
Tubuh Lisa tersentak terbangun. Matanya terbuka lebar seraya menoleh ke kiri dan ke kanan, memindai seisi ruangan yang bisa tertangkap retina. Raut Wajahnya yang semula menegang, kini mulai tenang tatkala menyadari dimana dia berada sekarang. Lisa ingat kalau semalam Yuda membawanya ke gedung bertingkat ini, mengurungnya di dalam kamar apartemen laki-laki itu.
[J-Hope] Yeah nuga nae sujeo deoreopdae
I don't care maikeu jabeum geumsujeo yeoreot pae
Beoreokhae jal mot igeun geosdeul seutekki yeoreo gae
Geodeuphaeseo ssibeojulge seutaui jeonyeoge
BTS feat Steve Aoki Remix
Lisa spontan menoleh ke bufet di samping tempat tidur di mana suara JHOPE berasal. Keningnya sedikit mengerut sebelum mengambil. Setahunya, benda segiempat ini telah disita oleh Yuda, tetapi mengapa sekarang ada di kamar ini? Apa malam tadi Yuda masuk ke sini?
Dilihatnya layar ponsel. Ternyata telepon via WhatsApp dari Anin.
“Halo Nin,” ucap Lisa setelah ponsel itu tertempel di telinga.
“Lo di mana, Lis?”
“Gue....” Lisa ragu-ragu untuk menjawabnya, takut Anin salah paham.
“Lo sama Bang Yuda ya sekarang?”
Lisa memilih diam.
“Kata Mbak Yuli, malam tadi lo pergi sama Bang Yuda. Dan sejak subuh tadi gue nggak melihat lo,” jelas Anin di seberang telepon. “Lo nginap di tempat dia, ya?”
“Nggak. Gue nggak ada niat nginap di sini, gue dipaksa,” jawab Lisa dalam hati, masih memilih bungkam.
“Lo nggak ngapa-ngapain kan dengan Bang Yuda? Lo nggak ena-ena kan sama dia? Ingat, lo baru aja masuk kuliah, masa depan lo masih panjang.”
Lisa membuang napas kasar. Dia merasa sedikit tersinggung dengan ucapan Anin. Memang Anin kira dia cewek apaan. Dia nggak mungkin melakukan hal “itu” sebelum menikah. Sekalipun cinta, Lisa pasti akan menolak melakukannya. Dia masih memegang teguh larangan agamanya.
“Jadi lo di mana sekarang?” tanya Anin lagi.
“Ada apa lo nelpon gue, Nin?” Lisa tidak menjawab, justru melontarkan topik lain.
“Gue mau pergi ke kampus sekarang, soalnya gue mau ngerjain tugas dengan kelompok gue. Lo mau bareng gue atau naik transjakarta saja nanti?” Biasanya Lisa memang selalu menebeng motornya bila mau pergi ke kampus. Mereka selalu memiliki mata kuliah dan kelas yang sama.
“Gue naik transjakarta aja, Nin.”
“Oke deh. Gue duluan ya,” ujar Anin sebelum panggilan telepon itu berakhir.
Ditariknya napas panjang dan diembuskan pelan. Kemudian Lisa turun dari tempat tidur. Saat itulah matanya menangkap sebuah foto yang terpanjang di atas bufet. Ternyata foto yang dilihatnya malam tadi bukanlah mimpi belaka.
Kemarin malam, setelah capek berteriak hampir satu jam agar Yuda melepaskannya, Lisa memutuskan untuk tidur saja. Dia sedikit kelelahan mengingat hampir seharian ini dia berada di lingkungan kampus. Ketika hendak berbaring di atas tempat tidur, matanya menangkap foto itu, foto yang memperlihatkan dia sedang tersenyum lebar mengarah ke kamera. Dia masih ingat kapan foto itu diambil, seminggu setelah Yuda menyatakan suka kepadanya.
Lisa mencoba tidak ingin peduli atau penasaran mengapa fotonya terpanjang di sana. Dia segera berjalan menuju ke kamar mandi, berniat untuk membasuh mukanya agar terlihat lebih segar. Setelah itu dia berjalan mendekati pintu, berharap pintu itu tidak terkunci lagi. Ternyata harapannya kali ini terkabul.
