Blue Rose

Blue Rose
chapter 4



Maya membuka matanya melihat yuda yang sedang duduk disamping jendela sekolah, dia melihat matanya bengkak dan berair seperti kekurangan tidur padahal dia baru bangun tidur.


"Kak??" Maya menghampiri Yuda dan lelaki itu hanya diam.


"Kita sudah tamat may, kayaknya kita gak bisa keluar dari sini." Ucap yuda menatap maya.


"Maksud kakak apa?? Kita semua pasti selamat kak, pagi juga akan datang dan semua orang akan masuk sekolah, kita akan selamat." Ucap maya.


Yang mereka harapkan kemarin cuma satu, yaitu datangnya hari besok dan ada pagi, namun ternyata ekspektasi itu terlalu jauh untuk mereka.


"Ada siang, ada juga malam, ada cahaya dan ada juga bayangan, tapi may asal lo tau, gue belum tidur dari tadi malam dan tidak ada bayangan di luar saat matahari menyinari sekolah ini." Jelas Yuda membuat Maya bingung.


"Maksud kakak apa?? Aku gak ngerti." Maya bingung dengan apa yang di katakan Yuda.


"Selama kalian tidur, aku melihat 3x siang dan 2 malam dengan waktu yang sebentar, Lo pikir gue liat apa?? Lampu yang bersinar doang?? Apa gue udah gila?? Jawab may!! JAWAB KALAU GUE KETIDURAN DAN MIMPI." Teriak yuda membuat Elis terbangun dari tidurnya.


"Ada apa??" Tanya elis, dia tidur sambil duduk menyandar ke tembok di ujung kelas.


"Gak papa, kak yuda cuma kecapean." Ucap maya memegang tangan Yuda.


"Mungkin kakak terlalu capek, sebaiknya kakak istirahat dan kita harus buru-buru bergabung dengan yang lain." Ucap maya.


Yuda rasanya mau terjun dari lantai 2 ini, tapi dia masih sedikit waras dan duduk untuk memejamkan matanya sebentar tanpa tahu kalau Yuda tertidur sampai malam begitupun Maya dan Elis yang sama-sama tertidur dan tiba-tiba sudah malam.


"Ini gak bisa di biarin may, kita gak bisa lanjut lagi ke bawah." Ucap yuda melihat kearah jendela karena dia seperti baru melihat siang tapi saat memejamkan mata malam sudah datang.


Yuda semakin prustasi yang membuat Maya semakin jengkel dengannya, dia mencengkeram kerah baju Yuda dengan tatapan tajamnya.


"Gak ada yang bakal selamat kalau Lo ketakutan kaya gini." Setelah itu Yuda terdiam melihat perlakuan Maya terhadapnya.


Yuda selalu memuji kecantikan Maya karena dia memang mempunyai darah keturunan orang luar negri, paras wajah cantik, freckles dan rambut blondenya membuatnya sempurna, tapi ternyata perlakuan seriusnya bertolak belakang dengan kecantikannya, dia lebih tegas dan berani.


Lelaki itu mulai menggendong elis lagi dan lukanya semakin parah, seperti kata Yuda dia melihat 3x siang dan 2 malam, kaki elis juga membusuk karena perbannya tidak di ganti.


Dia mengira Yuda menghayal karena terlalu tertekan, namun ternyata bukti bahwa kaki elis mulai membusuk karena tidak di bersihkan itu menjadi alasan yang cukup bagi mereka untuk mempercayai ucapan Yuda yang tidak masuk akal.


"Please please jangan ada halangan lagi." Ucap elis membuat mereka saling menatap.


"Kenapa??" Tanya elis.


"Harusnya Lo jangan bicara apa-apa sialan." Ucap mereka karena seseorang muncul saat mereka menuruni anak tangga.


Terek teeeekkkk......


Dia merayap seperti laba-laba dengan rambut panjangnya.


"LARI." Teriak yuda.


"ARGHHHHHH, CEPETAN SIALAN BANGSAT." Teriak Elis karena dia juga punya phobia takut laba-laba.


"CEPET KAK, MAY??? MAY TUNGGUIN." Teriaknya lagi membuat gendang telinga Yuda mau pecah.


