
Tumpukan salju di Grindelwald semakin meninggi, seiring dengan datangnya tahun baru.
Tapi Lana sangat menikmati pemandangan itu. Tumpukan salju putih bersih yang tidak tersentuh memberi efek menenangkan bagi pikiran Lana yang luar biasa gugup.
Lana sedang melakukan kebiasaan paginya, yaitu menikmati pemandangan pagi sambil menikmati sarapannya.
Dengan pelan Lana meletakkan cangkir kopinya di meja.
Sudah sebulan lebih dia kembali ke Grindelwald, dan Lana semakin jatuh cinta dengan desa ini.
Seperti yang sudah-sudah, desa itu masih menarik banyak turis. Kali ini bagi mereka yang menikmati kegiatan olah raga ski.
Jalanan Grindelwald mungkin terlihat tidak padat, tapi hotel, resort dan penginapan, penuh dengan manusia yang menghangatkan diri.
Dan tentu saja, karena lahan yang tertutup salju, tidak banyak yang bisa ditawarkan oleh pertanian Joan pada turis. Tapi kamarnya tetap terbooking penuh karena harganya yang lebih murah dari hotel biasa.
Setelah kembali ke Grindelwald, dengan mudah Lana bekerja lagi di tempat Joan.
Tentu saja setelah Joan mengomel panjang pendek padanya. Tapi itu dilakukan, setelah dia memeluk Lana dengan erat dan hangat. Dia bahkan tidak bertanya kemana dan apa penyebab Lana pergi selama berbulan-bulan.
Lukas benar, tempat ini memberinya keluarga yang baru.
Tidak hanya Joan, beberapa pemilik toko, juga menyapanya dengan hangat saat melihatnya lagi.
Lana juga bertemu Marco, yang dengan wajah gembira mengundang Lana ke rumahnya, karena dia akan merayakan ulang tahun salah satu anaknya.
Dengan senang hati Lana menerima undangan itu. Bersama Lukas, Lana menghadiri pesta kecil itu dan pulang dengan hati riang.
Lana yang tidak perlu lagi menahan diri, melepaskan semua topengnya dan bersikap seramah mungkin kepada siapapun yang diinginkannya.
Pada awalnya Lana merasa canggung dan sedikit sulit, tapi Lukas terus memberi semangat dan membantunya.
Tapi dia tidak menyiapkan diri saat tiba-tiba Joan menangis haru, hanya karena Lana menerima ajakan untuk menginap di rumahnya.
Malam itu salju turun dengan lebat, dan Joan menawarkan pada Lana agar dia menginap.
Dirinya yang dulu sudah pasti akan menolak, tapi Lana yang baru menerima ajakan itu dengan senang hati.
Dan Joan tidak bisa lebih terharu lagi, sampai-sampai dia membutuhkan Erich untuk membuatnya tenang.
Tidak hanya itu, Lana juga mulai mendapat teman baru, yaitu Darla.
Darla gadis yang baik, walaupun statusnya sebagai adik dari Anja, tapi Darla sama sekali tidak keberatan ketika tahu hubungan antara Lukas dengan dirinya. Dia mendukung mereka seratus persen.
Darla sudah sangat tahu soal Anja dan Lukas yang sebenarnya tidak akur lagi. Menurutnya, mereka berdua sangat berbeda, jika bukan karena Diellza pernikahan mereka tidak akan bertahan lebih dari setahun.
Dia hanya memperingatkan Lana bahwa kadang Lukas bisa menjadi sangat pemaksa. Tapi Lana lebih tahu soal itu dari pada Darla. Dia sudah mengalaminya berkali-kali.
Seperti saat Lana akhirnya harus tinggal di kabin mewah miliknya sampai sekarang, ini adalah keinginan Lukas.
Pada awalnya Lukas beralasan, dia belum sempat memperbaiki pintu rumah Lana.
Tapi setelah perbaikan itu selesai, Lukas beralasan rumah itu sangat dingin saat musim salju seperti ini, jadi tidak layak untuk ditinggali.
Dan sebenarnya Lana sangat setuju dengan ini.
Perbaikan ala kadarnya yang dilakukan olehnya dulu, tidak akan mampu menahan hawa dingin seperti saat ini. Maka begitulah Lana akhirnya tinggal di kabin Lukas, dan masih bersama Neff.
Lukas sudah berkali-kali mengusirnya, tapi Neff dengan ngotot bertahan disini, karena tanah ini sebenarnya milik Neff.
