Blue Light

Blue Light
ENAM BELAS



"Terima kasih" kata Lukas, kepada pramusaji yang meletakkan tehnya di meja.


Kemudian dia kembali sibuk meneliti peta yang ada di ponselnya.


Lukas sudah menjelajahi separuh dari daerah Munich pekan ini, tapi lagi-lagi dia tidak menemukan jejak apa-apa.


Lukas tahu ia sedang melakukan perbuatan bodoh. Kemungkinannya menemukan Lana dengan cara seperti ini sangat kecil, jika tidak mustahil.


Tapi Lukas tidak tahan jika hanya diam, dan terus menunggu hasil penyelidikan Neff.


Seminggu setelah kepergian Lana, Lukas meninggalkan Grindelwald dan memulai perjalanan mengelilingi Eropa untuk menemukan Lana. Walaupun bisa jadi Lana sudah berpindah ke benua lain.


Lukas meninggalkan Merian di tangan Darla.


Dan Darla menerima dengan senang hati, karena menurutnya Lukas tidak akan berfungsi dengan baik sebelum menemukan Lana. Darla  merasa lebih baik jika bekerja sendiri, dari pada harus terus memperbaiki pekerjaan Lukas.


Selama tiga bulan ini Lukas sudah menjelajahi Austria dan saat ini Jerman. Laju perjalanannya sangat lambat karena ia menyisir setiap kota dengan teliti.


Dan karena kemampuan bahasa Lana yang beragam, Lukas membayangkan masih ada puluhan negara yang harus dikunjunginya di masa depan. Termasuk Rusia yang maha luas.


Liburannya kali ini akan sangat panjang.


Lukas menyimpan ponselnya dalam tas, karena dayanya sudah sangat lemah. Ia akan melanjutkan memeriksa peta nanti.


Setelah membayar tagihannya, Lukas berjalan keluar restoran menuju hotel tempatnya menginap.


Urusannya di restoran itu sudah selesai. Dia tadi sudah berhasil menanyakan dengan detail kepada salah satu pramusaji, tentang keberadaan pegawai baru yang berciri-ciri seperti Lana.


Dan dengan tegas, dia menjawab bahwa restoran itu sudah hampir enam bulan tidak menerima pegawai baru.


Lukas bisa mencoret restoran itu dari daftar.


Informasi soal Lana mempunyai kebiasaan bekerja di restoran, didapatnya dari Meier, saat Neff dengan detail meminta semua keterangannya soal Lana.


Meier menjawab semuanya dengan jujur walaupun sempat bingung dengan tujuan Neff.


Menurut Meier, Lana menolak posisi pramusaji dengan alasan dia sudah terbiasa bekerja di dapur restoran.


Meier kemudian menanyakan nama restoran tempat Lana bekerja sebelumnya, hal ini hanya candaan tentu saja, karena kualifikasi pekerjaan kasar tidak membutuhkan pengalaman.


Tapi Lana menjawab pertanyaan itu dengan serius, dia menyebutkan sederet nama restoran padanya.  Meier ingat  Lana menyebut lebih dari sepuluh nama.


Meier mengingat dengan detail percakapannya itu, karena menurutnya aneh. Tidak ada orang yang dengan sukarela bekerja di berbagai restoran hanya untuk menjadi pekerja kasar,


Tapi dari cerita itu, Lukas dan Neff mengambil kesimpulan, Lana selalu melakukan hal yang sama setiap berpindah tempat, yaitu bekerja di restoran. Karena itu Lukas melakukan pencariannya dengan berpindah ke setiap restoran.


Tentu saja pencarian itu tidak berjalan lancar. Tidak semua restoran dengan senang hati membagi infonya. Tak jarang mereka mengusir Lukas tanpa memberi jawaban, dan membuatnya terpaksa menyamar sebagai customer.


Dengan status tamu, dia bisa dengan mudah mencari tahu dari pramusaji, biasanya mereka lebih terbuka kepadanya.


Kekurangan dari cara itu, kecepatannya menjadi lebih lambat.


Karena ia terkadang harus menunggu kursi yang kosong selama beberapa hari, jika restoran yang ia incar benar-benar ternama.


Jika daftar tunggunya terlalu panjang, dengan sangat terpaksa, biasanya Lukas menunggu sampai malam sampai restoran itu tutup, agar bisa mengamati para pegawai yang pulang.


Berharap menemukan sosok Lana diantaranya.


Tapi yang paling menyakitkan baginya adalah harapan palsu.


Tiga restoran yang pernah dia datangi menyatakan pegawai baru mereka mirip dengan Lana. Tapi setelah Lukas memeriksa lebih lanjut, dia hanya menemukan wajah yang asing.


