Blue Rose

Blue Rose
chapter 5



Yang lain gak kalah ikutan syok, maya mengeluarkan alkohol dari tasnya dan kapas beserta kain kasa dan perban.


Maya menyiram ukiran seperti tato itu didada Evan dengan air dan alkohol setelah itu menutupinya dengan perban karena darah dari ukiran tato rad rose yang tiba-tiba ada itu selalu muncul darah.


Maya menatap tajam Elis karena hal mengerikan ini terjadi karena Elis terus menekan setiap perkataannya untuk mengatakan tentang warna mawar mereka.


Sebenarnya apa yang di bicarakan Elis dan kenapa Maya selalu melarang Elis berbicara tentang warna mawar?? Apa yang ingin Elis sampaikan??


"Apapun yang terjadi tetaplah diam, apapun yang terjadi tetaplah bersembunyi." Ucap maya


"Itu kan kata-kata gue." Ucap yuda dengan nada dinginnya


"Iya, halnya seperti itu, elis jangan banyak bicara cukup pikirkan apa yang akan kita lakukan kedepannya."


"Intinya pasang strategi tanpa memakan korban." Nasehat maya dengan nada bicara yang sedikit tenang.


"Tapi gue mengatakan yang sebenarnya tentang mawar itu." Ucap elis.


"Tapi Lo gak bisa bicara sembarangan, kita gak tau apa yang akan terjadi, Lo mau semuanya mati konyol?? Lo gak liat kak evan kesakitan??" Tatap maya, mereka malah berdebat panjang.


"Yang Lo pikirin cuma keselamatan hidup Lo sendiri, Lo gak peduli sama yang lain."


"Tapi Lo terlalu menyimpan rahasia terlalu banyak Maya." Tekan Elis walaupun dia terluka tapi nada bicaranya masih kuat.


Sena bangun dari duduknya dan mencengkram kerah baju maya tanpa ada rasa kalau Maya itu perempuan.


"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi disini." Ucap Sena.


"Lo gak denger apa yang gue katakan barusan??" Minhee menghempas lengan sena.


Saat mereka ingin mengintrogasi maya, yuda mencoba menenangkan yang lainnya dan beristirahat sebentar karna keadaan evan spertinya sangat lemah.


"Kenapa kaki Elis bisa sampai seperti itu?? Bukannya kalian ke atas cuma sebentar?? Kenapa kakinya bisa membusuk?" Tanya Sena.


"Iya, bukannya Elis bilang kalian membantunya mencabut pisaunya??" Tanya Hani dengan nada lemah.


Hani satu-satunya orang yang bisa menjahit luka elis dan membersihkan nya dengan benar, katanya Hani sering belajar dari ibunya karena ibunya dokter.


"Kita nggak bisa jelasin secara logika kak, aku juga gak ngerti kenapa kita diatas dibilang sebentar." Ucap yuda.


"Kalian memang ke atas cuma beberapa jam, setelah teriakan elis terdengar jelas dan tidak lama kalian turun." Ucap winda.


"Tapi kita di atas sudah 4 hari kak, apa kalian gak sadar??" Tanya Maya.


"Hah?? Maksud kamu?? Nggak mungkin may, jangan bercanda." Ucap winda.


"Kita istirahat di lantai dua, Maya sama aku istirahat untuk tidur, sedangkan kak yuda tidak tidur dan dia sudah melihat siang hari 3x, saat itu juga kita tertidur lagi."


"Aku kira itu cuma khayalan kak yuda, tapi dengan keadaan luka elis, apa yang di katakan kak yuda ada benarnya, dan saat kita istirahat lagi sudah menjelang malam dan kita buru-buru turun kebawah." Jelas Maya.


"Tapi itu mustahil may." Ucap winda menjambak rambutnya sendiri.


"Tapi itu faktanya." Ucap maya.


"Kak yuda kepalanya gak pusing??" Tanya Hani yang sudah beres bersihin luka elis.


"Hmmm?? Ohhhh ini??" Tanya Yuda menunjuk dahinya yang sobek.


Henry teman sekelasnya langsung menghampiri Yuda, dia baru ingat kalau Yuda datang-datang sudah seperti orang gila, rambut berantakan, bajunya penuh bercak darah dan dahinya yang memakai plester.


