
Lana mencoba untuk duduk tenang dan mengabaikan nyanyian menyayat yang menusuk telinganya.
Lana sudah tidak bisa melihat roh wanita itu, karena sudah berada di luar kamar, tepatnya di gazebo tempat ia sarapan bersama Lukas. Tapi masih ada satu masalah.
Dia masih bisa mendengar nyanyian wanita itu dari sini.
Padahal tadi malam, dia tidak mendengar nyanyian itu dari kamar sebelah. Fakta ini mengherankan Lana dan membuatnya ingin kembali berada di kamar itu, tapi tentu saja mustahil.
Lana tersentak, saat mendengar suara kertakan untuk yang kesekian kalinya.
Suara itu menjadi tanda berakhirnya siklus kematian wanita itu, yaitu saat dia menggantung lehernya.
Lana tak bisa menghapus bayangan itu dari benaknya. Bagaimana wajah pucat itu menatapnya, saat dengan pelan ia menjerat lehernya dengan tali.
"Stop!!"
Lana berseru dengan bibir yang bergetar, dia tidak ingin membayangkan hal itu.
Lana menyibukkan benaknya dengan mencoba berpikir tentang tawaran Joan tadi siang.
Joan menawarkan agar Lana bekerja di rumah pertaniannya. Joan yang mengetahui bahwa Lana menguasai beberapa bahasa asing, mengatakan keahlian Lana akan sangat berguna di tempatnya.
Bahasa Inggris Joan dan Erich tidak terlalu bagus, karena itu mereka kesulitan menghadapi turis yang tidak bisa berbahasa Jerman atau Perancis.
Lana akan langsung menerimanya, jika saja hal itu tidak berarti ia akan lebih mengakrabkan diri dengan Joan.
Resikonya terlalu besar!
Tidak bisa dipungkiri oleh Lana, bahwa dia sudah menabrak beberapa aturan yang dibuatnya beberapa hari ini. Lana sudah terlalu jauh melibatkan Joan pada kehidupannya. Dan tentu saja Lukas.
Lana sudah sangat menyesal, karena beberapa kali membiarkan Lukas melihatnya dalam keadaan lemah.
Seharusnya ia berusaha dengan lebih keras menahan emosinya, tapi keberadaan Lukas dengan mudah meruntuhkan tembok pertahanan yang dibangunnnya dengan susah payah.
Lana membenci hal ini!
Lana berjengit, derakan leher patah terdengar lagi. Dia mulai bisa mengabaikan nyanyian wanita itu, tapi derakan itu masih sering membuatnya tersentak.
Maka Lana menutup telinganya dengan dua bantal kursi, mencoba meredamnya.
Lana sudah menghabiskan beberapa jam di luar. Dia melihat bagaimana beberapa pelayan mondar-mandir mengantarkan makanan pesanan di blok lain.
Salah satu pelayan juga mengantarkan makan malam untuknya. Lana bisa mendengar samar suara ketukan pelan di pintu, tapi Lana tidak sudi mendekati kamar walaupun untuk sekedar membuka pintu.
Lana menebak pelayan itu meninggalkan makanan itu di depan pintu, karena saat kembali, tangan pelayan itu telah kosong.
Kini tubuhnya mulai menggigil, namun dengan sebab yang wajar, yaitu udara dingin di luar.
Lana keluar sebelum gelap tadi, menurut Lana udara masih cukup hangat. Tapi begitu malam datang suhu udara menurun drastis.
Tapi bagi Lana hal ini masih lebih baik dari pada berada dalam kamar itu. Lana langsung merasa nasibnya sangat sial, karena justru di luar sini, dia tidak melihat satupun roh berkeliaran sedari tadi. Satu-satunya tempat angker adalah kamarnya.
Aku akan tidur di sini! batin Lana penuh tekad.
Beruntung kursi yang ada di gazebo tidak seluruhnya terbuat dari kayu, bentuk kursi itu seperti setengah lingkaran, dengan bantalan busa tipis di seluruh permukaannya.
Lana sudah menggeser kursi satu lagi, dan memasangnya di depan. Kakinya dengan nyaman bisa berselonjor di sana.
