
“Kapan terakhir ibu makan atau minum?” tanya sang dokter seraya melihat sebentar ke rekam medis yang sedang dipegang. Sebelumnya dia sudah menanyakan kondisi dan riwayat kesehatan Lisa untuk mengetahui apakah memiliki alergi terhadap obat-obatan atau memiliki riwayat kelainan darah.
“Tiga jam yang lalu, Dok,” jawab Lisa dengan suara pelan setelah tersadar dari lamunan untuk sekian kali sejak dokter itu menjelaskan apa yang telah terjadi. Dia masih belum percaya, berharap semua ini hanya mimpi saja dan dia bisa segera bangun.
“Ibu harus puasa sekitar enam sampai delapan jam sebelum melakukan prosedur kuretase.” Dokter itu melihat jam di pergelangannya, lantas menambahi, “Jadi sekitar jam tujuh kita akan mulai melakukan prosedurnya.”
“Berapa lama prosesnya, Dok?” lontar Yuda yang berdiri di samping kiri dokter berkacamata itu.
“Sekitar 20-30 menit.”
“Apakah Lisa bisa hamil lagi, dok?”
Dokter itu tersenyum kecil. "Bapak tidak perlu cemas. Melakukan kuret tidak akan mempengaruhi kesuburan ibu Lisa. Dan setelah prosedur kuretasenya, kami akan memonitoring pasien untuk memastikan pasien sudah pulih dari obat bius dan mendeteksi apakah terdapat komplikasi, seperti pendarahan hebat. Kalau mau hamil lagi, disarankan setelah mengalami dua kali menstruasi.”
“Terima kasih, Dok,” ucap Yuda tulus.
Kepala dokter mengangguk, kemudian dia berpamitan keluar ruangan untuk memeriksa pasien yang lain. Lisa tidak dapat membendung kesedihannya lagi, sehingga air matanya langsung keluar ketika pintu sudah tertutup. Dia benar-benar tidak tahu kalau ada makhluk bernyawa yang menghuni rahimnya. Dia pasti akan berhati-hati meskipun anak itu hadir tanpa status yang sah. Setidaknya dia tahu kalau dirinya adalah salah satu perempuan paling bahagia di dunia, karena dapat merasakan yang namanya kehamilan, sebab di luar sana banyak orang kurang beruntung yang menanti-nantikan tapi tidak mendapatkannya.
Lisa memiringkan tubuhnya menghadap jendela. Suara isak masih terdengar jelas. Dia telah divonis sebagai wanita mandul, ada surat dokter yang membuktikan. Tapi dalam satu hari dia bisa mengetahui kalau dia bisa mengandung, dan dalam hari yang sama dia harus merasakan kepahitan kehilangan bayinya.
Sementara Yuda memperhatikan punggung Lisa yang bergetar dalam pandangan getir. Sejak Lisa sadar, mereka memang tak saling berbicara. Yuda sengaja mendiamkannya, masih merasa marah. Dia tidak bisa melepaskan rasa amarah itu sekarang, kondisi Lisa tidak memungkinkan untuk mereka saling berargumen lantang. Dan tanpa disadari, linangan air mata jatuh membasahi pipinya. Dia tidak dapat membendungnya lagi. Meskipun amarah menguasai, dia masih tidak bisa menghilangkan rasa pilu yang menyesakkan dada ini. Dia memang yang tidak mengetahui bagaimana rupa bayi itu, bahkan dia belum mendengarkan detak jantungnya, tapi dia benar-benar merasa kehilangan yang mendalam. Kini dia hanya bisa menangis dalam diam tanpa mengalihkan pandangannya dari Lisa.
Lisa sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Dokter menyarankan agar Lisa menginap satu atau dua hari untuk memantau kondisinya. Dokter mengatakan kemungkinan dia akan mengalami kram perut dan pendarahan ringan, sehingga memintanya untuk menggunakan pembalut dan mengonsumsi obat ibuprofen. Dokter juga mengingatkan untuk menghindari berhubungan intim untuk sementara waktu.
Yuda mengambil napas pelan dan mengembusnya. Dia berharap emosi ini tidak meledak. Mereka sudah terlalu lama saling bungkam. Sudah lima jam berlalu semenjak Lisa keluar dari ruang operasi, ada baiknya mereka saling berbicara. Lisa juga sudah terlihat sedikit membaik. “Kenapa kamu tidak memberitahuku? Bukankah aku sudah mengatakan agar kamu menghubungiku jika kamu hamil?”
Lisa yang semula memiringkan kepalanya menghadap jendela, langsung menoleh ke sofa di mana Yuda duduk.
“Kenapa kamu tak memberitahuku tentang kehamilanmu?” tanya Yuda lagi ketika merasa Lisa tidak mendengarkan pertanyaannya tadi.
“Aku tidak tahu,” jawab Lisa singkat.
