status itu sebentar menghilang dan sebentar muncul kembali. Cukup lama seperti itu terus.
Lisa memutuskan untuk tak mengindahkannya. Dia meletakkan ponselnya di atas bufet dan mendekati pintu kamar mandi. Setelah acara beres-beres kamar yang cukup menguras tenaga, Lisa butuh mandi sekarang.
Saat dia baru saja keluar dari kamar mandi dengan penampilan rambut basah dan wajah segar, nada beep once terdengar. Lisa tidak langsung menuju ponselnya, dia memilih untuk berpakaian dulu. Pikirnya mungkin dari Yuda. Tapi setelah dia memastikan, ternyata bukan dari cowok itu, tetapi dari Mamanya.
Sebenarnya hati Lisa merasa lega dan sedikit penasaran saat ini. Mungkin sekarang Yuda tidak lagi mencoba mendekatinya, mungkin juga sekarang cowok itu sudah melupakannya. Hanya saja dia sedikit penasaran, alasan sikap Yuda semingguan ini yang berubah drastis, padahal selama ini ketika dia selalu menunjukkan penolakan, Yuda justru semakin gencar mendekatinya. Apa mungkin semuanya karena Raya?
MOHON KRITIK DAN SARANNYA SUPAYA CERITA INI SEMAKIN MENARIK DAN ENAK DIBACA. TERIMA KASIH.