
"SIALAN LO SAT." Teriak Henry memukul salah satu dari mereka dengan buku yang dia bawa dari perpustakaan, kalau manusia biasa mungkin sudah geger otak, tapi berbeda dengan yang ada di depannya.
Mereka mengeluarkan pisau ntah dari mana, Winda, Sena, Yuda, Henry, Maya dan satu orang perempuan yang Sena bawa ketakutan, mereka sudah mulai capek dan berkeringat sangat banyak.
"Lari ke dalam kelas biar gue sama Henry yang melawan mereka." Ucap maya.
"LO GILA ANJIMK, LO PIKIR GUE MAU BERKORBAN DEMI MEREKA??" Teriak Henry.
"Mulut Lo gak pernah bisa diam." Ucap maya.
Lelaki itu mulai menyerang kearah Henry karena dia yang paling keras berbicara, Maya mengambil buku itu dan melompat membuat lelaki besar itu ambruk dan Maya langsung memukulnya dengan buku yang cukup besar.
"LARI SEKARANG JUGA." Teriak Maya mengalihkan perhatian mereka.
Sena menarik Winda dan Winda menarik gadis itu namun dia malah terjatuh tapi Sena sudah terlalu jauh meninggalkan gadis itu.
"Sen?? SENA DIA KETINGGALAN." Teriak Winda mencoba mau lepas tapi Sena melirik sebentar lalu menariknya lagi.
"ARGHHHH TOLONG hiks... TOLONG??" Dia malah berteriak sangat keras membuat Maya ingin meninggalkannya namun tidak bisa.
Lelaki itu sudah siap menancapkan pisaunya kepada gadis kecil itu yang sedang terbaring sambil di cekik.
"Tolong hiks...." Cekikan itu sangat kuat, dia memejamkan matanya saat pisau itu di angkat.
Satu pisau menancap dilengannya, bukan lengan gadis kecil itu tapi dilengan Maya yang mencoba menahannya dan mendorong lelaki berbadan besar itu terus menarik si gadis itu.
Maya membungkam mulut gadis kecil itu dan pisau yang menancap dilengan kirinya membuatnya meringis sakit.
Karena teriakan Winda, Sena mendorong Winda untuk menjauh dan balik lagi melawan mereka yang hampir membunuh Maya, tapi saat mendorong satu dari mereka salah satunya lagi menendangnya sampai terjatuh.
Lelaki itu menatap wajah minhee yang menahan sakit sedangkan sena mencoba bangun lagi walau dadanya masih sakit akibat tendangan yang sangat kuat, mungkin akan sedikit memar di dadanya.
"Keterlaluan." Ucap maya mencabut pisaunya dari lengannya.
Mata biru itu berkilau, Maya berdiri mendekati lelaki besar itu, Henry sudah terbaring di lantai begitupun Sena yang sudah kelelahan.
"Go to hell *****." Ucap maya menyerang mereka.
Dia melawan mereka seperti berdansa, walaupun di tendang atau di banting, Maya tetap bangun dan menancapkan pisau di dada mereka satu persatu, dengan susah payah dan kelelahan di bantu dengan Sena juga akhirnya mereka musnah seperti debu.
"Apa kamu tidak tau peraturan hidup disini??" Maya mencengkram kerah baju gadis kecil itu.
Siapa yang tahu peraturannya, mereka juga pusing dengan peraturan yang sering Maya bicarakan, mahluk aneh itu terus berdatangan dengan jenis yang berbeda.
"Sudah!! dia juga syok." Sena mendekatinya supaya maya tidak berbuat kasar kepada orang baru, dia juga kesusahan berlari dari tadi.
Keempatnya kembali kedalam kelas dan winda syok melihat tangan maya yang sudah dipenuhi dengan darah, sebelum Winda masuk kelas, Maya masih aman tidak terluka, tapi saat mereka masuk, Maya malah mendapatkan luka parah.
"Maya kamu kenapa??" Tanya hani saat maya meminta winda hanya membersihkan lukannya dan menyiramkan alkohol pada lukanya dan memerban lukanya.
"Luka kecil, gue gak papa ko." Ucap maya supaya Hani lebih tenang.
"Henry mana?? Jangan bilang____"
"Apa??" Belum juga yuda selesai ngomong langsung ditatap tajam sama maya, padahal si Henry pengecut.
