Connected

Connected
Connected 27 Ingin Melapor



Yuda mencoba menelepon untuk terakhir kali. Padahal pagi tadi dia sudah mengingatkan kalau akan mengantar Lisa kontrol ke rumah sakit. Jika panggilan ini masih tak diangkat juga, dia berniat keluar dari mobil, menjemput Lisa ke dalam kelas yang seingatnya berada di samping tangga. Seharusnya kelas Pengantar Statistika itu sudah berakhir sejak dua puluh menit yang lalu. Dan baru saja Yuda hendak membuka pintu mobil, pintu penumpang di samping kirinya terbuka.


“Kok lama? Bukannya kuliahmu selesai jam tiga?” tanya Yuda yang tak menyembunyikan rasa jengkelnya, merasa kalau Lisa memang sengaja melakukannya.


“Ada pertemuan kelompok sebentar,” jawab Lisa sambil memasang seatbelt.


“Kenapa nggak memberitahuku? Ponselmu masih berfungsi, kan?” cerocos Yuda.


“Masih,” sahut Lisa tak acuh sambil mengambil ponselnya di saku tas dan mulai berkutat dengan benda segiempat tersebut.


Sementara raut muka Yuda spontan cemberut, lagi-lagi dia diabaikan. Kemudian dia memegang dagu Lisa, memaksa pandangan Lisa berfokus padanya. Didekatkan bibirnya ke bibir Lisa, ingin memberikan kecupan di bibir tipis itu. Sudah lama dia tidak merasakannya. Namun Lisa buru-buru memalingkan kepala, membuat bibirnya hanya bertemu dengan pipi kiri Lisa.


Yuda berdecih sinis mendapati respons Lisa. Lagi-lagi sentuhannya ditolak. Dia menyalakan mobil dengan wajah ditekuk dan rahang mengeras. Namun ketika mobil yang mereka naiki berhenti di lampu merah, Yuda kembali memegang dagu Lisa. Kini dia memegangnya dengan erat, memastikan kali ini dia mendapatkan keinginannya. Sudah cukup beberapa hari ini dia terus ditolak dan diabaikan.


Rasa bibir tipis Lisa masih sama, masih sangat memabukkan dan menjadi candu. Sedangkan Lisa meronta-ronta. Telapak tangannya mengepal dan memukul-mukul dada Yuda, mencoba melepaskan pagutan bibir mereka. Laki-laki itu sungguh gila, bisa-bisanya Yuda melakukannya di tengah jalan seperti ini. Apakah dia tidak takut apabila ada yang memergoki perbuatannya? Atau parahnya, ada seseorang yang merekam dan meng-upload ke media sosial dan mungkin viral. Seseorang pernah berkata kepadanya, jejak digital sulit dihapus, dipastikan akan berada di internet selama-lamanya, dan kalaupun sudah dihapus, sesuatu yang sudah terekam di internet kemungkinan besar sudah ada di mana-mana. Ditambah lagi, media sosial secara otomatis mem-backup jejak digital tersebut.


“Yud-Yuda... berhenti!” ucap Lisa dengan bersusah payah menjauhkan wajah mereka. “Orang-orang akan melihat kita,” sambungnya.


Yuda sedikit mengikis jarak. “Mereka nggak akan tahu apa yang kita lakukan, karena kaca film VLT mobilku memiliki persentase sangat kecil. Dari luar, mereka hanya melihat kegelapan.”


“Tapi—“


Yuda tak membiarkan Lisa meneruskan kalimatnya, dia kembali menyatukan bibir mereka. Bahkan sekarang Yuda memaksa Lisa membuka mulut, bermaksud untuk bergulat lidah. Hanya saja Lisa tidak tinggal diam. Dia menggigit bibir bawah Yuda, membuat laki-laki itu terpekik kecil dan menjauhkan dari wajahnya.


“Kalau kamu kembali menciumku, aku akan turun dari mobil dan bilang ke orang-orang, kalau kamu melecehkanku!” ancam Lisa.


Yuda hanya terkekeh kecil menanggapi lontaran Lisa. Perempuan di sampingnya ini tidak akan bisa ke mana-mana, bahkan dia bisa meniduri Lisa di sini, sebab pintu mobil ini sudah di kuncinya. Tapi dia tidak akan melakukannya, tidak untuk sekarang. Selain karena Lisa masih dalam proses penyembuhan setelah kuretase, dia ingin Lisa menyerahkan diri secara sukarela.


“Jalankan mobilnya, sudah hijau,” ucap Lisa setengah berteriak.


