Blue Light

Blue Light
SEMBILAN BELAS



"I m sorry to hear that" kata Lana, setelah bisa menenangkan diri. Lukas tentu saja mendengarnya, tapi dia tidak memberikan tanggapan apapun.


Lana tak tahu lagi harus berkata apa, berita ini lebih mengejutkannya dibanding saat  tahu siapa Diell.


"Wanita itu istrimu?" setelah mengendap beberapa detik, Lana masih mengulangnya dengan nada tidak percaya yang sama.


"Aku rasa kau harus menceritakan semuanya, Lukas. Lana sudah melakukannya tadi, dan sekarang adalah giliranmu"


Neff terlihat lebih bersemangat sekarang, karena cerita Lukas akan terdengar lebih normal dari pada cerita Lana.


Sambil menghirup sisa kopi dari gelas kertasnya, Lukas memulai cerita panjang yang lain.


"Aku bertemu Anja saat berumur sembilan belas tahun. Dia adalah turis biasa yang berkunjung ke Grindelwald. Dia wanita yang cantik, dan seperti biasa, pemuda bodoh dan dangkal langsung mengikutinya seperti lebah" Lukas kembali tersenyum getir saat mengucapkannya.


Dan tentu saja Lana tahu, pemuda bodoh itu adalah Lukas.


"Singkat cerita, aku melewati beberapa tingkatan umum, dan akhirnya Anja mengandung Diell. Itu adalah titik balik kehidupanku, aku meninggalkan semua gaya hidup kekanak-kanakan. Lalu mulai membangun Merian, membangun rumah mungil untuk kami tinggali di dekat Danau Bachalpsee. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bertanggung jawab sebagai seorang ayah dan juga suami"


"Ketika Diell lahir, dia adalah makhluk tercantik yang pernah aku lihat. Aku memujanya dan terus berjanji pada diriku untuk menjadi seorang ayah yang baik. Tapi Anja berbeda, dia gadis kota yang kehidupannya terampas karena kehadiran Diell. Sejak awal Anja ragu dengan keputusannya untuk mempertahankan Diell, ataupun soal pernikahan kami. Tapi aku dengan naif terus menjanjikan kebahagiaan dan juga cinta"


"Kehadiran Diell memuat Anja sedikit melunak, setidaknya Anja bersedia tinggal untuk Diell. Tapi hal itu tidak bertahan lama. Saat Diell menginjak umur tiga tahun, Anja kembali ingin pergi, dia tidak bisa bertahan dengan irama kehidupan Grindelwald yang sedikit monoton. Berbeda dengan Darla, keindahan pegunungan tidak membuatnya betah"


"Tapi aku kembali membujuknya untuk tinggal, karena bagaimanapun Diell membutuhkan seorang Ibu. Dan sejujurnya, saat itu kami berdua sudah sangat sadar, bahwa hanya Diell yang mengikat kami, hubungan pernikahan itu sudah tidak sehat. Aku sendiri sudah lelah mendengar keluhan dan rengekannya yang memintaku untuk pindah dari Grindelwald"


"Mungkin faktor kesibukanku membangun Merian yang baru berkembang, juga ikut andil dalam memperburuk hubungan kami. Waktuku hanya terbagi dua, yaitu untuk Diell dan Merian. Dan akibatnya, Anja membelokkan rasa kecewanya pada kemungkinan terburuk, dia memilih alkohol sebagai tempat pelarian"


Akhirnya Lana melihat bagaimana Lukas sekarang tersiksa, seperti dirinya, tangan Lukas mulai bergerak gelisah.


"Aku sudah mengirim Anja ke berbagai fasilitas rehabilitasi dan juga terapi, agar dia bisa lepas dari minuman terkutuk itu.Tapi secepat dirinya pulih, secepat itu juga Anja kembali menjadi alkoholik "


Percakapan mereka soal alkohol muncul dalam benak Lana, sekarang dia mengerti kenapa Lukas terlihat sangat membenci alkohol.


"Saat Diell berumur enam tahun, kecelakaan itu terjadi" sejenak Lukas terdiam, sedang berusaha mengeluarkan luka yang telah lama ia tutupi.


