
Winda dan Evan sedang berdebat tentang siapa yang harus menyusl Yuda dan Maya ke lantai empat, mendengar teriakan yang cukup keras membuat mereka panik.
"Kak aku takut." Ucap Hani memegang seragam Winda yang sedang mengigit jari kukunya sampai patah, padahal Winda mempunyai kuku yang cantik.
"Maafin kakak ya, kamu duduk saja dulu biar kakak yang tangani mereka."
Setidaknya Winda, Sena sama Evan satu angkatan, mereka kelas 3 SMA dan sepertinya mereka berteman dekat satu sama lain.
"Gue udah gak bisa nunggu lama-lama disini, gue bakal susul mereka." Ucap Henry.
"Lo gila?? Udah gue bang kita gak bisa kemana-mana." Tunjuk Sena dengan darah di lengannya yang semakin banyak keluar karena dia terlalu banyak bergerak.
"Tapi mereka butuh bantuan kita, kalau yang di omongin sama Lo itu benar, apa mereka berdua bisa selamat melewati 3 lantai?? Hah??" Henry semakin marah terhadap Sena.
"Kalaupun mereka mati, setidaknya tidak ada yang rugi diantara kita." Ucap Evan.
PLAKK....
Tamparan kuat melayang di wajahnya, Winda yang mempunyai wajah cantik, rambut di ikat dan mata kucingnya menatap Evan dengan tatapan marah.
"Otak Lo isinya apa??" Winda menunjuk-nunjuk dada Evan sampai dia mundur.
"Kalau bukan karena Sena melarang siapapun pergi, orang yang pertama gue jadiin tumbal itu elo anjink." Hani yang diam tersentak mendengar ucapan Winda.
Dia bisa dibilang tidak bisa marah dengan wajah cantik seperti itu, tapi ternyata Winda lebih pedas dibanding pikirannya, pembicaraan mereka semakin memanas saat Winda sudah lancang mengeluarkan kata kasar.
"Haahhh, ****** sialan!!" Ucap Evan.
"Apa Lo??" Teriak Winda.
"Lo kira gue gak berani mukul cewek?? HAH???" Evan mulai mendorong Winda sangat keras sampai mundur jauh.
"WOYY Evan!!" Henry mencoba menahan Evan, karena badan dia sangat kekar namun dirinya juga sangat kuat untuk bisa menahannya.
"ARGHHHHHH, ARGHHHHH... HELP???" Teriakan itu membuat mereka terdiam.
"Itu suara siapa??" Tanya Sena karena tidak mengenali suaranya.
"Elis...." Gumam Hani dan ucapannya lumayan terdengar sama Sena.
"Elis?? Elis siapa?? Kamu kenal dia??" Tanya Sena mendekati Hani yang langsung berdiri.
"Jawab Hani, Elis siapa??" Tanyanya.
Dia terus merengek sambil memainkan tangannya yang kecil, seperti orang panik yang sudah di ajak berbicara.
Sedangkan di lantai 3 mereka sedang kejar-kejaran dengan seseorang yang memakai topeng Halloween, mereka terlalu banyak dan membawa senjata tajam.
"Masuk!! Masuk!!" Ucap yuda, mereka masuk kedalam kamar mandi sekolah yang ada di lantai tiga.
Yuda mengangkat Elis ke atas toilet begitupun dirinya supaya kaki mereka tidak kelihatan, sedangkan Maya mengunci semua pintu kamar mandi dan mereka berada di kamar mandi wanita.
"Who the **** are they??" Umpat Yuda.
"Bagaimana dengan Maya??" Bisik Elis sama Yuda.
"Gue gak tahu, dia sendiri yang nyuruh kita sembunyi di WC." Ucap yuda.
Tak
Taakkk
Taaakkk
Orang-orang itu datang sambil mengetuk-ngetuk kamar mandi yang sudah di kunci, ini seperti di kejar-kejar pisikopat yang mau membunuh mereka, tapi anehnya mereka selalu datang tiba-tiba dari ruangan yang kosong.
BRAAKKKK
BANGG....
"Sialan Lo Maya, rencana Lo gak bisa nolongin kita." Ucap yuda.
"Gue takut." Ucap elis yang pernah di tusuk satu kali oleh pisau.
