Blue Light

Blue Light
EMPAT BELAS



Lana menghadapi situasi yang sangat buruk!! Mungkin yang paling buruk.


Berada di dalam kerumunan bersama puluhan orang lebih, adalah petaka untuk Lana.


Tidak semua orang memiliki hantu yang terikat kepadanya, tapi dengan semakin banyaknya jumlah orang yang ada di dekatnya, kemungkinan munculnya hantu menjadi berlipat-lipat.


Selama ini, roh orang mati yang terikat pada manusia, hanya bisa memandang Lana dari kejauhan atau mungkin mengikutinya sejenak, karena tidak bisa berpisah terlalu jauh dari manusianya, kalaupun mereka ingin menghampiri Lana.


Tapi Lana tentu saja tahu mereka sebenarnya sangat tertarik untuk mendekatinya.


Tapi kini dia terkurung diantara kerumunan orang yang sedang berdesak-desakan. Siapa saja diantara mereka bisa jadi memiliki roh yang terikat yang padanya. Dan roh itu akan bangun sebentar lagi.


Cahaya birunya akan terlihat seperti lentera di mata mereka, dan roh-roh itu akan bertindak persis seperti ngengat yang melihat cahaya, mengerumuninya tanpa peduli apa akibatnya pada Lana.


Tubuh Lana tidak akan bisa menanggungnya.


Terakhir kali Lana mengalaminya saat bekerja paruh waktu di stadion baseball. Dia masih tidak tahu apa akibat dari perbuatannya berdiri diantara ribuan penonton saat matahari terbenam.


Ratusan bayangan transparan yang muncul, mendekatinya hampir dalam waktu yang bersamaan.


Tubuhnya langsung terasa seperti tenggelam dalam lautan es dingin dan membeku. Lana tumbang tanpa bisa bergerak menjauhi mereka.


Lana pasti sudah mati karena kedinginan jika salah satu petugas penjaga tidak melihatnya, dengan cekatan ia membawa Lana menjauhi kursi penonton.


Lana selamat saat itu, bahkan diijinkan untuk pulang cepat.


Lana tidak ingin mengulanginya.


Menurut perhitungannya, mereka sudah akan keluar dari lapangan ketika matahari terbenam.


Dia salah memahami perkataan Lukas yang mengatakan mereka akan menikmati kembang api setelah menonton, Lana tidak tahu jika mereka akan melakukannya dari tempat yang sama.


Dia juga salah mengira soal waktu karena lampu sialan itu.


Lana tahu opera itu akan berakhir sebelum matahari terbenam, karena itu dia mengira masih ada cukup waktu untuk keluar dari sana.


Lana terlalu menikmati pertunjukan sehingga lalai memeriksa waktu.


Kau bodoh Lana! umpatnya dalam hati.


Lana mengabaikan seruan kesal seseorang yang ditabraknya, dan terus maju melawan arus. Sayup-sayup dia mendengar suara Lukas, tapi Lana tak punya waktu untuk memberi alasan, dia akan mengurusnya nanti.


"Achh----!!"


"Apa kau tak punya mata?---Haaa" bentak seseorang  yang meliriknya dengan galak sebelum berlalu.


Lana sedang tidak beruntung, ia menabrak pria itu tadi, tapi Lana malah terpental karena ukuran tubuhnya lebih kecil. Dia jatuh terduduk.


"Lana---syukurlah!" seruan lega terdengar dari belakang, Lukas berhasil menyusulnya.


Saat Lukas membantunya berdiri, mata Lana melihat dengan ngeri bagaimana warna merah perlahan hilang dari langit.


"Oh---tidak"


Lana masih ada diantara lautan manusia. Bahkan lebih buruk dari tadi, karena mereka sekarang berhenti bergerak karena acara kembang api akan segera di mulai.


Dengan reflek Lana menundukkan badannya, saat dari sudut matanya sosok transparan mulai bermunculan dan mengepung tubuhnya.


Mereka tidak hanya memandangnya, tapi beberapa diantaranya, memegang tubuh Lana tanpa ragu serta mengusap punggung dan juga tangannya, mengirimkan serbuan rasa dingin yang semakin menggigit, pada tubuh Lana.


"Jangan!"


