Blue Rose

Blue Rose
chapter 2



"Elis??" Maya kaget dan jongkok melihat kaki temannya yang sudah mengeluarkan banyak darah.


Pisau tertancap di pahanya sedangkan mulutnya sengaja menggigit saputangan, pipinya udah basah dengan air mata karna menahan sakit.


Keringat bercucuran, mata sayu yang sudah lelah menahan rasa sakit, bibirnya juga mulai lecet karena tergesek-gesek oleh saputangan.


Mereka menemukan Elis sahabat Maya si gadis ramping, Elis hanya terduduk menahan rasa sakitnya karena tidak punya energi untuk mencabut pisaunya, dia hanya merintih kesakitan sendirian seperti sudah pasrah tidak akan di temukan siapapun.


"Lo disini juga??" Suara elis hampir tidak terdengar dan maya cuma ngangguk dengan mata paniknya.


"Dia siapa?" Tanya elis natap yuda.


"Kak yuda, kelas 2."


"Kak tolong matiin lampunya, maaf sebelumnya." Yuda nurut mematikan semua lampu di UKS sampai didalam benar2 gelap.


Dia hanya diam dan bingung, kenapa disekolah ini juga masih ada orang seperti mereka?? Yuda mengira kalau yang terjebak disini hanya mereka.


"May???"


"Hmmm??"


"Cabut pisaunya...." Ucap elis


Maya melotot." Tapi bakalan sakit, mereka juga bakalan denger teriakan lo." Ucap maya panik lagi dan ngerasa linu juga liat pisau menancap di kakinya.


"Percaya sama gue, gak bakalan terjadi apa-apa." bibirnya benar-benar pucat dan elis hampir kehabisan darah.


Kalau sampai Elis kehabisan darah dia bakalan kejang dan masalah akan semakin rumit, apalagi mereka harus membawanya ke bawah, sedangkan mereka berada di lantai atas.


"Biar gue yang cabut, maya tahan lukanya biar darahnya gak keluar banyak." Ucap yuda.


1


2


3


"AAAAHHHHHH" elis lupa tidak mengigit saputangannya dan berteriak sangat kencang dan hampir pingsan karena rasa sakit yang di rasakan saat pisaunya di cabut dari pahanya.


Maya menahan darahnya supaya tidak keluar banyak sedangkan yuda buru-buru mengunci pintu UKS, benar saja orang-orang tadi datang dengan puluhan atau ratusan pasukannya.


Koridor lantai empat hampir penuh dengan orang-orang aneh yang ntah datang dari mana, dia hanya sibuk mengobati Elis yang hampir tidak sadarkan diri.


Ntah siapa yang bego disini karena walaupun mengumpat sambil teriak-teriak masalah bukan selesai tapi akansemakin rumit.


Dikelas winda dan yang lain berada mereka mendengar teriakan dilantai 4 membuatnya khawatir, Winda langsung berdiri dan mau berjalan keluar kelas.


"Kita harus susul mereka." Ucap winda gak tenang.


"Nggak, kita tetap disini, lo gak denger nasehat yuda??" Itu sena yang ngomong.


"Kalau terjadi apa2 gimana??" Winda ngotot soalnya dia juga khawatir, teriakan dari lantai empat sampai ke lantai satu dan itu agak mustahil.


"Gue bakalan susul mereka sama kak evan." Ucap Henry.


"Udah diperingatin jangan keluar, apapun yang terjadi kita harus tetap disini." Tegas sena


"Lo ko egois sihhh?? Lo lebih mentingin diri sendiri dari pada anak-anak, mereka butuh bantuan kita." Ucap Winda dengan tatapan tajam dan mata kucingnya yang mengkilat.


"Gue nggak tau isi otak Lo apa, tapi Maya sama Yuda ngambil obat itu bukan cuma buat persiapan kita, tapi buat elo yang lagi terluka." Ucap Henry


"Gue gak peduli soal obat atau lainnya, yang penting gue cuma nurutin kata Yuda kalau kita harus diam disini apapun yang terjadi." Urat leher Sena semakin kelihatan.


"Lo jangan so memimpin, walaupun Lo ketua OSIS, disini Lo gak punya pangkat apa-apa." Tunjuk henry


"GUE BILANG DIAAAM!!" Sena mencengkram kerah baju henry.


"Sebenarnya ada apa sih diluar sana??" Winda mulai menaikan nadanya kesal sedangkan hani cuma duduk sambil memeluk lututnya.


Gadis mungil itu ketakutan saat melihat kakak kelas mereka berdebat di depannya, dia gak bisa bicara apa-apa karena dia juga tidak tahu apa yang terjadi di luar sana.


