
Instagram: @alsaeida0808
Mohon kritik dan sarannya. Bila ada TYPO atau TIDAK LOGIS, beritahu ya, supaya bisa direvisi dan karya ini semakin bagus.
~SELAMAT MEMBACA!~
Mata Lisa mengerjap-ngerjap mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina. Warna langit-langit kamar terlihat tidak asing. Dia merasa de javu, merasa pernah mengalami kejadian yang serupa. Dan saat mengedarkan pandangannya, dia langsung sadar kalau sedang berada di kamar Yuda. Perlahan dia bangun sambil memegang kening yang terasa sedikit pusing. Selimut yang tadi menutupi tubuhnya, seketika melorot dan menampakkan tubuh bagian atasnya yang telanjang. Dengan terburu-buru dan tatapan syok, Lisa mengambil kain berwarna putih itu dan mencengkeram kuat di depan dada.
“A-apa yang terjadi?” gumamnya.
Satu per satu kejadian di sore itu berputar laksana menonton film, dari kegalauannya mengenai proposal kegiatan jurusan, Yuda yang menyuruhnya makan dan minum dari go-food yang sudah dipesan, hingga tiba-tiba tubuhnya merasa panas, dan kemudian berakhir di atas ranjang ini.
“Pagi,” sapa Yuda setelah pintu kamar mandi terbuka. Dia terlihat sangat segar dengan rambut basah dan lilitan handuk yang menutupi bagian pinggang hingga lutut. Raut wajahnya juga tampak berseri.
“Apa yang elo lakukan ke gue?” teriak Lisa histeris. Dia tahu ada yang tidak beres. Sore tadi dia tidak bisa menahan gairahnya dan bertingkah seperti j4lang. Tubuhnya meliuk-liuk seolah haus belaian. “Apa yang elo kasih ke gue?” Semakin lantang Lisa berteriak. Matanya menatap sinis dan tajam.
Yuda berjalan mendekati lemari besar yang terletak tidak terlalu jauh dari tempat tidur. “Hanya afrodisiak,” jawabnya.
“Afrodisiak?” Dahi Lisa berkerut. Dia merasa pernah mendengar kata itu di film-film yang ditontonnya. “Elo ngasih gue obat perangsang?” terka Lisa sedikit tidak yakin. Dia merasa Yuda tidak akan bertindak jauh seperti itu.
“Iya,” jawab Yuda santai sambil memakai boxer.
“Dasar brengs3k! Ini pelecehan!” bentak Lisa dengan wajah memerah.
Yuda mengambil kaos berwarna hitam dan langsung memakainya. “Ini bukan pertama kalinya aku melecehkanmu.”
Lisa mengambil lampu tidur di atas bufet kecil di sampingnya, lantas melemparnya. Beruntung Yuda sempat menghindar hingga lampu itu mengenai lemari di belakangnya dan hancur berkeping-keping. Lalu Lisa mulai terisak-isak, menangisi dirinya yang lagi-lagi tak berdaya menghadapi sikap dan tindakan kurang ajar Yuda.
“Mandilah! Setelah itu aku akan mengantarmu ke kosan dan bandara,” kata Yuda sambil mendekati ranjang, menyodorkan handuk yang tadi diambilnya di lemari. “Penerbanganmu jam dua, kan?”
Lisa menepis handuk itu sehingga terjatuh ke lantai. Yuda mengambilnya dan meletakkan di atas kasur dengan ekspresi yang masih santai, seolah bukan suatu perkara yang besar. Tidak ada raut menyesal sedikitpun yang ditunjukkannya.
“Pergi! Pergi! Menjauh dariku!” usir Lisa dengan nada membentak.
“Aku menunggu di ruang TV,” kata Yuda sebelum beranjak menjauh.
Lisa menekuk lutut, membenam kepalanya di sana. Dia semakin menangis tersedu-sedu, merasa marah dan kecewa. Mengapa dia harus mengalami semua kejadian ini? Mengapa tidak orang lain? Mengapa tidak perempuan-perempuan yang dari wajahnya terlihat sangat menyukai Yuda saja? Kenapa harus dia? Ah, tiba-tiba dia teringat dengan ibu kandungnya. Apakah semua ini adalah karma? Sebuah balasan yang telah dilakukan ibunya?
€_¥
Yuda langsung mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke pintu kamar yang terdengar terbuka. Dia tersenyum lebar mendapati sosok Lisa yang terlihat segar dan cantik dengan rambut basah. Dia berdiri dan mendekati lemari di bawah TV, mengambil sebuah hairdryer milik ibunya yang sengaja ditinggal di apartemen ini. “Duduklah! Aku akan mengeringkan rambutmu!” perintahnya.
Lisa memilih mengambil tempat duduk yang terdekat tanpa membantah. Selama membersihkan tubuhnya di kamar mandi, dia telah merenung dan berpikir. Semakin dia menolak atau melawan, Yuda semakin merasa tertantang.
Hanya terdengar suara berisik dari hairdryer yang memenuhi ruangan. Dua sejoli itu larut dalam pikiran masing-masing hingga atensi mereka buyar karena suara bel yang berbunyi.