Lana memohon dengan lirih. Perbuatan yang percuma, karena satu-satunya jalan keluar adalah dari menjauh dari tempat itu.


Tubuh Lana mulai tersentak dengan hebat, karena mengalami penurunan suhu yang ekstrim dengan tiba-tiba.


Tangan dan kakinya kebas dan dia tak bisa lagi merasakan tusukan batu kerikil di bawah lututnya.


"Lana!!!" suara panik Lukas yang mengguncang tubuhnya, membuat Lana sedikit bisa membuka mata.


"Ba..bawa..a...aakuu..per...gi!!" mulut Lana yang sudah membiru mengucapkannya dengan penuh susah payah.


Sedetik kemudian, Lana bisa merasakan tangan Lukas mengangkat tubuhnya.


"Minggir....... aku harus membawanya ke rumah sakit!!" Dia juga bisa mendengar seruan Lukas mengusir kerumunan orang yang menghalangi jalannya.


Tubuh Lana dengan perlahan menghangat begitu mereka menjauhi kerumunan. Lukas membawanya berlari dengan sekuat tenaga.


Dengan kepala yang menempel pada dada Lukas, Lana bisa mendengar suara detak jantung bertalu-talu dan juga nafasnya yang tersengal.


"Lana----kau tidak boleh pingsan. Aku akan segera membawamu ke rumah sakit!!"


"SSsstop....!!" Lana tak bisa membiarkan Lukas membawanya kerumah sakit, mereka tidak akan menemukan hal yang salah dari tubuhnya.


Lana lega karena Lukas menurutinya, langkah kakinya mulai melambat.


Dengan perlahan Lukas menurunkan dan mendudukkan Lana pada kursi di depan cafe yang tutup.


Jalanan di sekitarnya bisa dikatakan kosong, karena semua orang menyingkir ke sisi jalan yang pemandangannya tidak terhalang oleh gedung, untuk menikmati kembang api.


"Lana---tubuhmu dingin sekali, aku harus membawamu ke rumah sakit"


Lukas mulai sibuk menggosok tangan Lana yang masih menggigil. Dia juga melepas mantel yang dikenakannya dan menyelimutkannya pada Lana.


Lana menggeleng, menolak tawaran Lukas, "Aku--aaakan baik--bbbaik saja ssebentar lagi"


"Tidak mungkin, bibirmu biru dan wajahmu pucat. Kau tidak mungkin akan baik-baik saja" Lukas terus menggosok tangannya.


Wajahnya jelas menggambarkan kekhawatiran yang luar biasa.


"Lana akan baik-baik saja, ayah. Mereka tak bisa menyakitinya lagi, jangan terlalu khawatir"  suara cadel yang sudah Lana kenal membuatnya mendongak.


"Diell, kkkenapa kau ada disini?" tanya Lana masih terbata, kaget melihat sosok Diell di belakang Lukas.


 


"Dari mana kau tahu nama itu?! Dan apa maksudmu ada di sini?"


 


Suara berat setajam pisau yang dingin seolah menusuk telinga Lana, karena selama ini suara itu selalu menyapanya dengan hangat.


Lana mendapati Lukas sudah melepaskan tangannya, dan berdiri sambil memandangnya dengan campuran antara wajah marah, terluka dan bingung.


"Tidak!!! Tidak!! Ini tidak mungkin" teriakan terkejut keluar dari mulut Lana.


Kenyataan menghantamnya seperti kereta, cepat dan menyakitkan.


Matanya menatap Diell dengan nanar. Lana bisa melihat tangan kecil Diell menggenggam jari tangan kanan Lukas.


"Ayahmu adalah-----"


Lana tidak bisa meneruskan kalimatnya, dan kembali menatap Lukas yang semakin terlihat menakutkan karena kerutan di keningnya semakin dalam.


"Apa yang kau katakan Lana? Kau sedang berbicara dengan siapa?" kegusaran Lukas mulai terlihat tak terbendung lagi.


Lana menutup mulutnya, baru menyadari jika dia mengucapkan semua perbincangan itu dengan suara keras.


