Blue Rose

Blue Rose
Chapter 6



"Jadi siapa yang bakal pergi ke perpustakaan sama Maya??" Tanya evan duduk sambil mengelus dadanya yang terasa sakit, wajahnya pucat tapi dia selalu berbicara dengan nada tegas.


Semua terdiam karena sebagian dari mereka memang sudah terluka parah apalagi Elis yang tidak bisa berdiri.


"Biar gue kesana sendirian." Ucap maya.


"May, Lo kemarin udah capek ke lantai empat sama gue, kita juga di serang habis-habisan." Ucap yuda.


"Tapi siapa lagi yang mau kak?? Gak ada, Jay temen aku, dan aku harus mastiin dia masih hidup." Ucap maya


Minhee sudah berdiri sambil merapihkan seragamnya dan tas yang dia bawa untuk pergi keperpustakaan mencari jay.


"Sebaiknya kita mengganti tempat, kita ikut sama Maya ke lantai dua supaya bisa berkumpul dengan mudah." Jelas Winda membuat semuanya melotot.


"Hah?? Pergantian kelas?? Pergantian tempat?? Maksud Lo apa??" Ucap Evan


"Kita harus pergi sama Maya ke lantai dua, tempat ini juga sudah tidak aman."


"Gue tau Lo khawatir, tapi keluar dari kelas sama aja dengan bunuh diri." Evan seperti biasa sering marah-marah.


"Yang di katakan Evan benar, keluar kelas sama aja dengan bunuh diri." Ucap Sena.


"Pengecut." Ucapan itu memang keluar dengan nada kecil namun itu terdengar oleh sena dan Evan.


"Maksud Lo apa yud??" Sena menghampiri Yuda yang sedang duduk di pojokan sendirian.


"Kalian semua PENGECUT." Tekan Yuda.


"Haahhhh, Lo pikir Lo siapa?? SIAPA YANG LO BILANG PENGECUT??" Teriak sena.


"LO SEMUA PENGECUT, LO BICARA SEAKAN-AKAN LO TAU DI LUAR SANA KAYA GIMANA." Teriak Yuda.


"Gue, Maya sama Elis udah ngerasain hampir mati, tapi elo semua yang cuma duduk di dalam kelas gak pernah ngerasain dan cuma ngomong doang karena takut mati." Yuda mendorong Sena yang tubuhnya lebih besar dari dia.


"Apalagi gue gak tau Lo terluka karena mereka atau Lo cuma ngelukain tangan Lo sendiri dan menyeret kita ke dunia terkutuk sialan ini." Tekan Yuda sama Sena membuat semua orang melihat Sena dengan tatapan mencurigakan.


"Gue gak tau kalau kelas ini masih aman atau nggak, tapi mereka semua hampir kesini setiap jam ngawasin kita, kalau Lo mau tetap disini, ya udah, diam disini sampai membusuk, gue ikut Maya ke lantai dua sekalian nyari temannya." Yuda pergi menghampiri maya yang sedang berdiri siap untuk pergi.


Maya pergi menghampiri Elis yang sedang duduk, dia sudah berkeringat banyak karena demam akibat lukanya yang membusuk kemarin.


"Ikut." Ucap Hani merengek sambil memegang lengan Elis.


Elis hanya menatap mata Maya dengan kilauan mata yang indah, Maya cuma mengangguk dan membantu Elis berjalan.


"Oke Maya, tunggu sebentar." Ucap winda menghentikan Maya sejenak.


"Gini aja, Sena, Evan, kita juga harus ngikutin Maya ke lantai dua dan pindah tempat, kalau misalkan disana gak aman, kita balik kesini lagi." Ucap winda menenangkan mereka.


Akhirnya dengan bujukan Winda, semuanya ikut naik ke atas, mereka membuka pintu kelas dan melihat kiri kanan memastikan tidak ada siapa-siapa di koridor.


Semuanya keluar dari dalam kelas satu persatu, hening seperti tidak ada tanda kehidupan, hawa dingin juga mulai terasa membuat mereka merinding.


"Jalan pelan-pelan." Ucap yuda sama Henry sahabatnya.


Henry ngangguk sambil menjaga Elis yang sedang berjalan bersama sahabatnya itu, mereka gak tau bahaya apa yang akan mereka hadapi saat di lantai dua.


Sesampai melewati anak tangga, mereka sampai di koridor lantai dua, hawa di lantai dua berbeda dengan di lantai satu, meskipun agak sempit tapi suasananya lebih nyaman dan mereka bisa melihat ke bawah.


"Ingat jangan keluar dari kelas." Ucap maya kepada mereka setelah membantu Elis duduk di bawah.


"Ingat pesan ku." Ucap dia lagi sambil menunjuk mereka.


Saat mau pergi, tangan Maya di tahan sama Yuda dan anak itu berdiri dengan Henry yang berjalan di belakangnya.


"Kenapa kak??" Tanya Maya sama Yuda.


"Henry mengajukan diri ikut sama kamu, biarin dia ikut sama kamu." Ucap yuda.


"Tapi kak Henry kan takut keluar kelas." Terus kata-kata itu di ketawain sama Yuda dan Henry merasa kesal karena dirinya seperti di rendahkan dan di anggap lemah sama Maya.


Yuda yang badannya lebih kecil dari Henry juga merasa kalah, Yuda aja bisa selamat dari lantai empat, masa dia yang badannya kekar gak bisa.


"Gue ikut karena gue takut Lo mati dan bikin temen gue nangis." Ucap Henry memalingkan wajahnya.


"Ya ya ya.... Sana ikut Maya, percaya aja, meskipun badannya ramping, dia jago berkelahi." Ucap yuda mengacungkan jempolnya kepada sahabatnya.