Kepala Lisa celingak-celinguk, melihat situasi apakah ada sosok Yuda atau orang lain di apartemen ini. Namun sunyi sepi. Tidak terdengar suara apapun. Lisa segera berjalan menuju ke pintu keluar, ingin pergi secepat mungkin di apartemen ini.
Belum sempat dia memegang gagang pintu, pintu berwarna coklat itu tiba-tiba terbuka dan menampakkan sosok Yuda dalam balutan baju santai sambil menenteng kantong plastik.
“Kamu udah bangun?” tanya Yuda, meskipun dia sudah tahu jawabannya.
Lisa tidak merespon. Dia justru buru-buru untuk menerobos keluar. Namun Yuda menghalanginya.
“Mau ke mana?”
“Gue mau pulang,” sahut Lisa.
“Aku udah beli sarapan. Kita makan dulu, baru aku akan mengantarmu pulang.” Cukup lama Yuda terdiam, menimbang apakah dia harus mengucapkannya. Malam tadi dia cukup terpaksa melakukannya. “Atau jika kamu menolak, aku akan mengurungmu lagi di kamar itu,” ucapnya dengan memandang pintu kamar yang menjadi tempat mengurung Lisa semalam.
Kali ini Lisa memutuskan untuk menurut. Dia membalikkan badan dan menuju sofa terdekat. Sementara Yuda pergi ke dapur untuk mengambil beberapa piring. Dia dengan telaten membuka bungkus soto, kemudian menyodorkannya di depan Lisa.
“Makanlah! Ini sarapan kesukaanmu, kan?”
Lisa tidak menggubris perkataan Yuda, justru langsung menyantap makanan berkuah itu. Selain karena memang soto adalah makanan favoritnya, Lisa ingin segera menghabiskannya agar bisa segera pulang ke kosan.
Melihat begitu lahap Lisa memakannya, Yuda tersenyum kecil. Selama mereka pacaran ketika masih SMP, Lisa memang tidak pernah menunjukkan imej gadis yang tidak doyan makan. Dia selalu memakannya dengan lahap dan semangat. Dulu mereka sering banget hunting kuliner-kuliner enak di Yogyakarta. Bahkan saat event kuliner gratis atau bazaar kuliner, Lisalah yang pertama yang akan mengajaknya dengan mengebu-gebu. Anehnya, meskipun gadis itu suka makan, tubuh Lisa tetap tidak mudah gemuk.
“Jadi cowok malam tadi memang benar bukan pacarmu, kan?” tanya Yuda memastikan. Malam tadi, Lisa sudah mengatakan yang sebenarnya di balik pintu kamar. Dia berteriak meminta dilepaskan sambil mengaku. Yuda mendengarkan dengan saksama tanpa ada niat sedikitpun untuk membebaskan seperti janjinya. Dia ingin Lisa tetap berada di dalam apartemen ini saja. Setelah beberapa jam kemudian, saat tidak terdengar lagi suara Lisa, Yuda baru membuka pintu kamarnya.
Tiba-tiba Yuda teringat apa yang telah dilakukan kepada gadis itu malam tadi.
Yuda membuka pintu kamar dengan perlahan. Dilihatnya tubuh Lisa yang terbaring di atas tidur. Dengan pelan-pelan dia mendekati tempat tidur itu. Matanya memandang lekat wajah Lisa yang terlihat cantik meskipun mulutnya sedikit terbuka. Tangannya tanpa sadar memindahkan beberapa anak rambut yang menghalangi wajah Lisa. Cukup lama dia menatap wajah Lisa sebelum tiba-tiba wajahnya mendekat.
Yuda menyatukan bibirnya dengan bibir Lisa. Bibir itu terasa sangat lembut apalagi saat dia sedikit **********. Hanya sedikit saja karena dia takut Lisa mendadak terbangun.
“Love you,” ucapnya sebelum mengecup kecil bibir Lisa.
