Blue Rose

Blue Rose
Chapter 7



Sena berjaga didekat jendela sedangkan winda sedang mengobati luka evan dan Hani juga membantu Winda mengobati luka elis yang sudah membaik.


Luka sena hanya sedikit perih karna didadanya terbentuk bunga mawar dengan luka yang sedikit dalam sedangkan elis dengan luka tusukan pisau di pahanya.


BRAAAKKKK


Suara sangat keras terdengar oleh mereka membuat semuanya kaget, suara itu seperti suara benturan keras yang membuat Sena melotot kaget saat seseorang berlarian di koridor.


"TOLONG??? TOLONG AKUUUU???" teriak seseorang dari luar.


"SIAPA SAJA TOLONG." Suara perempuan yang terdengar oleh semua orang.


Sena langsung berdiri mau keluar saat melihat satu perempuan berlarian terus menerus tapi ditahan sama yuda yang langsung berdiri menahan Sena untuk tetap diam jangan keluar


"TOLONG??? TOLONG!! SIAPA SAJA TOLONG AKU!!!" suaranya makin dekat.


Mereka melihatnya dari jendela seorang perempuan berbadan kecil berlari dengan terburu-buru diikuti 5 orang yang membawa beberapa pisau.


Winda kaget karena tubuhnya sangat kecil dan ramping di bandingkan Hani yang sedikit berisi.


"Kita harus menyelamatkan anak itu." Sena melepas cengkraman lengan yuda.


"Nggak!! Kita tetap disini gak ada yang boleh keluar."


"Lo gak kasihan sama dia hah??" Sena mencengkeram kerah baju Yuda terus di lepas sama Winda.


"Kalau Lo bisa, bawa dia kesini." Ucap winda sambil memberikan pemukul bola bisbol.


Sena menerimanya dan langsung membuka pintu kelas lari mendekati gadis kecil itu, dia juga sama-sama memakai seragam sekolah seperti dirinya, tubuh kecil tapi larinya sangat cepat.


"Cepat lari kedalam kelas." Ucap Sena membantu dia saat jatuh.


Dia melihat Winda yang nongol dari dalam kelas sambil melambaikan tangan nya kearah gadis mungil itu.


Sena melawan mereka berlima, tatapan mereka benar-benar menyeramkan, badanya besar semua melebihi sena, tinggi mereka juga sangatlah tinggi sekitar 198cm sedangkan Sena hanya memiliki tinggi 182cm.


"CEPAT LARI!!!" Tapi yang disuruh malah mematung sambil nangis karena syok berat.


"Cepat lari sekarang juga." teriak sena lagi dia sudah terpental kelantai karena di tendang sangat kuat.


"Arghhh sial." Ucapnya sambil merintih sakit.


Gadis kecil itu hanya bisa diam dan menangis, sedangkan salah satu dari mereka mendekatinya.


"Kak...." Dia terduduk di lantai karena kakinya yang lemas untuk di gerakkan.


"STOP!!!!" Winda lari dan mendorong lelaki berbadan besar itu lalu membantu gadis itu dan lari sedangkan yuda menendang lelaki yang akan menusukan pisau kepada Sena dan membantunya berdiri.


Mereka berempat berlari menuju jalan terdekat yaitu jembatan atau jalan yang mengarah ke arah perpustakaan.


"Sialan sialan sialan." Umpat Yuda.


"Masuk cepat!!!" Sena membuka salah satu pintu ruangan dan mereka masuk ke dalam ruangan yang cukup gelap.


Pintu di dobrak sangat keras, Yuda dan Winda mendorong satu lemari kearah pintu dan mereka menahannya supaya pintunya tidak bisa di buka.


"Stttt." Ucap yuda karena gadis itu terus-menerus menangis membuat dia jengkel.


•°•


Sedangkan Maya dan Henry sedang berlari menaiki tangga yang ada di dalam perpustakaan setelah mereka hampir terperangkap oleh laba-laba besar yang ada di dalam perpustakaan.


Namun saat sampai di lantai paling atas ada seseorang yang menarik mereka masuk ke salah satu ruangan dan membungkam mulut maya dan henry.


"Jay??" Ucap maya dalam hatinya, dahinya terluka, wajahnya sedikit ada memar dan bajunya juga terlihat ada bercak darah.


