
Instagram: @alsaeida0808
“Buat apa sih lo nyuruh gue cari barang ginian?” Kevin melemparkan kotak biru berukuran kecil itu dan langsung ditangkap Yuda dengan sebelah tangannya. “Mau lo gunain sama siapa?” sambungnya sambil duduk di sofa yang berhadapan dengan Yuda.
“Sama Lisa,” jawab Yuda sembari membuka kotak tersebut, mengambil botol kecil yang dari luar terlihat berisi cairan.
Dahi Kevin kontan mengerut, bingung. Jelas-jelas kemarin dia mengetahui kalau Lisa pernah hamil, yang artinya mereka pernah melakukan hubungan intim. Dia juga sedikit heran ketika dua hari yang lalu Yuda menghubungi dan menyuruhnya mencari obat yang dikenal sebagai obat membangkitkan naluri seksu4l tersebut. Saat itupun dia memang tidak bertanya-tanya, langsung menyetujui saja. Mencari obat aprodisiak bukanlah sesuatu yang sulit, beberapa teman temannya memang ada yang menjual. Meskipun begitu, tidak sekalipun dia pernah menggunakannya. Dan bukanlah lebih nikmat jika sama-sama mengingikannya?
“Bukankah kalian melakukannya suka sama suka?” tanya Kevin penasaran.
Yuda mendengar lontaran itu, tapi dia mengabaikannya.
“Selama ini lo memaksanya?” tukas Kevin dengan pupil membesar, tiba-tiba saja dugaan itu terlintas di benaknya, mengingat sikap Lisa yang kadang-kadang yang terlihat sangat memusuhi Yuda. “Lo memperkosanya?” cercanya dengan hampir memekik.
“Caranya hanya diteteskan saja, kan?” tanya Yuda yang seolah tidak mendengarkan semua kalimat yang diucapkan Kevin.
“Lo benar-benar sudah gila Yud!” Kevin menggeleng kepala karena tak habis pikir. “Tapi kenapa elo melakukannya?”
“Karena gue mencintainya,” jawab Yuda tanpa ragu.
Kevin mencibir sinis. “Cinta? It’s bullshit. Itu hanya nafsu elo saja. Gue memang brengs3k, tapi gue tidak akan pernah memaksa ke wanita yang gue cintai.”
Diakui kalau dia memang playboy, suka menggonta-ganti pacar seperti mengganti baju, tetapi dia tidak pernah memaksa mereka apalagi sampai memperkosanya. Apalagi dia percaya akan karma. Seperti kata Sakyong Mipham: Karma bergerak ke dua arah. Jika kita bertindak bijak, benih yang ditanam akan menghasilkan kebahagian. Sedangkan jika bertindak tidak bijak, hasilnya penderitaan.
“Lo tahu ‘kan kalau pemerkosaan itu tindakan kriminal? Lo bisa masuk penjara kalau Lisa melaporkan lo ke polisi?”
Yuda merebahkan kepalanya di kepala sofa, memandang langit-langit apartemen. Dia tahu, sangat-sangat tahu kalau pemerkosaan itu adalah tindakan kriminal dan bisa dihukum pidana. Tapi dia sudah kecanduan dengan tubuh Lisa, bak seperti pecandu yang sulit menjauh dari obat. Sebagai bentuk pertanggungjawabannya, dia ingin segera menikahi Lisa, bagaimanapun caranya termasuk dengan cara kotor. Jika Lisa kembali hamil, dia tidak ada alasan lagi untuk menolak.
“Kata teman gue, cukup teteskan dua tetes saja,” kata Kevin sambil berdiri, dia tidak mau memusingkan atau memikirkan apa yang akan dilakukan sepupunya itu.
“Lo mau ke mana?”
“Nongkrong dan nyebat.”
“Sebaiknya lo kurangi merokok, itu tidak baik buat tubuh lo,” nasihat Yuda.
“Tapi setidaknya merokok bukan tindakan kriminal,” celetuk Kevin sebelum beranjak mendekati pintu.
Lisa menghela napas berat sambil menatap lekat layar ponsel, menampilkan halaman chat WhatsApp. Ujian akhir semester baru saja selesai beberapa menit lalu, tidak ada yang bisa dijadikan alasan lagi untuk menundanya. Kini dia memandang map biru yang mengintip dari resleting tas. Suara helaan napas yang terdengar sangat terbebani kembali terdengar. Mungkin sejak awal dia memang harus menolaknya. Dia tidak perlu pusing tujuh keliling seperti ini.