"Hari itu, aku sedang berada di Zurich mengurus dokumen bank. Aku biasanya tidak pernah meninggalkan Diell bersama Anja sendirian, tapi aku tidak punya pilihan lain. Barnabas dan Aubrey juga sedang mempunyai urusan lain di Bern. Aku nyaris membatalkan janji, tapi Anja meyakinkanku untuk pergi. Dia bahkan memberikan jaminan bahwa mereka akan baik-baik saja dan menyuruhku segera berangkat. Saat itu Anja sedang dalam tahap pemulihan setelah rehabilitasi, sudah satu bulan itu ia lepas dari alkohol. Dia terlihat normal dan sehat. Aku akhirnya berangkat ke Zurich setelah yakin Anja bisa menjaga Diell. "


"Tapi aku terlalu meremehkan pengaruh alkohol pada otak Anja. Begitu aku meninggalkannya, dia menenggak hampir dua botol wine yang entah didapatnya dari mana. Keadaannya yang setengah sadar, tentu saja membuatnya mengabaikan Diell. Dia tidak melihat ketika Diell menyelinap keluar dan bermain di sekitar danau"


Giliran Lana yang meraih tangan Lukas, tangan itu telah memutih, karena dengan sekuat tenaga Lukas meremasnya untuk menahan duka.


"Saat aku pulang, aku hanya mendapati Anja yang sedang tergeletak karena mabuk di ruang tengah. Dengan panik, aku mencari Diell ke seluruh penjuru rumah. Tapi aku sudah sangat terlambat, aku akhirnya menemukan Diell dalam keadaan mengambang di permukaan danau"


Lana yang akhirnya tidak bisa menahan air mata. Dia sudah menebak Diell meninggal karena tenggelam, tapi mendengar kalimat merana itu dari mulut Lukas membuatnya tidak tahan.


Lukas sendiri terlihat tak bisa meneruskan kisahnya. Diaa hanya bisa menunduk, sambil menggenggam erat tangan Lana. Seolah mencari penghiburan dari sentuhan itu.


"Setelah kejadian itu, Lukas menderita depresi berkepanjangan ditambah dengan insomnia yang parah. Anja sendiri yang sudah sejak awal tidak stabil, keadaannya semakin buruk. Kecanduannya sampai dalam taraf yang akut"


Neff mengambil alih cerita Lukas, karena melihatnya tidak bersuara.


Lukas mengangkat tangannya, sebagai permintaan agar Neff berhenti. Dia ingin menyelesaikan cerita itu sendiri. Harapannya dengan bercerita pada Lana, ia bisa terlepas dari bayangan gelap itu.


"Setelah pemakaman Diell, aku dan Anja pindah ke Merian. Kami tidak bisa tinggal di rumah itu tanpa meratapi kematian Diell. Kami tinggal di kamar terpisah, seperti yang kau tahu, kamar Anja adalah kamar yang kau tempati"


"Berbulan-bulan kami sama sekali tak saling menyapa. Aku menghindarinya, karena tidak yakin akan bisa menahan diri jika berbicara dengannya. Amarahku pada Anja tidak bisa terukur lagi, Diell meninggal karena kelalaiannya"


"Hari itu, Anja mungkin tidak tahan lagi. Dia menggedor pintu kamarku, meminta untuk berbicara. Heeeh---- berbicara mungkin bukan kata yang tepat. Kami bertengkar hebat. Aku jelas menumpahkan semua rasa marah yang aku pendam selama berbulan-bulan, dan Anja juga sama. Dia juga menumpahkan daftar keluh kesah yang panjang. Bertahun-tahun menahan diri untuk berada di Grindelwald membuatnya tersiksa, dia bertahan di sini hanya karena aku yang memintanya. Tapi justru aku juga yang mengabaikannya"


Lana mendengar rasa penyesalan di sana. Tapi tidak seperti saat menceritakan soal Diell, Lukas terlihat lebih bisa menguasai diri.


"Pertengkaran itu sebenarnya sangat tidak berguna, karena kami berdua tahu Diell meninggal karena kesalahan kami berdua. Anja tentu saja juga sangat menyesal, dia mungkin bukan ibu yang baik, tapi aku tahu dia menyayangi Diell dan Diell juga sangat menyayanginya. Karena itu aku selalu mencegahnya pergi"


"Aku tidak tahu apa yang berubah dari Anja setelah pertengkaran diantara kami. Tapi malam itu, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dia menggantung diri di kamarnya"


Lukas menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan suara keras.