Lukas merasakan bagaimana kegembiraannya hangus menjadi abu saat itu.


Tetapi Lukas tidak akan menyerah, kesakitannya belum apa-apa bila dibandingkan dengan apa yang Lana rasakan selama ini.


Tekadnya masih tetap sama, yaitu akan membawa Lana kembali, dan mengeluarkannya dari kehidupan terisolir yang selama ini dipilihnya.


Laporan yang diminta Neff kepada anak buahnya kemarin, menyatakan Ibu Lana meninggal dengan gejala yang persis sama dengan dirinya dan juga Petra.


Menurut Neff, kemungkinan besar hal itu yang membuat Lana melarikan diri. Lana pasti merasa ibunya meninggal karena kesalahannya.


Soal cahaya biru itu, Lukas dan Neff sudah menyerah untuk mencari tahu.


Neff sudah membaca berpuluh-puluh buku supranatural tanpa hasil. Dan Lukas sempat berperang batin, karena ingin mendatangi beberapa 'medium' roh halus yang iklannya dia lihat di internet.


Tapi kemudian mengurungkannya. Dia tidak bisa menjelaskan tentang keadaan Lana tanpa membuatnya seperti cerita fiksi.


Dengan tangan bergetar karena dingin, Lukas menempelkan kartu pada pintu.


Dia segera menghambur ke dalam kamar begitu pintu terbuka, untuk menghangatkan diri. Musim dingin di Munich tahun ini sangat parah.


Lukas melepas mantel dan juga atasan bajunya. Setelah itu  dia langsung terjun ke atas kasur. Hari ini sangat melelahkan untuknya, karena dia memeriksa kurang lebih sepuluh restoran hari ini.


Masih ada sekitar lima belas restoran lagi yang harus diperiksanya besok. Dan dia harus bisa menyelesaikan semuanya besok, jika ingin segera berpindah ke kota lain.


Lukas langsung tertidur begitu mematikan lampu.


Dia sempat ragu sebelum melakukan perjalanan ini, karena Lukas mempunyai kecenderungan mengidap insomnia setiap kali tidur di tempat asing.


Tapi setelah melakukan perjalanan ke berbagai tempat, tubuhnya terbiasa. Dia biasanya akan langsung tertidur begitu menyentuh kasur.


 


 


------------0O0-------------


 


 


TOK TOK TOK!!!!


Ketukan di pintu membuat Lukas membuka mata dengan kaget. Dia melirik jam yang ada di meja dan mengumpat, ia baru tertidur beberapa jam, Lukas yakin matahari belum terbit saat ini.


Lukas ingat, ia memasang tanda 'Jangan diganggu' di depan pintu tadi malam. Siapa yang masih berani mengetuk pintu kamarnya?


TOK TOK TOK!!


Ketukan kembali terdengar, mereka tisak akan pergi sebelum mendengar jawaban.


Tanpa repot repot memakai kaos, Lukas berjalan membuka pintu dengan wajah garang. Dia harus mendapatkan istirahat yang cukup agar bisa melakukan pencarian besok.


"Yes?" Lukas membuka pintu dengan kasar, dan kantuknya langsung hilang karena mendapati Neff sedang berada di depan pintu bersama salah satu bellboy.


"Apa yang kau---"


Neff mengangkat tangannya, kemudian menoleh kepada bellboy yang ada di belakangnya..


"Terima kasih atas bantuanya, kau bisa meninggalkan kami" kata Neff, dengan nada serius yang membuat Lukas bingung.


Setelah bellboy itu masuk ke dalam lift, Neff mendorong tubuh Lukas ke dalam dan menutup pintu.


"Apa-apaan ini Neff? Ada apa?" mengingat kantuknya yang belum tuntas, amarah Lukas kembali.


"Aku menggunakan ini untuk bisa tahu dimana kamarmu, kau tahu?!!" kata Neff, sambil melambaikan identitas kepolisiannya.


"Aku harus mengatakan pada manager hotel jika aku sedang mengejar penipu yang melintasi Eropa agar mereka mau menunjukkan nomor kamarmu tadi!"


"Kenapa ponselmu mati, bodoh?" Neff yang mulai marah-marah.


"Baterai ponselku habis  semenjak sore" kata Lukas sambil mencabut ponselnya dari charger dan menyalakannya. Ada puluhan panggilan tak terjawab dari Neff.


"Untung saja aku masih ingat saat kau menyebut nama di hotel ini. Jika tidak aku pasti sudah meninggalkanmu, Seharusnya pada saat seperti ini, kau harus memastikan ponselmu selalu dalam keadaan menyala. Aku -----"


Lukas meminum sebotol air dari tasnya dan berdiri menyandar di tembok menunggu selesainya amarah Neff.