Tanah tempat kabin itu berdiri, adalah warisan Barnabas untuk Neff. Jika Lukas mendapatkan rumah, maka Neff mendapatkan lahan ini.
Dia tidak keberatan meminjamkannya pada Lukas sebagai sarana untuk mendekati Lana, dan sebagai imbalannya kabin itu kini miliknya, walaupun seratus persen uang pembangunannya berasal dari kantong Lukas.
Lana sangat menikmati setiap pertengkaran yang terjadi antara mereka berdua.
Dia menganggapnya sangat lucu.
Tapi Lana tahu pasti, pertengkaran itu hanya permukaan yang nampak, hubungan antara Lukas dan Neff lebih dalam daripada hanya sekedar saudara sepupu, mereka berdua sangat peduli satu sama lain.
"Lana---kenapa kau masih berada di situ, kita harus segera berangkat ke Merian"
Kepala Joan muncul dari balik pintu dan memandang galak, karena Lana masih bersantai menikmati sarapannya.
"Bukankah acara dimulai nanti malam? Kenapa kita harus ke sana pagi-pagi?" protes Lana. kehadiran Joan membuat kegugupannya kembali. Jantungnya meronta liar.
"Apa kau pikir pengantin bisa mempercantik diri dalam waktu sepuluh menit, kau harus melakukan perawatan yang lain juga"
Joan menggeleng dengan tidak percaya, melihat kepolosan Lana.
"Ayo!!" Joan menyuruhnya bangun dengan lambaian tangan.
Lana mengikutinya dengan patuh, Joan yang lebih tahu tentang detail acara pernikahannya.
Dengan matanya, Lana melirik pada sebentuk cincin berwarna putih yang terselip pada jari manisnya.
Seminggu yang lalu, Lukas melamarnya. Dan tentu saja ini kejutan bagi Lana, mereka belum lama berhubungan.
Tapi menurut Lukas, dia tidak mau mengambil resiko Lana akan pergi lagi, karena itu, dia ingin segera meresmikan hubungan mereka.
Tentu saja itu hanya alasan sampingan. Alasan utama Lukas jauh lebih sederhana, dia menginginkan Lana sebagai miliknya, itu saja.
Dan Lana tidak bisa menolak lamaran itu setelah perjalanan romantis yang dilakukannya bersama Lukas hari itu.
Sebelum melamarnya, Lukas membawa Lana ke Zermatt.
Sebuah desa kecil seperti Grindelwald, tapi jauh lebih sepi. Padahal pemandangannya tidak kalah indah dari Grindelwald.
Tidak ada gunung yang menjulang, tapi bukit-bukit kecil yang tertutup salju di sekitar Zermatt membuat Lana terpekik bahagia saat melihatnya.
Zermatt menawarkan keindahan dalam warna putih yang menenangkan.
Seharian itu mereka mengelilingi desa, naik cable car ke atas bukit, bahkan mencoba ber-ski. Tapi olahraga itu tidak cocok bagi Lana, dia lebih banyak mencium salju selama berapa jam itu.
Saat sore tiba, lampu-lampu kuning yang romantis mulai menyala di rumah-rumah yang hampir semuanya terbuat dari kayu, semakin memperindah pemandangan Zermatt.
Saat itulah, Lukas membawanya ke salah satu cafe teras untuk makan malam. Lana sudah sedikit heran saat tidak mendapati satu orangpun tamu selain mereka.
Tapi dia mulai mengerti saat dengan mulus, Lukas berlutut sambil menggenggam tangannya.
Neff benar, Lukas adalah penakluk wanita yang sangat berbahaya. Sifat romantisnya telah menyusup sampai ke dalam tulang.
Tapi Lana menyukainya. Sifat romantis Lukas sangat realistis, dia tidak merayu dengan kata-kata gombal. Lukas merayu dengan semua kelebihan yang memang ada dalam diri Lana.
Butuh beberapa saat untuk Lana sebelum bisa menerima lamaran Lukas.
Lana masih mencemaskan keadaannya yang tidak biasa. Lukas harus bisa menerima semua itu.
Dan lagi, Lukas tidak mempermasalahkannya. Dia mengijinkan Lana membantu roh manapun yang diinginkannya, selama tidak membahayakan seperti saat mereka bertemu Anja.
Butuh dua hari bagi Lana untuk sadar setelah kejadian itu. Sementara Lukas tertidur nyaris selama 24 jam.
Menurut dokter mereka berdua mengalami kelelahan yang sangat akut.
Tapi tentu saja Neff tidak bisa memberi penjelasan bagaimana hal itu bisa terjadi, dokter harus puas ketika Neff dengan ngawur, memberi keterangan, jika Lana dan Lukas baru saja mengikuti lomba Triathlon.
