
TERIMA KASIH BANYAK YANG SUDAH MEMBACA, VOTE, LIKE, DAN BERKOMENTAR 😄😄😄 BILA BERKENAN, KASIH DONG UCAPAN SELAMAT TAHUN BARU 2020 UNTUK KARYA CONNECTED INI 😆😆😆
“Lo nggak papa, Lis? Muka lo makin pucet.” Anin menatap khawatir sosok Lisa yang sedang memeluk erat perutnya. Suara ringisan sekali-kali terdengar.
Pagi tadi, sejak melihat wajah pucat dan tak bersemangat Lisa, Anin sudah menyuruhnya untuk beristirahat dan tidak datang ke kampus saja. Tapi dia menolak. Hari ini ada kuis Metode Statistika I dan Lisa tidak ingin meninggalkannya. "Kuis atau ujian sendiri itu nggak enak," katanya.
Setiap menstruasi hari pertama hingga beberapa hari ke depan, Lisa pasti mengalami kejadian seperti ini, nyeri yang menyakitkan di sekitar perutnya. Bahkan dulu, saat masih SMP dan SMA, dia beberapa kali pernah pingsan. Sejak beberapa bulan ini, hanya sakit perut biasa saja. Dia belum pernah pingsan lagi. Tapi kali ini rasa sakit perut yang dialaminya semakin kuat. Lisa bahkan merasa tidak bisa berdiri sekarang.
“Yuk kita pulang sekarang! Supaya lo bisa beristirahat di kosan. Matkul berikutnya lo nggak usah ikut saja, biar gue izinin,” ucap Anin sambil memasukkan peralatan tulisnya ke dalam tas. “Lo bisa jalan nggak?” ucapnya lagi dengan memegang bahu Lisa.
“Bi-bisa Nin,” jawab Lisa yang diikuti suara rintihan.
“Yuk Lis!”
Anin memegang bahu Lisa untuk menuntunnya berjalan. Mereka melangkah sangat pelan, bahkan sekali-kali langkah mereka berhenti ketika ringisan suara Lisa keluar.
“Lisa kenapa Nin?” tanya Wira. Dia baru saja menginjakkan kakinya di teras gedung fakultas MIPA ini, berniat untuk bertemu dengan ketua himpunan mahasiswa di sini, tetapi ternyata dia harus disuguhkan dengan penampakkan Lisa yang tidak terlihat baik-baik saja. “Lo sedang sakit, Lis?” Matanya memperhatikan lekat wajah dan bibir Lisa yang pucat. “Yuda ke mana? Dia udah tahu kondisi lo?” Sebenarnya dia sedikit heran kenapa cowok itu tidak ada di sini. Padahal dilihat dari sikapnya beberapa bulan ini, Yuda termasuk cowok protektif dan posesif tipe akut. Pasti dia tidak akan jauh-jauh dari Lisa apalagi dalam kondisi sakit seperti ini.
“Belum Bang.” Bukan Lisa yang menjawab tapi Anin.
“Biar gue hubungi dia sekarang.”
Belum sempat Lisa mengeluarkan kalimat larangan, karena tenaganya untuk berbicara sudah tidak ada, Wira sudah menempelkan ponselnya di telinga. Lisa tidak bisa mendengarkan percakapan mereka. Tubuhnya benar-benar lemas.
Beberapa menit kemudian, mobil fortuner putih yang cukup dikenal ketiga sosok tersebut berhenti di depan gedung fakultas. Yuda terlihat tergesa-gesa turun dari mobil. Dia berlari mendekati posisi Lisa dengan raut khawatir yang sangat kentara di wajahnya. Tepat saat Yuda sudah berdiri dihadapannya, pandangan Lisa mulai kabur.
“Sejak kapan dia sakit?” tanya Yuda kepada Anin sambil memegang bahu Lisa, membiarkan tubuh Lisa menopang kepadanya.
“Sejak pagi tadi Bang.”
“Dia sakit apa?”
Anin terlihat ragu-ragu untuk mengatakannya. Bagaimanapun sakit Lisa ini sedikit tidak nyaman untuk dibicarakan kepada Yuda maupun Wira. “Dia sakit begitu karena hari ini hari pertama menstruasinya,” akhirnya Anin memutuskan untuk mengatakannya juga. Yuda berniat menolong Lisa, setidaknya dia harus tahu kondisi yang sebenarnya terjadi.
