Connected

Connected
Connected 29 Malu



Instagram: @alsaeida0808


Yuda baru saja masuk ke dalam kamar, meninggalkan Lisa yang sedang duduk di sofa dan mulai kebingungan. Seharusnya dia tetap memaksa Yuda agar mengantar ke kosan, banyak hal yang bisa dikerjakannya di sana. Alhasil Lisa memilih mengambil remote yang tergeletak di atas meja dan menyalakan tv, meskipun dia yakin tidak ada satu siaran pun yang membuatnya tertarik. Dia memang tidak terlalu suka menonton TV, dia lebih suka menonton YouTube atau aplikasi-aplikasi yang menyajikan drama Korea.


Lima belas menit berlalu, tidak ada tanda-tanda pintu kamar di belakangnya terbuka. Entah apa yang dilakukan Yuda di kamar mandi hingga wujudnya belum tampak. Padahal Lisa mulai bosan dan ingin segera pulang. Bila dalam lima menit Yuda tidak juga keluar, dia berinisiatif memesan go-jek dan meninggalkan apartemen ini.


Tiba-tiba suara bel berbunyi nyaring. Lisa terpaksa bangkit dari sofa dan mendekati pintu kamar. Dia tidak berniat membuka pintu apartemen itu, biar Yuda saja karena ini apartemennya dan yang membunyikan bel itu tentulah tamunya. Dan beberapa kali Lisa memanggil-manggil nama Yudha yang masih tidak ada sahutan. Dengan menghela napas kasar, Lisa terpaksa menggerakkan kakinya menuju pintu.


“Lisa?” Terdengar nada terkejut yang terlontar kala pintu terbuka. “ Yuda ada?” tanyanya.


“Ehm, ada,” jawab Lisa mencoba mengingat-ingat wajah laki-laki dihadapannya kini. Sepertinya mereka pernah bertemu, hanya saja dia lupa.


“Lo masih ingat gue, kan?”


Dahi Lisa terlihat mengerut. Dia memang tipikal orang yang sangat susah mengingat wajah dan nama orang yang baru dikenal, butuh beberapa kali bertemu dan saling mengobrol untuk bisa menghafalnya.


“Gue Kevin, sepupunya Yuda. Kita pernah bertemu di resepsi Mas Bagas dan Mbak Ratih,” kata Kevin sambil melangkah masuk ke apartemen tanpa menunggu dipersilakan.


“Ngapain lo ke sini?” tanya Yuda baru saja membuka pintu kamar dan mendapati sesosok laki-laki jangkung yang memasuki ruang tengah. Tidak biasanya Kevin datang di hari weekend seperti ini.


Kevin menghempaskan tubuhnya ke sofa. “Gue mau pinjam uang sama lo.”


“Sekarang lo buat masalah apalagi?” Yuda terlihat tidak terkejut dengan maksud kedatangan laki-laki itu. Beberapa kali Kevin memang pernah meminjam uang kepadanya. Lantas dia mengambil tempat duduk yang berseberangan. Dia juga menarik tangan Lisa agar duduk di sampingnya.


“Biasalah, bokap tahu kalau gue ikut balapan lagi,” sahut Kevin santai.


Yuda menggeleng-geleng kepala. Setahunya, sudah keempat kali selama setahun ini, Om Pras—panggilan untuk Ayah Kevin—memblokir semua kartu kredit dan fasilitas Kevin. Tapi tampaknya Kevin tak merasa jera. Bahkan ketika dia mengalami kecelakaan tunggal yang menyebabkan patah tulang, dia terlihat biasa saja. Mungkin dia tak lagi menyayangi nyawanya.


“Lo mau pinjam berapa?” Meskipun Yuda tidak terlalu menyukai hobi Kevin tersebut, dia selalu berusaha menolongnya, mengingat mereka sudah kenal sejak kecil.


“Lima juta saja,” jawab Kevin seraya mengambil bungkus rokok di saku celana.


“Jangan merokok! Lisa nggak menyukainya,” peringat Yuda.


Kevin mendengus kasar sebelum memasukkan lagi bungkusan itu ke dalam saku celana. “Kalian nggak keluar? Ini kan malam minggu.” Lalu tiba-tiba dia mengerling menggoda sembari cengengesan. “Ah, apakah kedatangan gue mengganggu?”


“Ya, mengganggu!” tanggap Yuda sambil memberikan cengiran lebar.


Kevin terkekeh kecil. “Awas kebobolan! Nanti tekdung,” tukas Kevin yang terdengar memperingati, padahal hanya menyindir saja.


