
Dari ke 11 siswa ini siapa yang mendapatkan Rose biru??
Ada mitos dimana orang-orang mempunyai mata batin dan percaya dengan kutukan, sebagian orang terkadang tidak mempercayai dunia lain atau kutukan.
Namun setelah beberapa saat 11 orang yang ditakdirkan untuk memecahkan misi dan beberapa kutukan yang ada di dalam diri mereka, apakah mereka bisa memecahkannya?? Atau apa yang sebenarnya terjadi dengan diri mereka??
Merek tidak mengingat apapun, mereka hanya mengingat beberapa hal, yaitu beberapa teman dekat mereka dan juga sekolah yang sekarang mereka tempati.
Ntah apa yang terjadi namun mereka sudah berada di dalam kelas dan disana hanya ada beberapa orang dan gadis asing dengan wajah cantik, dia berambut pirang, wajahnya mempunyai beberapa freckles dengan mata birunya, dia seperti gadis berdarah campuran.
Kutukan ini menggunakan rose atau bahasa Indonesia nya adalah mawar, dari beberapa mawar ada beberapa warna dengan kutukan yang berbeda-beda, sekolah yang mereka tempati seperti bukan sekolah biasa.
Mereka seperti di jebak dan di biarkan berada di sekolah yang menyeramkan ini, tidak ada satupun yang bisa keluar dari sana.
Sebenarnya ada 5 warna mawar dan ke 4 nya tidak memiliki arti tapi yang satunya yaitu blue rose memiliki arti kepada siapapun yang memegangnya.
Siapapun yang memegang blue rose harus memilih antara mengorbankan dirinya atau salah satu temannya.
Mereka tidak tahu siapa yang memegang mawar biru itu, mereka hanya harus bekerja sama dan saling membantu, kalau mereka egois maka bukan cuma yang memegang rose biru yang mati tapi SEMUANYA.
Dari ke 11 orang itu tidak boleh ada yang menyebut rose mereka masing2 karna akan berakibat patal atau membuat mereka celaka dan mati, ntah mereka akan percaya atau tidak.
Dan malam ini juga semuanya sudah terjebak didalam kelas, tak ada yang mendengar teriakan mereka, signal pun tidak ada, sekolah ini seperti terhalang sesuatu, mereka hanya langsung berada di dalam kelas dan belum mencoba keluar melewati gerbang.
•°•
"BERHENTI MENANGIS!!!" teriak salah satu dari mereka.
"Lo juga berhenti marahin mereka, lo gak tau apa mereka malah lebih ketakutan." Winda mencoba menenangkan hani yang dari tadi menangis.
Gadis mungil yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menangis dan Hani juga baru kelas 1 SMA, dia paling kecil diantara mereka.
Awalnya mereka pulang sekolah ada jadwal piket dikelas tapi orang2 malah menghilang begitu saja dan mereka sekarang berkumpul disatu kelas.
"Heh pirang siapa nama kamu??" Tanya seseorang yang sedang duduk di kursi.
"Aku??" Nunjuk diri sendiri dan dianggukin Evan, cowok yang sedang duduk di kursi sambil menyender sombong.
"Maya, kenapa??"
"Kenapa gak nangis dan merengek seperti dia??" Nunjuk hani si gadis mungil.
"Gak ada gunanya." Maya terus membaca buku yang dia pegang setelah membalas ucapan Evan dengan nada dingin.
Cewek berambut panjang pirang dengan mata biru berkilau itu begitu dingin membuat Evan yang duduk di buat kesal oleh gadis ramping itu.
"Ck, mau so cantik?? Emng Lo doang yang keturunan luar negri??" Ucap Evan namun tak di gubris sama sekali oleh gadis pirang itu, dia hanya fokus membaca.