Dia akan tidur dengan duduk menyandar, dan menutup telinganya dengan bantal, tidak terlalu nyaman, tapi bukan yang terburuk. Lana pernah menghabiskan malam dengan berdiri.
"Kau harus masuk ke kamar itu, jika tidak ingin sakit"
Suara halus berbisik di telinganya membuat Lana hampir menjerit, beruntung dia sempat menutup mulutnya dengan tangan.
Lana langsung melompat bangun, dan memandang ke sekeliling kolam. Dia salah menduga tempat ini kosong.
Dan Lana melihat sumber rasa terkejutnya dengan terpana.
Di tepi kolam tak jauh dari tempatnya duduk, Lana melihat roh gadis kecil yang pernah dilihatnya di Melina. Manusia yang menjadi obsesinya, pasti juga berada di Merian sekarang.
Masih dengan tubuh basah yang meneteskan air. Tangan mungilnya menunjuk ke arah kamar tempat Lana tidur tadi malam. Dia menyuruh Lana untuk tidur di dalam sana.
Rasa bersalah langsung menyumbat tenggorokan Lana.
Dia mengabaikan gadis itu saat ia berada di Melina, dan kini dia malah muncul dan menyuruh Lana untuk tidur di tempat yang lebih nyaman. Gadis kecil itu mengkhawatirkannya.
"Maafkan aku, karena pernah mengabaikanmu sebelumnya"
Lana berkata dengan sungguh-sungguh.
Gadis itu tersenyum, dan berlari mendekati Lana. Kemudian berdiri diam dan memandangi Lana dengan matanya yang bulat. Lana berjongkok, untuk membuat tinggi mereka sejajar.
Gadis kecil itu sangat cantik, Lana melihat wajahnya dengan lebih jelas saat bagian transparannya berpindah ke area lain di badannya.
Matanya bulat dan kemungkinan berwarna biru. Mulutnya mungil, dan pipinya menggelembung sehat, tangannya yang terlipat di depan dada, membuat Lana bisa melihat bahwa kukunya juga rapi terawat.
Ia adalah anak kecil yang hidupnya berkecukupan dan sangat dicintai sebelum meninggal.
Lana membayangkan bagaimana orang tuanya pasti sangat patah hati kehilangan dirinya.
Air mata Lana terbit, tapi dia menghapusnya dengan cepat. Gadis kecil itu akan sedih jika dia menangis.
Tangan gadis itu bergerak mengelus tangan Lana, membuat tangan kanan Lana seperti tercelup dalam air.
"Kau indah sekali, seperti peri" katanya, memuji cahaya biru yang terlihat di sekeliling Lana.
Lana baru menyadari, pelafalan kata gadis itu masih sedikit cadel. Dia tidak mungkin berumur lebih dari enam tahun. Fakta yang sekali lagi membuat Lana iba.
"Siapa namamau?" tanya Lana.
"Diellza"
"Nama yang sangat cantik, Diellza"
"Mmmm... aku biasanya dipanggil Ellza, tapi ayah biasa memanggilku Diell"
Dari kalimat itu, seperti biasa, mengalir berjuta cerita Diell tentang ayahnya.
Ayahnya sangat baik, dia yang selalu mengantarnya ke sekolah, dan juga menemaninya saat sakit. Ayah Diel bahkan membangun kamar khusus supaya Diell bisa bermain dengan semua boneka yang dipunyainya.
Singkat kata, dia ayah yang sempurna di mata Diell.
Dari kisah itu, Lana bisa menduga, manusia yang menjadi tempat Diell terikat pada dunia ini adalah ayahnya.
"Apakah ayahmu ada disana?" tanya Lana sambil menunjuk gedung utama Merian. Diell mengangguk, "Apakah dia sedang berlibur?"
Diell menggeleng "Dia sedang bekerja, ayah jarang sekali liburan. Ayah jarang mengajakku berlibur"
Wajah Diell cemberut dengan lucu.
"Tapi dia sering menghabiskan waktu denganmu bukan?" Lana mencoba membujuknya.
Diell mengangguk, tapi masih dengan sikap merajuk.