"Darla yang pertama kali menemukan Anja. Dan setelah Neff mengkonfirmasi Anja meninggal karena bunuh diri, kami bertiga sepakat untuk merahasiakan kejadian itu. Bagi masyarakat Grindelwald, Anja meninggal karena sakit"


Lana masih bisa dengan jelas mengingat bagaimana Anja meninggal, dan mendengar apa yang menjadi latar belakang perbuatannya, membuat Lana lebih sedih lagi.


"Kalian berdua seharusnya sadar, bahwa kisah kalian berdua hampir mirip" kata Neff dengan nada bijak.


Lukas dan Lana saling berpandangan dengan mata bingung. Mereka tidak mengerti apa maksud dari perkataan Neff.


"Kalian berdua 'dirusak' oleh rasa bersalah" jelas Neff.


Dalam hati Lana serta Lukas menyetujui hal itu, tapi mereka tidak menyahut, karena Neff terlihat ingin melanjutkan penjelasannya.


"Keadaan Lukas mungkin lebih baik darimu, Lana. Karena dia sudah belajar untuk menerima semua itu, dan seharusnya kau juga sama. Belajarlah untuk menerima bahwa Rozh tidak akan gembira jika dia tahu kau seperti ini"


Tak ada yang salah dari perkataan Neff, dan Lana dengan senang hati akan mencoba nasehatnya. Tapi hal itu masih tak akan menjelaskan apa yang membuat Lana bisa bersinar biru saat malam tiba.


"Kapan pesawat kita akan berangkat?" tanya Lukas pada Neff sambil melihat jam di tangannya.


"Sekitar tiga jam lagi. Kita harus segera berangkat ke bandara" jawab Neff.


"Kau tidak ingin bersiap? Tidak adakah barang yang ingin kau bawa kembali?" Lukas mengalihkan pandangannya pada Lana.


"Aku? Kenapa aku harus bersiap?" Lana bertanya balik dengan heran.


"Karena yang aku maksud dengan 'kita' tadi, termasuk di dalamnya nama Solana Fayra. Aku sudah memesan tiket untukmu juga. Dan aku harap kau tidak membatalkannya, karena aku hanya bisa memesan tiket first class. Harganya mahal" kata Neff, sambil menunjukkan layar ponselnya pada Lana.


Di sana tertulis pemesanan tiket atas nama Lana untuk penerbangan menuju Swiss.


"Tunggu!! Aku tidak pernah mengatakan aku akan kembali bersama kalian" kata Lana, dan itu jujur.


Lana senang bisa menyelesaikan kesalahpahaman soal Diell, tapi bukan berarti dia akan kembali ke Grindelwald. Masih ada kemungkinan cahaya biru itu akan menyerang siapa saja yang dekat dengannya.


Lana tidak bisa kembali ke sana.


"Apa kau sedang bercanda Lana?! Kau pikir aku akan membiarkanmu berada disini sendirian?" Lukas menjadi tak sabar, karena sikap keras kepala Lana kembali.


"Aku telah membahayakan hidupmu Lukas, tidakkah kau takut? Aku tidak tahu kapan dan bagaimana mencegah cahaya biru itu menyerang manusia lagi!"


"Dan bukankah aku sudah berkata jika aku tak peduli? Aku akan menanggung resikonya" Lukas mengetatkan rahangnya.


"But why? Kau tidak harus melakukannya" Lana tetap kukuh pada pendiriannya.


Di sebelah Lana, Neff sudah menutup wajahnya, sedangkan Lukas tertawa mendengar pertanyaan Lana.


"Setelah semua yang aku lakukan padamu, kau masih bertanya kenapa? Kau tidak menyadarinya?"


"Menyadari apa?"


"Aku melakukannya karena aku mencintaimu, Lana. Apakah kau mengerti sekarang?" kata Lukas dengan tenang dan jelas.


Ini adalah kesekian kalinya Lana tak bisa berkata-kata. Matanya mengedip pelan saat mendengar Lukas mengatakannya.


