
"Pagi!!"
Suara sapaan ramah yang tidak biasa terdengar, membuat Lana menyemburkan sedikit kopi yang ada di mulutnya.
Apalagi dia kenal betul dengan pemilik suara berat itu.
Lana mendongak memandang ke seberang, dan mendapati Lukas sedang berdiri di sana, lengkap dengan setelan jasnya yang rapi, dan juga cangkir di tangan.
Pemandangan yang sudah sering dilihatnya, saat Lana berada di Merian.
Lana sangat terkejut, tapi dia masih bertahan di tempat duduknya di atas ayunan panjang.
"Apa yang kau lakukan di situ?" tanya Lana, sebelum bisa menahan diri untuk bersikap pura-pura tidak peduli.
"Ini rumahku!" kata Lukas menunjuk bangunan, yang baru berumur beberapa hari itu.
Untuk sesaat Lana kehilangan kata-kata. Sedang mencoba mencerna informasi yang mengejutkannya tadi.
Kabin itu terletak sangat dekat dengan rumahnya. Hanya terpisah oleh lahan selebar beberapa meter, yang berisi tanaman bunga dengan tatanan tidak menarik, karena Lana sendiri yang mencoba menanamnya.
Dia sudah sempat heran, kenapa pemilik lahan itu memilih untuk membangun kabin dengan letak yang berdekatan dengan rumahnya? padahal tanah yang bersisihan dengan lahan pertanian Joan masih lebar.
Tapi kemudian Lana sadar bahwa tanah di dekat rumahnya lebih datar, sementara tanah di dekat Joan sedikit landai.
Kabin yang kini berdiri kokoh di samping rumahnya, baru selesai dibangun sekitar tiga hari yang lalu. Suara mesin pemotong yang didengarnya kemarin dulu, adalah awal kegiatan pembangunannya, yang dengan mengagumkan bisa selesai hanya dalam waktu tiga minggu.
Sebuah kabin modern yang nyaman yang asri. Dari luar Lana tak bisa melihat jelas bagian dalamnya, tapi bagian luar kabin itu ditata dengan teduh dan indah.
Lana tentu saja segera tertarik melihat desain kabin itu, beberapa kali ia melihatnya dengan kagum. Rumah Lana mungkin lebih besar secara ukuran, tapi bentukan kabin itu terlihat lebih mahal.
Bangunan utama kabin terbuat dari campuran kayu dan batu untuk pondasinya. Atap segitiganya dibangun dengan gaya modern, sehingga terlihat seluruh bangunan kabin tertutupi oleh atap segitiga.
Semua jendela yang ada disana juga terlihat modern, dengan bagian samping hampir seluruhnya terdiri dari kaca yang lebar.
Lana juga sempat memuji dalam hati ketika melihat desain bagian samping rumah itu. Kaca yang lebar, akan memberi keleluasaan bagi penghuninya untuk menikmati pemandangan, tanpa harus merasakan dinginnya udara di luar.
Akan sangat disayangkan jika membangun kabin dengan ruangan tertutup di Grindelwald, pemandangan diluar terlalu indah untuk diabaikan.
Dan kini ia berhadapan dengan pemiliknya yang tak lain adalah Lukas.
Kebetulan macam apa ini? batin Lana dengan kesal.
"Tapi lahan itu..."
Dia ingin mengatakan bahwa pemilik lahan itu dan juga rumahnya adalah orang yang sama, tapi kalimatnya dipotong oleh Lukas.
"Lahan dan juga rumah ini adalah milikku" katanya.
"Kau cucu dari Aubrey?" serunya tak percaya.
Aku membeli rumah tua ini darinya? batin Lana.
"Bagaimana kau tahu tentang nenekku?" Lukas mengerutkan kening dan berjalan menghampiri teras Lana.
Lukas berhati-hati saat menyeberang batas tanahnya, agar tidak menginjak tanaman Lana.
Sementara Lana langsung mengumpat dalam hati karena menyadari kecerobohannya.
"Joan" jawab Lana, singkat.
Kebohongan yang dengan cepat dipercaya oleh Lukas, karena dia mengangguk paham.
Lukas kini berdiri menyandar di salah satu tiang penyangga atap sementara matanya menjelajahi sekeliling rumah.
"Kau memperbaikinya dengan cukup lumayan" kata Lukas, menunjuk beberapa bagian baru di sekitar teras. Lana telah memperbaiki beberapa bagian di sana.
Tidak banyak merubah bentuk, karena menurutnya akan memakan biaya yang tidak sedikit. Lana hanya menambal beberapa lubang dan juga mengganti jendela yang lepas.