"Karena itu ayahmu jarang sekali berlibur. Bagi ayahmu, menghabiskan waktu bersamamu adalah liburan baginya, dia sudah cukup terhibur dengan bermain bersamamu, Diell" kata Lana, sambil tersenyum lembut.
Dari cerita Diell, Lana membayangkan ayahnya pasti tergila-gila padanya.
Dengan perlahan senyuman muncul di wajah Diell.
"Benarkah? Dia terhibur karena bermain denganku?"
Lana mengangguk mantap. Senyum lebar telah kembali di wajah Diell, ceritanya berlanjut dengan bagaimana dia sering mengelilingi resort ini dengan ayahnya.
Ternyata ayah Diell bekerja di sini, bukan tamu seperti dugaan Lana sebelumnya.
Tapi cerita Diell tak sepanjang Aubrey, setelah beberapa menit, gadis itu diam, dan melihat ke arah gedung utama Merian.
Jarak mereka dengan gedung itu cukup jauh, Lana sebenarnya belum pernah melihat roh yang terikat dengan manusia bisa pergi sejauh ini sendirian. Tapi pengetahuan Lana tentang hal ini adalah nol.
Hans belum pernah membicarakan hal ini.
Saat di Milena, Lana juga melihat gadis itu sendirian, mungkin jarak tempuh Diell memang berbeda dengan hantu lain yang pernah ditemuinya.
"Aku harus kembali" katanya tiba-tiba.
Tanpa menunggu sahutan Lana, gadis itu berlari menghilang ke arah pepohonan yang membatasi blok exclusive. Lana menduga ayahnya pasti akan pulang dari Merian.
Sayang sekali Lana belum sempat bertanya lebih banyak. Dia ingin membantu agar gadis itu 'lepasi'. Tapi kini Lana tidak tahu kapan akan bertemu dengannya lagi.
Lana kembali ke kursinya, dan lagi suara nyanyian pilu membuat tubuhnya merinding. Dia tidak mendengarnya saat Diell di sini, dan sekarang suara itu kembali menerornya.
Maka Lana kembali duduk dengan bantal menutup telinga, mencoba untuk tidur.
-------------0O0-------------
Lukas menatap nampan berisi makan malam yang dipesannya dengan kesal bercampur heran.
Dia yang memesan makanan itu untuk Lana, dengan mengatas namakan tamu khusus. Tapi makanan itu sama sekali tidak tersentuh.
Dan saat ini sudah hampir pukul sepuluh, sudah sangat terlambat untuk makan malam.
"Apa maunya?" Lukas menggumam dengan kesal.
Tak sadarkah bahwa tubuhnya sangat kurus? Lukas mulai mengomel dalam hati.
Sarapan tadi, dia sudah mengabaikan kemalasan Lana untuk makan. Dan kini makan malam kembali tak di sentuhnya.
Lukas mengetuk pintu Lana, tapi tak ada jawaban.
Apakah ia sudah tidur? Tapi Lukas tak peduli, ia akan tetap memaksa Lana bangun untuk makan.
Setelah tiga kali mengetuk dengan keras tanpa ada sahutan, Lukas langsung membuka pintu itu dengan master cardlock. Membayangkan Lana dalam keadaan menyedihkan seperti kemarin.
Tapi dia mendapati kamar itu gelap gulita.
Lukas menepuk tangannya, mengaktifkan saklar lampu otomatis.
Kamar itu kosong! Lukas berkeliling dua kali untuk meyakinkan, tapi Lana tak ada di sana.
Lukas bergegas keluar dan memeriksa sekeliling blok.
Tadi dia melihat cardlock kamar Lana tergeletak di meja, jadi Lana tidak mungkin turun memakai cable car. Dia pasti masih berada di sekitar sini.
Lahan di blok exclusive dikelilingi jurang. Lana tidak akan bisa turun tanpa menaiki cable car.
Benak Lukas melompat pada kemungkinan terburuk.
Wajah Lukas memucat, bagaimana jika Lana begitu depresi dan memutuskan untuk melompat?
Lukas sangat akrab dengan depresi yang mengakibatkan keinginan untuk bunuh diri. Dan dia sepenuh hati memohon supaya bayangannya tidak menjadi nyata.
