Blue Light

Blue Light
SEMBILAN



Ketika Lana berumur dua belas tahun, ayahnya pernah mengajak seluruh keluarga mereka pergi ke Hawai, selama kurang lebih lima hari. Itu adalah terakhir kalinya Lana menyebut dirinya berlibur.


Dan kini dia merasa sedang melakukannya, walaupun semua ini diawali oleh sesuatu yang keji.


Sudah hampir dua minggu ini Lana berada di Merian. Dan tentu saja ia merasa sedang menikmati liburan panjang.


Bagaimana tidak?


Hari-hari Lana hanya dipenuhi oleh kegiatan membaca, makan, dan juga kadang bertemu dengan Darla yang mengantarkan beberapa potong baju untuknya.


Tapi Lana juga sering menerima kunjungan, terutama dari Chief Neff.


Polisi itu menemui Lana rutin dua hari sekali. Lana sempat heran, karena tidak menyangka, dia akan memerlukan keterangan tambahan yang lebih banyak lagi.


Neff mengatakan kasusnya sedikit rumit, sehingga dia harus mengecek setiap detail perkataan Petra dan juga dirinya. Lana hanya bisa pasrah, karena tidak tahu apa-apa soal hukum.


Neff sering membuatnya tak nyaman, karena sering bertanya hal-hal yang lebih mendalam soal kehidupannya bukan hanya soal kasusnya yang sedang berlangsung. Tapi Lana selalu berhasil menghindar, ia menolak menjawab, atau berbohong.


Selain Neff, Joan juga mengunjunginya. Walaupun dengan kesibukannya mengurus pertanian yang penuh turis, dia tidak bisa datang ke Merian sesering yang diinginkannya.


Setiap bertemu, Joan tak bosan-bosannya mengajak Lana untuk bekerja padanya. Dia terus mengulangi tawarannya itu, sampai Lana menghafal kalimat Joan.


Tawaran ini sungguh menggiurkan bagi Lana. Dia masih bisa berhemat, karena tidak mungkin mengeluarkan biaya makan saat bersama Joan, dan lagi, dia tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan.


Lan tentu saja tidak mungkin lagi bekerja di Melina setelah semua itu. Lana tak yakin bisa masuk ke sana tanpa membayangkan apa yang diperbuat Petra.


Mr. Meier dan juga Marco juga mengunjunginya beberapa hari yang lalu.


Mereka meminta maaf dengan sungguh-sungguh atas apa yang menimpa Lana. terutama Marco.Dia berkali-kali mengucapkan maaf, karena tidak bisa menemani Lana seperti biasanya malam itu.


Menurutnya, Petra tak akan berani berbuat seperti itu jika dia ada.


Dan tanpa lelah Lana menolak permohonan maafnya. Bukan salah Marco jika Petra memilih malam itu untuk menyerang Lana, hal itu hanya menunjukkan bahwa Petra adalah seorang pengecut.


Dibandingkan kegiatan siang hari, kegiatan malam hari Lana sangat monoton.


Lana terus berada di dalam kamarnya begitu matahari tenggelam. Beberapa kali Lukas mencoba membuatnya keluar kamar, dengan alasan mengajaknya makan malam di gazebo. Tapi ditolak oleh Lana.


Dia tak akan bisa menikmati makanan jenis apapun, jika musik yang akan dia dengar adalah nyanyian pengantar tidur yang mengerikan dari wanita itu.


Dan Lukas biasanya akan menurut, mereka akhirnya makan malam bersama di kamar Lana, seperti biasanya.


Hampir setiap hari Lukas menemani Lana makan, baik sarapan maupun makan malam. Lukas hanya melewatkan acara itu, ketika dia harus mengurus beberapa hal diluar Grindelwald.


Dan Lana harus mengakui, ia menyukai semua rutinitas kehidupannya di Merian, bahkan kadang dia bisa melupakan ada seorang wanita yang berulang kali menggantung dirinya di kamar sebelah.