"Kenapa kau ada di sini?"
"Aku sudah mengatakan tadi, bangunan itu rumahku. Apakah aku perlu alasan untuk berada di rumahku sendiri?"
Lukas sekarang terdengar geli.
"Tapi lahan itu telah lama kosong, apa yang membuatmu tiba-tiba ingin membangun rumah di situ?"
" Karena aku sadar, terus berada di Merian sangat melelahkan. Aku membutuhkan tempat lain untuk beristirahat"
"Selama ini kau tinggal di Merian?" kenyataan itu mengherankan Lana, karena tidak ada yang memberitahunya soal ini. Tidak juga Lukas sendiri.
Lana mengangap keberadaan Lukas di Merian hingga larut malam, dan juga pagi hari, menandakan sifatnya yang workaholic.
"Ya, aku tinggal di sana selama ini. Di kamar yang kau tempati"
Lana menyesal karena telah menggigit roti sarapannya, roti kering itu masuk ke dalam saluran yang salah dan membuatnya tersedak ketika mendengar jawaban Lukas.
Dia terbatuk dengan hebat.
Lukas dengan cepat menghampirinya dan menggosok punggung Lana. Dia lalu menyambar kopi yang ada di meja dan menyerahkannya pada Lana.
Lana menyesapnya dengan lega, dan bersyukur karena kopi itu sudah hangat. Kopi panas hanya akan membakar tenggorokannya yang telah pedih karena tersedak.
"Ka..kamar yang aku tempati?!?" Lana akhirnya bisa menanggapi setelah batuknya reda.
"Ya, dan tak perlu terkejut seperti itu, kau membuatku panik" kata Lukas, masih sambil menggosok punggung Lana.
"Aku baik-baik saja" Lana menyingkirkan tangan Lukas sambil bergeser menjauh darinya.
Lukas mengangkat bahu dengan ringan, kemudian duduk di sebelah Lana, di atas ayunan panjang. Dengan nyaman dia menyilangkan kaki dan meminum teh yang dibawanya.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?" tanya Lana, dengan suara yang sedikit lebih lunak.
Dia yang bersikeras untuk menempati kamar itu. Tapi setidaknya Lana tidak akan terlalu memaksa, jika tahu, kamar itu adalah tempat tinggal Lukas.
"Hmmmm..... aku tak akan sekejam itu, Lana. Saat itu kau sedang kacau, aku tidak ingin menambah kekalutanmu"
Lukas menggoyangkan ayunan itu dengan kakinya, pelan.
Lana langsung terdiam, bantahan apapun yang disiapkan olehnya telah larut dari otaknya.
Dia tidak terbiasa dengan kebaikan yang diterimanya dari orang lain. Saat ini dia terbiasa menerima kebaikan Joan, karena sudah tak bisa menghindarinya lagi.
Tetapi keberadaanya di Merian karena kebetulan, polisi yang menyuruhnya.
Lana menebak Neff menyarankan hal itu karena ia adalah saudara Lukas, Neff melakukannya untuk mempermudah pekerjaannya sendiri.
Lukas seharusnya tidak perlu memperlakukannya dengan khusus.
"Terima kasih" kata Lana, memutuskan hal itu yang paling pantas untuk diucapkannya.
Lukas mengangguk, "Bukan hal yang menyusahkan. Jangan khawatir".
Lukas kemudian melirik jam yang ada di tangannya dan bangun dari ayunan.
"Well, senang melihatmu baik-baik saja sekarang" katanya, sambil menyambar cangkir tehnya dan melambai pada Lana.
Lana yang dari tadi masih diam karena bingung dengan segala kejutan yang di dapatnya pagi ini, hanya bisa mengangguk dan membalas lambaian Lukas.
Begitu Lukas menghilang dari pandangan, Lana dengan kecepatan penuh, berlari masuk menuju kamarnya dan membongkar kotak kardus yang dipakai untuk menyimpan dokumen penting miliknya, termasuk pasport dan juga dokumen yang sedang dicarinya, yaitu surat jual beli untuk rumah ini.
Dia menelitinya dan menemukan nama Lukas Bianchi Merian sebagai pemilik rumah yang melimpahkan kekuasaannya pada agen properti.
Lana tidak memperhatikannya sebelum ini, karena menurutnya tidak penting. Lana tidak peduli rumah ini milik siapa, dia hanya ingin membelinya.
Siapa yang tahu jika Lukas adalah cucu Aubrey?
