
SELAMAT TAHUN BARU. SELAMAT MENYAMBUT TAHUN 2020 😄😄😄
Sudah hampir dua puluh menit sejak mobil fortuner putih ini meninggalkan apartemen, suasana masih hening. Tidak ada terdengar satu katapun yang terlontar dari mulut Lisa maupun Yuda. Lisa lebih memilih untuk menatap jendela di sampingnya, melihat lalu lalang kendaraan-kendaraan lain. Sementara Yuda sekali-kali melirik Lisa, sambil memikirkan tindakan selanjutnya yang akan dilakukannya ke gadis itu agar mereka segera menikah, karena kehamilan Lisa yang sangat diharapkannya—yang memungkinkan menjadi satu-satunya jalan mulus untuk menikah Lisa—tidak terjadi. Sedangkan memaksa ayah Lisa untuk menikahkan merekapun tidak akan memungkinkan, karena beliau sudah mengatakan agar bersabar.
Beep
Yuda dan Lisa sama-sama melihat ke dashboard, melihat apakah bunyi tersebut memang berasal dari ponsel yang tergeletak di sana. Setelah mengetahui kalau bukan berasal dari ponsel Yuda, Lisa segera merogoh tas ranselnya. Ternyata ada chat dari Adnan, yang ingin memastikan Lisa untuk datang ke GOC malam ini. Kemarin dia sudah melakukan micro teaching dan wawancara singkat dengan Pak Burhan, pemilik Garuda Operation Course sekaligus Oom Adnan. Dan malam ini dia sudah bisa mengajar di sana.
Baru saja Lisa hendak mengetik balasan, ponsel di tangannya sudah berpindah ke tangan Yuda. Lisa juga tidak sadar kapan mobil yang dinaikinya ini berhenti di pinggir jalan.
“Kembalikan!” pinta Lisa dengan mengapai-gapai ponselnya.
Yuda menghalangi tangan Lisa dengan sebelah tangannya sambil menatap layar ponsel.
[Adnan] Jgn lupa datang malem ini ya Lis
“Kamu mau ke mana sama dia?” tanyanya menuntun.
“Kembalikan ponselku!” ujar Lisa tak mengindahkan pertanyaan Yuda.
“Kamu sering bertemu dengan dia di belakangku?” Sekarang wajah Yuda memerah, menunjukkan kalau amarah sedang mencoba menguasainya sekarang. “Apakah kamu berselingkuh dengannya?”
“JANGAN SEMBARANGAN NGOMONG KAMU!” celetuk Lisa lantang, dia memang selalu tidak suka mendengarkan satu kata tersebut. Kata selingkuh itu selalu mengingatkan kejadian saat ibunya yang pergi meninggalkannya dan sang Ayah untuk bersama laki-laki lain. Kata itu juga mengingatkan dengan perkataan Yuda yang mengatakan kalau dirinya sama saja dengan ibumu yang tukang selingkuh.
“Trus mengapa Adnan nge-chat-mu seperti ini?”
“Bukan urusanmu.”
Lisa mencoba terus mengambil ponselnya dari tangan Yuda, tapi tiba-tiba Yuda membuka kaca jendela mobilnya dan melempar benda segiempat itu keluar hingga berada di tengah jalan.
“Apa yang kamu lakukan?” lontar Lisa dengan mata membulat lebar. Dia segera hendak keluar dari mobil, berniat mengambil ponselnya, tapi Yuda sudah terlebih dahulu mengemudikan mobilnya. “Berhenti!” Tangan Lisa mencoba menarik-narik handel pintu, berharap pintu tersebut bisa terbuka. “Apa yang lo lakukan dengan HP gue?” Dari spion mobil, Lisa dapat melihat ponselnya sudah hancur berkeping-keping. Ternyata Yuda sengaja menggilasnya dengan roda mobil ini.
Yuda memukul kasar setir mobilnya. “SIALAN! JANGAN PAKE GUE-LO SAAT BERSAMAKU!”