Rasa nyaman dan hangat menyelimuti setiap sudut waktu yang dihabiskannya di sini. Kehadiran orang lain di kehidupannya, membuat Lana terbuai, dan membuatnya menikmati kehidupan.


Sampai ketika pikiran warasnya memperingatkan Lana bahwa tak seharusnya semua ini terjadi. Tidak seharusnya dia menikmati semua ini, dia tak boleh mengikatkan diri pada siapapun.


Ganjalan itu selalu sukses menghapus sedikit harapan yang mulai terbentuk di hatinya.


Saat hal itu terjadi, Lana mulai dilanda ketakutan. Ketakutan bahwa semua kebahagian yang dia rasakan sekarang akan berakhir.


Lana tak pernah mengeluh tentang kerasnya kehidupan yang harus dijalaninya selama ini, karena semua itu memang harus dilakukannya.


Tapi satu hal yang membuat dirinya kadang goyah, yaitu kesepian yang amat sangat. Dia tak mempunyai siapapun untuk mendengar keluh kesahnya.


Lana sangat bisa mengerti kenapa Hans, Aubrey bahkan Diell, selalu mengajaknya berbicara ketika ada kesempatan, mereka juga kesepian.


Lana bisa mendengarkan cerita mereka, tapi Lana tidak tega menceritakan masalah kehidupannya pada mereka. Karena apapun masalahnya, tidak mungkin lebih berat dari mereka yang telah menemui kematian.


Bahkan pada Aubrey, Lana membatasi diri hanya untuk bercerita tentang sesuatu yang bisa membuatnya terhibur.


Sekali lagi dalam hidupnya, Lana berharap untuk bisa tinggal dan membalas semua kasih sayang dan kepedulian yang ditujukan untuknya dengan ucapan terima kasih yang layak. Ia ingin bersikap ramah pada Joan, Erich, Darla, Neff dan juga Lukas.


Keinginannya bahkan lebih besar, dari pada saat dirinya bertemu Beth dan Aaron.


Tapi semakin kuat keinginan itu, berarti bahaya yang dihadapi mereka juga semakin besar. Jika perasaannya untuk Aaron adalah penyebab ia diserang, maka kemungkinan besar orang-orang yang tadi sebutnya juga berada dalam bahaya.


Terutama Lukas.


Seberapa keras Lana mengingkarinya, untuk pertama kali dalam sepuluh tahun terakhir Lana berharap agar matahari cepat terbenam. Dia menantikan pertemuannya kembali dengan Lukas.


"You're an idiot, Solana!!!" Lana berseru keras di depan jurang yang hijau, suaranya bergema beberapa kali sebelum akhirnya menghilang.


Lana tak peduli jika ada tamu lain yang mendengarnya, ia  hanya ingin melepaskan sedikit beban yang mengikat hatinya.


 


-------------0O0-------------


 


 


Lukas melihat pemandangan sore di depan pagar pembatas itu, dengan mata nyaris tak berkedip.


Bukan karena langit merah menyala yang indah, tapi karena seorang wanita yang berdiri di hadapannya.


Lana terlihat tenggelam dalam lamunannya kembali, setelah meneriakkan kata bodoh ke udara.


Lana menunduk, sebelum akhirnya berjongkok dan mengubur wajahnya dengan tangan.


Lukas setengah mati menahan diri untuk tidak menghampirinya. Dia merasa hal itu hanya akan membuat Lana menjauh.


Ketika matahari semakin tergelincir, seperti biasanya, Lana bangun dan berjalan memasuki kamarnya.


Lukas tahu, Lana tak pernah berada di luar kamar jika malam hari kecuali dia menemukannya di tepi kolam dulu.


Setelah menempati kamar Lukas, Lana bisa dipastikan akan mengubur diri di sana ketika malam tiba.