Singkat kata, keadaan Lana tidak akan membuat Lukas mundur.
Tapi ada satu hal yang membuat Lana menerima lamaran Lana dengan sepenuh hati.
Dia bahkan sedikit mengancam dengan mengatakan, tidak akan pernah muncul lagi di hadapan Lana, jika berani menolak Lukas.
Lana tahu pasti dari mana Diell mendapatkan sifat pemaksa itu.
Anggukan Lana di sambut dengan sorak-sorai Lukas, dan tidak lupa pertunjukan kembang api di langit malam.
Lukas menyiapkannya karena mereka batal menikmati kembang api saat festival musim gugur kemarin.
Saat Lana melangkah ke dalam mobil yang akan membawanya ke Merian, dia masih tidak bisa percaya jika kehidupan yang dijalaninya saat ini adalah nyata.
Kesepian dan kesendirian yang dijalaninya selama ini, telah berakhir, dan Lana menemukan rumah dan sebentar lagi akan membentuk keluarganya sendiri.
------------0O0-------------
"Ayolah, kau sudah pernah menjalaninya, seharusnya kau tidak perlu gugup lagi"
Neff mengejek Lukas yang tanpa henti menggosokkan tangan pada jas yang dipakainya, karena berkeringat.
"Aku sedang mempertimbangkan untuk membayarmu, agar kau diam sampai upacara ini selesai nanti"
Lukas melotot pada Neff, yang kini tertawa terbahak-bahak.
"Maaf, aku harus menolak uang itu. Kepuasan yang aku dapat saat menggodamu tak bisa diukur dengan uang" balasnya.
Lukas sudah akan mengutuk Neff, tapi dia melihat matahari sudah terbenam sepenuhnya.
Ini saat bagi Diell untuk datang. Lana yang meminta upacara itu dilakukan malam hari, karena ingin agar Diell bisa hadir.
Saat Lana mengatakan hal itu, hati Lukas langsung meleleh dengan hangat.
Kepedulian dan kebaikan Lana tidak akan tertandingi oleh siapapun, dan Lukas semakin yakin, dia sudah memilih dengan sangat tepat kali ini.
"Jangan-jangan kau gugup karena sudah lupa bagaimana cara 'melakukannya'?" Neff kembali tersenyum jahil.
"Neff!!!" Lukas berseru jengkel.
Dia tahu, Neff sedang berusaha mengatasi sakit hatinya, karena harus melihat pernikahan Lana.
Lukas sebenarnya tidak keberatan dengan segala ejekan yang sedari tadi diterimanya, tapi lelucon dewasa adalah area terlarang. Selain karena Diell akan ada didekatnya, tuduhan Neff sedikit lagi mendekati kebenaran.
Lukas sungguh mengkhawatirkan hal 'itu'.
Bukan karena dia lupa, atau sakit. Tapi Lukas tahu benar, Lana adalah gadis yang masih sangat polos.
Kehidupannya yang tidak biasa, menjauhkan Lana dari pengaruh buruk laki-laki. Keberadaan Rozh ternyata memang berhasil menjaganya.
Berbeda dengan Lukas, kehidupannya yang penuh petualangan semenjak remaja, memastikan Lukas sudah pernah 'mencicipi' berbagai macam tipe.
Tapi ada satu tipe yang selalu dijauhinya sebelum ini. Yaitu tipe seperti Lana, dia tidak pernah tega 'merusak' gadis yang masih suci, hanya sekedar untuk bersenang-senang.
Itu juga salah satu alasan Lukas melamar Lana begitu cepat. Dia ingin memiliki Lana seutuhnya.
Beberapa kali, Lukas nyaris tidak bisa menahan diri, karena belaian dan ciuman Lana yang polos membuat pengendalian dirinya hancur dengan mudah.
Lukas terus memperingatkan dirinya sendiri, agar nanti ingat untuk memperlakukan Lana dengan lembut.
Yang mana akan semakin sulit, karena sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu Lana. Selain karena kesibukannya mempersiapkan pernikahan, dengan terang-terangan, Joan melarangnya bertemu Lana, entah apa penyebabnya.
"Hentikan pikiran jorokmu itu, Lana sebentar lagi akan keluar" bisik Neff, tepat di telinganya, saat musik mulai mengalun lembut, menandakan pengantin akan memasuki tempat upacara.