Anak maung emng tuh si maya, kebanyakan dari mereka takut sama maya, elis berjalan pincang mendekati maya.
"Jay, gimana dengan jay??" Tanya elis khawatir.
Dia tidak menceritakan keadaan yang ada di perpustakaan, dia takut kalau menceritakan keadaan di perpustakaan malah mengakibatkan kegaduhan lagi.
"Nama lo siapa?? Kelas berapa??" Tanya maya kepada gadi kecil yang sena selamatkan, lebih tepatnya diselamatkan oleh maya.
"Dara kelas 1 " maya hanya bisa ngangguk karna ternyata mereka satu angkatan tapi mungkin beda kelas ataupun karena gangguan ingatan sialan ini yang membuat mereka tidak ingat.
"Kasih tau peraturan apa yang tidak boleh dibicarakan." Yuda mendecih dengan tingkah maya yang selalu membuatnya jengkel, tapi dia harus mengakui kalau Maya disini paling berani dan kuat juga.
Tapi mereka benar-benar tidak tahu apa-apa dan maya juga satu-satunya orang yang sepertinya tahu sesuatu tentang apa yang terjadi.
Setelah kepergian Maya mereka terdiam lagi menunggunya menjemput Jay, baru beberapa jam beristirahat mereka sudah mau pergi lagi.
Sebenarnya tempat paling berbahaya bisa saja tempat paling aman, Maya memberikan saran dengan benar, yaitu mereka harus tetap diam tidak boleh bersuara, peraturan harus tetap di terapkan kalau merek ingin selamat.
Tak lama Henry dan maya datang memapah jay, wajahnya sudah pucat mungkin dia terlalu lama berjalan dan Jay juga sudah kelelahan, dia juga baru tahu kalau dirinya terkurung disana sudah satu Minggu ataupun lebih, tidak ada yang tahu waktu di dunia lain berjalan seperti apa.
"Jay?? Jay kamu gak papa kan??" Tanya elis dan jay mengangguk.
Maya duduk sila didepan semuanya dan mengambil buku dari tasnya, buku tebal dengan sampul yang sudah tua, seperti buku sihir dan buku itu di buka sama Maya perlahan.
"Kalian ingin keluar dari sini kan??" Tanya maya dan semuanya ngangguk.
"Apa kalian ingat warna rose apa yang kalian dapat?? Cukup mengangguk dan jangan sebutkan warnanya." Tegas maya, dia takut kejadian seperti Evan terulang lagi.
"Kenapa tidak boleh??" Tanya sena
"Liat aja kak evan, dia hanya akan terus melemah dan berakhir mati kalau kita tidak cepat-cepat keluar dari sini."
"Maya kamu nakut-nakutin kita?" Tanya hani sambil megang tangan kak winda dengan erat.
Maya menghela napasnya, dia memang tidak tega kalau harus memarahi hani, Gadi kecil yang sama kecilnya seperti dara.
Maya menunjuk satu lembar yang berisi seperti ritual orang, disana ada gambar orang dengan jumlah yang lumayan banyak
"Dibuku ini seharusnya kita bersebelas tapi hitung!! Disini hanya ada sepuluh orang dan kita harus menemukan satu orang lagi."
"Buat apa??" Tanya Sena.
"Kita gak tau apa yang terjadi, tapi di buku ini menjelaskan setiap permasalahan seperti kita saat ini." Jelas Maya lagi.
"Dari mana Lo dapetin buku itu?? Kenapa Lo bisa percaya sama buku sialan itu?? Yang kita butuhkan sekarang mencari jalan keluar dari sekolah sialan ini bukan membaca buku." Lagi-lagi Evan mencari masalah.
Semua orang menatap maya dengan tatapan mencurigakan, setelah mencurigai Sena, mereka sekarang menatap maya dengan perasaan khawatir dan tidak percaya.
"Tapi sebaiknya kita percaya dulu sama buku itu, dan kita harus mencari satu orang lagi." Ucap winda menenangkan.
"Harus ya??" Ucap henry udah mau teler, menyelamatkan jay saja dia hampir mati, kenapa harus menambah satu orang lagi?
"Apa nggak ada cara lain??" Tanya yuda
"Ada." Ucap maya dengan tenang.
"Apa??" Serentak semuanya.
"Mati." Ucapnya menatap mereka satu persatu dengan mata birunya.
^^^TBC➡️^^^