Lisa menatap Yuda dan Wira dengan saksama, ingin melihat reaksi mereka. Mungkin karena Wira memiliki adik perempuan, dia menanggapinya dengan biasa-biasa saja. Tapi saat melihat reaksi Yuda, kening Anin spontan berkerut. Sorot mata Yuda tampak sedih, seolah perkataannya tentang kondisi Lisa tadi telah memberikannya kabar buruk. Padahal sakit yang diderita Lisa bukanlah sakit yang mematikan.
“Biar gue aja yang nganter dia,” pinta Yuda.
“Iya Bang,” setuju Anin.
Yuda menoleh ke Wira. “Thanks bro udah ngasih tahu gue.”
Wira membalas dengan anggukkan dan senyum kecil.
“Kami duluan ya,” pamit Yuda. Kemudian dia menuntun Lisa menuju mobilnya.
“Antarkan gue ke kosan,” lirih Lisa sebelum pandangannya mulai menghitam.
Perlahan-lahan kelopak mata Lisa mulai terbuka. Ditatap lekat langit-langit kamar, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Kemudian dia membangunkan tubuhnya hingga punggungnya bersandar pada kepala ranjang. Diedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Akhirnya dia menyadari kalau kamar ini bukanlah kamar kosan. Meskipun baru sekali dia berada di dalam kamar ini dulu, saat dikurung di sini, dia tahu kalau kamar ini adalah kamar Yuda.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Lisa spontan menoleh ke pintu dan didapatinya Yuda yang mendekatinya dengan tatapan cemas.
“Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kita perlu pergi ke dokter?” tanya Yuda.
“Aku ingin pulang ke kosan,” pinta Lisa dengan suara lirih, mengabaikan pertanyaan Yuda yang sedang duduk di atas tempat tidur tepat di samping kirinya.
“Setelah kamu sudah agak baikan, baru aku akan mengantarmu ke kosan.”
“Aku sudah baikan sekarang. Aku ingin pulang,” ucap Lisa sambil menurunkan kakinya dari ranjang.
“Istirahatlah sebentar lagi. Nanti aku pasti akan mengantarmu ke kosan,” janji Yuda.
Lisa tampak tak mengindahkan perkataan Yuda, dia tetap mencoba berdiri.
“Aku janji—“
“Aku mau ke kamar mandi,” potong Lisa seraya hendak berjalan menuju pintu berwarna putih.
“Setelah dari kamar mandi, istirahatlah lagi," perintah Yuda sebelum Lisa melewati pintu. "Dan sepertinya kamu tembus," ujarnya.
Lisa refleks menoleh ke belakang, melihat celana sekitar pantatnya. Memang ada bercak merah. Kemudian dia melihat ke tempat tidur. Di seprei yang tadi ditidurinya juga ada bercak kemerahan.
“Nggak papa. Biar nanti Bik Sumi saja yang mencucinya," kata Yuda saat melihat raut merasa bersalah dan penuh penyesalan di wajah Lisa.
“Tapi—“
“Berbaringlah lagi setelah kamu dari kamar mandi. Aku akan pergi ke minimarket, untuk membeli pembalut untukmu,” ujar Yuda sambil mendekati Lisa. Dia memberikan sebuah ciuman di kening sebelum keluar dari kamar.
Lisa masih terpaku di tempatnya meskipun pintu kamar sudah tertutup beberapa detik lalu. Ciuman tadi sungguh terlalu tiba-tiba, sedikit membuat hatinya berdegup kencang.
Dari artikel yang tak sengaja dibacanya, ciuman di kening memang mampu membuat hati seorang cewek lebih bergetar, dan dia sendiri mengalaminya sekarang.
Lisa segera masuk ke kamar mandi setelah sadar dari euforianya. Setelah itu dia melepaskan seprei tempat tidur. Dia berniat akan membawanya ke kosan saja. Dia merasa tidak enak kalau sosok bernama Bik Sumi tersebut yang harus mencucinya.