Lukas menarik ponsel untuk menghubungi Neff, tapi pekerjaan itu ternyata tidak mudah, karena tangannya bergetar hebat.
"Lana tidak ada di kamarnya! Bagaimana jika ia memutuskan untuk melompat? Panggil siapa saja, kita harus segera mencarinya di dasar jurang, mungkin kita masih bisa menyelamatkannya jika belum terlalu lama!"
Lukas langsung memberondong Neff, begitu dia menjawab teleponnya.
"Lukas, tenangkan dirimu!!! Lana mungkin depresi, tapi aku tidak melihat ada keinginan bunuh diri. Kau yakin dia tidak sedang berjalan-jalan?"
Neff membentak untuk menenangkan Lukas.
"Tidak! dia meninggalkan cardlock-nya di kamar. Lana tidak akan bisa turun tanpa membawanya"
Saat mengucapkan hal itu, mata Lukas menangkap kursi yang berjejer dengan posisi aneh di sebelah kolam.
Dengan langkah lebar, Lukas menghampiri kursi itu, dan hatinya langsung terasa ringan saat melihat Lana berada di sana.
Kelegaan luar biasa yang melanda, membuat kedua lututnya lemas. Lukas sampai harus berjongkok untuk menenangkan diri.
"Kau menemukannya? Dia baik-baik saja?" Neff yang mendengar hembusan nafas lega Lukas, bertanya.
"Iya, aku akan menghubungimu lagi nanti" kata Lukas pelan.
Dengan hati-hati, Lukas mendekati kursi itu, tempat Lana tertidur dalam posisi yang sangat ajaib.
Sudah resmi, Lukas sangat iri dengan kemampuan Lana untuk tidur dengan mudah. Posisi itu jelas tidak nyaman, belum lagi udara di situ dingin.
"Stop! You can't do that. It'll hurt yourself" Lana mengigau seperti biasanya.
Kali ini dengan mimpi yang berbeda.
Lukas sebenarnya tidak tega membangunkannya, tapi Lana akan sakit bila terus berada di sini semalaman. Dan lagi, Lana harus makan.
"Lana!! "
Lukas kaget, ketika Lana terbangun hampir seketika, begitu dipanggil. Lana langsung duduk dan melihat Lukas dengan mata mengantuk.
"Ada apa? " tanya Lana dengan suara serak.
Lukas hanya bisa menahan tawa mendengarnya.
Dia yang seharusnya bertanya ada apa, tapi Lukas tak ingin memperpanjang masalah dan memutuskan untuk mengurus hal yang lebih penting.
"Kau sudah makan malam? " tanya Lukas. Lana menggeleng dengan mata setengah terpejam.
"Ayo, kau harus makan!"
Lukas menggeser kursi dan memberi isyarat pada Lana untuk berdiri mengikutinya.
Lana langsung berdiri dan berjalan tanpa berkomentar. Belum sampai setengah jalan, Lana tiba-tiba berhenti.
Matanya yang tadi sayu, mendadak tajam.
Lana kemudian menoleh pada Lukas dan terperanjat. Bahunya menyentak, seolah baru sekarang dia melihat Lukas berdiri disampingnya.
"Apakah kau berjalan sambil tidur? " tanya Lukas dengan heran, dia melihat hal yang sama tadi pagi.
Lana tanpa membantah atau berkata apapun, mengikuti perintah Lukas untuk bangun, dan berdiri berpindah kamar.
Tapi kemudian Lukas melihat bagaimana Lana berjuang untuk membuka pintu, karena tidak bisa menempelkan cardlock pada sensornya dengan tepat.
Lukas mengira hal itu karena Lana belum pernah memakainya. Tapi keadaan Lana sama persis dengan yang sekarang.
Mengigau adalah kata pertama yang muncul dalam pikiran Lukas.
Wajah Lana menampakkan sesuatu yang belum pernah dilihat Lukas. Wajah itu memerah.
"Tidak, aku tidak berjalan sambil tidur" terlihat jelas bahwa kalimat itu adalah bantahan yang lemah.