Tentu saja dia tahu apa maksud Lukas, tapi Lana tidak pernah menyangka.


Diamengira kebaikan Lukas hanya sebagai teman. Bukankah keberadaan Lukas dan Neff di dekatnya selama ini hanya karena nasib?


"Aku tahu kau sangat pintar dalam hal akademis Lana, tapi pengalamanmu dalam kehidupan bersosial benar-benar payah" kata Neff, sambil tertawa melihat Lana terpaku.


Perkataan Neff, membuat Lana sadar bahwa apa yang dikatakan Lukas adalah kenyataan, bukan mimpinya yang tiba-tiba menjadi liar.


Dengan perlahan hati Lana menghangat, karena bahagia, tapi masih pada detik yang sama, Lana menekan rasa itu. Dia masih ingat, jika perasaannya itu akan menuntun Lukas bahaya.


Sayangnya Lukas bisa melihat arah pikiran Lana.


"Aku akan mengulanginya, Lana. Aku tidak akan peduli dengan apa yang akan terjadi nanti, aku tak akan mundur hanya karena keadaanmu yang 'unik'. Kau bisa mencoba untuk menghindar, tapi aku akan tetap mengejar kemanapun kau pergi. Dan seperti hari ini, aku pasti akan menemukanmu. Tak peduli selama apapun waktu yang aku habiskan, aku akan terus mencari"


Hati Lana terasa tercabik saat mendengar ancaman Lukas itu.


Separuh dirinya sangat ingin menangis karena terharu dan bahagia mendapati perasaan Lukas begitu dalam, tapi separuh hatinya masih tak bisa berhenti mengkhawatirkan keselamatan Lukas


"Aku tahu kau orang suka sedikit memaksa, tapi kau sudah melewati batas. Jadi maafkan,  jika ucapanku terdengar kasar.  Bukankah kau seharusnya juga mempertimbangkan perasaanku? Aku tidak mencintaimu, keberadaanmu hanya akan membuatku tidak nyaman. Jadi maaf, lebih baik kalian berdua pergi!!"


Dengan kejam Lana membunuh perasaan bahagianya, dia memasang wajah sedatar mungkin saat mengucapkannya. Tak peduli bagaimana hatinya berdarah, karena kebohongan jahat itu.


"Dan kau pikir aku akan mempercayai sandiwara kecilmu itu?" Suara Lukas penuh dengan nada ejekkan


"Jangan bodoh, Lana. Aku tahu pasti bagaimana perasaanmu. Dan asal kau tahu, aku kesini bukan untuk mengutarakan kata cinta, aku mengejar dirimu kesini untuk menjawab perasaanmu. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana kau berteriak dengan sekuat tenaga jika kau mencintaiku"


Lukas mengatakan semua itu dengan nada penuh kemenangan.


Dia menyilangkan kaki dan menatap Lana, yang kini wajahnya berubah pucat, Lukas menduga Lana tak bisa mengingat kapan dia mengatakannya.


"Kalian lebih baik menyelesaikan pembicaraan ini dengan cepat, sementara itu aku akan membeli makan siang untuk kita semua" kata Neff, sambil berdiri dan menyambar mantelnya di balik pintu.


Dia tak ingin menjadi kambing congek dalam ruangan penuh ungkapan cinta itu.


Lagipula tidak perlu mengkhawatirkan Lukas, ia adalah penakluk wanita nomor satu. Lana tidak akan memiliki kesempatan menolak.


Neff berhasil menarik perhatian Lukas maupun Lana, kini mereka berdua memandangnya dengan mata tak berkedip.


"Kalian tahu bukan, aku adalah yang pertama kali datang ke rumah Aubrey dan menemukanmu dalam keadaan terbungkus selimut?" Neff menunjuk Lukas, dan dia mengangguk.


"Dan jangan salah paham, aku memperhatikan hal ini karena aku sempat mengira, kau mengalami luka lebam di wajah"


Neff jelas sedang menikmati rasa penasaran mereka, dan dengan sengaja memperpanjang kalimatnya.


"Neff!!" Lukas tak sabar lagi.