Lisa tersentak mendengar teriakan Yuda. Nyali Lisa langsung menciut seketika. Ekspresi wajah Yuda terlihat menakutkan dengan sorot mata tajam dan wajah memerah. Tapi untunglah Yuda tetap mengantarnya ke kosan Ragunan Melati, padahal Lisa sudah ketakutan setengah mati seandainya Yuda memutar balik mobil fortuner ini dan membawanya lagi ke apartemen. Dan untungnya kedua kali hari ini, sepertinya dewi fortune sedang memihak ke Lisa, pintu mobil tersebut tidak terkunci lagi. Lisa segera turun tanpa mengucapkan apa-apa. Sebisa mungkin dia harus menjauh dari Yuda jika tidak ingin mengalami sesuatu yang buruk.
Tepat pukul 18.30 Lisa keluar dari pintu kosan. Tukang ojol yang dipesannya sudah menunggu. Dia akan pergi ke Garuda Operation Course untuk mengajar di sana sesuai kesepakatan kontrak.
“Mbak Lisa?” tanya si tukang ojol.
“Iya Pak,” angguk Lisa. “Kita berangkat sekarang saja, ya Pak!”
“Pak, dia ikut saja. Dia nggak jadi pesan ojolnya,” tukas Yuda tiba-tiba saja datang entah dari mana sambil menahan pergelangan tangan Lisa, menghentikan pergerakan Lisa yang hendak duduk di atas sepeda motor.
“Tapi dek—“
Yuda menyerahkan dua lembar seratusan. “Terima kasih Pak,” ujarnya sebelum menarik pergelangan tangan Lisa.
“Lepaskan tanganku Yud!” mohon Lisa sambil meronta-ronta.
Yuda tidak menanggapi, dia terus membawa Lisa menuju mobilnya. Dengan sedikit kasar, Yuda mendorong Lisa untuk masuk ke dalam mobil. Kemudian dia memutar mobilnya sebelum duduk di depan setir mobil.
“Kamu mau membawaku ke mana?”
“Kamu mau bertemu Adnan di mana?” sahut Yuda yang justru bertanya.
Bertemu? batin Lisa bertanya-tanya. Setahunya dia tidak mempunyai janji apapun dengan laki-laki itu. Ah, apa ini masih ada kaitan dengan chat Adnan beberapa jam lalu?
“KAMU MAU BERTEMU ADNAN DI MANA?” ulang Yuda berteriak lantang, jelas menunjukkan kalau dia dalam kondisi mood yang buruk. Mungkin senggol sedikit, bacok.
“Ke GOC yang di jalan Pemuda,” jawab Lisa sambil melirik ke kemudi.
Bila diperhatikan, pakaian yang Yuda pakai masih sama dengan yang dipakai siang tadi, kemeja abu-abu dipadu dengan celana jeans berwarna hitam. Dahi Lisa sedikit mengernyit, apa Yuda tidak pulang ke apartemennya? Apa mungkin Yuda tadi menunggu di sekitaran kosannya sampai dia keluar dari kosan? Berarti dia menunggu selama empat jam lebih?
Tapi melihat bagaimana sikap Yuda selama hampir empat bulanan ini, jawabannya mungkin saja iya. Dasar sinting!
Tiba-tiba pikiran buruk menghantui pikiran Lisa. Semua tindakan Yuda ini pasti ada alasannya. Lisa benar-benar merasa sangat cemas sekarang, takut Yuda bertindak nekat. Dia tidak ingin Adnan menjadi korban dari sikap tempramental Yuda dan kesalahpahaman ini.
“Yuda!” panggil Lisa sambil memposisikan tubuhnya agar berhadapan dengan Yuda.
Yuda tidak merespon, tetap fokus menyetir.
“Aku ke GOC bukan karena mau bertemu Adnan, tapi aku mau mengajar di sana.” Lisa memutuskan untuk menjelaskan tujuan datang ke sana, dia berharap semua pikiran negatif di benak Yuda tentangnya dan Adnan terhapus. “Beberapa hari lalu, aku melamar kerja di Garuda dan malam ini hari pertama aku mengajar,” sambungnya sambil menatap wajah samping Yuda, ingin melihat reaksi cowok itu.