Lukas berbalik dan turun lagi ke gedung utama Merian. Dia tadi ke atas karena mengira Neff masih ada bersama Lana.


Tapi Neff pasti sudah turun dan menunggunya di kantor. Dia tadi langsung menuju blok Exclusive begitu kembali dari kota.


Perkataan Neff tentang bagaimana dia tidak akan menemui Lana sebagai psikolog, tentu saja adalah kebohongan untuk menggoda Lukas,  karena sebenarnya dia dengan senang hati menyediakan diri.


Apalagi dengan jabatan lainnya sebagai polisi, membuat Lana tidak menolak pertemuan dengan Neff.


Neff dengan rutin  melakukan sesi pertemuan dengan Lana, tanpa disadari oleh Lana.


Tapi hal itu tentu saja memerlukan kerja keras dari Neff, dia harus sedemikian rupa mencari alasan agar Lana mau berbicara.


Dan menurut Neff hal ini sangat sulit, berulang kali Neff mengeluh pada Lukas tentang bagaimana terapinya tidak mengalami kemajuan.


Tapi Neff tidak menyerah, dan terus menemui Lana selama hampir dua minggu ini.


"Akhirnya datang juga!" Neff berseru senang saat Lukas masuk ke dalam kantornya.


Lukas memberi isyarat dengan kibasan tangan sebagai tanda Neff tak perlu berbasa-basi. Masih ada beberapa hal yang harus diselesaikannya, dan ia tak ingin membuat Lana terlambat akan malam karena menunggunya.


"Kau harus membiarkannya pulang"


Neff menuruti Lukas dan langsung berbicara keintinya.


Lukas yang setengah jalan ingin meletakkan badannya ke kursi, langsung kembali berdiri  begitu mendengar kata-kata Neff.


"Lana? Kenapa?"


Neff mengulum senyum melihat kepanikan Lukas.


"Kau tak bisa terus menahannya di sini dengan alasan kepentingan Polisi, Lukas. Apalagi urusannya dengan polisi sebenarnya sudah selesai dari dulu"


"Kau sudah selesai merawatnya?" Lukas mencoba mencari alasan lain.


"Hmmm... ya, karena aku tidak bisa melakukan apapun lagi jika Lana tak membuka dirinya padaku. Traumanya pada Petra akan menghilang seiring waktu. Tapi untuk yang lain, aku sama sekali tidak bisa membantu"


"Yang lain?"


Neff mengangguk, kemudian mengeluarkan map tebal berwarna hijau dari tasnya, kemudian meletakkannya di atas meja.


Lukas melirik map itu dan melihat tulisan Solana Fayra didepannya.


Tangan Lukas langsung terulur ingin meraihnya, tapi dengan cepat Neff mencekal tangannya, mencegah.


Neff menggeleng.


"Aku mendapatkan file ini dengan berbohong bahwa aku adalah psikolog Lana yang baru. Aku tidak bisa membagi informasi ini denganmu Lukas. File ini adalah rahasia antara pasien dan dokter jiwa"


Suara Neff yang biasanya terdengar ringan dan ceria, berubah menjadi serius dan tegas.


"Dan kau memperlihatkannya padaku untuk---?" tanya Lukas dengan tak sabar.


"Kau bisa melihat tebalnya halaman ini bukan?" Neff menekan jari telunjuknya pada map, dan Lukas mengangguk.


Map itu sangat tebal, dan beberapa halamannya terlihat kusut terlipat, menandakan betapa seringnya map itu di buka untuk di baca.


Jika dokter biasa mengirim catatan medis setebal itu, bisa dipastikan pasien itu menderita suatu penyakit yang gawat jika tidak mematikan.


Tapi jika seorang psikolog mengirimkan catatan setebal itu tentang seseorang----


"Sebagian besar diagnosa yang tertulis di sini adalah omong kosong!" kata Neff, sekarang dengan semangat berapi-api.