Lana menutup kardus itu lebih keras dari yang diperkirakannya, kemudian menopang wajah dengan tangannya.
Apakah ini berarti aku akan sering bertemu dengan Lukas lagi? batin Lana.
Lana masih ingat bagaimana jantungnya berdebar liar saat melihat Lukas di rumah Joan minggu lalu.
Lana sudah tidak bertemu dengan Lukas selama hampir sebulan, dan ia sangat berubah.
Rambutnya yang kemarin pirang pucat dan sedikit panjang, sekarang sudah lebih pendek, dan tak ada lagi gradasi perubahan warna.
Rambutnya asli Lukas ternyata berwarna coklat terang, yang menurut Lana terlihat lebih pantas untuknya.
Lana lega karena berhasil bersikap biasa saja saat mereka bertemu. Dia sangat sadar tentang perasaannya yang gembira saat melihat Lukas, tapi tak perlu memperlihatkan hal itu pada siapapun.
Dengan jengkel, Lana mengacak rambut di kepalanya. Kenapa semua orang yang seharusnya dijauihi olehnya malah berada didekatnya?
------------0O0-------------
Lukas sangat menyukai rutinitas pagi harinya yang baru.
Dengan rajin, dia menyapa Lana setiap pagi dan mengajaknya mengobrol. Lukas yang lebih sering bicara tentu saja.
Hari kedua menunggu, Lukas sempat kecewa karena Lana tidak terlihat di teras.
Tapi bukan Lukas jika menyerah dengan gampang. Maka Lukas menyeberang dan mengetuk pintu samping rumah Lana, membutuhkan waktu lama, sebelum akhirnya Lana membukanya dengan wajah kesal.
Tapi Lukas tidak menghiraukannya.
Setelah seminggu berlalu, Lana menyerah. Akhirnya dia tetap menjalankan kebiasaannya meminum kopi di teras, ditemani secara paksa oleh Lukas.
Lukas yang sudah tahu kelemahan Lana, dan memanfaatkannya dengan sangat baik.
Neff benar, dia memerlukan Lana.
Pekerjaannya kembali rapi, tanpa ada satu bagian yang terbengkalai.
Darla sampai merasa perlu untuk memuji hal itu. Langkahnya juga semakin ringan, saat malam hari ia berjalan pulang menuju rumahnya. Lukas kembali bisa tidur dengan nyenyak.
Dia tidak pernah merasa lebih hidup dari saat ini, selama lebih dari empat tahun terakhir.
Sedikit demi sedikit, Lukas belajar untuk mengingat kenangan menyedihkan itu dengan wajah baru.
Hidupnya berjalan hampir sempurna, kecuali dengan adanya Neff.
Begitu Lukas pindah dari Merian ke kabin ini. Neff tanpa permisi mengikutinya seperti hewan peliharaan dan menginap di sana tanpa batas waktu yang bisa ditentukan.
Dengan alasan ingin meneruskan penelitiannya pada Lana. Lukas tidak bisa melarangnya, karena juga ingin tahu penyakit apa yang diderita Lana.
Neff masih gusar, karena masih tidak bisa mendiagnosa apa sebenarnya yang diderita oleh Lana.
Neff sudah menganulir segala jenis penyakit jiwa yang dia kenal, karena Lana terlihat sangat normal. Tapi tidak ada orang normal yang memiliki catatan medis penyakit psikologi setebal itu.
Hal yang dibacanya di dalam catatan medis Lana menyebutkan bahwa Lana tak bisa disembuhkan dengan obat-obatan yang telah diresepkan.
Bagi Neff, hal itu berarti memang Lana tidak mengidap penyakit yang di diagnosakan untuknya. Tapi dia tdiak bisa menunjuk dengan pasti apa yang diderita Lana
Pada awalnya, Neff hanya melihat dari dalam rumah Lukas, saat dia mengobrol dengan Lana. Neff bisa mengenali saat Lana mencoba menahan diri tidak menanggapi obrolan Lukas, walaupun menilik dari matanya, jelas Lana sangat tertarik dengan bahan obrolan itu.
Setelah bosan melakukan pengamatan tanpa hasil, Neff dengan nekat menggabungkan diri. Tidak mengacuhkan lirikan mematikan dari Lukas karena telah mengganggu.
Lukas juga akan ikut gembira, jika nantinya ia berhasil mengetahui apa yang sebenarnya diidap oleh Lana.
------------0O0-------------
"Pagi!!"