"A..ak---Aku....." Lana berdiri dengan kepanikan merajai benaknya, dia tak bisa memberikan alasan pintar, dan lagi kenyataan bahwa gadis mungil malang itu adalah putri Lukas, seakan menghapus keterampilannya dalam membuat alasan.


Lana tidak bisa memikirkan hal apapun.


"Maaf...maafkan aku. Aku sebaiknya pergi!"


Dengan langkah cepat Lana berlari menuju jalan. Lukas yang tidak menyangka, gagal menangkap tangan Lana.


"Tunggu !!!


"Kau tak bisa lari begitu saja setelah menyebut nama itu. Kau harus menjelaskannya padaku!!" Teriakan Lukas tenggelam dalam hingar bingar rombongan turis yang berjalan kembali, setelah pertunjukkan kembang api berakhir.


"Sial!!" Lukas mengumpat dengan jengkel, karena langkahnya untuk menyusul Lana yang berlari, juga terhalang oleh kerumunan besar itu.


Setelah bersusah payah menembusnya, sosok Lana sudah tak terlihat di manapun.


 


 


------------0O0-------------


 


 


"Kau bodoh, Lana! Kau bodoh sekali" teriak Lana, begitu ia sudah berada di dalam rumah dan menutup pintu.


Lana mengutuk dirinya sendiri selama perjalanan pulang menuju rumahnya. Dia cukup beruntung bisa menembus kerumunan turis yang ada di jalan dengan cukup cepat. Setelah mencapai jalan yang cukup sepi, Lana terus berlari tanpa henti, sampai ke rumahnya.


Lana lega, rasa dingin karena hantu yang mengerumuninya tidak bertahan lama. Tubuhnya yang sempat kaku, dengan cepat menghangat, seolah dipacu oleh adrenalin murni saat  dia berlari pulang.


Tangis Lana pecah bersama teriakannya tadi.


Dia merasa bodoh karena menyebut nama Diell di depan Lukas. Ia bisa melihat bagaimana wajah ceria Lukas berubah menjadi terluka. Dan Lana bisa mengerti sebabnya.


Kematian Diell adalah tragedi yang menyedihkan, dan dia dengan gegabah menyebut nama Diell di hadapannya.


"Lana, ada apa? Kenapa kau menangis?" Suara dan hawa dingin dari Aubrey bisa dirasakan oleh Lana.


Tapi Lana tidak bisa menjelaskan apapun. Lana menekuk lutut dan membenamkan wajah di sana, meneruskan tangis penyesalannya.


Bagaimana bisa ia melakukan perbuatan sembrono seperti ini?


Tapi dia belum pernah melihat Diell selama bersama dengan Lukas di Merian, tidak sekalipun.


Lima belas malam ia berada di sana, Lana bertemu Diell dan Lukas secara terpisah. Dan lagi dia bertemu dengan Diell pertama kali di Melina dalam keadaan sendirian.


"Oh.. ya Tuhan" Lana menyadari sesuatu.


Beberapa saat setelah bertemu Diell, ia bertemu dengan Lukas, tak jauh dari tempatnya bertemu Diell, di lorong tempat Lukas dan temannya berdebat.


Seharusnya dia menyadari hal ini dengan lebih cepat. Lana kembali menyumpah karena kebodohannya.


Sekarang apa yang harus dilakukannya? Dia mungkin bisa lari tadi, tapi cepat atau lambat Lukas akan datang meminta penjelasan. Dan apa yang harus dikatakannya?


Terbayang dalam benak Lana, bagaimana keluarga putri dari Hans yang menuduhnya pembohong dan tukang tipu. Lukas pasti akan bersikap sama.


Tidak ada orang waras yang mau mempercayai penjelasannya.


Aku harus pergi!!


Lana bangkit dari lantai, dan berlari menuju kamarnya, lalu melakukan ritualnya yang biasa.


Paspor, dompet, dan surat-surat penting semua dituang dalam tas kecil yang ringkas. Kemudian ia menarik koper butut yang selama ini dibawanya dan mulai mengisinya dengan beberapa potong baju.


Ia tak perlu membawa semuanya, Lana bisa memperoleh baju lain di tempat daur ulang.


"Lana, kamu mau kemana? Aku mohon tenanglah, jelaskan padaku sebentar saja" Aubrey menyusulnya ke atas dan kembali meminta penjelasan.