"Ngehayal lo sena, Lo habis berapa botol?? Lo mabuk kan?? Atau nggak kayaknya lo kecapean sampai ngehayal kaya gitu." Ucap Evan.


"Terserah, kalau lo gak percaya sama gue, sana keluar!!! kalau ada apa-apa jangan minta bantuan gue." Sena capek nasehatin evan sama henry begitupun winda yang keras kepala.


Lelaki kekar itu duduk disamping hani yang sedang ketakutan melihat perdebatan mereka, dia juga merasa bersalah karena saling berdebat di depan gadis mungil ini.


Henry dan evan yang mau keluar malah duduk begitupun winda, tapi mata kucingnya tertuju pada seseorang yang sedang mengintip dijendela.


"Diam, gak boleh ada yang bicara." Bisik sena.


Hani memegang erat baju winda karna takut, lelaki itu mengintip dengan kedua tangannya ditempelkan dijendela sehingga kuku seperti macan itu terpampang jelas.


orang yang di belakangnya juga memegang kacanya sampai kacanya mulai retak membuat mereka semua menjadi panik.


Suara sreeeetttttt di setiap kaca jendela membuat mereka lebih ketakutan, Hani menutup telinganya dan di bantu sama Sena.


Trekkk


Trekkk


Sriiiiitttttttt


Taakkkkk


Taakkkkk


Suara itu terus terngiang-ngiang di kepala mereka, ini seperti sedang syuting film hantu tapi ini lebi


Karena Sena juga tidak pernah tahu siapa mereka, dia cuma bertarung dengan mereka sebentar dan membuat dirinya hampir mati.


Sedangkan di UKS kaki elis sedang diperban dengan beberapa kain kasa supaya darahnya tidak banyak keluar.


Lukanya tidak di jahit karena tidak ada yang bisa menjahit luka elis, mereka tidak tahu apakah di antara mereka yang di lantai bawah bisa menjahit luka elis atau tidak.


"Apa mereka buta kalau ruangannya gelap??" Tanya Yuda karena dia sudah mendapatkan beberapa informasi penting.


"Iya, tapi aku belum tau kelemahannya." Ucap elis meneguk air mineral yang dikasih yuda.


Dia hampir kehabisan darah dan sekarang tenggorokan nya kering, dia dari tadi hanya bisa terduduk dan merintih kesakitan, untungnya Maya menemukan dirinya.


"Kita harus cepat kebawah, soalnya yang lain pasti khawatir mendengar teriakan elis, meskipun kita tidak tahu apa yang menunggu kita di setiap lantai." Ucap maya


Maya dan yuda memapahnya dan mereka berjalan hati-hati keluar dari UKS menengok kiri kanan melihat apakah masih ada mereka yang siap membunuhnya.


"May, jay juga terjerumus kesini tapi kita terpisah." Ucap elis tapi ekspresi maya selalu seperti tidak peduli dengan ucapannya.


Elis tau ko maya pasti khawatir soalnya jay teman satu kelas mereka dan maya mendengar kalau jay sama-sama terjerumus kesini.


Mungkin Maya juga masih terlalu syok saat melihat keadaannya yang mengenaskan, keadaan sahabatnya sendiri yang juga sama-sama terjerumus atau terjebak di sekolah terkutuk ini.


Yuda menggendong elis saat menuruni anak tangga, tak henti-hentinyanya anak itu bicara tentang Jay sahabat mereka, Yuda hanya bisa diam mendengarkan.


Sampai dimana ternyata kesabaran Maya diluar nalar, dia baru bisa mendengar amarahnya lagi yang membuat mereka saling berdebat.


"May kita terjebak disini gara-gara mendapatkan bunga rose dan warnanya itu beda-beda ta____" ucapan dia terpotong saat maya berbicara lagi dengan mata dinginnya.


"Cukup elis!! Kalau lo lanjut ngomong lagi, mending lo mati disini aja." Ketus maya membuat yuda mengernyitkan dahinya.


Apa yang mereka bicarakan?? Bunga?? Bunga apa?? Siapa yang mereka bicarakan?? Dan kenapa Maya menutupi dan membungkam semua omongan Elis??


Saat sampai dibawah mereka bertemu dengan beberapa orang lagi yang sedang berjalan kearahnya dan maya, yuda, elis langsung sembunyi dibawah tangga dekat lemari.


Maya membungkam mulut elis karna pahanya sempat tertekuk sakit dan hampir teriak, matanya memerah dengan air mata yang sudah menetes karena menahan rasa sakit.


"sorry." ucap maya dengan bahasa isyarat nya.


Yuda yang di depan juga menengok Elis yang sedang di bungkam oleh Maya karena dia takut kalau sampai Elis teriak, mereka juga baru sampai di lantai 3, apa mereka bisa turun dengan selamat??


^^^TBC➡️^^^