
"Sudah lah maya cepat katakan kalau lo yang memegang mawar biru itu." Ucap evan. Dia benar2 kesal dengan permainan ini, dia ingin cepat keluar dari semua siksaan ini dan kutukan mawar sialan yang ada di dalam dirinya.
"Maya kalau kamu benar-benar memegang mawar biru itu, katakan sekarang dan kita akan mencari jalan keluar bersama" ucap winda dia berbicara dengan lembut.
"tidak ada jalan keluar lain, gak usah basa basi cepat katakan saja supaya kita semua bisa keluar dari sekolah terkutuk ini." ucap evan
"Tidak secepat itu kak." Ucap elis sambil membuka buku itu kembali dan memperlihatkan halaman yang dia baca.
"Kita harus ketempat ini dulu, aula ini akan menentukan siapa yang memegang mawar biru itu."
"Ini kan aula bawah?? Apa tidak ada cara lain selain menghadapi orang-orang sinting diluar sana!!" Henry sudah kesal dengan semuanya juga, dia juga sudah hampir mati beberapa kali tapi apa yang Maya pikirkan, kenapa si rambut pirang itu hanya terdiam.
Maya hanya diam tidak bicara apa-apa biasanya dia paling terburu-buru ingin menyelesaikan masalah ini tapi ketika Elis menjelaskan beberapa permasalahan dia hanya terdiam seperti menyembunyikan sesuatu, tapi Maya memang selalu menyembunyikan rahasia dari mereka, dia seperti tidak mempercayai mereka sedikitpun.
"Gak ada rencana??" Tanya winda sama maya dan anak itu cuma membisu.
Jay yang sudah mulai membaik ikut menggeserkan badanya berkumpul bersama mereka.
"Kita kesana artinya antara selamat dan juga mati, menyerahkan orang yang memegang mawar biru atau melawan mereka." Jelas jay, dia juga melihat saat eunsang membaca buku itu.
Jay juga sudah menghadapi beberapa monster di dalam perpustakaan, mungkin itu bisa di bilang keberuntungan dia masih hidup.
"gimana kalau buku itu cuma hayalan sialan kalian saja??" tanya dara.
"maksud Lo apa??" ucap elis mereka sepertinya akan bertengkar.
"dari tadi Lo ngomong buku ini buku itu, halaman ini halaman itu, apa semua isi otak Lo fiksi doang?? setidaknya gunain otak Lo bukan percaya sama selembaran kertas itu." ternyata gadis mungil itu mempunyai senjata tajam yaitu mulutnya yang pedas.
"kalau Lo gak bisa_____" ucapan Elis terpotong.
"Kita semua akan kesana." Maya mengambil tasnya lagi dan ini sudah siang jadi mereka pergi kebawah cukup berjalan tidak boleh berisik.
"Oke kita pergi kesana." Sena merapihkan baju dara karna bajunya lumayan penuh bercak darah dari dika cowok bongsor terakhir yang mereka selamatkan.
•°•
Semuanya bersiap-siap untuk pergi kebawah dimana aula itu berada dan itu cukup jauh dari lantai 2 dan gedungnya berbeda dari gedung yang mereka tempati, aula khusus untuk pengumuman seluruh siswa.
Sena mimpin didepan dengan dara diikuti henry yang mapah dika dan yang lainnya dibelakang.
Mereka sedang berjalan disetiap kelas tapi pekikan suara lumba-lumba dika yang kaget karna tiba-tiba pintu kelas terbuka membuat orang-orang itu kembali bermunculan.
Anak bongsor sialan itu membuat rencana mereka tidak pernah berjalan dengan mudah sama sekali, tidak ada yang berjalan dengan mudah setiap kali mereka merencanakan sesuatu.
"LARI WOYYY!!!" Teriak sena dan semuanya berlari.
Maya kesal harusnya mereka tidak berisik dan memasukan semuanya kedalam kelas kecuali dika dan henry yang masih diluar karna tertinggal.