"Well, saat menemukanmu, aku melihat noda berwarna pink dan beraroma ceri di sudut bibirmu.  Tentu saja kita semua tahu, jika itu adalah bekas noda lipstik. Sayang, karena kurangnya bukti, aku tidak bisa menyimpulkan dengan pasti, siapa yang telah dengan lancang mencium Lukas ketika sedang pingsan"


Neff mengakhiri ceritanya sambil terkekeh geli.


"Ohh... jangan khawatir, aku mengingatnya dengan baik. Lana memakai lipstik berwarna pink dengan aroma ceri hari itu"


Lukas mengangkat jempolnya ke arah Neff, yang tertawa semakin keras, sambil membuka pintu dan berjalan keluar.


Neff belum pernah menceritakan soal ini sebelumnya, dan senang karena memilih saat yang tepat untuk mengungkapnya.


Dengan puas Lukas melihat ke arah Lana, yang wajahnya kini juga semerah ceri, pengendalian dirinya telah rusak, karena cerita Neff.


Lana tidak menyangka ciuman yang bercampur dengan air mata akan mengakibatkan lipstiknya luntur.


Tentu saja menurut Lukas itu adalah pemandangan yang menggemaskan. Dengan senyum lebar, dia mencondongkan tubuhnya ke arah Lana.


"Nah, Ms. Fayra. Apakah kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku? Karena aku yakin sekali, mencium seseorang tanpa ijin, termasuk dalam pasal pelecehan seksual. Tapi aku orang yang sangat lapang dada. Aku mungkin bisa mempertimbangkan untuk tidak mengajukan tuntutan" kata Lukas, dengan nada puas.


Kemenangannya atas Lana sangat sempurna, Lana tak mungkin menghindar setelah semua itu.


Di wajah Lana terlukis campuran perasaan kesal, tapi Lukas masih bisa melihat rasa takut di sana. Maka Lukas kembali memasang wajah serius dan meraih tangan Lana.


"Lana--" Lukas memanggilnya dengan lembut.


"Aku mendengar saat kau berusaha menyelamatkanku Lana, aku berada dalam ambang batas kesadaran, tapi aku bisa mendengar dengan jelas, kau sedang memohon dalam tangis agar apapun yang sedang menyerangku berhenti"


"Aku... aku sedang sangat panik saat itu, Aku hanya mengucapkan hal apa saja yang mungkin bisa membuat serangan itu berhenti" Lana mengeluarkan bantahan yang sangat lemah.


"Kepanikan penuh rasa putus asa seperti itu, tak akan bisa membuat seseorang berbohong Lana. Situasi itu justru membuatmu bertindak jujur. Kau membuka semua pintu perasaanmu dengan bebas. Dan percayalah, saat kau mengatakan jika kau mencintaiku, aku merasa sangat bahagia"


"Aku merasa sangat tidak pantas saat itu, karena saat rasa dingin itu mengukungku, aku malah merasa hangat dan bahagia. Bahagia karena mengetahui bagaimana perasaanmu yang sebenarnya" lanjut Lukas.


"Tapi.... bagaimana jika hal itu terjadi lagi? Aku tidak bisa kehilanganmu juga"


Air mata panik Lana kembali menetes, tapi dengan cepat Lukas menghapusnya.


"Aku menyukai kejujuranmu seperti sekarang Lana. Cukup dengan mengatakan kau mengkhawatirkan keselamatanku, sudah cukup untuk membuatku bahagia. Tidak perlu berbohong dengan mengatakan kau tak mencintaiku. Itu menyakitkan"


Lukas meraih sejumput rambut panjang Lana dan memainkannya sambil tersenyum.


"Maaf, tapi aku sangat takut--- kau bisa meninggal karena kabut itu"


"Aku tahu. Dan maaf, mungkin perbuatanku terlihat lancang. Tapi aku terpaksa mencari tahu tentang siapa dirimu dengan detail saat kau menghilang. Aku sudah mengetahui apa yang terjadi pada Ibumu"


Lukas merasa tidak nyaman jika harus merahasiakan hal ini dari Lana lebih lama lagi.


"Kau sudah mengetahuinya, dan kau masih mencariku?" Lana membelalakkan mata.


Lukas mengangguk, "Aku tidak mungkin mengabaikan seorang gadis manis, yang telah meneriakkan kata cintanya untukku"


Lukas mencoba membuat Lana tersenyum, tapi gagal, karena mata Lana tetap memancarkan ketakutan.