Lana sudah sangat terbiasa mendengar sapaan itu, bahkan jika yang menyapanya adalah Neff. Kedua lelaki bersaudara itu tidak pernah lelah mengganggu pagi harinya.
Lana hanya membalasnya dengan anggukan.
Dan seperti biasanya, Lukas dan Neff melintasi halaman samping dan bergabung dengan Lana.
Ayunan panjang di teras itu tidak bisa menampung mereka bertiga. Setelah beberapa kali bergantian meminum kopinya sambil berdiri, Lana mendapat kejutan ketika suatu pagi ada dua kursi lengkap dengan meja tertata di depan ayunan.
Dan begitulah, mereka berdua duduk bersama di kursi itu, sedangkan Lana tetap berada di ayunan.
Perbincangan lebih sering terjadi diantara mereka berdua, Lana hanya akan menjawab saat mereka bertanya, dan hal itu sangat sering terjadi. Lana mau tak mau, menyimak obrolan santai mereka.
Lana tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Aubrey jika tahu kedua cucu yang dirindukannya, setiap pagi berada di rumah ini.
Lana belum pernah menceritakannya pada Aubrey soal Lukas dan Neff yang kini menjadi tetangga dekatnya.
Aubrey tak akan bisa melihat mereka saat pagi seperti ini. Akan lain ceritanya jika Lukas datang ke rumah ini malam hari.
Tapi tentu saja Lukas tak memiliki kepentingan untuk datang ke rumahnya saat malam, kegiatan sarapan aneh yang sedang berlangsung saat ini bisa terjadi karena paksaan.
Lana tidak berencana untuk mengundang Lukas ke rumahnya dalam waktu dekat.
Pada hari kedua setelah kepindahan Lukas, Lana mencoba untuk menghindar, dengan tidak keluar ke teras samping untuk sarapan.
Tapi kemudian Lukas mengetuk pintu samping dan memanggilnya keluar. Setelah mencoba tak mengacuhkannya selama hampir setengah jam, Lana akhirnya menyerah dan keluar.
Lana tidak bisa melupakan bagaimana wajah Lukas langsung berbinar bahagia saat ia membuka pintu.
Setelah itu, kegiatan sarapan bersama di teras menjadi kebiasaan mereka. Dan Neff juga akhirnya bergabung.
"Lana?" suara Lukas membawanya kembali ke alam nyata.
"Bagaimana pendapatmu soal itu?" tanyanya. Neff dan Lukas memandangnya dengan penuh rasa ingin tahu, terlihat jelas bahwa mereka berdua menunggu Lana untuk bicara.
"Eh.. maaf. aku tak tahu kalian sedang membicarakan apa" ujar Lana dengan jujur dan sedikit malu.
Sudah sekitar sepuluh menit ia tenggelam dalam lamunannya.
"Ha...ha..ha"
Tawa mereka berdua pecah bersamaan.
"Kami tahu, Lana. Apa yang kau pikirkan sampai melamun sedalam itu?" tanya Lukas, masih dengan tawa di bibirnya.
Lana sadar jika mereka berdua sedang menggodanya.
Dengan cemberut, Lana menyandarkan tubuh pada ayunan dan menunduk, berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
Lana juga sebenarnya menganggap hal itu cukup lucu, tapi dengan sekuat tenaga ia menahan senyum. Dia tidak akan memberi mereka kepuasan dengan melihatnya tersenyum.
Lana akhirnya membeli ponsel beberapa minggu lalu, karena paksaan Joan. Dia kesal karena tidak bisa menghubungi Lana sewaktu-waktu. Kini ada tiga nama di dalam kontaknya, Joan, Lukas dan Neff.
Untuk dua nama terakhir ia tak pernah memintanya, tapi mereka dengan bebas memasukkannya ke dalam ponsel, saat tahu Lana telah membelinya.
"Jangan marah Lana. Kau tahu kebiasaanmu melamun sudah sangat parah. Kau harus menguranginya" Neff yang akhirnya bisa berhenti tertawa menghiburnya.
Lana hanya menggerutu mendengar perkataan Neff.
"Kami sedang membicarakan bahwa selama beberapa hari ke depan, mungkin kami tak akan bisa menemanimu sarapan" kata Lukas.
Aku tidak pernah meminta kalian menemaniku, batin Lana dengan secepat kilat.
Untunglah lidahnya masih ingat dengan sopan santun.
"Kami akan sangat sibuk dengan segala persiapan untuk festival. Kau juga sama bukan?" tanya Lukas.
Lana mengangguk
Beberapa hari lagi akan diadakan festival akhir musim gugur di Grindelwald. Festival tahunan yang menandakan datangnya musim dingin.
