
TERIMA KASIH YANG SUDAH VOTE CERITA INI. AKU JADI SEMANGAT LAGI MENULISNYA 😄😄😄
“Keluar," perintah Yuda.
Mata Lisa lantas mengerjap-ngerjap, terbangun dari lamunannya, dan menoleh ke samping. Ternyata pintu mobil sudah terbuka dan Yuda sudah berdiri angkuh di sana, menantinya untuk segera turun dari mobil.
“Kamu mau keluar sendiri atau aku paksa?!” ancam Yuda saat melihat keengganan Lisa.
Lisa mengembuskan napas panjang sebelum menurunkan sebelah kakinya. Dia membiarkan saja saat Yuda menggenggam tangannya dan menarik tubuhnya menuju lift. Lisa tidak ada tenaga untuk menepis tangan Yuda sekarang. Meskipun perjalanan cukup singkat dari Yogyakarta ke Jakarta, sesungguhnya dia sedikit jetlag. Lagian tidak ada salahnya juga dia bertemu dengan Mamanya Yuda, Tante Raisa. Sudah cukup lama dia tidak bertemu dengan wanita ramah tersebut.
Saat mereka memasuki apartemen, kedua orang tua Yuda sedang duduk di sofa ruang tamu. Di depan Om Devan, ayahnya Yuda, duduk seorang laki-laki berkumis dan berwajah babyface. Matanya menilik Lisa penuh minat, memastikan pemikiran yang telah bercokol di benaknya.
“Akhirnya kamu datang juga Lis,” sambut Raisa sambil berdiri.
Lisa mendekati Raisa dan menyalaminya. Mereka juga saling berpelukan hangat. Setelah itu Lisa mendekati Devan yang masih terlihat gagah walaupun rambutnya sudah ada yang memutih. Dia juga menyalaminya.
“Ini kenalin sepupunya Yuda. Fathan,” ujar Raisa memperkenalkan.
Fathan mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman.
“Lisa,” kata Lisa sambil menyambut ajakan salaman tersebut.
“Ini Lisa yang itu kan, Yud?” tanya Fathan dengan mimik wajah penasaran yang tinggi.
Kening Lisa spontan mengerut tajam. Itu?
“Lo ngapain ke sini?” lontar Yuda dengan tatapan sinis, dia tidak berniat menjawab pertanyaan Fathan karena laki-laki yang sama tingginya itu sudah jelas mengetahuinya.
“Ketemu ortu lo lah, masak mau ketemu lo,” sahut Fathan sakartis. “Oh iya Lis, lo mau gue kasih tahu rahasia memalukan tentang Yuda nggak?” Fathan menunjukkan cengiran jahil.
“Jangan berani-berani lo!” tukas Yuda mengancam.
“Yuda tuh pernah—“
“Yuda?” panggil seseorang yang menyela ucapan Fathan. Sosok itu berdiri di depan pintu yang memisahkan ruang tamu dengan ruang keluarga.
Yuda refleks menoleh. Sesaat kemudian raut terkejut muncul di wajahnya. “Raya?”
Mendengar nama itu, Lisa spontan menoleh. Bola matanya kontan membelalak. Terkejut dan sedikit syok. Tidak menyangka dia akan bertemu Raya di sini, setelah hampir empat tahun tak mendengar kabarnya.
“Lo kenal dengan Raya Yud?” tanya Fathan.
“Dia teman SMP gue,” sahut Yuda. “Tapi kenapa lo bisa di sini, Ray?”
“Tadi gue habis dari kamar mandi. Sebenarnya hari ini gue dan Fathan mau nonton bareng sama teman-teman kampus. Karena mobil gue sedang di bengkel, gue nebeng sama dia. Terus dia ngajak ke sini sebelum ke Senayan, karena katanya mau bertemu Oom dan Tantenya dulu yang datang dari Singapura. Gue sungguh nggak mengira kalau Om Devan dan Tante Raisa adalah ortu lo. Dan sudah lama ya kita nggak bertemu sejak putus,” jawab Raya panjang lebar sambil mendekat.