Hanya saja dia merasa segan, karena ketua himpunan jurusannya yang secara langsung meminta tolong. Laki-laki berkacamata itu berkata kalau Yuda sering memberikan sponsor untuk kegiatan-kegiatan kampus, entah itu berupa uang ataupun paket makan. Kali ini pun dia berharap Yuda juga bisa menjadi sponsor untuk kegiatan mereka. “Karena elo pacarnya, mungkin nanti bisa dikasih lebih. Inikan juga untuk kesuksesan acara jurusan kita,” begitu katanya dengan tatapan penuh harap.
Status chat sudah tercentang dua dan selang beberapa detik kemudian berubah warna menjadi biru. Lalu tiba-tiba suara dering terdengar, nama Yuda tertera di layar. Lisa hanya mendiamkan saja hingga suara itu menghilang. Sekarang ponselnya bergetar, menandakan chat yang masuk.
Yuda: Bisa
Yuda: Tapi aku ngk bisa menjemputmu
Yuda: Kamu datang saja ke apartemenku
“Apartemen?” gumam Lisa pelan. Gedung bertingkat itu adalah salah satu tempat yang paling dihindari. Banyak dosa yang telah dilakukan mereka di sana. Sebisa mungkin Lisa tidak ingin mendatanginya.
Lisa: Bisakah kita bertemu di kafe Connected saja?
Yuda: Aku sedang ngerjain tugas untuk UTS
Yuda: DL nya hari ini
Yuda: Kamu datang saja ke apartemen
Yuda: Aku sudah pesan go-jek untukmu
Lisa menghembus napas panjang sebelum mengetik balasan.
Lisa: Bentar lagi aku ke sana
Mau tak mau Lisa terpaksa menyetujui. Besok jadwal keberangkatannya ke Yogyakarta. Dia ingin berlibur panjang, ingin refreshing setelah menghadapi kesibukan kuliah. Kedua orang tuanya juga berencana untuk jalan-jalan bersama. Memang sudah lama sejak terakhir kali mereka melakukannya. Jadi hanya hari ini yang memungkinkan menyampaikan proposal tersebut.
Seperti perkataan Yuda, nomor yang tidak dikenal menghubunginya yang ternyata adalah supir go-jek. Perjalanan terasa begitu cepat bagi Lisa. Tiba-tiba sudah sampai saja di depan pintu apartemen. Tepat bel pertama berbunyi, pintu apartemen sudah terbuka dengan sosok Yuda yang memasang senyum merekah. Ada benar kerinduan yang terpancar di bola matanya. Selama UAS berlangsung, Yuda memang tidak mengajak bertemu, hanya menghubunginya lewat chat ataupun telepon. Selain karena dia juga melaksanakan UAS, dia tidak ingin mengganggu Lisa menghadapi UAS pertamanya sebagai mahasiswa.
“Gue...,” Lisa terdiam sejenak, menimbang panggilan apa yang sebaiknya digunakan. Yuda selalu tidak suka bila memakai panggilan lo gue, seperti raut yang ditunjukkannya sekarang, yang memasang tatapan tajam dan rahang yang sedikit menegang. “Aku ingin menyampaikan proposal dari kegiatan jurusanku,” Lisa memutuskan bermain aman. Saat ini dialah pihak yang sedang yang membutuhkan.
“Kamu sudah makan? Tadi aku pesan go-food. Yuk kita makan bareng!” Yuda beranjak dari posisinya dan mau menuju dapur.
“Tidak, terima kasih. Kedatanganku ke sini hanya untuk menyampaikan proposal ini saja.”
“Kamu ikut makan atau aku menganggap kamu tidak pernah menyampaikan proposal itu,” tanpa menunggu jawaban Lisa, Yuda kembali menggerakkan kakinya sambil tersenyum penuh arti. Hari ini akan menjadi hari terindah.
**Mohon kritik dan sarannya. Bila ada TYPO atau TIDAK LOGIS, beritahu ya, supaya bisa direvisi dan karya ini semakin bagus. **
**TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. **