
"Kita harus nyari satu orang lagi kemana??" Tanya winda sambil menekuk kakinya karena dia juga kebingungan apalagi sebagian dari mereka terluka juga.
"Aku juga gak tau kak." Ucap maya masih anteng baca buku siapa tau ada petunjuk.
"Kayaknya aku tau." Ucap dara yang sedang menyandar dibahu sena sambil menekuk kakinya karna mungkin dia kedinginan, setelah di selamatkan Sena, dara juga makin nempel sama Sena.
Maya nutup bukunya dan mendekati dara, dia jongkok terus natap anak yang badanya lebih kecil darinya, pendek kecil tapi dia sering berteriak kencang.
"Dimana?? Siapa dia??" Tanya maya
"Santai may jangan terburu-buru." Ucap sena karna melihat mata maya berkilau biru indah namun sangat menekan.
"Dia ada didalam lemari dikelilingi beberapa orang-orang yang badanya besar, gue terpisah darinya karna sesuatu telah menarik perhatian orang-orang itu kedalam kelas, gue lari dan dia bersembunyi didalam lemari." Jelas dara.
Maya langsung mendudukan dirinya, kayaknya dia tau apa kesalahan mereka berdua dan yang pasti anak yang didalam lemari itu sedang menahan sakit dan takut.
"Rose apa yang dia dapat??"
Dara mengeratkan pegangannya pada lengan sena yang berotot dan kayaknya maya menakuti dia lagi.
Mereka juga kaget saat maya menanyakan warna rose apa yang dia dapat, Maya sering berbicara tentang warna rose yang tidak boleh di bicarakan kepada siapapun.
"MAYA!!" sena menekan namanya dan melototi anak itu.
"Bukannya kita tidak boleh mengatakan warna rose yang kita dapat??" Tanya henry mulai kebingungan juga.
"Tapi anak itu sudah mengatakannya iya kan?? Jawab dara!!" Matanya kembali mengkilat biru.
"Jawab kalau Lo mau selamat, dia bilang apa sama Lo?? Dia bilang dia mendapatkan warna rose kan?? Warna apa yang dia dapat??" Tanya Maya lagi.
"Red rose ( Mawar Merah ), dadanya berdarah dan dia terus menangis mungkin itu alasan mereka menemukan kita." Jawab dara dengan mata yang sudah mau menangis.
Maya berdiri mengambil tasnya dengan buru-buru tapi lengannya ditahan sama elis yang tiba-tiba menahannya dengan erat.
"May jangan terburu-buru istirahatlah dulu, kamu udah berusaha keras hari ini." Ucap elis dengan lembut karna jay sedang tertidur dipangkuannya.
"Maya jangan keseringan bergerak juga, kamu masih sakit." Ucap Hani yang sedang berbaring di pangkuan Winda.
"Iya tangan mu masih terluka, badan mu butuh istirahat, besok kita cari dia." Winda mencoba menenangkannya lagi.
Maya menghela napasnya, ini memang sudah malam dan waktunya mereka beristirahat, semoga saja saat bangun bukan beberapa hari kemudian, tapi beneran hari esok, Yuda juga masih trauma dengan waktu itu.
Akhirnya maya luluh dan kembali duduk, dia menenangkan diri dan mencoba tidur walaupun sambil duduk dan menyandar di tembok, hening tak ada suara, hanya ada kegelapan malam di dalam kelas.
Semuanya tertidur nyenyak kecuali yuda dan sena yang setengah sadar karna berjaga untuk malam ini, Yuda tadinya gak mau berjaga tapi dia juga takut tidur, traumanya selalu menghantuinya.
Brakkk
Pintu didobrak dengan kasar membuat semuanya hampir menjerit tapi langsung membungkam mulutnya masing2.
Maya diam dengan tenang dan posisinya yang masih duduk, disampingnya elis yang mulutnya dibungkam sama jay yang juga terbangun langsung, dia juga sensitif dengan suara-suara mungkin setelah kejadian di perpustakaan yang membuatnya terus terjaga.
Dan winda sedang membungkam mulut hani, Evan yang sudah mulai pulih juga diam membeku di pojokan kelas karena kaget juga.
Setelah beberapa saat makhluk-makhluk itu pergi lagi, mereka seperti mahluk yang berada di lantai satu dan setelah mereka pergi Yuda langsung menutup pintunya lagi dengan cepat sambil ngos-ngosan karena dia menahan nafasnya.
"Kenapa mereka bisa kesini??" Tanya winda merasa aneh.
"Karna warna rose anak itu sama dengan kak evan, mereka bisa merasakan energinya." Jelas Maya, lagi-lagi Maya menjelaskan hal yang aneh.
"Bisa gitu??" Ucap yuda memegang kepalanya karna pusing gak ngerti, dia berjalan kearah mereka setelah menutup pintunya.
"Terus gimana?" Tanya winda.
"Tadi kan udah dibilang kalau kita harus nyelametin anak itu secepatnya, bukan cuma dia yang bakalan diincar tapi kak evan juga, kita harus bisa nemuin anak itu dulu." Ucap maya.