"Dahi Lo kenapa?? Dan ini kenapa pada memar??" Tanya Henry.


"Pernah, pernah lah, kan kita nonton bareng." Ucap Henry kesal.


"Lo bisa bayangin di kejar badut?? Gue pernah ngebayangin dan gak seram sama sekali, tapi setelah kejadian di lantai 3, kayaknya mulai sekarang gue bakl phobia badut." Senyum Yuda dengan tatapan kosongnya membuat Henry langsung memukul kepalanya.


"Serius!!!" Ucap Henry.


"Kak yuda bicara serius, di lantai 3 memang banyak orang yang memakai baju Halloween dan salah satunya badut yang kita temui." Jelas Maya.


Henry mengusap wajahnya kasar dan menatap wajah temannya itu yang masih bernafas di depannya.


"Semoga tuhan memberkati Lo lagi yud." Ucap Henry terus langsung di tendang sama Yuda.


Setelah beberapa jam, mereka mulai diam dan istirahat didalam keheningan, hanya ada satu lilin yang menyala dan itupun tidak mempengaruhi apapun, ruangan kelas tetap gelap dengan hawa dingin.


"May?? Gimana dengan Jay??" Ucap elis yang sedang duduk dengan Hani.


Maya, Jay, Elis mungkin mereka sudah kenal satu sama lain, dan Hani juga satu kelas dengan mereka makannya Hani bisa kenal dengan mereka.


"Besok kita cari junho terlebih dahulu, elis dimana jay?? Kalian berpisah dimana??"


"Diperpustakaan di ujung lantai 2."


"Maksud Lo perpustakaan yang harus melewati koridor lantai dua dan jembatan itu?? Perpustakaan yang gede itu?? HAH??" Teriak Evan karena dia masih kesakitan.


Mulut Evan langsung dibungkam oleh Winda, sudah kena karma malah tetap berisik, disini bukan dunia mereka lagi dan ini bukanlah mimpi karena semua orang pernah merasakan rasa sakit yang luar biasa.


"****, itu perpustakaan ada diujung koridor lantai dua, kalian mau mati??" Henry berbicara dengan nada tingginya.


"Dengerin maya dulu." Ucap winda, karena kita harus mendengarkan orang yang pengetahuannya lebih luas, Maya juga memiliki beberapa informasi tentang lantai di atas.


"Kalau kalian gak mau nyelamatin jay biar gue sendiri, elis terus disisi kak yuda, kak evan jangan lupa dijaga kak Winda ____"


"Gue ikut sama lo keperpus." Ucap winda


"NGGAK!!!" serentak henry, sena dan yuda begitupun hani.


Tidak tahu alasannya, tapi ketika Winda ingin ikut untuk menyelamatkan orang atau berpergian, semua orang selalu panik ketika Winda pergi, mungkin Winda juga paling bisa melerai pertengkaran mereka.


Maya menghela napasnya kasar, dia hanya bisa diam memainkan kain rok dengan darah yang sudah mengering.


"Disini kita keluar bareng, kita harus selametin jay."


"Gimana kalau anak itu sudah mati??" Tanya henry dengan wajah tidak tahu diri.


"Gimana kalau lo sendiri jadi jay terus dituduh sudah mati sedangkan lo berusaha minta pertolongan?? Atau menungu seseorang menyelamatkan lo??" Tegas maya.


"Ehh lo kalau sama yang lebih tua sopan dikit." Henry hampir menampar Maya saat perdebatan itu.


"Apa?? Gak berani hah??" Maya malah memprovokasi Henry.


"Diluar sana kita emng gak tau apa yang akan terjadi, tapi setidaknya gue mau mencoba menyelamatkan Jay." Ucap maya nunjuk Henry.


"Tapi disini sudah terlalu banyak orang, dan kita gak tau kalau Jay itu masih hidup atau sudah mati."


"Haaahh, kita lihat saja, dan kalaupun gue mati, itu gak akan merugikan Lo." Ucapan itu hampir menampar maya lagi.


Maya tadinya mau melawan balik kalau elis tidak mencegahnya begitupun winda meredakan amarah henry.


^^^TBC➡️^^^