Gerakan Lana terhenti sejenak, ketika hawa dingin Aubrey merasuki tulang tangan kanannya. Aubrey berusaha menghentikan gerakan tangannya.


"Maafkan aku, Aubrey. Aku telah membuat kesalahan besar, dan karenanya aku harus segera pergi. Maafkan aku, aku seharusnya tak membuatnya terluka"


Air mata Lana kembali turun, mengingat bagaimana mata Lukas memandangnya dengan marah.


Dia juga merasa bersalah pada Aubrey karena tak bisa menjelaskan hal yang sebenarnya.


Tanpa menghiraukan rasa dingin yang akan menyerangnya, Lana memeluk tubuh Aubrey yang setengah padat itu dengan erat.


Pelukan penuh rasa terima kasih, penyesalan dan juga sakit, karena tahu dia tidak akan pernah bisa bertemu dengan Aubrey lagi. Lana kembali tak bisa menahan air matanya.


"Oh.... gadis malang. Kenapa kau harus pergi? Kau bisa tinggal selama yang kau inginkan. Ada apa sebenarnya"


Dengan sepenuh perasaan, Aubrey membalas pelukan Lana. Membuat tubuh Lana semakin menggigil.


Dan Lana sangat menyesal melihat Aubrey mulai meneteskan air mata. Dia tak suka membuat hantu sebaik itu menangis.


"Aubrey, cukup!  tubuh Lana tak sekuat itu" Barnabas yang sudah menyusul ke atas, menarik Aubrey ke pelukan. Dan Aubrey meneruskan tangisnya di sana.


"Maafkan aku, dan terima kasih atas semuanya" kata Lana sambil menundukkan badannya sekali lagi pada Barnabas.


Barnabas terus memeluk Aubrey, tapi ia menganggukkan kepala menanggapi perkataan Lana.


Setelah memaksakan sebentuk senyum pada Barnabas, dengan secepat kilat Lana menarik tas dan juga kopernya turun. Dia harus bergegas.


BAGH!!!...BAGH!! BAGH!!


"Lana!! Buka pintu, aku tahu kau ada di dalam. Kau harus menjelaskan semuanya padaku!!"


Gedoran pintu dan juga suara teriakan Lukas yang nyaring, menggema di rumah tua itu.


Lana menjatuhkan koper dan juga tas yang ada di tangannya. Dia terlambat, Lukas sudah berhasil menyusul.


Dengan panik, Lana memandang ke sekeliling, mencari jalan keluar lain.


Tapi mustahil, dia bisa keluar dari pintu lain. Tapi jalan satu-satunya dia turun ke jalan, adalah melewati jalan di depan rumah. Lukas pasti akan melihatnya.


"Lana!!" Lukas kembali menggedor pintu dan memanggilnya.


Lana berjalan mondar-mandir dengan kalut. Tak tahu harus berbuat apa.


Jika ia membuka pintu berarti harus menjelaskan semuanya pada Lukas. Tapi apa yang akan dikatakannya?


KRAAAAKKKKK!!!! BHUUMMMM!!


Lana memandang dengan ngeri, saat pintu rumah yang sudah tua itu, hancur karena terjangan tubuh Lukas.


Lukas jatuh tersungkur mengikuti pintu, tapi dengan cepat dia bangkit dan matanya menyisir ruangan mencari sosok Lana.


"Astaga ada apa lagi ini?" 


Aubrey muncul di belakang Lana, "Lukas?? Kenapa dia ada di sini?? ada apa ini Barnabas" 


Suara bingung  Aubrey tak memberi efek apapun pada Lana, karena ia sedang terfokus pada Lukas dan pintunya yang hancur.


"Aku akan memperbaikinya nanti, tapi kau harus menjelaskan padaku dulu dari mana kau mendengar nama itu?"


Lukas dengan langkah lebar menghampiri Lana, yang otomatis mundur menjauhinya.


Mereka berdua berhenti saat punggung Lana menabrak tembok kayu rumah. "Jelaskan sekarang!" Lukas mengangkat kedua tangannya di sebelah kepala Lana, dan memandangnya tepat di mata.


"Ellza!! Ada apa ini?" 