Sebelum kejadian, maya berada di perpustakaan dan tiba2 diluar sudah menjadi gelap ternyata malam begitu cepat dan maya tidak menyadari keanehan, dia hanya menyadari kalau dia terlalu lama di perpustakaan, dia juga tidak begitu ingat apa yang terjadi sebelumnya, ingatannya seperti samar-samar.
Dia berkumpul karna ditarik eh seorang laki-laki yang bernama sena masuk kelas, keadaan sena lumayan mengenaskan dengan darah dilengan kanannya, dia tidak tahu apa yang terjadi dengan pria berbadan kekar yang sudah menolongnya itu.
Maya merasa takut saat ditarik oleh sena masuk kedalam kelas tapi dia bisa menyembunyikan semuanya karena saat masuk disana sudah ada beberapa orang juga.
awalnya dia mau melawan tapi dengan cengkraman kuat dan badannya yang ramping membuat dia kewalahan dan akhirnya terseret oleh sena masuk kedalam kelas.
"Kita harus cepat-cepat keluar dari sini!!" Ucap winda setelah hani si gadis kecil tenang.
"Bagaimana caranya?? Disini bukan cuma ada kita, kak sena yang bilang." Yuda melirik sena yang sedang melamun menatap perban dilengan kanannya.
"Sebaiknya kita ke UKS dulu mengambil peralatan medis, sebelum terluka seperti kak sena." Ucap maya berdiri.
"karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kita semua keluar tanpa membawa apa-apa."
"Lo berani keluar?? P3k yang lengkap ada dilantai 4." Ucap evan karna tadi siang dia baru saja membantu mengangkat nya ke atas sebagai cadangan.
sekolah ini juga memang lumayan besar dan elit untuk orang-orang seperti mereka, setiap gedung sekolah juga memiliki fasilitas yang bagus.
"Berani kenapa tidak!!" Maya memasukan bukunya dan merapihkan seragamnya membuka kancing baju paling atas karena dia memakai kaos putih di dalamnya.
Semua siswi juga diharapkan memakai Daleman kaos putih untuk berjaga-jaga, karena memang seperti itu aturannya, memakai kaos dan juga memakai Daleman celana pendek.
Yuda ikutan berdiri nyamperin maya.
"Gue ikut." Ucap yuda melepas tasnya.
"Kalau gitu gue juga." Henry yang dari tadi bungkam kini berdiri didepan maya, seolah dia juga siap untuk pergi kelantai empat.
"Oke, terus apa yang harus kita lakuin sekarang sedangkan kalian ke lantai 4??" Tanya evan masih terlihat santai padahal temannya Sena sedang terluka .
"Cukup diam dan bersembunyi, ngerti??" Ucap maya penuh penekanan sama Evan, dia juga muak melihat perilaku Evan kepadanya dengan tatapan tidak suka tapi dia tidak peduli dengan cowok sombong sepertinya.
Winda berdiri menghampiri maya si gadis ramping itu dan memegang bahunya setelah itu di peluk dengan erat.
"Hati-hati, kalau ada apa-apa tinggak teriak." ucap winda merapihkan rambut Maya dan memberikan ikat rambut yang ada di sakunya.
"Apapun yang terjadi jangan keluar, apapun yang terjadi kalian harus tetap bersembunyi." Ucap yuda.
Setelah itu mereka berdua berjalan mengintip dari pintu, diluar lumayan terang ntah kenapa biasanya kalau di film-film lampu bakalan mati tapi ini sangatlah beda, malah lebih terang dari malam biasanya.
Yuda didepan sambil memegang tangan maya dengan erat karna mereka harus tetap bersama dan tidak boleh terpisah.
Mereka perlahan menaiki anak tangga, sangat pelan sekali karna takut ada sesuatu yang bikin mereka tidak bisa apa-apa, mereka terus melirik kiri kanan atas bawah karena rasa takut mereka terus menghantui, karena sudah terbukti kak sena terluka parah.