“Lagi?” gumam Kevin dengan raut kebingungan, lalu memandang perut Lisa. Dahinya mengerut dalam, menunjukkan kalau dia sedang berpikir keras, sebelum pupil matanya seketika membesar. “Wah, gila lo!” respons Kevin sambil menggeleng-geleng kepala, berdecak tak percaya. Tadi dia hanya melontarkan candaan saja. Dia memang tahu kebucinan Yuda selama ini, tapi apa yang diungkap laki-laki berkaos hitam itu sungguh gila. Benar-benar tak waras!


Sementara Lisa menatap Yuda dengan sengit. Meskipun tersirat, dia paham betul apa yang mereka bicarakan. Lantas cis bangkit dari tempat duduknya dan pergi menuju pintu. Dia merasa sangat marah dan juga malu sekarang.


“Kamu mau ke mana Lis?” tanya Yuda sambil menyusul. Tapi Lisa seolah menulikan telinganya dan berjalan tergesa-gesa menuju lift. “Aku sudah pesan go-food. Kita makan dulu, baru aku mengantarmu pulang,” sambung Yuda dengan memegang pergelangan Lisa supaya berhenti berjalan.


“Lepas!” berontak Lisa yang berusaha melonggarkan tangan Yudha.


“Kamu kenapa?” Yuda masih tidak memahami kenapa Lisa bersikap seperti ini.


“Kenapa kamu berkata seperti itu? Apa kamu tidak malu dengan Kevin?”


“Berkata?” kata Yuda yang sedikit gamam sembari mengingat-ingat percakapannya bersama Kevin. “Kenapa aku harus malu? Aku memang berharap kamu bisa hamil lagi.”


Wajah Lisa langsung memerah. “Dasar brengs3k!” umpatnya sebelum hendak menggerakkan kakinya lagi.


Yuda lagi-lagi memegang pergelangan Lisa. “Aku memang brengs3k. Tapi aku pastikan kalau orang brengs3k inilah yang akan menjadi suamimu dan ayah anak-anakmu kelak,” ikrar Yuda tegas. “Cepat atau lambat, kita pasti akan segera menikah dan aku pastikan kamu tidak akan pernah lepas dariku selamanya,” lanjutnya lantang.


Seketika bulu-bulu halus di tengkuk Lisa bergidik. Dia kembali mencoba melepaskan pergelangannya, tapi Yuda justru semakin kuat menggenggam dan membawanya menuju basement apartemen.



Gigi Lisa saling beradu, membuat suara bergemeretak. Matanya menatap nyalang ke layar ponsel sebelum meletak serampangan di atas kasur. Yuda kembali memberi ultimatum, mengirim pesan jika Lisa tidak ingin ikut dengannya, dia akan memberitahukan ke orang-orang kalau Lisa pernah hamil. Cewek itu tidak habis pikir dengan semua tindakan Yuda. Apakah Yuda memang sudah tidak memiliki urat malu lagi? Laki-laki itu sungguh sinting! Sepertinya Yuda butuh ke psikiater.


Lisa menatap langit-langit dengan pikiran yang berkecamuk. Dia tidak ingin pergi, sekarang hari Minggu dan dia ingin beristirahat. Cukup Sabtu kemarin saja dia kehilangan waktu luangnya. Tapi dia juga merasa resah dan tak bisa mengabaikannya, menimbang sikap nekat yang dimiliki Yuda. Dengan ogah-ogahan, Lisa berjalan menuju kamar mandi.


Sementara di gedung sepuluh lantai di kawasan elit Jakarta, Yuda menumpukan lengan di dahi sambil memejamkan mata. Dia mulai jenuh dengan hubungan ini. Dia jelas tahu kalau hubungan dan Lisa memang tidak sehat. Sebagian orang mungkin mengatakan kalau hubungan mereka terlihat toxic. Tapi dia tidak bisa mengubahnya.


Lisa adalah cinta pertama sekaligus pacar pertamanya. Seperti kebanyakan laki-laki lain, cinta pertama memang susah untuk dilupakan. Tidak banyak yang tahu kalau dia pernah berpacaran saat SMA, ingin membuktikan kalau dia bisa move on. Tapi nyatanya hubungan itu hanya tiga hari saja. Dan saat pertama kali melihat Lisa di lapangan universitas, rasa yang tak pernah hilang itu membeludak.


Apa yang mesti aku lakukan lagi sekarang? batin Yuda seraya memijit-mijit tulang yang ada di antara kedua mata, berharap bisa menghilang rasa bongkah yang ada di kepala. Karena jauh di lubuk hatinya, dia ingin hubungan metrka seperti pasangan lainnya, yang saling menyayangi dan memberikan kebahagiaan.



Terima kasih sudah membaca dan menunggu. Semoga masih betah untuk menunggu. Hehehehehe