"Mereka salah mendiagnosa Lana?" tanya Lukas, dengan tak yakin.


Neff mengangguk, "Lana memang mengalami peristiwa yang membuatnya trauma, tapi diagnosa dan perawatan yang dilakukan dokter tidak berhasil. Lana menderita sesuatu yang lain, tapi para dokter itu tetap memaksakan diagnosa. Karena itu Lana menjadi seperti sekarang ini, ia hidup dengan berpura-pura menjadi orang lain, agar dokter menganggapnya normal"


"Trauma apa?"


"Ra--ha--si--a..ck..ck"


Neff menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah Lukas. Dengan jengkel Lukas menepuk wajah Neff.


"Apakah kau bisa mendiagnosa dengan lebih baik dari mereka?"


Lukas menunjuk map itu sekali lagi. Tidak tertutup kemungkinan Neff bisa melakukannya, tapi ia menggeleng.


"Syarat penting untuk diagnosa dan terapi kejiwaan adalah kejujuran. Dan Lana tidak memenuhinya. Aku tidak bisa melakukan apapun tanpa hal itu. Aku khawatir jika terlalu memaksanya justru akan berakibat buruk, seperti Anja--Eh"


Neff langsung menyesal karena telah mengucapkan nama itu. Dia melirik ke arah Lukas. Wajahnya terlihat tak menunjukkan perubahan, tapi Neff bisa melihat rahangnya mengeras.


"Maksudku, aku tak ingin mengulangi kesalahan bodoh" tambah Neff, kemudian diam sambil menarik nafas panjang,


"Itu bukan salahmu, sudah berapa kali aku mengatakannya?" ujar Lukas dengan pelan.


Tidak adil jika ada yang menyalahkan Neff karena hal itu. Neff adalah psikolog yang hebat, ia berhasil mengeluarkan Lukas dari kubangan lumpur putus asa dan depresi. Hal itu saja sudah merupakan keajaiban menurut Lukas.


Neff menepuk tangannya dengan keras, seakan ingin memecah suasana muram yang datang tiba-tiba itu.


"Karena itu, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah mengirim Lana pulang, dan membiarkannya menjalani kehidupannya seperti biasa. Aku ingin melihat bagaimana keseharian Lana, dengan begitu aku mungkin bisa menemukan jawaban kenapa ia bersikeras tidur di kamarmu"


Saat Lukas bercerita soal Lana yang sering mengigau, Neff menganggapnya biasa.


Tapi soal Lana yang menolak tidur di kamar yang disediakan untuknya, membuat alarm penasaran dalam kepala Neff berbunyi nyaring. Apalagi Lana menolak berada di kamar itu hanya saat malam hari.


Menurut Neff, dia belum pernah mendengar gangguan jiwa dengan gejala seperti itu.


"Haruskah? Lana tinggal sendirian disana, bagaimana jika ia 'hancur' lagi, dan tak ada siapapun di sana?"


Yang dimaksud Lukas adalah kejadian saat ia menemukan Lana meringkuk sambil menangis.


Lukas tak bisa melupakan, bagaimana Lana terlihat begitu merana. Meninggalkan Lana untuk tinggal sendiri menurut Lukas ide yang sangat buruk.


"Lalu apa yang akan kau lakukan? Alasan apalagi yang akan kau katakan untuk menahannya disini? Aku sudah berbohong untukmu selama dua minggu, sebentar lagi Joan pasti akan melabrakku karena berpikir aku melakukan pekerjaanku sebagai polisi dengan lambat"


Lukas diam seribu bahasa, dia tahu Neff sangat benar.


"Kecuali kau sudah menemukan jawaban atas pertanyaanku, aku mungkin bisa membantumu mencari alasan" Neff mengatakan hal itu, dengan senyum jahil yang sangat lebar.


"Pertanyaan apa?" Lukas mengerutkan dahi, senyum jahil Neff tak pernah berarti bagus.