Yuda menghela napasnya, merasa tidak puas. “Mengapa kamu berbohong? Mengapa kamu mengatakan kalau kamu mandul?” tanya Yuda lagi yang kini terdengar menuntut.
"Aku tidak tahu.”
Yuda tiba-tiba berdiri dan menatap Lisa dengan sengit. Kemudian dia meremas rambutnya, mencoba meredam kemarahan yang bergejolak. Bukan jawaban singkat itu yang ingin didengar, dia butuh penjelasan kenapa Lisa melakukan semua ini. Begitu bencikah Lisa kepadanya? Dia tahu kalau perbuatannya waktu SMP dulu memang keterlaluan, tapi dia sudah berusaha memperbaiki. Tidak bisakah Lisa melihat ketulusannya?
Lisa tiba-tiba meraung, menangis sesenggukan. “Aku... A-aku benar-benar tidak tahu. Dok-dokter di rumah sakit itu mengatakan kalau... kalau aku akan kesulitan mempunyai anak. A-aku mandul. Aku... aku sungguh tidak tahu.”
Yuda menghela napas, berharap rasa marahnya bisa sedikit reda. “Apa kamu tahu kalau kamu hamil?” tanya Yuda yang langsung dibalas Lisa dengan gelengan kepala. “Kamu tidak berbohong, kan?” Yuda masih belum puas dengan jawaban yang Lisa berikan. Dia masih curiga kalau semua perkataan Lisa hanyalah akal-akalannya saja.
Dengan masih terisak-isak, Lisa berkata dengan suara sengau, ”Aku... aku sungguh tidak tahu kalau dia ada di dalam perutku. Ka-kalau aku tahu, aku pasti akan... akan menjaganya dengan baik-baik.”
Sebenarnya Yuda masih belum percaya, tetapi dia memilih mengakhiri pembicaraan mereka. Dia memperhatikan Lisa yang sedang menangis tersedu-sedu tanpa berniat untuk beranjak dari sekitaran sofa dan enggan mencoba menenangkannya. Kemudian tiba-tiba atensinya dan Lisa teralih ke suara berbahasa Korea.
“My Dad,” lontar Yuda setelah membaca nama kontak panggilan itu.
“Kemarikan!” ujar Lisa, meminta kembali ponselnya sambil sedikit memperbaiki posisinya menjadi setengah duduk. Ini masih pagi, masih jam delapan. Ayahnya sangat jarang menelepon di jam-jam seperti ini, dia selalu menelepon malam hari. Katanya tidak ingin mengganggu rutinitas kampusnya. Dan rasa cemas langsung memenuhi pikiran Lisa.
Yuda dengan sedikit enggan menyodorkan ponsel itu. Dia masih belum memeriksa dan membaca semua pesan di sana. Waktu memindai dengan men-scrolling ada beberapa nama yang sudah ditandai. Semua nama itu adalah nama yang terdengar seperti nama laki-laki. Lisa adalah miliknya, dia akan selalu memastikan kalau perempuan itu akan selalu menjadi miliknya. Dia akan menghilangkan dan menghancurkan semua yang menghalangi.
Lisa mengusap kedua matanya dan meminum air putih yang ada di atas bufet kecil di samping tempat tidur. “Halo Yah!” sapanya setelah memastikan panggilan itu terhubung.
“Kamu di mana, Nak? Kamu sehat, kan?”
Lisa menelan ludah sebelum menjawab. Dia juga melirik Yuda yang berdiri di samping kirinya. “Aku sehat Yah. Aku sedang di kosan sekarang.”
Terdengar suara helaan napas lega. “Syukurlah, Nak.”
“Ada apa memangnya, Yah?” Lisa sedikit mengernyit heran.
“Tidak ada apa-apa, Nak. Semalam Ayah hanya bermimpi kalau kamu sedang menangis kesakitan, memanggil-manggil nama Ayah. Dan di mimpi itu, Ayah tidak bisa berbuat apa-apa karena terhalang sesuatu. Tapi syukurlah kalau kamu sehat-sehat saja, Nak. Ayah hanya khawatir saja, padahal mimpi hanyalah bunga tidur yang tidak seharusnya dipikirkan.”
Air mata yang tadi sudah lumayan hilang, sekarang muncul lagi. Dengan menutup mulutnya, Lisa berharap suara isak tidak keluar. Dia tidak ingin ayahnya mengetahui kondisinya saat ini.
JANGAN LUPA VOTE SUPAYA BISA MASUK RANGKING. JANGAN LUPA JUGA UNTUK VOTE, COMMENT, AND SHARE KE TEMAN-TEMANNYA YA. TERIMA KASIH.
BISA JUGA FOLLOW IG AKU : @ALSAEIDA0808
KAMU BISA TANYA-TANYA 🤭🤭🤭