Arak-arakan, festival musik dan kembang api, tak lupa pertunjukkan opera dan musik tradisional, silih berganti di gelar di sana selama tiga hari.
Seluruh masyarakat Grindelwald akan turun ke jalan dalam kemeriahan perayaan itu. Tiga hari selama festival berlangsung adalah hari libur.
Tapi berbeda untuk mereka bertiga.
Seperti biasa, festival juga berarti berjejalnya turis yang datang ke Grindelwald.
Seluruh pengusaha hotel berjenis apapun sangat sibuk karenanya, terutama Lukas.
Merian adalah hotel dan resort terbesar di Grindelwald, seluruh kamarnya sudah terbooking oleh tamu, pada hari saat festival sejak sebulan yang lalu.
Hal yang sama juga terjadi pada rumah pertanian Joan.
Lana sampai bosan menjawab semua telepon yang masuk. Dia harus berulang kali menjawab telepon yang datang dengan kalimat yang sama, bahwa tak ada kamar tersisa lagi pada hari itu. Lana sudah mengatakan hal itu dalam enam bahasa yang diketahuinya.
Sudah jelas, festival itu menambah kesibukannya.
Tidak seperti Merian yang tetap mendapat suplai makanan khusus dari kota, karena besarnya kebutuhan bahan makanan setiap harinya, Joan harus bekerja keras memenuhi gudangnya dengan berbagai macam makanan, untuk memastikan semua tamunya akan tetap bisa makan selama festival berjalan.
Mulai dari kemarin, Lana sudah sibuk membantu Joan memenuhi gudang makanan.
Karena saat festival berlangsung, mereka tak akan memiliki waktu berbelanja. Dan lagi, jalanan Grindelwald akan penuh turis, akan sangat membuang waktu jika harus mondar-mandir ke toko.
Kemarin Joan membeli berkilo-kilo tepung, telur, bumbu-bumbu dan banyak lagi yang memenuhi bak belakang truk Erich.
Lana dengan senang hati membantu pekerjaan itu sebenarnya, tapi kebijakan yang melarang mobil di ruas jalan tertentu mulai dirasa menyebalkan oleh Lana.
Truck milik Erich tidak bisa sembarangan parkir di depan toko tempat mereka berbelanja, tak jarang ia harus berjalan mengangkat kotak yang sarat isi sejauh beberapa ratus meter.
Pekerjaan mengangkut barang ke sana menjadi dua kali lipat lebih melelahkan. Joan sudah melarangnya, tapi Lana memaksa.
Erich tidaklah muda, Lana bisa melihat nafasnya tersengal saat mengangkat beban berat. Lana tak bisa membiarkannya.
Tapi ada saja hal lain yang membuatnya lebih kesal, yaitu kebanyakan toko yang dituju Joan, lokasinya tidak jauh dari menara jam.
Hal itu berarti Lana kadang harus berjalan memutar untuk menghindar.
Sangat melelahkan!
Lananyaris menumpahkan sekotak kentang kemarin, karena tangannya pegal. Beruntung Neff yang sedang berpatroli dengan sepeda, berada tak jauh dari tempatnya berdiri, melihatnya.
Dengan sigap, Neff membantu menangkap kotak itu, dan menyelamatkannya dari musibah kentang membanjiri jalan raya.
Dengan baik hati Neff langsung membantu Lana membawa kotak itu, agar tangan kirinya bisa bebas membawa sekantong buah apel yang membebaninya. Lana sampai tak ragu untuk berterima kasih padanya saat itu.
Perjalanan itu sempat sedikit terhambat, karena Neff mempertanyakan keinginan Lana mengambil rute yang lebih jauh, untuk mencapai truck.
Tapi seperti Lukas, Neff akhirnya menurut dan tidak banyak berkomentar atas sikapnya menghindari jalan di bawah menara.
Seperti Lana dan Lukas, Neff juga tidak akan menikmati liburan seperti warga desa lain, dia dan jajaran kepolisian harus bekerja keras mengatur membludaknya jumlah turis.
Hari-harinya yang santai bisa dipastikan berakhir pada saatnya nanti. Mereka bertiga akan sangat sibuk saat hari festival tiba.
"Well, aku harap kau tak terlalu merindukan kami nantinya" kata Neff sambil tersenyum jahil.
"As if" gumam Lana. Ia akhirnya bisa mendapatkan kedamaian saat menikmati sarapan paginya seperti sediakala.
Ia akan menikmati kesendiriannya seperti biasa.