Mulut Yuda masih bungkam. Kepalanya tidak sedikitpun berpaling, tetap menatap lurus ke depan. Hingga mobil yang mereka naiki berhenti di depan gedung GOC, Yuda masih tak bersuara. Raut menegang karena amarah juga masih terlihat jelas di wajahnya.
“Tunggu Yud!” cegah Lisa dengan memegang bahu Yuda saat dia ingin membuka pintu mobil. “Aku dan Adnan tidak punya hubungan apa-apa. Dia murni temanku.” Lisa merasa kalau dia harus menegaskan tentang statusnya dan Adnan ke Yuda. Dia benar-benar takut Yuda membuat keributan di dalam gedung GOC nanti. Lisa tak ingin dikeluarkan di hari pertama dia mengajar di sana.
Yuda terlihat tak mengindahkan. Dia lantas segera turun dari mobil dan segera menuju pintu masuk GOC. Melihat kedatangan Yuda dengan raut yang tidak bersahabat, Adnan yang sedang fokus menatap komputer di depannya spontan berdiri.
“Hai Nan!” sapa Lisa dengan sedikit canggung. Dia merasa tidak enak atas kehadiran Yuda yang membuat suasana gedung ini menjadi mencekam. Dia tahu kalau Adnan merasa tidak nyaman, terutama ketika tatapan Yuda menatap tak bersahabat ke arahnya.
“H-Hai Lis,” balas Adnan ragu-ragu.
“Jadi gue ngajar di kelas mana?”
“Oke Nan,” ujar Lisa.
“Yuk gue antar lo ke kelas!” ajak Adnan setelah Lisa meletakkan pena untuk menandatangani presensi kehadirannya.
Kepala Lisa mengangguk. Setelahnya dia menoleh ke Yuda yang sejak memasuki GOC ini tidak mengucapkan apa-apa. “Aku ngajar dulu ya,” ucap Lisa yang terdengar seperti meminta izin.
Tanpa menunggu sahutan Yuda, Lisa segera mengikuti Adnan yang berjalan beberapa langkah di depannya. Namun sekonyong-konyong Yuda menarik lehernya dan kemudian dia merasakan sesuatu yang lembut menempel di mulutnya. Kejadian tersebut memang cukup singkat, hanya saja Adnan telah melihatnya. Kedua pupil mata laki-laki itu membesar. Bukannya dia tidak pernah melihat adegan ciuman. Dia sering melihatnya di adegan-adegan film romantis, tetapi dia tidak pernah melihatnya secara langsung seperti ini.
“Aku tunggu di sini,” ucap Yuda sebelum melepaskan tangannya dari leher Lisa.
Dengan langkah lebar-lebar, Lisa segera mendekati Adnan yang masih terpaku. “Yuk Nan!” ajak Lisa.
Adnan mengerjap-ngerjap kedua matanya. “O-oke.”
“Maaf ya Nan,” kata Lisa saat mereka berada di undakan tangga.
“Maaf? Tentang apa?”
“Ehm, tentang tadi.”
Cukup lama Adnan terdiam sebelum berujar, “Nggak papa kok. Tapi...,” Adnan tampak ragu-ragu menyampaikan, tidak ingin Lisa merasa tersinggung. “Tapi sebaiknya jangan sering dilakukan di sini. Di GOC banyak anak-anak, takutnya mereka nanti mencontoh,” tukas Adnan memperingatkan.
“Iya Nan. Sekali lagi aku meminta maaf. Aku akan memperingati Yuda nanti.”
“Jadi kapan undangannya?”
“Undangan apa?” Dahi Lisa mengernyit.
“Pernikahanmu dan Bang Yuda.”
“Kami tidak akan pernah menikah,” bantah Lisa.
Kontan dahi Adnan mengerut, penasaran mengapa Lisa berkata seperti itu. Sebenarnya dia ingin melontarkan pertanyaan, tetapi terpaksa diurungkan. Mereka sudah sampai di depan pintu kelas yang akan menjadi tempat Lisa mengajar malam ini.