"Gue udah males berhadapan sama mereka." Ucap henry.
"Gue juga." Keluh yuda.
"Ya udah gue aja." Ucap winda
"Emng gak bisa yang lain??" Tanya dara seakan Winda tidak boleh terluka sedikitpun.
Sebenarnya dengan meninggalkan Evan sendirian mereka bisa terbebas dari mahluk itu, tapi Maya berbicara tentang sebelas orang yang harus terkumpul.
"Pengecut semua." Maya mengeluarkan pisau dari tasnya, menyayat sedikit dan meneteskan darah itu kepisau yang sudah berkilat.
Ntah kenapa darah yang diteteskan Maya ke pisaunya membuat pisau itu berkilau seperti darah Maya mempengaruhi pisau itu, Maya semakin hari semakin aneh dan mencurigakan.
"Kalian tunggu disini!!" Ucap maya.
"Lo mau pergi sendiri?? Cari mati??" Ucap henry gak percaya, berapa kali Maya menyelamatkan nyawa mereka, dia mau mencurigai Maya tapi dengan maya yang berjuang terus rasa curiganya jadi tidak ada, dia malah ragu-ragu.
Maya membalikan badanya menatap mereka semua, dia juga merasa takut pergi sendirian, tapi siapa lagi yang harus di ajak??
"Kalau gue mati, maka kalian semua juga akan mati, ingat kan kita harus kumpul bersebelas??" Setelah itu maya keluar sambil memegang pisau.
Semuanya menghela napas kasar apalagi evan yang telah dibuat syok dengan kedatangan tanda rose didadanya.
"Gila emng tuh anak, dia udah mempermainkan kita semua." Ucap evan masih memegang dadanya yang terasa sakit.
Elis natap kepergian maya begitupun jay, dia tau sifat maya seperti apa, mereka berdua menatap Evan dengan tatapan tidak suka.
"Liat apa Lo??" Ucap Evan dengan nada kasar.
"Disini, orang yang paling gak guna itu emang dia." Ucap Jay menatap Evan.
"Sekarang gue tau kenapa Maya sering marah-marah karena kecerobohan manusia sampah seperti kalian." Jay bermulut kasar membuat Elis kaget, dia tahu Jay kalau marah hanya diam, namun sekarang dia malah mengutarakan keamarahannya.
"NGOMONG SEKALI LAGI." Teriak Evan mendekati mereka berdua tapi di tahan sama Sena.
"Udah, kita harus menyusul Maya." Ucap Sena.
"Semua yang di lakukan anak itu dari awal sudah mencurigakan, apa Lo gak punya otak?? Harus berapa kali kita terperangkap dalam permainannya." Ucap Evan lagi malah membentak Sena.
Plaaakkk
Tamparan kuat melayang dari Winda, dia memang kehilangan ingatannya tapi dia ingat kalau dia, Sena dan Evan itu satu kelas dan mereka berteman sangat dekat.
"Gue gak tau kenapa kalian selalu melarang gue untuk ikut keluar, tapi setidaknya hargai perjuangan Maya selama ini, luka yang Lo dapatkan itu dari ke egoisan Lo, harus berapa kali li nyalahin Maya?? HAH???" Winda yang biasanya terlihat kalem sekarang juga amarahnya tidak terkontrol.
"Gak ada dari kalian yang mau mengajukan diri untuk keluar, gak ada dari kalian yang memberikan petunjuk tentang tempat ini, gak ada dari kalian yang mau naik ke atas demi menyelamatkan satu orang." Tangan Winda bergetar dan dia terdiam sejenak mendinginkan emosinya.
Semuanya terdiam dan mereka duduk lagi setelah Winda marah membuat suasana jadi hening lagi, tidak ada yang menyusul Maya dan itu membuat Elis dan Jay khawatir juga.
Semuanya menunggu kedatangan maya, tapi apa mungkin anak itu bakalan selamat?? Dia sendiri menyelamatkan yang terluka, badanya aja kecil apa dia bisa membawa anak itu?? Setelah kepergian maya semuanya tidak bisa diam karna merasa khawatir.
Cklek
Pintu terbuka semuanya diam ditempat yang sama diarea yang gelap.
"May??" Winda membantu maya memapah anak itu.
Sial badan bongsornya membuat maya kesusahan berlari, henry juga membantunya dan membaringkannya, bagaimana bisa Maya membawa lelaki bongsor ini dan dari mana dia bisa cepat menemukannya??
"Cepat obati." Ucap maya dia tidak memperdulikan luka dilengannya yang kembali berdarah karena terlalu banyak bergerak.
Setelah selesai mengobati dada anak itu, lukanya persis seperti evan, tato red rose yang terpampang disana membuat semuanya kembali kaget, kenapa tato itu muncul terus di setiap anak?? Kalau buku yang di baca Maya memang salah, tato itu tidak akan muncul.
"May?? Sebenarnya itu tato mawar apa??" Tanya Hani.
"Kutukan Mawar, dan kita semua mempunyainya, kontraknya adalah kalau kalian memberitahukan tato mawarnya, kalian akan mati." Ucap maya
^^^TBC➡️^^^