"Saat serangan itu terjadi, aku tidak bisa melakukan apapun. Tubuhku lumpuh karena ketakutan. Aku hanya bisa melihat saat tubuh ibuku menyentak kesakitan berusaha menarik udara ke dalam tubuh. Ayahku saat itu berada di sana, tapi kabut biru yang keluar dari dalam tubuhku, juga mengejutkannya. Ketika kami berdua sadar dari rasa terkejut, keadaan Ibu sudah sangat parah, dia tak bisa tertolong lagi"


Lana kembali melakukan sesuatu yang tidak disukai Lukas, yaitu menangis.


Tapi kali ini Lukas tidak melarangnya, atau berusaha mencegah. Dia hanya menarik Lana ke dalam pelukannya, Tidak akan ada kata yang bisa menghibur Lana.


"Apakah karena itu kau pergi?" tanya Lukas, setelah Lana terlihat lebih tenang. Lana mengangguk.


"Setelah pemakaman ibu, ayah selalu menghindar dariku. Dia selalu pulang malam, dan berangkat pagi-pagi sekali. Pada awalnya aku mengira itu adalah caranya mengatasi kesedihan karena kehilangan Ibu. Setelah beberapa minggu, aku akhirnya mengerti. Ayah menghindariku karena dia merasa takut"


"Sesaat sebelum kejadian itu, aku mencoba meyakinkan ibu soal kemampuanku melihat roh orang mati, dan tentu saja mereka berdua menganggap ceritaku adalah pertanda kegilaan yang kambuh. Tapi setelah melihat kabut biru itu, ayah mungkin sadar bahwa semua yang aku katakan adalah nyata. Dia akhirnya memilih untuk menghindar, dan berhenti peduli pada keadaanku"


Lana menghapus air matanya sendiri, sebelum tangan Lukas bergerak.


"Aku memilih keluar dari rumah, karena sadar kepergianku akan membawa kedamaian pada kehidupan ayah. Setidaknya hanya itu yang bisa aku berikan pada ayah, dia juga berhak untuk hidup dengan tenang setelah semua yang duka yang aku timpakan padanya"


Emosi Lana kembali terusik, dan tangisnya kembali tak terkontrol, dengan membawa lebih banyak air mata. Dan sekali lagi Lukas hanya bisa memeluknya.


Dia tdak akan bisa mengerti bagaimana perasaan Lana saat ini. Mereka mungkin sama-sama kehilangan seseorang, tapi perasaan terbuang dan dicampakkan seperti yang dirasakan Lana, sangat asing bagi Lukas.


"Kembalilah ke Grindelwald Lana, disana ada banyak orang yang sangat mempedulikanmu. Joan, Erich, Neff, bahkan juga Darla. Dan tentu saja akan ada aku yang tidak akan pernah mencampakkanmu, apapun yang terjadi nanti" bisik Lukas, sambil terus mengelus punggung Lana, mencoba membuat tangisnya reda.


Lana melepaskan diri dari pelukan Lukas, dan memandangnya dengan wajah basah.


"Tapi bagaimana jika kabut itu----"


"Sejujurnya, aku juga merasa takut" Lukas memotong kalimat Lana.


"Aku melihat bagaimana sebentuk kabut bisa mencekik organ dalamku, dengan rasa dingin yang amat sangat. Itu adalah pertama kalinya aku mengalami sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh akal. Tapi apakah itu cukup untuk membuatku ingin menjauh darimu? Jawabannya adalah tidak" kata Lukas, dengan tegas.


"Setelah kita kembali ke Grindelwald, aku berjanji kita akan bersama-sama mencari jawaban atas semua teka-teki keadaanmu. Bagaimana?"


Selain punya hobi memaksakan kehendak, Lukas juga sebenarnya ahli dalam hal membujuk.


"Kembalilah Lana! Aku tidak tahan membayangkan kau harus hidup sendiri dalam kesepian seperti ini, apalagi kau kembali menjalani kehidupan yang sangat tidak sehat" kata Lukas, sambil menunjuk kulkas yang hanya berisi roti keras dan setoples selai.