Tanpa ragu, Lukas menginjak kaki Neff sebelum maju menuju altar. Dan tentu saja Neff hanya bisa mengumpat tanpa bisa membalasnya, karena perhatian seluruh tamu telah terpusat pada Altar.
Pernikahan mereka diadakan di ballroom milik Merian.
Dan Darla tidak tanggung-tanggung saat menghiasnya. Jika tidak mengingat saat ini dia berada di Merian, Lukas mungkin akan mengira sedang berada diluar ruangan.
Darla dengan apik membuat pohon-pohon tiruan di setiap sudut ruangan itu. Pohon tiruan yang lengkap dengan butiran salju di dahannya, belum lagi untaian bunga-bunga putih yang menjulur dari langit-langit.
Meja dan kursi juga seluruhnya tertutup warna putih. Warna-warni yang dilihat Lukas, hanya berasal dari cahaya lampu yang juga ditata oleh Darla agar pencahayaannya terlihat indah.
Nafas Lukas tertahan, saat sosok yang sangat dirindukannya berjalan masuk, dengan langkah pelan.
Dan Lukas tidak pernah merasa seringan ini, kecantikan Lana membuatnya lupa akan tempatnya berpijak. Jika bisa, dia ingin menangis saat itu juga karena bahagia.
Lana terbalut gaun panjang putih, dengan sedikit aksen warna pink lembut di ujung ekor gaunnya.
Gaun itu tidak terlalu terbuka pada pundaknya, karena terdapat bulu-bulu lembut yang menutupinya. Di ujung lengan panjang gaun itu, juga terdapat bulu-bulu yang sama. Joan dan Lana yang memilih baju itu, menyesuaikan dengan tema musim dingin.
Rambut Lana tergelung di belakang kepala, berhiaskan bunga-bunga putih yang ditata melingkar, bersatu di bawah tiara mungil berkilau.
Hanya terdapat satu kekurangan pada Lana, yaitu matanya yang memerah bekas air mata.
Lukas bisa melihatnya, dan tahu tangisan Lana disebabkan oleh pria yang saat ini tangannya menuntun Lana di sepanjang jalan menuju altar.
Laki-laki yang hampir semua rambutnya memutih itu adalah Mr. Fayra. Dia datang memenuhi undangan Lukas. Dan dia sengaja merahasiakannya dari Lana.
Bukan karena Lukas tidak ingin memberitahu Lana, tapi Lukas tidak bisa menjamin ayah Lana akan datang, dia tidak ingin Lana kecewa jika ternyata bujukannya tidak berhasil.
Tapi seperti biasa, Lukas sukses menjalankan misinya membawa ayah Lana ke sini.
Lukas berharap dengan kehadiran ayahnya, Lana bisa sedikit memperbaiki hubungan mereka. Bagaimanapun juga, dia adalah satu-satunya anggota keluarga Lana yang masih tersisa.
Rozh mungkin masih ada bersama Lana, tapi Lukas tidak akan menghitung keberadaannya.
Beberapa kali setelah kejadian Anja, Lana mencoba berbicara pada Rozh, tapi selalu gagal.
Menurut penjelasan Diell yang didengarnya dari Lana, setelah membagi kekuatannya dengan Lukas, kesadaran Rozh tidak seperti dulu lagi.
Dia hanya bisa muncul saat Lana benar-benar dalam keadaan bahaya. Karena itu sebelum membagi kekuatannya, dia menyuruh Lukas berjanji untuk selalu menjaga Lana.
Lana cukup terpukul saat menerima berita itu, tapi Lana berusaha belajar menerimanya. Hal itulah yang membuat Lukas akhirnya menemui ayahnya.
Lana membutuhkan keluarganya.
Dan tibalah saatnya, langkah Lana dan ayahnya berhenti di hadapan Lukas. Dengan tangannya yang mulai berkeriput, ayah Lana menyerahkan tangan kanan Lana kepada Lukas.
"Terima kasih telah mengundangku" kata Mr. Fayra dengan senyum tulus, dan mata berkaca-kaca.
Lana sendiri terlihat sedang berjuang keras menahan air matanya. Dia tentu tidak ingin merusak make up-nya yang telah sempurna.
Lukas mengangguk kepada ayah Lana, "Saya juga senang anda akhirnya bersedia untuk hadir"
Ayah Lana menepuk lengan Lukas, "Aku mungkin tidak berhak mengatakan ini, tapi tolong, jagalah Lana. Dia pantas mendapatkan semua kebahagiaan yang ada di dunia ini"
"Tentu saja, selamanya"
Dengan mantap Lukas menggenggam tangan Lana, dan menuntunnya menaiki tangga altar.