"Lo merangkak ke bawah saat mereka ngebuka pintu kamar mandi sebelah, merangkak sampai ujung jangan berhenti, biar gue yang nahan pintu ini." Ucap yuda.
"Tapi gue gak bisa ninggalin Lo sendirian." Bisik Elis udah nahan tangisnya.
"Hahaha, Lo tenang aja, gue bisa jaga diri, mana mungkin gue mati konyol." Ucap yuda.
BRAAKKKKK.
pintu kamar mandi giliran mereka di dobrak keras, Yuda mencoba menahannya memakai sapu yang ada di dalam.
, dia merangkak dengan tangan bergetar dan kakinya yang sakit karena tusukan pisau.
Tapi dia berhenti merangkak dikamar mandi sebelum sampai di ujung, disampingnya sudah berdiri seseorang dengan baju badut memegang balon.
"ARGHHHHHH, ARGHHHHHH, HELP....." Teriak Elis dia mencoba menutup pintu kamar mandi tapi langsung di dobrak sampai dia terpental.
"LEPASIN GUE, LEPASIINNNNN...." Elis berpegangan di toilet tapi dia dengan mudahnya di angkat dan di banting kan ke wastafel membuat tubuhnya sakit.
"Jangan sakiti gue, gue mohon." Ucap elis merangkak perlahan dengan kaki berdarah dan tangisannya sambil terus memohon kepada orang yang memakai kostum badut itu.
Pintu kamar mandi milik Yuda di dobrak kasar dan dia menancapkan sapu yang sudah di patahkan kearah mereka tepat di matanya membuat dia terluka dan pergi menolong Elis.
Kaki jenjangnya menendang badut sialan itu tapi rambut Yuda di tarik duluan sebelum mereka pergi dan di banting ke wastafel sampai dahinya berdarah dan ambruk.
Kedua orang itu mengerubuni Yuda tapi Maya datang memukul keduanya dengan APAR (alat pemadam api ringan) yang berwarna merah.
Dia menarik Yuda dan menyemprotkan alat itu kearah mereka sampai habis dan lari keluar dari sana, ternyata di luar lebih banyak orang dan Maya terlihat kelelahan dan berkeringat seperti habis berkelahi.
"Kita harus cepat-cepat turun kelantai 2 sebelum mereka menyusul." Ucap maya.
Mereka bertiga berlari saling memapah menuruni anak tangga dan saat di anak tangga terakhir semua orang-orang itu berhenti tidak mengikuti mereka.
"Apa yang salah dengan sekolah ini.?" Ucap yuda menatap maya dengan keringat yang bercucuran.
"Mereka berhenti mengejar, sialan." Ucap yuda bisa menghela nafasnya walaupun mereka terlihat tidak masuk akal.
"Kita harus masuk kedalam kelas dulu dan mengobati kalian." Ucap maya.
Tadinya sempat berdebat karena mereka hanya tinggal menuruni anak tangga saja, tapi koridor yang mereka lewati berada sangat panjang dan tidak sampai-sampai dan akhirnya belok kedalam kelas setelah itu mengobati luka Yuda dan Elis lagi.
"Gue muak, gue pengen pulang." Ucap elis.
"Lo pikir, Lo doang yang mau pulang??" Ketus Yuda karena kepalanya pusing.
"Lo dari tadi dari mana may??" Tanya Yuda.
"Nyari sesuatu untuk di makan, tapi kayaknya disini tidak ada makanan sama sekali." Ucapnya lagi.
"Tapi gue gak ngerasa lapar sama sekali, dan sepertinya besok pagi kita harus pergi." Ucap yuda.
"Masalahnya, semenjak kita terperangkap, malam terasa panjang dan tidak ada pagi." Ucap elis.
"Kita coba tidur aja dulu, kalau ada pagi, kita harus cepat bangun dan kabur."
"Tuhan, gue gak tau kita sedang mimpi atau apa, tapi kalau gak ada pagi berarti kita sudah mati." Terus mulutnya di tepuk sama Maya.
Mereka beristirahat di kelas lantai 2, sedangkan yang lainnya juga istirahat berharap besok akan ada pagi dan matahari yang menyambut mereka
Elis mulai merangkak saat pintu di sampingnya mulai menutup.
^^^TBC➡️^^^