Lukas langsung tersenyum, menganggap kebiasaan Lana itu sangat menggemaskan.
"Kita akan kemana?" tanya Lana.
Lukas kembali tersenyum, tadi dia sudah mengatakannya dengan jelas, tapi Lana terbukti tidak mendengar apapun. Dia memang berjalan sambil tidur.
"Makan malam. Aku akan memesan room service. Kita bisa makan di kamarmu"
Lukas sudah akan mengeluarkan ponsel, tapi batal menggunakannya ketika melihat Lana berhenti melangkah dan menunduk dalam-dalam.
"Tidak!! Aku akan kembali ke gazebo"
Lana sudah akan berbalik, tapi tangan Lukas menahannya.
"Udara akan semakin dingin, kau akan sakit bila terus ada di sana!" Lukas mulai tak mengerti dengan keinginan Lana yang tidak masuk akal.
Lana menggeleng keras, "Aku tidak bisa kembali ke kamar itu. Dimanapun asal tidak di kamar itu"
Nada suara Lana berbeda, tapi hal yang dikatakannya persis sama dengan hal yang dimintanya saat menangis histeris tadi malam.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa kau tak ingin berada di sana?"
Sekali lagi Lana hanya menggeleng, mulutnya terbuka, tapi sedetik kemudian kembali menutup, batal menjawab.
Lukas teringat pada perkataan Neff bahwa Lana belum sepenuhnya normal. Maka Lukas mengalah, dan memutuskan untuk tidak bertanya lagi.
"Baiklah, aku akan memindahkanmu ke blok barat. Di sana ada kamar kosong. Tadi siang penyewanya sudah check out"
Lukas menunjuk satu blok yang berjarak sekitar seratus meter dari kamar Lana.
Tapi Lana kembali menggeleng.
"Kamar itu, bukankah juga kosong? Bisakah aku menempati kamar itu? Maafkan aku"
Lana mengucapkan semua itu dengan sangat cepat, sambil menunjuk kamar Lukas. Kakinya bergerak-gerak dengan gelisah.
Lukas bukan ahli psikologi. Tapi dari sikap Lana, Lukas bisa menduga, dia sebenarnya enggan memintanya.
"Baiklah"
Lukas tadi pagi bangun lebih dulu dari pada Lana, dan dia tidak menjelaskan, jika kamar yang ditempati Lana adalah miliknya. Bisa dimengerti kenapa Lana mengira kamar itu kosong. Tapi dia tidak berniat mengatakannya pada Lana.
Lana membutuhkan kamar itu, dan dia akan memberikannya.
Lukas berbelok, dan berjalan menuju kamarnya. Sebelum berbalik, dia masih bisa melihat wajah Lana yang langsung terlihat lega.
Ada apa sebenarnya? Lukas menandai dalam benaknya bahwa ia harus memberitahukan hal aneh ini pada Neff.
Lukas segera menelpon room service begitu tiba di dalam kamar.
"Kau tak perlu memesan lagi, bukankah masih ada makanan yang tadi?" kata Lana, sambil menunjuk pintu kamar sebelah, tempat pelayan meninggalkan makanannya tadi.
"Aku tadi memesan pasta, Lana. Pasta itu pasti sudah membengkak dua kali lipat dan sekaku papan. Kita tidak bisa memakannya"
Lukas menggeleng tak percaya mendengar ide Lana.
"Tapi----" Lana terlihat tidak rela melihat makan itu dibuang.
"Aku sudah memesan, dan makanannya akan segera diantar" Lukas memutus protes Lana, dan mengalihkan perhatiannya pada ponselnya yang bergetar. Ada beberapa pesan yang masuk di sana.
Kali ini Lana yang mengalah dan tidak memperpanjang perdebatan, walaupun bayangan membuang sepiring pasta begitu saja membuat jiwa hematnya memberontak.
Lana akhirnya memilih untuk memeriksa ke sekeliling kamar itu, ia tak sempat melihatnya kemarin
Lana bisa melihat ada perbedaan dalam penataan isi kamar itu. Kamarnya di sebelah terlihat seperti kamar hotel mewah biasa, tapi kamar ini terlihat seperti apartemen mewah.