Sebenarnya saat Yuda mengatakan tembus tadi, Lisa merasa sangat malu. Tapi dia mencoba untuk tidak memperlihatkannya. Lisa tidak menduga kalau darah menstruasinya akan tembus, padahal dia sudah menggunakan pembalut anti bocor dengan ukuran cukup besar. Penyebabnya mungkin karena dia belum mengganti pembalutnya dalam waktu yang cukup lama. Sebaiknya pembalut itu memang harus diganti setiap tiga jam sekali.
Merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan dan dia juga tidak ingin beristirahat seperti disuruh Yuda tadi, Lisa memilih menuju balkon. Hampir satu jam dia hanya berdiri di sana, menikmati semilir angin yang membelai-belai wajahnya. Seandainya darah haidnya tidak tembus, mungkin sekarang dia sudah kabur dari apartemen ini. Dia yakin Yuda tidak mungkin mengunci dan mengurungnya di sini. Tidak ada alasan apapun hingga Yuda bisa bertindak seperti itu. Dan seperti dugaannya, saat dia memutar kenop pintu, pintu tersebut langsung terbuka. Sebuah kunci juga tergantung di kenop sebaliknya.
Baru tiga langkah dari pintu kamar, Lisa mendengar suara anggota BTS. Dia kembali masuk ke kamar dan menghampiri sofa dimana asal suara J-Hope berasal.
“Halo Nin,” sapa Lisa saat panggilan telepon mereka tersambung.
“Syukurlah sudah lumayan. Masih nyeri-nyeri sedikit kok, tapi tidak sesakit siang tadi.”
“Syukurlah kalau begitu,” sahut Anin lega. “Setiap lo menstruasi, bukan pertama kalinya lo pingsan seperti ini. Lo sudah pernah berkonsultasi dengan dokter tentang masalah ini sebelumnya?”
“Sudah,” jawab Lisa lirih, hampir tak terdengar.
“Lalu?”
“Nanti saja gue ceritain,” ujar Lisa yang terdengar enggan untuk membahasnya.
“Oke deh. Kalau gitu, gue tutup dulu ya.”
“Oke, makasih Nin,” ucap Lisa sebelum panggilan mereka terputus.
Bertepatan saat Lisa memasukkan ponselnya lagi ke dalam tas, Yuda datang membawa sebuah kantong plastik putih besar berlogo Indomarch dan sebuah paperbag berwarna merah muda.
“Aku nggak tahu kamu menggunakan pembalut merek apa. Ketika aku mencoba meneleponmu untuk menanyakannya, tapi HP-mu nonaktif. Jadi aku membelikan semuanya," jelas Yuda sambil menyodornya kantong di tangan kirinya.
Memang sehari yang lalu, Lisa telah memblokir semua kontak Yuda di ponselnya. Maka wajar saja ketika Yuda menelepon tadi, dia diarahankan ke voice mail. Lisa baru melakukannya kemarin karena baru mengetahui caranya dari internet. Dia juga sedikit menyesal kenapa tidak dari dulu mencari informasi pemblokiran itu.
“Aku juga membelikan ini.” Kini Yuda menyodorkan paperbag.
"Apa ini?"
"Bukalah! Aku harap kamu suka."
Lisa membuka paperbag tersebut ragu-ragu dan pupil matanya langsung membesar ketika melihat isinya.
“Karena CD dan celanamu terkena darah, jadi aku membelikan itu untukmu,” kata Yuda yang terdengar antusias.
Lisa tidak bisa berkata-kata. Entah dia harus berterima kasih atau apa. Di dalam paperbag tersebut terdapat sebuah celana dalam berwarna merah muda dan dress berwarna senada. Lisa tak habis pikir bagaimana bisa Yuda memiliki gagasan seperti itu. Apa dia tidak malu saat membelinya? Apa orang-orang di toko tidak menganggapnya aneh atau mesum?
“Cobalah!” perintah Yuda.
Karena Lisa sudah merasa sangat tidak nyaman dengan keadaannya sekarang, Lisa tidak protes dan terpaksa menerimanya saja. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi. Dia keluar dengan dress selutut yang terlihat sangat cocok di tubuhnya. Yuda bahkan terpana melihatnya. Laki-laki itu tidak berkedip menatapnya.
“Terima kasih. Nanti uangnya pasti kuganti."
“Nggak perlu diganti,” tolak Yuda.