Neff selain jarang marah, juga jarang mengomel. Tapi jika sudah marah, mulutnya bisa lebih kasar dari Lukas, dan omelannya juga bertahan lebih lama darinya.


"Hal apa yang begitu penting sampai harus membuatmu terbang ke sini?" tanya Lukas, setelah Neff selesai menumpahkan unek-uneknya.


"Aku menemukan Lana"


Sebotol air putih yang ada ditangan Lukas melayang turun dan menumpahkan isinya ke lantai. mulut Lukas ternganga sambil menatap Neff, yang kini mulai tersenyum lebar.


"Kau...yakin?" Lukas tidak ingin tertipu lagi,  jika ternyata kembali menerima harapan palsu.


Neff mengangguk yakin, "Ibuku yang menemukannya"


"Siapa?" Dahi Lukas langsung mengkerut, apa tidak salah?


"Lana ingin menjual rumah Nenek. Dan dia memilih kantor properti milik ibuku sebagai perantaranya" sorak Neff dengan nada penuh kemenangan.


Ibu Neff  memang pemilik perusahaan properti di Grindelwald, dan Lukas selalu memakai jasanya selama ini.


"Lana tidak mempunyai kontak agen lain. Jadi dia menghubungi nama agen yang tertera di surat perjanjian jual beli yang dulu" kata Lukas.


Lukas bisa menebak alur pikiran Lana dengan mudah. Keengganan Lana untuk bersinggungan dengan orang lain membuat jumlah orang yang dikenalnya sangat terbatas.


Untuk sekali ini, kebiasaan Lana menyendiri, justru membantu mereka menemukannya. Lukas tiba-tiba merasa ingin sekali melompat girang dan berteriak kencang.


"Di mana Lana?" sambil bertanya, Lukas mulai memakai baju dan sepatunya.


"Hold your horse, mate"


Selera humor Neff sudah kembali.


"Dia ada di Luxembourg, aku sudah memesan tiket penerbangan ke sana, tapi sayangnya hanya tersisa untuk penerbangan besok siang. Kau harus bersabar"


Lukas membanting sepatunya ke lantai dengan jengkel,"Siang?!!!"


"Heeyyyyy... besok adalah akhir pekan. Kau pikir mudah mendapatkan penerbangan kesana? Semua tiket pesawat dan kereta habis terjual"


"Ugh..." Lukas menepuk keningnya karena melupakan hal itu.


Tapi hitungan harinya memang agak kacau. Lukas cenderung tidak mempedulikan hari, dia hanya berjalan maju.


"Dan sekarang, sebaiknya kita tidur. Besok akan menjadi hari yang sangat sibuk" Neff dengan enteng melepas sepatu dan mantelnya, kemudian melompat ke kasur Lukas.


Luka sangat ingin mendepak Neff turun, tapi sekarang dia sudah mulai mematikan lampu dan memejamkan mata.


"Kau memang gila!" gerutu Lukas, akhirnya ia mengikutinya berbaring. Ranjang itu berukuran king size, tapi keberadaan Neff membuatnya tak nyaman.


"Tidur bersamamu tidak menjadi salah satu target hidupku" lanjut Lukas.


"Well, kita sama dalam hal ini" Neff terkekeh pelan.


"Tidurlah, apa perlu aku memberimu obat tidur? Seharusnya hatimu sedikit lega setelah tahu di mana Lana" suara Neff berubah tegas.


"Lega, dan juga menghilangkan kantukku. Kau pikir aku akan bisa tidur setelah mendengar semua itu?!!" Lukas memutar bola matanya ke arah Neff.


Saat ini.dia hanya ingin segera pergi ke tempat Lana berada.


"Kau seharusnya membeli pesawat pribadi, jadi tak perlu menunggu penerbangan komersil"


"Puhh... Kau tahu sendiri hutangku belum terselesaikan. Membangun resort mewah membutuhkan lebih banyak uang dari pada yang aku bayangkan" Lukas melayangkan bantal empuknya ke wajah Neff.


Lukas membangun Merian dari nol, begitu dia menikah. Dia  harus meminjam sejumlah besar uang dari bank untuk membeli lahan tempat membangun resortnya.


Tapi sesuai dengan rencana Lukas, Merian sukses besar. Dia tidak pernah mengalami kesulitan membayar cicilan hutangnya. Tapi dia masih harus sangat berhati-hati membelanjakan uang.


Pesawat adalah urutan ke sekian dalam daftar kebutuhannya.


"Eh... katakan pada bibi Frei kalau aku akan membeli tanah itu kembali, berapapun harga yang diminta Lana. Aku tidak akan pernah menjual rumah itu lagi" Lukas ngeri membayangkan kakeknya masih berada disana.