Terdapat dapur dan juga almari yang lebih besar.
Lukas pasti menata setiap kamar dengan tema yang berbeda, batin Lana, sambil terus melangkah menuju sisi yang lain.
Dan mata Lana langsung terpaku pada deretan rak buku yang menempel di dinding bagian timur. Dengan bersemangat Lana mendekatinya.
Lana hobi membaca, tapi hobi itu sudah jauh terkubur bersamaan dengan kehidupan kerasnya.
Melihat deretan buku yang sebenarnya tak seberapa banyak itu, sudah cukup membuat semangat kutu bukunya menyala.
"Jilid tujuh?!!" Lana berseru keras tanpa sengaja, terakhir kali Lana membaca, buku itu terbit sampai jilid tiga, sekian tahun berlalu, buku itu mencapai jilid tujuh.
Lukas yang mendengar seruan itu, meninggalkan berkasnya di meja dan menghampiri Lana.
"Kau suka membaca?" tanyanya.
Lana mengangguk, dan meletakkan buku yang ada di tangannya kembali ke rak. Buku itu yang membuatnya berseru,
"Kau belum membaca buku ini sampai selesai?" Lukas menunjuk buku itu.
Lana menggeleng, "Hanya sampai jilid tiga, aku tak tahu jika pengarangnya sudah menerbitkannya sampai jilid tujuh"
"What a shame, buku itu salah satu masterpiece yang tidak ada tandingannya sampai sekarang" Lukas menggelengkan kepala dengan dramatis, untuk menggoda Lana.
Mata Lana langsung terlihat gusar, Lukas bisa menebak, pasti dia sangat penasaran ingin membaca semuanya. Tapi egonya tidak mengijinkan untuk meminjam pada Lukas.
Lukas melihat dengan jelas kebimbangan Lana, wajahnya mengkerut dengan lucu. Membuatnya hampir tak bisa menahan tawa. "Aku akan membawa semuanya ke sini besok" kata Lukas, mengakhiri penderitaan Lana.
"Benarkah? That's perfect, thanks" ujar Lana, sambil tersenyum senang, dia lalu berbalik dan menarik buku lain dari rak.
Tidak seperti Lana yang merasa kejadian itu biasa saja, senyuman Lana membuka sesuatu pada diri Lukas.
Ini adalah pertama kalinya Lana tersenyum gembira dan tulus. Bukan senyum palsu seperti selama ini ditebarnya.
Lukas bisa melihat bedanya dengan sangat jelas. Beberapa saat Lukas terdiam meresapi bagaimana tubuhnya dialiri kehangatan yang sangat nyaman, Lukas menyukai senyum Lana.
Hal ini membuat Lukas yakin bahwa kata-kata Neff adalah benar, dia mengatakan tentang Lana sedang berpura-pura menjadi sesuatu yang lain.
Lana yang baru saja dilihatnya, jauh dari kesan dingin, dan berjarak seperti sebelumnya.
Dia terlihat seperti gadis muda polos yang menemukan sumber kegembiraannya. Dan itu semua terjadi hanya karena buku.
Ini luar biasa, batin Lukas.
Maka Lukas mulai mengikuti Lana yang memeriksa koleksi bukunya. Dengan sukarela, dia menjelaskan apapun tentang buku yang membuat Lana tertarik.
Sepanjang obrolan itu Lukas terus merasa takjub bagaimana Lana terlihat begitu ceria, bebas, dan hangat.
Lukas bisa melihat mata Lana terus berbinar ceria. Mereka masih melanjutkan pembicaraan tentang buku, bahkan sampai makan malam tiba.
Lukas baru merasa bahwa kegemarannya membaca buku terbayar hari ini.
Lukas gemar membaca semenjak kecil, tapi seiring pertumbuhan dan pergaulan, dia meninggalkan hobi itu. Beberapa temannya, mengatakan hobi itu tidak cocok untuk seorang playboy penakluk wanita. Lukas memutuskan untuk meneruskan hobi membacanya setelah menikah.
Dan dengan kejadian tadi, Lukas tidak akan pernah menyesal karena telah memulai hobinya itu lagi.