“Putus? Kalian pernah pacaran?” kedua mata Fathan membesar. Dia cukup dekat dengan Yuda meskipun mereka sering bertengkar. Setahunya Yuda hanya pernah pacaran sekali sampai sekarang, yaitu dengan Lisa. Cowok itu tipikal cowok setia yang bukan setiap tikungan ada. Dia bahkan tidak pernah melirik cewek-cewek yang mencoba mendekatinya. Jadi wajar kalau Fathan tak percaya kalau Yuda dan Lisa pernah putus dan berpacaran dengan Raya, mengingat bagaimana setiap ucapan dan tindakan Yuda selalu mengkait-kaitkan dengan Lisa. Fathanlah juga yang menjadi saksi mata bagaimana Yuda begitu mengilai Lisa, hingga dia pernah menganggap kalau Yuda sudah tak waras lagi. Yudalah contoh pepatah kalau cinta itu gila dan buta.
“Hanya sebentar sih, dua atau tiga hari, gue lupa,” jawab Yuda tak acuh, tampak tak tertarik untuk membahasnya.
“Trus lo putuh sama Lisa karena apa?”
“Karena Lisa selingkuh sama temannya Yuda,” bukan Yuda yang menjawab, namun Raya yang kini menatap sinis ke Lisa yang sedang menunjukkan raut tegang.
“Dia nggak selingkuh. Itu hanya salah paham,” bantah Yuda cepat.
“Kita ngobrol nanti saja yuk, sebaiknya sekarang kita makan siang dulu. Tante udah masak banyak nih,” ajak Raisa menyela.
“Aku pengen sih Tan, tapi kayaknya teman-teman sudah nunggu,” ujar Fathan sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
“Kayaknya mereka belum berangkat deh Fat. Keysa saja masih di kosan,” timpal Raya.
Fathan tampak menimbang-nimbang, sebelum mengangguk. “Oke deh Tan. Mumpung gratis.” Fathan menunjukkan cengir lebar.
“Yuk Lis, kamu juga harus makan di sini. Kamu pasti belum makan, kan?” Raisa mendekati Lisa yang sejak tadi terus diam dan hanya menjadi penonton saja dari pembicaraan tiga sosok seusianya.
“Terima kasih Tan. Tadi udah makan di pesawat,” tutur Lisa menolak.
“Tapi kamu pasti belum kenyang, kan? Di pesawat biasanya hanya dikasih roti dan beberapa snack saja. Lagian Tante rindu ngobrol sama kamu. Sudah lama kita nggak bertemu, padahal dulu seminggu sekali Yuda pasti mengajakmu ke rumah.”
Lisa tak lagi bisa menolak, karena Raisa sudah menuntunnya menuju meja makan. Sebenarnya dia juga rindu berbincang-bincang dengan wanita itu. Selama mengenalnya dulu, Raisa adalah sosok keibuan yang bisa membuatnya nyaman. Dia juga sosok yang sangat ramah dengan tutur kata yang lembut. Lisa selalu bisa merasakan kehangatan kasih sayang seorang ibu saat berdekat dengannya. Tapi keberadaan Raya yang tidak terduga ini, cukup banyak membuat Lisa gelisah. Raya pasti terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya, sama seperti dulu.
“Ayo tambah Lis!” ujar Raisa saat melihat piring Lisa yang sudah hampir kosong.
“Terima kasih Tan, tapi saya sudah kenyang,” jawab Lisa dengan memberikan senyum kecil.
“Kata Yuda, kamu juga kuliah di Banus ya Lis, ngambil jurusan apa?”
“Iya Tan. Saya ngambil jurusan Statistika.”
“Kalau Raya, satu kampus ya dengan Fathan?”
Raya mengangguk sambil menyungging senyum lebar. “Iya Tan. Saya di jurusan Managemen.”
“Kok Yessy nggak ikut datang ke sini, Tan?” tanya Fathan sebelum memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
“Dia nggak bisa meninggalkan sekolahnya. Sekarang dia udah kelas tiga, jadi diusahakan nggak sering-sering izin, supaya nggak ketinggalan pelajaran.”
“Rencananya mau SMA di mana Tan? Di Singapura atau di Indo?”
“Masih Tan,” angguk Lisa. “Saya nggak mungkin lupa dengan Yessy.”