Seharusnya dia tidak pernah menjualnya sejak awal. Tapi saat itu, keinginannya untuk melupakan masa lalu yang buruk, terdengar sebagai rencana bagus.


"Kau pikir aku bodoh? Tentu saja aku sudah mengurusnya. Darla juga sudah memberi lampu hijau soal itu, keuanganmu sedang dalam keadaan sehat katanya" tukas Neff.


"Good, senang melihatmu mengalami peningkatan kecerdasan yang cukup signifikan" kata Lukas, sambil menarik selimutnya.


"Ya... teruslah lupa bahwa aku selalu lebih pintar darimu" bantah Neff tak mau kalah.


"Ya, teruslah bermimpi indah Neff" Lukas berpura-pura menguap untuk memperlihatkan bahwa dia bosan.


"Stop!!! Kau akan membuat kita terjaga sampai pagi" mata Neff sudah sangat merah karena kantuk.


"Maksudmu kau yang telah membuatku terjaga semalaman!" kilah Lukas.


"OH.. God. Diamlah!" Neff akhirnya meledak, karena pertengkaran konyol mereka menjadi panjang.


Lukas tertawa dengan puas, tapi kemudian diam. Tak tega menggodanya lagi.


Percikan semangat yang berasal dari berita yang dibawa Neff, mungkin akan membuatnya terjaga sampai pagi, tapi Lukas akan dengan rela menjalaninya,


 


 


------------0O0-------------


 


 


Dengan langkah gontai Lana menaiki undakan pendek yang ada di luar gedung tempat dia tinggal.


Tidak seperti kebiasaannya yang dulu, tempat yang disewa Lana kali ini, berbentuk seperti apartemen studio kecil. Lana menyewanya bukan karena ingin bermewah-mewah, tapi pilihannya saat itu hanyalah tempat ini atau sebuah apartemen yang berdiri di tanah bekas penjara.


Penjara adalah salah bangunan yang harus dihindarinya. Dia tidak ingin mendapat kunjungan dari mantan penghuninya saat malam tiba.


Studio itu nyaman dan yang pasti dia mendapat 'teman' sekamar yang lumayan.


Menggantikan Barnabas dan Aubrey, Lana mendapatkan Chantal, seorang gadis pelukis yang beberapa tahun lalu pernah menempati studio itu.


Chantal meninggal karena sakit, sebelum dapat menyelesaikan lukisannya. Lukisan itu masih tergantung di dinding studio. Lana sudah berjanji untuk membantunya menyelesaikan lukisan itu.


Tapi waktunya malamnya seringkali habis untuk bekerja. Dan Chantal dengan 'baik hati' selalu mengingatkannya setiap kali Lana pulang ke rumah. Kegemaran Chantal mengobrol bahkan jauh lebih parah dari Aubrey.


Dan Lana lagi-lagi pulang terlambat hari ini, dan sudah pasti akan ada ceramah panjang dari Chantal nanti. Tapi dia hanya mempunyai waktu sekitar 3 jam untuk tidur malam ini, jadi dia harus bisa membuat Chantal diam.


Akhir pekan yang ramai membuat restoran tutup jauh lebih malam. Lana akan baik-baik saja sebenarnya, jika pekerjaannya di museum berjalan seperti biasa.


Tapi sabtu pagi tadi, pekerjaan yang seharusnya mudah, berubah menjadi horor dalam bentuk lain bagi Lana.


Sama seperti restoran, saat akhir pekan museum juga menerima lebih banyak kunjungan turis, diantara mereka ada anak-anak yang sedang melakukan pembelajaran luar sekolah. Mereka semua membawa berbagai macam alat menggambar.


Rencananya, setiap anak akan membuat lukisan duplikat, yang berdasarkan dari dari lukisan favorit mereka yang dipajang dalam museum.


Tapi semua menjadi bencana, saat salah satu anak memutuskan akan menjadi sangat bagus, jika dia menjatuhkan satu tube cat minyak berwarna kuning miliknya ke lantai.


Akibatnya, begitu tube itu terinjak oleh anak-anak lain yang di belakangnya, lantai seksi C yang berwarna hitam mengkilat, berubah menjadi seperti kain hitam dengan corak polkadot kuning yang random.


Lana dan beberapa pegawai yang lain bisa dipastikan mengalami hari yang buruk tadi pagi. Dan punggungnya butuh istirahat panjang sebenarnya. Tapi tentu saja beristirahat panjang adalah kemewahan untuk Lana.


Ia berharap esok hari pekerjaannya tidak akan menyita banyak tenaga.