Lana bisa mendengar Barnabas mencoba mencari jawaban, dengan bertanya pada Diell, yang terlihat menahan air mata di belakang Lukas.


Diell menggeleng, "Ayah tiba-tiba marah pada Lana, aku tak tahu kenapa" isaknya.


Lana menggeleng keras, dia tidak bisa mengatakan apapun, Lukas tidak akan mempercayainya.


Lana terus menunduk sambil mencari jalan keluar dengan matanya.


Matanya tertumbuk pada sosok Diell yang kini menangis di pelukan Aubrey. Apa yang harus dikatakannya?


"Apakah gelengan kepala itu berarti kau menolak? Jangan harap kau bisa menghindar Lana. kau harus menjelaskannya saat ini juga!!"


BRAAKKKK!!!


Lukas memukul tembok dengan telapak tangannya.


"Lana!!" bentaknya dengan tak sabar.


"Diell----Diell adalah segalanya untukku. Kau harus menjelaskan ini!" Suara Lukas sekarang kini sarat dengan permohonan putus asa.


Tapi Lana kembali menggeleng.


"Kau tak bisa melakukan ini padaku Lana!" Lukas meraih kedua lengan atas Lana dan mengguncang pelan tubuh itu, berusaha mencari jawaban..


"Lana!!"


"Aku tidak bisa Lukas!! aku tak bisa menjelaskan apapun padamu!!!"


Lana akhirnya memecah sikap bisunya dengan teriakan histeris.


Tangisan putus asa dan ratapan panik yang membahana, membuat Lukas terperanjat, dan  berhasil membuat Lukas mengendorkan pikiran.


Sadar dia sudah berbuat sedikit kasar pada Lana, Lukas melepas genggaman tangannya.


"Kau h....kkkkkk" kalimat Lukas terhenti dan berubah menjadi suara cekikan.


Tubuhnya roboh di depan Lana tanpa daya.


"Tidakkkk!!!!" jerit Lana, begitu melihat apa yang terjadi pada Lukas.


Mimpi buruknya saat bersama Aaron kembali mewujud, Lukas sedang berjuang untuk bernafas, dalam balutan cahaya biru di sekelilingnya.


"Tidak!!! Jangan!!"


"Lepaskan dia"


"Lepaskan Ayahku!!" Jeritan Lana bercampur dengan suara Diell yang juga khawatir dengan keadaan Lukas.


Tanpa berpikir panjang, Lana menghambur memeluk tubuh Lukas.


Dingin yang belum pernah Lana rasakan, menyengat seluruh tubuhnya tanpa ampun. Dingin yang membekukan setiap sel tubuhnya dalam hitungan detik.


Dingin yang dirasakannya tadi, ketika bersentuhan dengan para roh, tidak sebanding dengan apa yang dirasakannya saat ini. Tapi Lana tidak peduli.


"Aku mohon, jangan sakiti dia. Aku akui, aku bersalah karena telah mencintainya, tapi aku berjanji tak akan menemuinya lagi! aku mohon lepaskan dia" tangis Lana, sambil berusaha membantu Lukas bernafas lebih lega dengan membuat gerakan mengusir dengan tangannya.


Yang tentu saja tidak menghasilkan apapun, tangan Lana hanya menyentuh udara.


"Lana!!"


Lana mendengar panggilan panik Barnabas.


"Ttttolong dia, Barnabas!! Lukas tttak akan bisa bertahan!!" Lana memohon dengan suara yang terbata.


Tangisan dan juga ratapan Lana terdengar semakin nelangsa.


Tepat ketika kesadaran Lana berada di ujung tanduk, tiba-tiba serangan itu berhenti, dan cahaya biru yang menyelimuti Lukas menghilang.


"Hhhhhhhh...." Lana berjuang untuk bernafas, ketika serbuan oksigen kembali masuk seiring tarikan nafasnya.


Lana membutuhkan beberapa menit untuk mengumpulkan kekuatannya.


Barnabas, Aubrey dan juga Diell memandangnya dengan terpana tanpa berani untuk bergerak, takut dengan apa yang akan terjadi jika mereka mencoba mendekat padanya.


Dengan wajah masih di penuhi air mata, Lana mengguncang tubuh Lukas.