“Mungkin go-food yang aku pesan,” tutur Yuda dengan meletakkan hairdryer di atas meja dan berjalan menuju pintu. Dia kembali dengan menentang plastik berwarna putih. “Aku memesan bubur Bandung,” ujarnya sembari berjalan menuju dapur.
Yuda mengambil dua mangkuk dari lemari kitchen set dan menuangkan bubur tersebut. Dia juga mengambil dua gelas dan sebuah teko yang diletakkan di atas nampan, kemudian membawanya ke ruang TV dan meletakkan di atas meja.
“Makanlah! Setelah itu aku akan mengantarmu ke kosan.” Yuda menyerahkan sebuah mangkok ke depan Lisa. "Ini hanya bubur, aku tidak memasukkan apa-apa," timpalnya ketika melihat reaksi Lisa yang menatap takut dan khawatir. Mungkin dia sedikit trauma, mengingatkan kemarin dia memasukkan afrodisiak ke makanannya.
“Kenapa Sa? Buburnya nggak enak?” Yuda memandang keheranan, karena menurutnya rasa bubur yang sedang dimakannya ini sangat enak dan layak dimakan. Tempat bubur ini juga salah satu tempat langganannya.
“Tunggu aku hingga lulus,” ucap Lisa sambil menatap mata Yuda.
Dahi Yuda mengernyit. “Lulus?”
“Aku mau menikah denganmu, tapi tunggu aku lulus kuliah. Aku harus mempersiapkan diri secara lahir dan batin. Dan selama masa itu, kamu tidak boleh sekalipun menyentuh tubuhku secara intim. Aku juga tidak ingin kamu memberiku obat perangsang lagi,” papar Lisa tanpa ragu, dia sudah memikirkan dengan matang selama membersihkan diri di kamar mandi. Ini adalah bentuk antisipasi. Dia yakin Yuda akan terus mengulang kejadian malam tadi hingga keinginannya terkabul.
“Satu tahun,” usul Yuda setelah terdiam beberapa menit, mencoba mencerna arah pembicaraan mereka.
“Tidak,” tolak Lisa cepat. Satu tahun itu terlalu cepat.
Yuda mengembuskan napas kasar. Setelah lulus atau lebih kurang tiga setengah tahun lagi, dan dia merasa kalau dia tidak bisa menunggu selama itu. “Dua tahun lagi atau kita menikah besok,” tukasnya terdengar mengancam.
"Tapi...," Lisa tak jadi melanjutkan kalimatnya, mimik Yuda terlihat tidak ingin bernegosiasi lagi. “Baiklah,” katanya dengan menghela napas panjang dan berat. Dua tahun itu berarti 730 hari, dan selama itu mungkin keinginan Yuda untuk menikahinya bisa memudar. Bagaimanapun Lisa masih tidak berkeinginan menikah muda, apalagi menikah dengan status yang masih mahasiswi. Masa muda hanya sekali dan dia tidak ingin menyia-nyiakannya. Dan dia juga belum merasa telah membahagiakan kedua orang tuanya.
Diambil sebuah buku dari tas yang tergeletak di sofa yang ternyata tidak berpindah sejak sore kemarin, merobek selembar kertas, dan Lisa mulai menulis.
Perjanjian antara Lisa dan Yuda.
Yuda tidak boleh memaksa secara fisik untuk berhubungan intim
Setelah itu Lisa memberi tanda tangan dan memberikan ke Yuda. Laki-laki itu membaca sekilas, kemudian menambahkan kalimat di bagian judul menjadi: Perjanjian antara Lisa dan Yuda sebagai syarat untuk menikah dua tahun mendatang, beserta menuliskan angka satu di persyaratan Lisa dan menambahkan bulan dan tahun . Dia juga menuliskan poin kedua yang berbunyi: Lisa tidak boleh sekalipun mengabaikan semua sikap dan tindakan Yuda.
“Kamu tunggu sebentar,” ucap Yuda setelah membubuhkan tanda tangan.
Selagi menunggu, Lisa menambahkan poin ketiga: Jika salah satu pihak melanggar, pihak yang merasa dirugikan bisa mengambil tindakan apapun dan pihak yang melanggar harus menerima.
“Karena aku tidak punya materai dan supaya perjanjian ini semakin kuat, tusuk jarum itu di jempolmu dan tempelkan darahmu di bagian tanda tangan,” kata Yuda dengan memberikan sebuah jarum.
Lisa ragu-ragu menerimanya. Cap darah ini terlalu berlebihan menurutnya.
“Aku sudah.” Yuda menggeser kertas yang sudah terdapat cap jempol dari darahnya.
“Sebaiknya cukup tanda tangan saja,” sanggah Lisa.
“Ini sebagai bentuk keseriusan perjanjian ini.”
“Baiklah,” akhirnya mau tak mau Lisa menusuk jarum ke jempol dan memberikan cap.
“Aku yang akan menyimpannya.”
Dengan cepat Lisa menolaknya. “Tidak, biar aku saja.”
“Oke,” jawab Yuda yang langsung menyetujuinya. Dia memfoto selembar kertas tersebut dan mengirim ke email-nya yang lain. “Sebagai backup saja,” sambungnya.
~NANTIKAN TERUS KELANJUTANNYA~