Yessy adalah adik perempuan Yuda yang berbeda hampir empat tahun. Dia gadis yang sangat manis dengan dua lesung di pipinya. Bentuk wajahnya hampir mirip dengan Yuda, sedikit kebule-bulean. Memang setiap dia berkunjung ke rumah Yuda dulu, Yessy selalu mengajaknya bermain. Lisa tidak pernah keberatan menerima ajakan itu. Dia merasa sangat senang karena merasa memiliki seorang adik perempuan. Bila mengingat-ingat, Lisa ternyata cukup banyak memiliki kenangan dengan keluarga ini. Hubungannya dengan Yuda yang berjalan hampir dua tahun memberinya banyak interaksi dengan Raisa, Devan, dan Yessy.
Meskipun begitu, Lisa merasa hubungannya dengan Yuda tidak bisa seperti dulu lagi. Bukan hanya karena dia masih sedikit sakit hati karena ucapan Yuda di parkiran sekolah SMP mereka, tapi juga karena alasan lain yang belum bisa diungkapkannya.
Beberapa menit kemudian, ruang makan itu terlihat sepi. Sebagian telah duduk-duduk di ruang keluarga. Sedangkan Lisa memilih untuk berdiri di depan westafel. Raisa sempat melarangnya karena ada pembantuan harian yang akan mencucinya nanti, tapi Lisa tak mengindahkan. Dia dengan telaten menyabun piring-piring tersebut dan membilasnya.
Saat mendengarkan langkah kaki yang memasuki dapur, Lisa sedikit menoleh. Pupilnya sedikit membesar melihat sosok Raya. Bukankah tadi dia dan Fathan sudah berpamitan pergi. Tapi kenapa cewek berambut lurus sepinggang itu masih di sini. Pertanyaan Lisa langsung terjawab ketika melihat Raya yang memasuki kamar mandi.
“Nggak nyangka ya kita bisa bertemu di sini.”
Piring yang ada di tangan Lisa hampir saja terjatuh bila dia tidak sigap.
“Gue juga nggak nyangka kalau lo masih pacaran dengan Yuda,” sambung Raya lagi.
Lisa memilih bungkam.
“Sebenarnya apa motif lo?”
“Saya nggak punya motif apa-apa Mbak,” jawab Lisa setelah menenangkan degup jantungnya yang tidak karuan.
“Jangan bohong! Lo pasti ngincar hartanya, kan?”
Lisa mengambil napasnya panjang. Ternyata sifat Raya tidak berubah meskipun sudah empat tahun berlalu. Dia masih suka menuduh tanpa alasan dan bukti yang konkret.
"Gue akan membuat lo segera putus dengan Yuda!" tukas Raya dengan penuh percaya diri.
“Sebenarnya saya sangat risi dengan keberadaan Yuda yang ada di dekat saya. Jadi kalau Mbak memang masih menyukainya dan ingin menjadi pacarnya lagi, ambillah! Saya sangat ikhlas. Justru saya merasa sangat berterima kasih,” tambah Lisa dengan santai, seolah Yuda adalah sebuah barang dan bukanlah insan yang bernyawa.
Raya mencoba menghilangkan ekspresi terkejutnya. Dia tidak menyangka kalau Lisa akan melontarkan kalimat seperti itu. Sungguh jawaban yang tak terduga. Dia kira Lisa akan mempertahankan status pacaran mereka mati-matian. “Lalu kenapa lo masih pacaran dengan Yuda?”
“Saya nggak pernah menganggap kami pacaran. Yudalah yang berpikir seperti itu.”
Tiba-tiba ponsel di dalam saku celana Raya berbunyi. Dia merogohnya dan melihat sekilas sebelum beranjak meninggalkan dapur.
Selang beberapa detik kemudian, Yuda datang dan mendekati Lisa yang baru saja mencuci tangannya. “Sudah selesai?” tanyanya.
“Antarkan aku pulang sekarang," pinta Lisa setengah memohon.
“Tapi Mama masih ingin ngobrol denganmu.”
“Aku harus mempersiapkan beberapa hal sebelum masuk kuliah besok. Tante Raisa pasti ngerti,” sahut Lisa sambil berjalan menuju ruang keluarga.