"Apakah aku bisa menjalani kehidupan seperti orang lain?" tanya Lana sambil  mengusap sisa air matanya.


"Tentu saja bisa, selama ini kau sudah hidup dengan normal Lana. Kita hanya harus lebih waspada dan mencari tahu apa yang menyebabkan kabut biru itu keluar"


Lana terlihat kembali sibuk berpikir, dia harus mempertimbangkan semua kemungkinan.


Dan ini adalah pertama kalinya ia merasa memiliki harapan untuk hidup dengan lebih normal. Semua perkataan Lukas terdengar masuk akal.


"Please Lana..." desak Lukas, dengan tak sabar.


Ponsel Lukas yang ada di kantong, kembali bergetar, kemungkinan besar Neff sedang mengingatkan, soal keberangkatan pesawat mereka.


Setelah pembicaraan panjang, Lukas akhirnya bisa melihat hal yang paling diinginkannya, anggukan pelan dari kepala Lana. Dia setuju untuk kembali ke Grindelawald.


Seperti ramalan Neff, Lana tidak bisa lari dari Lukas.


Lukas tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Sekali lagi dia merengkuh tubuh Lana, dan memeluknya dengan sangat erat.


"Dan anggukan itu juga akan aku hitung sebagai peresmian hubungan kita" kata Lukas sambil memandang Lana dan tersenyum cerah.


"Bagaimana bisa?" protes Lana, dia sebenarnya hanya malu, mengingat dialah yang pertama kali mengungkapkan perasaan.


"Oh ayolah, jangan katakan kau telah lupa" Lukas menggerutu dengan kesal. Tapi Lana menggeleng pura-pura tidak mengerti.


"Baiklah, aku akan mengulanginya" Lukas menegakkan posisi duduknya dan menggenggam kedua tangan Lana.


"Aku mencintaimu Solana Fayra, dan ingatlah, perasaan dan janji yang aku katakan hari ini akan berlaku untuk selamanya, karena itu jangan pernah bermimpi untuk lepas dari diriku" kata Lukas, yang segera saja membuat Lana menunduk malu.


Pengalaman Lana bersosial sangat minim, apalagi dalam hubungan percintaan, jumlahnya nol besar.


Tapi melihat mata Lukas yang berbinar dengan sungguh-sungguh, membuat hati Lana disusupi rasa nyaman dan bahagia. Lana tidak memiliki keinginan untuk melawan ataupun menolaknya lagi.


"Aku juga mencintaimu, Lukas Merian" kata Lana, sebelum akhirnya wajahnya kembali memerah.


"Sekarang, aku akan membalasmu" kata Lukas, sambil menarik dagu Lana dengan pelan.


Tanpa memberi kesempatan bagi Lana untuk berpikir, Lukas menyapu bibir pucat Lana dengan bibirnya. Ciuman yang seharusnya singkat, tapi bibir Lana lebih memabukkan dari pada yang Lukas kira.


Dengan pelan, dia menyusuri bibir manis itu. Dan kepolosan bibir Lana saat membalas ciuman Lukas, membuatnya semakin bersemangat, dengan bebas dia mengarahkan Lana sesuai dengan keinginannya.


Lukas melepaskan bibir itu, hanya setelah ia merasakan Lana tersengal karena kekurangan oksigen.


Lana menunduk malu sambil berusaha bernafas dengan normal, "Kau....!!" ia sebenarnya bermaksud memarahi Lukas, karena berani menciumnya tanpa memberi peringatan.


Tapi otaknya tidak bisa bekerja sama. Jumlah endorphine yang terlepas karena ciuman itu, membuat tubuh Lana seolah melayang.


"Aku dengan senang hati akan mengulanginya lagi, tapi sayangnya kita harus segera berangkat Lana" kata Lukas dengan nada campuran antara kecewa dan jengkel.


Dia menarik ponsel dari saku, yang sekali lagi bergetar, menampakkan pesan dari Neff yang menyuruhnya bergegas.


Melihat Lana yang belum pulih dari ciuman tadi, Lukas hanya bisa tersenyum geli.


Akhirnya Lukas mengambil inisiatif untuk mengemas barang-barang Lana, pada koper yang tergeletak di dekat ranjang.