Iya dika masih belum sehat badannya masih lemah berbeda dengan Evan, dia mempunyai stamina yang banyak membuat dirinya yang seharusnya melemah tapi ternyata dia cukup kuat untuk berlari.
"Siapa yang megang rose biru?? JAWAB!!!" Evan udah gak tenang soalnya kalau dika mati dia juga bakalan mati.
Semuanya memasang wajah ketakutan, sangat ketakutan membuat sebagian mereka menangis karena mereka sudah tidak tahu cara bertahan lagi.
Maya mengepalkan lengannya, dia juga melihat semuanya sudah memburuk, tidak ada yang memakai baju bersih, semuanya sudah kotor dengan bercak darah, Hani juga menangis di samping Winda karena ketakutan.
Maya berdiri dan semua orang menatapnya dengan perasaan yang tidak enak, apa yang akan di lakukan gadis pirang itu.
"Gue, gue yang memegang rose biru itu." Ucap maya keluar dari kelas dan menghampiri dika dan henry.
"Pergi kedalam kelas biar gue yang hadapin mereka." Ucap maya menyuruh mereka berdua pergi ke dalam kelas.
Tidak ada yang membawa pisau atau alat tajam lainnya, hanya badan mereka sangat besar2 cukup membanting badan maya yang kurus.
Maya lari kearah mereka dan melawan mereka namun karena mereka terlalu kuat dan dia terlalu kurus untuk melawannya, perlawanannya menjadi sia-sia
Bughhhhh
Maya dilempar kearah dinding dan sumpah itu sakit banget sampai dadanya terasa sesak dan dia mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
"Gue mau bantuin maya." Ucap Henry setelah mendudukan dika, walaupun dia tahu kalau dia juga tidak akan bisa melawan mereka.
"Biarin aja dia mati, gue sudah bilang kan kalau dia yang megang mawar biru itu." Ucap evan
"Benar kah?? Bagaimana kalau bukan?? Dan kalau memang dia yang megang gue gak sudi dia mati ngorbanin dirinya untuk kita" Mereka semua malah berdebat.
"TAPI KITA HARUS KELUAR DARI SINI, APA YANG SALAH SAMA UCAPAN GUE??" Teriak Evan.
"Maya mengorbankan dirinya untuk kita, terus apa yang harus kita lakukan?? Tertawa setelah keluar dari sini sedangkan Maya menjadi korban??" Ucap Hani menangis karena dia juga tidak mau Maya menjadi korban, dia juga tidak mengingat apa yang sebenarnya terjadi dan siapa Maya bagi dirinya?? Apakah mereka dulu dekat??
"Terus kalau bukan Maya yang memegang mawar biru itu berarti mereka ada di antara kita dan kalau Lo gak mau ngorbanin Maya, cari siapa pelaku game ini." Ucap Evan merasa kesal juga.
"Bukannya Jay dan Elis sahabat nya Maya??" Tanya dara yang dari tadi hanya diam, gadis kecil yang hanya menempel di samping Sena.
"Terus kenapa kalau Maya mengorbankan dirinya?? Lihat saja temannya sendiri yang sudah membongkar rahasia Maya, apa yang perlu di kasihani?" Tanya dara lagi.
"Dara??" Ucap winda.
"Tidak perlu semarah itu kak, Elis dari awal sudah menuduh Maya dan Jay juga membantunya, padahal Hani bilang kalau mereka berdua di selamatkan oleh Maya, terus apa salahnya kalau kita mati dan Maya selamat?? Tidak akan ada bedanya kan??"
"Maksud Lo apa HAH?" Teriak Evan mendekati dara namun amukannya di tahan Sena dan mendorongnya.
"ARGHHHHHHH" Jeritan itu membuat semuanya melihat kearah luar.
"Arghhhh uhuk uhuk." Maya dicekik sampai badannya tidak menyentuh lantai, dia seperti di gantung dengan leher yang di cekik oleh lelaki berbadan besar itu.
^^^TBC➡️^^^