"Ahhhhh sial sial, jangan di lepas." Teriak Elis karena bajunya mulai di pegang oleh mahluk itu dan Yuda kesusahan menarik Elis.


"Tarik may... Cepetan!!!" Maya menarik Yuda dan Yuda menarik Elis sampai akhirnya mereka sudah sampai di lantai satu dan lari kearah dimana anak-anak yang lainnya berada disana.


Mendengar pintu terbuka keras dan tertutup kasar semua orang-orang yang aneh di lantai satu juga mulai menghampiri suara pintu yang mereka tutup karena merasa panik.


Menyembunyikan dirinya disetiap sudut yang gelap, orang2 itu masuk kedalam kelas dengan tangan siap mencakar dan pisau siap ditancapkan.


Mulut winda sudah dibungkam sama evan, mulut hani dibungkam sama henry yang sedang berdiri disudut dengan kaki bergetar.


Orang-orang itu kembali keluar dan pintu sudah ditutup rampat lagi membuat suasana mulai sedikit tenang dan Henry langsung mengunci pintu kelasnya lagi.


"Mahluk apa mereka itu." Tanya Henry kembali ke ujung bersama yang lain.


"Disini sebenarnya ada magic, seperti sihir, kita seperti didalam game yang mencari jalan keluar." Ucap elis.


"Jangan ngada2 lo bocah, tau dari mana lo??" Tanya evan pada Elis yang kakinya masih bergetar hebat karena panik.


"Siapa di sini yang_____"


"Hentikan!!!" Ucap maya dengan nafas ngos-ngosan dan mata tajamnya


"Lo kenapa sih may?? Kenapa setiap kali gue bahas tentang hal-hal aneh, Lo selalu melarang gue bicara??" Tanya elis karena dia juga mulai jengkel.


"Elis diam!!" Maya menekan kata itu.


"Apa kalian mendapatkan bunga rose ditiap meja kalian??" Tanya elis lagi tak mau kalah dari maya.


Maya langsung melotot kaget karena Elis sangat keras kepala dan tidak mau kalah dari perdebatan Maya.


"Semuanya diam, kalian tidak harus menjawab, Elis terlalu takut dan membuat dirinya mengatakan hal-hal aneh.." Ucap maya lagi.


"Kenapa priang lo takut??" Tanya henry mulai memprovokasi Maya.


"Gue dapat, bunga mawar merah kenapa?? Lo takut apa pir_____ARGGHHHHH" evan memegang dadanya.


Winda yang dari tadi hanya menonton ikut heboh saat melihat evan memegang dadanya dan memekik kesakitan seperti ditusuk sesuatu sampai dia terguling-guling di lantai.


"Evan kenapa??" Tanya winda kepada minhee yang cuma bisa natap evan kosong.


Dia seperti melihat masalah baru yang tidak tahu harus memecahkannya seperti apa, mereka sibuk panik untuk membuat Evan terdiam karena akan berbahaya kalau dia terlalu berisik.


"Bodoh, gue bilang diam kenapa malah banyak bicara??" Maya menatap winda dengan bola mata birunya yang berkilat.


"WOYY TOLONGIN EVAN." Teriak sena karna melihat evan yang terus-terusan memegang dadanya.


Wajahnya sudah memerah, urat-urat dilehernya mengencang karna sakit, tangannya terus meremat dadanya yang terasa sakit dan terbakar.


"ARGHHHHH, SAKIT, ARGHHHHH...." Sena yang selalu melihat temannya tidak pernah merasakan sakit seperti ini selama hidupnya, Evan tidak pernah memekik kesakitan seperti orang gila.


"May??? MAYA SEBENARNYA ADA APA???" winda menggoyang-goyangkan tubuh maya karena melihat temannya kesakitan.


Maya melepas tasnya dan berdiri sedikit membuka kancing bajunya dan merobek seragam evan dan membuma kaos yang dia kenakan.


Terlihat jelas ukiran mawar merah didada Evan sebelah kiri dengan darah yang mulai keluar dari tato itu.


"Ke___kenapa bisa." winda membungkam mulutnya tidak percaya, sedangkan Evan terus merintih dan yang lainnya pun terdiam karena kejadian ini membuat mereka sadar kalau mereka bukan lagi di dunia asli mereka.


^^^^^^TBC➡️^^^^^^