Sesampai dilantai 4 tinggal melewati 2 kelas dan 1 gudang tapi saat maya menengok kebelakang ada satu orang yang sedang berdiri tegap dengan wajah tertutup rambut.
"Kak yuda??." Cicit maya dan yuda ikutan nengok.
"Apa dia sama seperti kita?? HEIII LO BUTUH BANTUAN???" teriak yuda dengan bodoh dan sintingnya.
Lelaki itu tiba-tiba bergerak mengambil sesuatu dari sakunya yang dibelakang punggungnya dengan perlahan dan mereka hanya diam melihatnya.
"Mampus bang*at." Ucap mereka berdua saat tau lelaki itu membawa golok disusul dengan suara berisik dan ternyata ada beberapa orang lain dari bawah tangga yang lari menuju mereka.
"LARIIII" yuda menarik maya yang masih mematung gak jelas.
Mereka masuk gudang yang sangat gelap, yuda menarik beberapa meja dan maya menahannya.
Pintu hampir terbuka saat maya dan yuda menggeser lemari yang ada digudang itu, tenaga mereka benar-benar kuat atau memang banyak sekali orang diluar sana?? bukan hanya itu, Yuda juga sedang berjuang bersama gadis ramping yang dia juga gak tau tenaganya sebesar apa.
Yuda bersembunyi didalam lemari besar di belakang bisa muat dengan tingginya dan tinggi maya, lemari besar itu mempunyai beberapa skat dan isinya bisa muat dua orang dengan tingginya juga.
Yuda menarik maya masuk kedalam lemari paling pojok dan mereka membungkam mulut masing-masing dengan tangan bergetar.
Lemari ambruk dua2nya saling membungkam mulut karena refleks, maya membungkam mulut yuda dan yuda membungkam mulut maya.
Segerombolan orang datang memasuki gudang, jantung keduanya sudah berdegup sangat kencang karena rasa takut yang mendalam, perlahan suara kaki mendekatinya.
Gudangnya memang sangat gelap sehingga orang itu menyadari ada lemari besar yang berdiri di pojokan.
Maya dan yuda sudah saling tatap dan pasrah kalau lemari itu dibuka dan maya paling duluan akan merasakan golok menancap ditubuhnya.
Benar saja lemari dibuka dengan lebar, maya nutup matanya begitupun yuda, tapi setelah 5 menit tidak terjadi apa2 dan yuda memberanikan diri untuk membuka matanya.
Tidak ada siapa-siapa, maya membuka matanya.
"Tidak ada siapa-siapa." Bisiknya
Maya bangun dan benar saja tidak ada siapa2 didalam gudang ini, cuma ada lemari dan meja yang dibanting kesana kesini.
Keduanya berjalan keluar dan buru2 kedalam UKS mencari obat yang dibutuhkan, karena mereka dari tadi berada di gudang sebelah UKS, jantung mereka hampir copot dan mereka belum merasakan keanehan karena misi mereka hanya mengambil obat P3K.
Setelah selesai minhee memasukannya kedalam tas tapi saat melangkah dia mendengar isakan seseorang.
"hiks... eunghhh hiks..."
"Kakak denger gak??" bulu kuduk Yuda langsung merinding berbeda dengan Maya dengan wajah datarnya.
"Iya denger, apa jangan-jangan mereka ada disini juga??" tanya Yuda.
"tapi sepertinya ini bukan mereka, sepertinya dia sama seperti kita." ucap maya.
"udah lah may, ayo pergi, gue takut anjir." ucap yuda.
"gak bisa, kita harus periksa dulu baru pergi." ucap maya.
Maya perlahan berjalan ke arah suara dibelakang tirai diikuti dengan yuda yang memegang rambut pirangnya sambil celingukan karena takut.
tirai tebal itu perlahan di bukan dengan keringat dingin, Yuda sudah siap-siap untuk lari kalau seakan-akan itu bukan manusia seperti mereka.
^^^TBC➡️^^^