"Kenapa kau merasa aku harus meminta izinmu untuk menangani Lana? Kenapa begitu penting bagimu untuk tahu bagaimana keadaan Lana?" Neff menjelaskan pertanyaannya dengan lebih gamblang.


Sayangnya, Lukas masih tidak memiliki jawaban.


 


 


-------------0O0-------------


 


 


Makan malam itu, tidak seperti biasanya, hanya ditingkahi oleh suara piring beradu dengan sendok. Lukas yang biasanya bertanya sesuatu untuk memecah suasana, terlihat larut dalam lamunan.


Apalagi jelas dia sedang tidak bernafsu makan, jumlah makanan yang ada di piringnya belum berkurang sejak tadi.


Lana tentu saja heran melihatnya, tapi mengubur dalam-dalam rasa penasaran itu, dan makan dalam diam.


Bukan haknya untuk mengganggu dan bertanya tentang apa yang ada di pikiran Lukas. Lagi pula menurut Lana hal ini lebih baik, dia memang harus menjauhkan diri dari Lukas.


"Kata Neff kau sudah bisa pulang. Penyelidikan kasusmu sudah selesai" kata Lukas tiba-tiba.


Lukas sudah meletakkan sendoknya, walaupun makanannya masih teronggok utuh.


"Oh.... itu bagus. Aku tidak sabar ingin pulang" kata Lana, sebisa mungkin terlihat biasa saja.


Lukas sejenak memandang Lana, yang saat ini menundukkan kepalanya.


"Kau bisa bersiap besok, jika sudah selesai, aku akan mengantarmu"


"Tidak perlu" Lana langsung menggeleng keras.


Lukas tidak perlu mengantarnya kemanapun, dia bisa berjalan kembali kerumahnya. Jaraknya cukup lumayan, tapi letak Melina bahkan lebih jauh dari Merian, dan Lana sudah biasa berjalan kesana.


"Keberadaanmu di sini adalah rahasia, Lana. Apa kata orang jika kau muncul begitu saja dari Merian?"


Lana ingin segera menolak sekali lagi, tapi tidak menemukan alasan yang tepat, karena kata-kata Lukas sangat masuk akal.


Menurut Neff kasusnya dirahasiakan, dan tidak menyebar ke penduduk desa. Dan Lana tentu saja juga lebih senang hal itu tetap menjadi rahasia.


Bahkan pengadilan untuk Petra dilakukan di kota Interlaken, tanpa perlu dihadiri oleh Lana.


Korban kejahatan seksual berhak memilih untuk bisa hadir atau tidak , tentu saja Lana memilih untuk tidak hadir, ia cukup diwakili oleh pengacara.


Absennya Lana selama dua minggu ini,juga telah ditutupi dengan sempurna oleh Joan.


Kata Joan, ia sudah mengumumkan kepada siapa saja yang mau mendengar, bahwa Lana sedang pulang ke Amerika karena urusan keluarga.


"Mmmm... baiklah"


Lana menggerutu karena kalah. Dia tidak pernah menang berdebat dengan Lukas, dan itu membuatnya jengkel.


"Baiklah, selamat malam" kata Lukas dengan sopan sambil membawa nampan makan malam mereka keluar.


Ia biasanya menaruhnya di luar, agar pelayan bisa mengambilnya tanpa melihat Lana.


"Ya, selamat malam" Lana mengikuti sikap Lukas dan juga bersikap sopan.


Tapi Lana bisa dengan jelas merasakan rasa canggung di udara. Biasanya obrolan malam mereka berakhir dengan lebih ceria.


Lana menjatuhkan diri di sofa. Ia sudah  mendapatkan hal yang paling diinginkannya, yaitu menjauhi Lukas. Tapi apa yang dirasakannya sangat jauh dari lega ataupun senang.


Kenapa terkabulnya keinginan itu malah menimbulkan beban baru di hatinya?