Sejak ikrar Yuda kalau dia tidak akan melepas Lisa, kehidupan Lisa kembali seperti saat awal-awal masuk kuliah. Yuda selalu berada di sekitarnya, mengekorinya ke manapun dia pergi. Lisa sesungguhnya merasa tidak nyaman, tetapi Yuda terlalu keras kepala. Bila dia tidak mematuhinya, Yuda tak segan-segan mempermalukannya, entah dengan cara menciumnya di depan umum, atau memanggulnya seperti karung beras. Alhasil, sekarang Lisa memilih pasrah saja selama Yuda tidak menuntunnya untuk segera menikah.
“Gue duluan ya Lis,” ujar Anin, hari ini mereka ada kuliah Praktikum Algoritma Pemrograman 1 sks.
“Hati-hati Nin,” sahut Lisa sambil mengunci pintu kamarnya.
Tiga hari belakang ini, Lisa tidak lagi berangkat ke kampus bareng Anin. Setiap dia mau berangkat ke kampus, Yuda selalu sudah menunggu di depan kosan dengan mobil mahalnya. Sama seperti hari ini, mobil putih tersebut sudah terparkir di tempat biasanya di samping pohon mangga. Lisa tidak tahu sejak jam berapa Yuda menunggunya.
Tiga menit berlalu, tidak ada tanda-tanda mobil ini akan bergerak. Lisa mulai khawatir akan terlambat masuk ke kelas. “Ayo berangkat sekarang!"
“Kita tidak akan pergi sebelum kamu mengganti pakaianmu,” jawab Yuda ketus.
Lisa memandang pakaian yang sedang dipakainya. Tidak ada yang salah menurutnya dengan baju kaos berwarna putih yang dilapis dengan blazer hitam dan dipadu dengan celana khaki. Di kampus memang tidak ada peraturan tertentu tentang cara berpakaian, yang penting sopan saja.
“Aku nggak suka kamu memakainya. Kaos itu mencetak jelas payudaramu.”
Kini Lisa menatap kaosnya. Sebenarnya kaos itu tidak terlalu ketat, tetapi memang sedikit mencetak bra yang digunakannya. Bila tidak diperhatikan saksama, tidak akan kelihatan kok apalagi ditutupi dengan blazer.
“Ganti!” perintah Yuda masih dengan nada ketus.
“Tapi Yud, menurutku—“
“Kita tidak akan pergi sebelum kamu mengganti kaos itu.”
Lisa mengembuskan napas kasar sebelum membuka pintu mobil. Dengan terburu-buru, dia masuk ke dalam kosan dan menuju kamarnya. Sudah tidak ada waktu untuk memilih pakaian di lemari, dia mengambil kemeja yang tergantung di belakang pintu. Kemarin Lisa sudah memakainya di depan Yuda dan dia tidak protes. Kemudian Lisa segera menuju mobil.
“Ngebut sedikit ya, takut telat,” pinta Lisa setelah memasang seat belt ke tubuhnya.
Yuda menelisik penampilan Lisa sebelum menyalakan mobilnya. Di tengah perjalanan, Yuda membuka laci dashboard dan mengambil sebuah kotak berwarna putih.
“Ini untukmu,” Yuda menyodorkan ke Lisa.
“Apa itu?” Lisa mengambil ragu-ragu.
“Sebagai pengganti HP-mu kemarin. Aku membelikan yang sama denganku. Bukalah!”
“IPhone,” baca Lisa saat melihat tulisan di bagian atas kotak.
“Itu IPhone Xs,” timpal Yuda.
Spontan mata Lisa langsung terbelalak. Dia memang tidak tahu apa saja tipe-tipe IPhone. Tapi dia sedikit tahu kalau IPhone Xs memiliki harga yang cukup fantastis. Dari penjelasan teman-teman kampus yang didengarnya, harga IPhone ini sekitar 16 juta. Harganya delapan kali lipat dari harga ponsel lamanya.
“Kalau kamu menolak, aku tidak akan mengantarmu ke kampus, tetapi kita akan pergi ke apartemenku,” ancam Yuda tatkala melihat gelagat Lisa yang hendak menolak barang pemberiannya.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. MOHON KRITIK DAN SARAN 😉😉😉😉😉