Yuda memandang bibir Lisa, ingin rasanya dia mengulang kejadian malam tadi. Bibir kecil dan tipis itu membuatnya ketagihan. Tetapi Yuda tahu kalau keinginan itu mustahil. Lisa pasti tidak akan mengizinkannya. Bahkan mungkin dia akan marah besar jika mengetahui perbuatannya semalam.
“Dia hanya temanmu, kan?” tanya Yuda, dia masih ingin memastikan yang sebenar-benarnya tentang status cowok itu.
“Jawab dulu!”
“Iya,” jawab Lisa ogah-ogahan.
“Namanya siapa? Dia satu kampus dengan kita?”
“Namanya Tian. Dia teman sekelas gue.”
“Berarti kalian akan sering bertemu?” tanya Yuda dengan nada tidak suka.
Lisa mendengus kasar. Apa-apaan dengan pertanyaan cowok itu? Memang kenapa kalau dia dan Tian sering bertemu? Mereka teman sekelas dan teman satu jurusan, jadi wajar saja mereka akan sering bertemu. Lisa benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Yuda.
“Sebagai pacarmu, aku nggak ingin melihat kamu dekat-dekat dengannya,” tukas Yuda yang terkesan seperti memberikan perintah.
Lisa menatap sengit ke arah Yuda. “Gue bukan pacar lo,” bantahnya.
“Kita masih pacaran. Aku tidak pernah terima kalau kita putus,” ungkap Yuda egois.
Ditarik napas panjang dan diembuskan pelan. “Aku tidak bisa menerimamu menjadi pacarku lagi. Jadi bisakah kita hanya menjadi teman saja?” Kali ini Lisa memutuskan untuk mengubah panggilan mereka menjadi aku-kamu, berharap Yuda bisa mengerti dengan keinginannya.
“Baiklah,” setuju Yuda.
Mata Lisa spontan membelalak. Benarkah secepat itu Yuda menyetujuinya, padahal selama ini dia yang tetap kukuh agar mereka berpacaran? Kemudian bibir Lisa tersungging lebar. Dia benar-benar sangat senang mendengarkannya. Hidupnya akan tenang tanpa gangguan cowok itu lagi.
“Tapi aku memang nggak mau menjadi temanmu, aku ingin menjadi suamimu. Aku ingin kita secepatnya menikah,” timpal Yuda dengan senyum sumringah.
“Dasar sinting!” maki Lisa sebelum berdiri dan segera menuju pintu, sedikit menyesal mengapa tidak sejak tadi dia keluar dari apartemen ini. Dia merasa tidak mengenal lagi sosok Yuda sekarang. Dulu Yuda tidak pernah memaksa kehendaknya atau bersikap egois. Dia selalu mementingkan kepentingan Lisa di atas kepentingannya. Tapi sekarang dia benar-benar berubah. Entah apa yang telah terjadi dengan cowok itu selama empat tahun belakangan. Mengapa Yuda menjadi sosok yang posesif dan sangat terobsesi dengannya seperti ini.
“Lis! Lis!” panggil Anin dari balik pintu sambil menggedor-gedor.
Lisa yang sedang fokus membaca buku cetak Kalkulus I langsung menoleh. Kemudian dia segera bangkit dan mendekati pintu. “Kenapa Nin?” tanyanya ketika sudah berhadapan dengan Anin.
“Beneran lo mau married sama Bang Yuda?” tanys Anin sambil masuk ke dalam kamar.
“Nggak. Itu hoax!” bantah Lisa cepat sambil mengerakkan sebelah tangannya ke kiri dan ke kanan.
“Tapi Adnan bilang kalau lo mau nikah sebentar lagi,” jelas Anin. Beberapa menit lalu, dia dapat chat WhatsApp dari Adnan. Cowok itu menanyakan apakah Lisa benar-benar akan menikah dengan cowok bernama Yuda. Tanpa membalas chat itu, Anin setengah berlari menuju kamar Lisa. Dia butuh penjelasan. “Lo nggak sedang hamil kan sekarang?” tebaknya sambil memindai perut Lisa.