Laba-laba itu datang membuat Henry ketakutan dan mencoba membuka bungkaman tangan Jay tapi Jay tetap membungkam mulutnya.


Dia menggelengkan kepala, tapi Henry terlalu takut karena laba-laba besar itu datang menghampiri mereka yang ternyata beberapa saat kemudian ada cahaya menerangi ruangan itu dan terlihat jaring laba-laba yang sangat banyak di ruangan itu.


"Jay??" Ucap maya saat Jay melepas bungkamannya.


"Lo gila?? Kita bisa mati kalau laba-laba itu sampai masuk ke ruangan ini." Ucapnya.


"Nggak, ruangan ini berbau jeruk dan setelah diam selama 1 menit tanpa suara, sinar dari luar akan menyoroti ruangan ini dan terang kembali.


Henry melihat suasana ruangan yang sangat aneh ini dan melihat kearah luar, ruangan perpustakaan juga masih dengan keadaan yang sangat gelap seperti tadi tapi anehnya ruangan ini sangat terang seperti saat mereka baru masuk ke dalam perpustakaan.


Jay menutup pintu ruangan ini dengan lemari yang penuh buku di bantu Maya, karena ruangan ini tidak mempunyai pintu.


"Apa yang terjadi??" Tanya Maya sama Jay.


"Waktu itu gue sama Elis ada di perpustakaan, tapi tiba-tiba di luar sudah menjadi malam dan Elis memutuskan untuk melihat keluar, tapi saat itu dia tidak kunjung balik." Ucapnya lagi.


"Kapan Lo terakhir kali ketemu dia?" Tanya Henry.


"Kemarin??" Ucapnya.


"Sial, sial sial, may? May kita harus cepat keluar dari sini." Ucap Henry.


"Kita sama Elis sudah hampir satu Minggu, dan Lo terkurung disini mungkin juga sudah satu Minggu." Ucap maya menjelaskan.


"Tapi gue disini baru kemarin, ini gak mungkin may, gue udah berjuang keluar dari sini tapi setelah keluar dari perpustakaan ternyata ini tempat paling aman." Ucap Jay.


"Aman?? Lo pikir ini tempat teraman?? Lo gak liat monster yang nyerang kita??" Tanya Henry.


"Lo tunggu disini aja dulu, beberapa anak dari kelas lain juga banyak yang berdatangan."


"Maksud Lo bukan cuma kita bertiga?? Terus Elis?? Lo ketemu Elis dimana??" Tanya Jay.


"Di lantai 4, mungkin dia lari-larian sampai ke lantai 4 karena memang susah untuk turun lagi setelah naik."


"Maksud Lo may??" Tanya henry.


"Gue jelasin nanti, kita harus kembali ke kelas ambil obat buat Jay." Ucapnya karena obat yang dia bawa berserakan gara-gara tadi.


"Wtf?? Gue gak mau balik ke kelas, Lo aja sendirian." Ucap Henry.


"Penakut." Ucap maya berdiri terus Henry ikutan berdiri lagi.


"Siapa yang Lo bilang penakut?? Gue juga mau ikut." Terus Maya tersenyum smirk.


"Bawa ini juga, pertama Lo harus keluar dengan pelan supaya lampu perpustakaan tetap menyala dan jangan ada yang bersuara, kedua kalau lampu tiba-tiba mati kalian juga harus hati-hati dan tetap berjalan tenang, jeruk itu bisa menangkal mereka." Jay memberikan dua jeruk kepada mereka.


"Jeruk??" Tanya Henry melihat jeruk ditangannya.


"Iya, mereka tidak suka aroma jeruk, jadi kalian akan aman." Jelas Jay, dunia ini makin aneh, ntah apa yang terjadi kedepannya tapi Henry cuma ngikutin mereka aja.


Setelah membuka pintu perpustakaan, Maya dan Henry melihat 5 orang berbadan besar mengejar Sena, Winda dan satu gadis kecil yang sedang di tarik sama Yuda.


Ternyata pintu ruangan yang tidak jauh dari mereka sudah rusak di terobos masuk, mereka mengira kalau mereka berada di ruangan, mereka tidak akan berani masuk, karena Maya sering melakukan hal sama.


Apakah karena ruangan mereka berbeda, atau karena mereka terpisah dari yang lain yang membuat mereka berlima tetap menerobos masuk.


^^^TBC➡️^^^