Lagi-lagi Yuda terkekeh kecil sebelum mengemudikan mobil. Di matanya sekarang, Lisa terlihat menggemaskan dengan bibir bengkak dan wajah yang memerah, entah karena marah atau tersipu malu.



“Aku sudah mendaftarkanmu. Masih ada pasien di dalam, jadi kita menunggu sebentar,” ucap Yuda setelah berdiri di depan Lisa, dia baru saja kembali dari meja administrasi. “Kamu tunggu di sini sebentar, aku mau ke kamar mandi,” lanjutnya.


Lisa hanya hanya diam saja. Dia masih terlalu marah dan sangat dongkol karena perbuatan Yuda di lampu merah dan juga di parkiran basement rumah sakit tadi. Yuda kembali menyentuhnya, bukan hanya sekedar mencumbu, tetapi juga menggerayangi tubuh depannya. Bahkan Lisa masih bisa merasakan jejak tangan Yuda di p4yudaranya. Lagi-lagi dia mengalami pelecehan dan lagi-lagi dia tidak bisa melawan. Tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Yuda.


“Visum?” gumam Lisa.


Visum dibutuhkan sebagai bukti yang dapat berupa pakaian yang robek, lebam akibat pukulan, atau bekas apapun yang ada di tubuh. Tapi bisakah kissmark dijadikan bukti? Tiba-tiba Lisa menjadi meragukannya, apalagi ada kalimat tidak semua visum bisa dijadikan perkara kasus pelecehan s3ksu4l terhadap perempuan. Ditambah pula, beberapa artikel lain yang dibacanya, beberapa kasus pelecehan s3ksu4l di mana korban yang melapor mendapatkan tanggapan yang tidak menyenangkan, seperti kasus yang dipandang sebelah mata atau justru menyalahkan korban atas pakaian atau tindakan yang dirasa memicu pelecehan tersebut.


Lisa semakin bimbang ketika artikel itu menyarankan untuk tidak datang ke kantor polisi sendirian, tetapi membawa kawan atau anggota keluarga, demi menghindari pertanyaan tidak etis atau diskriminatif yang mungkin terlontar, seperti “Kamu merasa nikmat nggak waktu kejadian?” Bagaimana mungkin Lisa bisa membuat pengaduan sementara dia belum ada keberanian untuk menceritakan ke orang tuanya. Dia mungkin bisa saja meminta Anin, karena hanya gadis itu yang mengetahui kisahnya, hanya saja dia tidak ingin merepotkan.


“Lisa,” panggil seseorang dan refleks Lisa mendongak kepala ke sumber suara.


“Amira?” tutur Lisa dengan pupil mata yang sedikit membesar. “Lo kok bisa di sini?”


“Gue mau jenguk sepupu gue yang dirawat di sini. Kalau elo?” kata Amira sambil melihat satu-satunya pintu di koridor ini. Dahinya tampak sedikit mengernyit tatkala memandang papan nama bertuliskan Dr. Ridwan SpOG dan seorang wanita hamil bersama pasangannya yang sedang berdiri di depan meja administrasi. Dia secara terang-terangan juga melihat perut Lisa.


“Gue di sini sedang—“ belum sempat Lisa memberikan alasan, namanya tiba-tiba dipanggil.


“Ibu Lisa Sahara Putri,” sekali lagi nama Lisa disebut.


“Iya Sus,” mau tak mau Lisa harus menjawab dan bangkit dari tempat duduknya. “Ehm... Gue masuk ke dalam dulu ya, Mir,” tukasnya gelisah. Mengingat sikap dan sifat Amira selama ini, Lisa takut kalau cewek itu akan menyebar kabar yang tidak-tidak, seperti dia yang sedang hamil diluar nikah. Yah, meskipun Lisa akui kalau kabar itu adalah fakta. Tapi tetap saja dia tidak ingin menjadi bahan gibahan orang-orang di fakultasnya.


Ketika Lisa menoleh kepalanya sebelum masuk ke ruangan, Amira sudah tidak terlihat lagi. Dan malah dia mendapati Yuda yang sudah berdiri di belakangnya.


“Kenapa?” tanya Yuda yang juga ikut menoleh.


Lisa hanya menggeleng sebelum berjalan masuk ke ruangan.



MOHON KRITIK DAN SARANNYA YA SUPAYA CERITA INI MAKIN BAGUS.


FOLLOW JUGA IG-KU @ALSAEIDA0808


JANGAN LUPA UNTUK VOTE YA.


TERIMA KASIH.