Refleks Lisa memukul bahu Anin. “Lo kira gue cewek apaan?” ucapnya tidak terima.
“Sorry. Sorry,” ujar Anin seraya menyatukan telapak tangannya. “Lo beneran akan segera menikah dengan Bang Yuda?” Masih ingin memastikan, Anin kembali melontarkan pertanyaan yang hampir sama.
“Sudah gue bilang, itu hanya hoax. Gua nggak mungkin menikah dengan Yuda.”
“Oh ya, kemarin gue nggak lihat mobil Bang Yuda di depan kosan. Biasanya dia suka nangkring di sana untuk ngantar lo ke kampus, meskipun lo selalu menolaknya. Emang Bang Yuda ke mana?” tanya Anin penasaran. Sebenarnya Anin sedikit kasihan dengan cowok itu. Lisa selalu mengabaikannya. Anehnya, meskipun Lisa terlalu sering menunjukkan penolakan dan keengganan, Yuda tetap menemuinya. Dia akan kembali datang ke kosan ini untuk mengajak Lisa pergi bareng ke kampus dan selalu berusaha mengajak Lisa berinteraksi.
Diluar sana, banyak cewek-cewek yang mencoba mendekatinya, tapi Yuda tidak pernah menggubris. Sebagian bahkan bisa dikatakan lebih cantik dan menarik dari Lisa. Mungkin benar kata artikel-artikel yang dibaca Anin di internet, kalau laki-laki itu memang lebih susah untuk melupakan cinta pertama mereka dibandingkan perempuan.
“Nggak tahu,” jawab Lisa tidak peduli. Bahkan dia merasa sangat senang karena tidak melihat sosok Yuda kemarin, dia merasa bebas dan merasa tidak dibuntuti lagi. “Besok kita berangkat jam berapa ke bandara?” tanyanya mencoba mengalihkan topik.
“Jam 9 lebih saja kita berangkat dari sini.”
“Berarti setelah selesai UTS Kalkulus, kita langsung siap-siap, kan?”
Anin menyahut dengan anggukan. Kemudian dia berpamitan untuk kembali ke dalam kamarnya. Setelah pintu kamar ditutup Anin, Lisa menuju ke bufet kecil dimana ponselnya sedang dicas. Dia men-dial nomor ayahnya.
“Halo Nak!” sapa Yanto—ayah Lisa—di seberang telepon.
“Halo Yah! Apa kabar? Ayah sehat?”
“Syukurlah Ayah selalu sehat. Mamamu dan Aldo juga sehat,” jawab Yanto dengan mantap. “Besok kamu jadi pulang, kan?”
“Jadi Yah. Pesawatnya berangkat jam 11.30.”
“Berarti sekitar jam 1 siang kamu sudah tiba, kan?”
“Iya Yah,” jawab Lisa sambil mengangguk meskipun sang Ayah tidak bisa melihatnya.
“Sebenarnya ada yang ingin Ayah bicarakan denganmu, tapi sepertinya besok saja saat kamu sudah di rumah,” ungkap Yanto.
Lisa sedikit mengangkat alisnya, sedikit penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan Ayahnya. Tapi dia tidak mengutarakannya. Dan perbincangan mereka terus berlanjut hingga dua puluh menit berlalu. Setelah itu Lisa kembali menekuni buku-buku kalkulusnya. Tidak terasa kalau masa kuliahnya sudah berjalan hampir empat bulan dan besok ujian semester terakhirnya.
Sudah hampir dua bulan juga Yuda selalu mengintilnya. Sudah banyak cara penolakan yang Lisa tunjukkan, tapi tidak sedikitpun menggoyahkan hati laki-laki itu. Yuda tetap mengecapnya sebagai pacar, bahkan sering kali dia mengucapkan keinginannya untuk menikahi Lisa. Untunglah, sejak kemarin hingga malam ini, wujud Yuda tak terlihat. Bahkan tidak ada satupun panggilan telepon ataupun chat dari cowok itu. Mungkin Yuda sudah mulai menyerah.
MOHON KRITIK DAN SARANNYA! 😄😄😄