"Bangun!! Lukas, apakah kau mendengarku?"


Tapi tubuh Lukas masih diam


"Lukas, aku mohon bangunlah. Aku tidak bisa jika kehilanganmu juga!"


Sedu sedan Lana kembali terdengar ketika melihat tidak ada reaksi dari Lukas.


"Lukas!!" ulangnya sambil terus mengguncang tubuh dingin Lukas


"Ayah masih hidup!" suara mungil Diell menyentak Lana, Diell sudah kembali ke sebelah Lukas, dan memegang dadanya.


Perkataan itu membuat Lana sadar bahwa aia harus segera memanggil bantuan. Lana meraba kantong jaket yang dipakainya dan menemukan ponsel di sana.


Dengan tangan gemetar Lana menyentuh layar ponsel, dan menunggu jawaban di seberang.


"Lana? Ini kejutan! Kau tidak pernah menghubungiku sebelumnya" suara Neff yang menyahut terdengar ceria, sangat kontras dengan Lana yang masih berusaha menghentikan tangis.


"Neff, tolong aku" rintih Lana.


"Lana, kau ada dimana?"


Sebaris kata dari Lana, yang diucapkan dengan penuh tangis membuat Neff berubah waspada.


"Di rumahku, tttolong kirimkan ambulans ke sini"


Diantara tangisnya Lana berhasil mengemukakan hal yang paling penting.


"Baiklah, tenangkan dirimu. Ambulance beberapa menit lagi akan datang! Aku juga akan ke sana"


Neff yang sudah terbiasa dengan keadaan darurat, memutus panggilan itu. Percuma ia meminta penjelasan pada Lana yang sedang panik.


Mendengar suara Neff yang menenangkan, akal sehat Lana semakin menguat.


Tangannya meraba leher dan wajah Lukas untuk lebih memastikan perkataan Diell. Lana lega ketika bisa merasakan hangat dan juga denyut nadinya.


Lana kemudian berlari ke kamar, mengambil selimutnya yang paling tebal dan membungkus tubuh Lukas seperti kepompong untuk memastikannya tetap hangat.


Setelah melakukan itu, Lana sejenak terdiam sambil menatap tubuh yang terbujur di lantai, dan kepedihan kembali menghunjam jantungnya.


Dia harus menepati janjinya, dia akan pergi dan tidak akan menemui Lukas lagi.


"Maafkan aku!" bisik Lana, kemudian menunduk dan menempelkan bibirnya pada bibir Lukas.


Lana mencium bibir dingin itu sementara butiran air matanya membasahi pipi Lukas.


"Aku mencintaimu"


Setelah membisikkannya dengan penuh perasaan, Lana bangun dan menyambar koper dan tasnya.


"Kau tak boleh pergi! Ayah akan sedih"  tangan dingin Diell yang mungil menahannya.


Matanya yang besar menatap Lana dengan bersungguh-sungguh.


Lana menggeleng keras, kemudian menyentakkan tangan itu dengan penuh penyesalan, Lana menghambur ke pintu dan berlari keluar sebelum tekadnya untuk pergi runtuh mendengar permintaan Diell.


"Lana, kau tetap akan pergi tanpa memberikan penjelasan? Lana!"


Lana terus melangkahkan kaki keluar dari rumah tanpa mempedulikan panggilan Aubrey dan Diell.


Dengan mata yang mengabur karena penuh dengan air mata, Lana berlari menuruni jalan setapak yang akan membawanya ke jalan raya.


Lana sempat melirik ke arah rumah Joan saat melewatinya. Dia juga akan membuat Joan sedih, tapi dia tak punya waktu untuk berpamitan. Dan lagi Joan tak akan mungkin membiarkannya pergi.


"Maafkan aku" gumam Lana, sambil menghapus sisa air matanya dengan lengan baju.


Dia harus berhenti menangis sebelum hal itu menarik perhatian orang yang ditemuinya di jalan nanti.


Kau bisa melakukannya Lana, seperti biasanya. Suara hati Lana memberi semangat. Ia akan memulai kehidupan yang baru di kota lain, seperti biasanya.


Grindelwald telah memberinya kenangan indah, dan Lana akan terus menyimpannya dalam hati.