Meskipun Yuda berkata seperti, di dalam hati Lisa tetap berniat akan menggantinya nanti. Dia tidak bisa membayarnya sekarang. Dilihat dari label harga di dress-nya tadi, uang di dompet Lisa tidak cukup. Harga dress ini hampir sama dengan uang makannya dua minggu.
“Terima kasih sekali lagi.” Lisa mengambil lipatan seprei yang diletakkan di samping pintu kamar mandi dan memasukkan ke dalam paperbag yang sudah terisi dengan celana dalam dan celananya. “Aku akan pulang sekarang,” lanjutnya sebelum pergi menuju pintu kamar.
“Tunggu!” cegah Yuda.
Lisa menulikan telinganya. Dia tetap menggerakkan kakinya.
“Aku bilang tunggu!” Yuda menarik pergelangan tangan Lisa hingga langkah kakinya berhenti.
Lisa mengembuskan napas panjang sebelum membalikkan badan. “Kenapa?”
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Baiklah. Kita bicara di ruang tamu saja.” Kali ini Lisa memilih untuk menurutinya. Kalau dia menolak, Yuda pasti akan memaksa.
Lisa terlebih dahulu berjalan menuju ruang tamu dan mengambil tempat duduk di sofa tunggal. Sementara Yuda mengambil tempat duduk di sofa panjang yang ada di depannya.
Lima menit berlalu, belum ada kata yang keluar dari mulut Yuda. Hanya matanya saja yang menatap Lisa dengan binar sedih.
“Kamu mau ngomong apa?” Lisa berinisiatif untuk memulai pembicaraan ini.
“Jadi kamu beneran nggak hamil?”
Lisa merasa tidak perlu menjawab karena Yuda pasti tahu jawabannya. Yuda pasti pernah mempelajari tentang reproduksi, dimana kalau terjadi proses peluruhan yang disebut menstruasi, maka tidak mungkin hamil. Menstruasi dan kehamilan tidak mungkin terjadi pada waktu bersamaan.
“Aku sebenarnya sangat berharap kamu hamil karena kejadian di hari itu, tapi sepertinya Tuhan tak merestui.”
Lisa masih bungkam.
“Saat di Senayan dua hari yang lalu, kenapa kamu tidak menghampiriku?”
“Karena kamu sama Mbak Raya. Aku nggak ingin mengganggu kalian,” jawab Lisa.
Yuda tiba-tiba terkekeh. “Apakah kamu tahu kenapa aku bisa bersama Raya di sana?” Melihat reaksi Lisa yang tidak akan menjawab, Yuda kembali melanjutkannya. “Karena aku memanfaatkannya. Sama seperti dulu.”
Kini mata Lisa terbelalak lebar.
“Selama seminggu lebih ini, aku memang sengaja tidak menghubungimu. Aku ingin kamu yang menghubungiku terlebih dahulu, karena selama ini hanya aku yang selalu berusaha menghubungimu. Aku yakin, ketika kamu mengetahui kalau kamu hamil, kamu pasti akan langsung menghubungiku. Jadi selama semingguan lebih ini, aku selalu bersabar untuk tidak meneleponmu meskipun aku sangat merindukanmu,” jelas Yuda dengan menatap Lisa tajam. “Aku juga tahu kalau kamu dan teman-temanmu akan pergi nonton ke Senayan. Saat Raya menghubungiku dan mengajak makan ke sana, aku langsung menyetujui. Aku ingin kamu melihat kami. Aku ingin kamu cemburu,” sambungnya.
Sekarang Lisa merasa bulu kuduknya berdiri. Bahkan degup jantungnya berbunyi sangat keras saat Yuda berdiri dari sofa dan datang mendekatinya. Dia merasa sesuatu hal buruk akan terjadi.
Yuda menarik dagunya hingga muka mereka hanya beberapa senti saja. “Jangan bermimpi kalau aku akan melepaskanmu. Tidak akan. Karena selamanya kamu tetap akan menjadi milikku. Cepat atau lambat, kita akan segera menikah,” ikrar Yuda.
MOHON KRITIK DAN SARANNYA. KALAU ADA TYPO DAN NGGAK LOGIS, SILAKAN BILANG YA, BIAR DIREVISI 😄