"Jagain Henry ya may, soalnya dia gampang nangis." Terus sama Henry kepalanya langsung di toyor dan mereka pun pergi.


Jadi sekarang yang nemenin maya itu hanya henry, sekarang Maya dan Henry mencoba keluar dari kelas dan melihat kiri kanan, setelah itu berjalan di koridor sekolah menuju gedung di sebelah mereka karena jalan penghubung atau jembatannya hanya ada di lantai dua, mereka sedang berjalan menuju perpustakaan.


"Min____" mulut Henry maya bungkam dengan tangan kecilnya.


"Stttttt." Maya mengisyaratkan Henry untuk tetap diam, walaupun siang hari, ternyata masih banyak yang memburu mereka.


Seseorang datang membawa pisau cukup untuk menggorok leher mereka berdua kalau mereka berisik.


Maya diam sambil membungkam mulut henry tapi mata lelaki bongsor itu tidak lepas dari seseorang yang membawa pisau.


"Diam!!" Ucapnya dalam bahasa isyarat.


Henry ngangguk karna baru kali ini dia melihat jelas orang yang hampir membunuh mereka.


Seperti manusia hanya membawa peralatan tajam, tapi maya dan henry tidak bersembunyi sama sekali karena mereka baru sampai di gedung yang besar itu dan tidak ada tempat bersembunyi, orang yang membawa benda tajam itu hanya lewat di depan mereka.


Maya tahu kalau mereka tidak akan melukainya karena saat pertarungan di lantai 3 dia sempat turun ke bawah untuk mencari pertolongan dan dia bertemu salah satu dari mereka, tapi mereka tidak melawan Maya saat dia hanya terduduk di bawah karena kecapean, awalnya dia kira itu tidak sengaja tapi ternyata mereka benar-benar tidak bisa melihatnya kalau tidak berisik.


"Kenapa dia tidak melihat kita??" Tanya Henry


"Mereka buta disiang hari, dan lebih agresif dimalam hari, makannya jangan berisik." Ucap maya membuka pelan pintu perpustakaan.


"Sebenarnya apa yang terjadi??" Tapi maya menghiraukan pertanyaan henry dan fokus mencari jay temannya.


Perpustakaan sekolah mereka seperti dunia fiksi, banyak sekali buku dari tahun 80 an, ada beberapa rak buku dan ribuan buku yang terpajang di perpustakaan, awalnya Henry mengira perpustakaan sekolahnya mempunyai satu lantai, namun ternyata ada beberapa tangga yang harus mereka lewati untuk mencari jay.


"Sialan, temen Lo dimana may??" Tanya Henry karena dia sudah mengelilingi perpustakaan yang di bawah.


"Kalau Jay gak ada di bawah, berarti dia di atas." Ucap maya.


Tangga itu tidak jauh dari ruangan itu juga, di atas juga hanya ada rak buku besar dan mereka tidak tahu kenapa Jay susah sekali untuk di cari.


"JAY LO DIMANA??" Teriak Henry membuat Maya melotot karena hal gobloknya.


"Apa??" Tanyanya polos.


"Gue muak nyari anak itu, mungkin dia beneran udah mati may, sebaiknya kita balik ke kelas." Ucap Henry.


Lampu perpustakaan lantai paling atas mulai mati membuat mereka kaget karena sekalinya mati membuat ruangan perpustakaan menjadi gelap walaupun di siang hari.


"Semua ini gara-gara Lo." Tunjuk Maya.


"Mungkin cuma mati lampu, ini siang hari, gak akan mengubah ruangan jadi gelap." Ucap Henry tidak pernah bersiaga sama sekali.


"Kita harus keluar dari sini." Ucap maya memegang tangan Henry untuk membawanya pergi tapi lelaki itu malah menghempas tangan Maya.


"Pengecut, gak akan terjadi apa-apa." Ucapnya lagi.


Lampu di atas mereka mulai padam dan akhirnya lampu di lantai mereka ikutan padam membuat ruangan menjadi gelap seperti malam hari padahal di jendela luar masih siang.


"Gue udah bilang kita harus tetap bersiaga." Ucap maya.


Henry merasa aneh, padahal di luar sekolah masih bercahaya, tapi ketika lampu padam semuanya menjadi gelap, sinar dari luar tidak menyinari ruangan perpustakaan.


"Kita harus cepat-cepat keluar may." Ucap Henry, Maya gak bisa tinggal diam, dia menarik Henry bersembunyi di dekat rak buku besar samping meja belajar.


"Kenapa Lo malah narik gue kesini??" Ucap henry


"Satu hal yang memungkinkan mahluk apa yang ada di perpustakaan." Ucap maya menatap Henry.


"May, Lo pasti bohong kan??" Ucap Henry.


"Waktu gue sama kak yuda di lantai dua, sebelum ke lantai satu, mahluk itu merayap di dinding seperti laba-laba dan hampir membawa Elis." Ucap maya.


"Gue gak bisa, kita harus balik ke kelas sebelum ucapan Lo benar." Ucap Henry lagi dirinya mulai panik.


Kabut tebal mulai datang, hawa aneh juga terasa oleh mereka berdua, di luar masih siang tapi tak sedikitpun cahaya matahari menyinari ruangan.


Henry sedikit mundur tapi tangannya memegang sesuatu yang lembek dan susah untuk di lepas.


"ARGHHHHHH, ARGHHHHHH, LARI MAY." Teriak Henry saat melihat laba-laba sangat besar di samping mereka.


Laba-laba tapi mempunyai tubuh sebagian manusia, dia merangkak cepat mengejar mereka yang sedang naik ke anak tangga lagi.


^^^TBC➡️^^^