“Kamu sedang baca apa sih?”
Lisa tidak mengubris, tetap fokus menatap layar ponsel pintarnya, membaca berita-berita tentang artis KPOP yang sedang viral saat ini dari sebuah website. Setidaknya dengan kegiatan ini, kapasitas interaksi dengan Yuda menjadi berkurang.
Melihat tidak ada reaksi dari gadis di sampingnya, Yuda kembali berkonsentrasi mengemudi. Sejak mereka meninggalkan apartemennya, Lisa sudah berkutat dengan kegiatan membacanya. Yuda tidak suka diacuhkan seperti ini saat mereka berdua saja, tapi juga dia tidak bisa melarangnya. Lisa tampak begitu menikmatinya bacaannya.
Tiba-tiba nada beep once berbunyi. Lisa sedikit melirik ke dashboard dimana benda segiempat milik Yuda tergeletak. Dari notifikasi pop up yang tidak sengaja tertangkap retina matanya, Lisa melihat nama yang baru ditemui beberapa jam lalu, Raya. Dia tidak penasaran, mungkin bisa dikatakan dia tidak peduli chat apa yang dikirimnya. Bagus kalau seandainya Yuda dan Raya bisa dekat kembali. Mungkin dia bisa bebas dari gangguan Yuda.
“Besok kamu masuk kuliah jam 9.30, kan?” tanya Yuda ingin memastikan. Sebenarnya dia sudah sangat hapal tentang jadwal perkulihan Lisa.
Lisa masih menatap ponselnya dengan saksama. Mengabaikan pertanyaan Yuda. Tapi dia terpaksa menoleh ke kemudi tatkala ponselnya sudah berpindah tangan. “Kembalikan ponselku!” kata Lisa sambil memberikan tatapan tajam.
“Jawab dulu pertanyaanku!”
“Ya,” sahut Lisa lantang seraya mengambil kasar ponselnya dari tangan Yuda.
“Besok aku nggak bisa mengantarmu, jadi kamu pergi sama Anin saja ya.”
“Iya,” jawab Lisa acuh tak acuh.
“Besok aku dan Raya mau reuni sama teman-teman SMP,” beritahu Yuda.
Tidak ada respon apa-apa. Lisa mengabaikannya. Dia kembali fokus dengan layar ponselnya. Sementara Yuda menghela napas panjang melihat bagaimana reaksi Lisa. Mulai jenuh dengan sikapnya.
Sepuluh menit kemudian, mobil putih yang mereka naiki tersebut berhenti. Lisa hendak turun tetapi Yuda menahannya.
“Hubungi aku jika kamu benar-benar hamil,” ucap Yuda mewanti-wanti. Mengingat sikap Lisa beberapa bulan ini, yang selalu menganggapnya sosok tak kasatmata dan selalu mengacuhkannya, Yuda takut kalau Lisa akan menyembunyikan keberadaan janin itu.
“Aku tidak akan hamil,” tukas Lisa sambil menepis tangan Yuda.
Lagi-lagi Yuda memegang pergelangan tangan Lisa, lagi-lagi menahannya. Rahang cowok itu kini menegang dengan tatapan nyalang, “Apa kamu sudah meminum morning after pill?”
“Tidak," bantah Lisa seraya membalas tatapan Yuda. Dia bahkan tidak tahu bagaimana wujud morning after pill tersebut, jadi bagaimana mungkin dia meminumnya.
“Kamu jangan bohong!” Yuda menelisik raut wajah Lisa, mencari-cari kebohongan di sana tetapi tidak ditemukannya. Dia sangat menginginkan keberadaan anak itu. Dengan keberadaannya, dia berharap bisa mengikat Lisa sesegera mungkin dalam pernikahan. “Cepat hubungi aku setelah kamu tahu kalau kamu sedang hamil,” titahnya.
Lisa menepis lagi tangan Yuda. “Sudah aku bilang, aku nggak akan hamil,” tukas Lisa sebelum keluar dari mobil. Tidak sekalipun dia menoleh ke belakang hingga memasuki kosan Melati Ragunan.
MOHON KRITIK DAN SARANNYA. TERIMA KASIH.