
"Apakah kau tidak bisa mencari satu saja kesamaan dari kejadian penyerangan kabut biru itu?" tanya Neff, sambil memutar setir mobilnya ke arah kanan.
Mereka bertiga dalam perjalanan menuju Grindelwald, setelah pesawat mereka mendarat sekitar setengah jam yang lalu.
Untuk penerbangan pulang kali ini, lalu lintas udara lebih lancar, sehingga mereka tiba di Zurich sebelum malam.
Sepanjang perjalanan di pesawat, Lana lebih banyak tertidur, dan Lukas membiarkannya.
Menurut Neff, kemungkinan besar Lana sedang merasa sangat lega, karena itu dia sangat rileks dan lebih banyak tidur.
Dan begitu mereka masuk ke dalam mobil, Neff langsung memulai pembahasan topik yang sedari tadi dibicarakan oleh Lukas.
Lana menggeleng, "Kejadian yang mengiringinya sangat berbeda. Yang paling bisa aku jelaskan mungkin hanya kejadian dengan Petra, karena saat itu aku sangat mengharapkan kabut itu muncul dan mencekiknya"
"Manusia sampah itu sangat pantas mendapatkannya" kata Lukas sambil mengepalkan tangan dengan geram.
"Hmmm... dan kejadian satu lagi dengan siapa tadi?" tanya Neff, sambil melirik jahil kepada Lukas dari kaca spion.
"Aaron, dan aku hanya berkunjung ke apartemennya. Ketika dia sedang menyuguhkan teh, tiba-tiba kabut itu menyerang" jawab Lana, sambil berpikir keras.
Dia tidak melihat bagaimana wajah Lukas menjadi menekuk kesal karena cemburu. Neff yang melihat perubahan wajah Lukas dari kaca spion tersenyum dengan puas.
Dia tentu saja masih ingat nama yang disebut Lana. Tapi Neff tidak bisa melewatkan bagaimana setiap nama Aaron disebut oleh Lana, wajah Lukas menjadi suram. Hal itu menjadi hiburan baginya.
"Lebih baik kita menyingkirkan Petra dari daftar, karena kau yang memanggilnya" sahut Lukas.
Lana mengangguk, "Aku saat itu juga sebenarnya tidak yakin jika kabut itu akan benar-benar keluar. Tapi hanya hal itu yang bisa aku lakukan, teriakanku tertelan oleh dentum musik dari klub"
"Aku sekarang tidak bisa memutuskan, apakah kabut itu sebenarnya hal baik atau buruk. Aku sangat ingin membencinya, karena telah membuatku membeku, tapi keberadaannya telah membuatmu terhindar dari bencana mengerikan" kata Lukas dengan jengkel.
Pembahasan mereka tidak mengalami kemajuan, karena mereka bahkan tak bisa mengetahui hal yang paling mendasar, yaitu apakah cahaya biru itu kutukan atau anugerah bagi Lana.
"Lana!!! kau kembali...!!" suara mungil menyapa Lana, dari kursi kosong di depan.
Lana melirik keluar mobil, dan ternyata matahari telah terbenam.
"Apakah ayah tak lagi marah padamu? Apakah kalian sudah berbaikan"
Celotehan cadel Diell memenuhi ruangan mobil. Dan sekarang Lana mulai kebingungan, apakah dia harus menjawab Diell sekarang juga? Atau menunggu saat mereka sendirian?
Lana tidak terbiasa berbicara dengan roh di hadapan orang lain. Aubrey selalu menahan diri untuk tidak mengajaknya berbicara setiap kali Joan berkunjung ke rumahnya.
"Apa yang dia bicarakan? Diell biasanya tidak pernah bisa diam" kata Lukas, sambil memandang Lana dan kursi kosong bergantian.
CKITTTT!!!!
Neff nyaris kehilangan kendali, dan mobil mereka sedikit tergelincir di jalan yang tertutup es.
"Woaahhh... apakah maksudmu Ellza ada di sini?" tanya Neff dengan panik, sambil melirik kursi disebelahnya.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Lana.
"Kau tiba-tiba terfokus dan memandang kursi itu. Aku nyaris bertanya kenapa, tapi kemudian sadar jika matahari telah terbenam" jelas Lukas.
"Apakah mereka akan muncul begitu saja? tanpa pertanda apa-apa?" tanya Neff, masih melirik kursi sebelahnya dengan gugup.
Lana mengangguk, "Hanya hembusan angin yang sangat dingin. Tapi hanya aku yang bisa merasakannya"
"Apakah karena itu kau menggigil kedinginan saat festival?" tanya Lukas, mengingat bagaimana keadaan Lana yang sangat payah saat itu.
"Kerumunan orang sebanyak itu, juga akan berarti banyak roh yang mengikutinya. Semakin banyak jumlah roh, suhu udara juga akan semakin dingin"
"Kau nyaris mati membeku saat itu" kata Lukas, tangannya dengan otomatis meremas lengan Lana karena khawatir.
"Jika hanya satu atau dua, tidak akan berbahaya. Tapi rasa dingin yang dihasilkan roh kadang tidak sama. Seperti Aubrey dan Barnabas, aku bisa hidup dengan nyaman bersama mereka. Tapi----em--" Lana ragu karena ia harus menyebut nama Anja disini.
"Tidak apa-apa Lana, kau bebas mengucapkan apapun" ujar Lukas, melihat keraguan Lana.
"Anja memiliki hawa dingin yang sangat kuat, lebih kuat dari pada Barnabas dan Aubrey"
"Mommy sangat dingin, aku tak bisa mendekatinya" suara kecil menyahut dari depan, dan Lana langsung mengutuk dalam hati. Dia seharusnya tak menyebut nama Anja di depan Diell, hal itu akan membuatnya sedih.
Tapi ucapan Diell membuat Lana memahami sesuatu yang mengerikan, "Diell, apakah kau pernah melihat Ibumu?" tanya pelan.
"Ya, aku tidak menyukainya. Mommy selalu merasa sakit" Diell mengucapkannya dengan suara yang bergetar, dia pasti ingin menangis.
"Ya...Tuhan!!" Lana menutup wajahnya yang telah memucat dengan kalut.
Pemandangan itu sangat horor bagi Lana, bagaimana mungkin Diell harus melihatnya?
"Lana ada apa? Apa yang dilihat oleh Diell?" Lukas dan Neff saling berpandangan melalui spion, bingung karena tiba-tiba Lana menunduk.
"Lana!!'" Lukas mengguncang bahu Lana, karena ia tak juga menjawab.
"Kita ke Merian"Luna mengangkat kepalanya, dan menatap Neff dengan sangat serius.
"Lana, ada apa? Wajahmu pucat sekali"
Lana mengangkat tangannya untuk menghentikan pertanyaan Lukas. Dia tidak bisa menjelaskan apapun pada Lukas sekarang.
Lana sudah bertekad dalam hati, dia harus segera berbicara pada Anja dan membantunya 'terlepas'. Dia tidak bisa membiarkan Diell melihat kejadian horor itu setiap saat.
------------0O0-------------
Tapi semua tidak semudah yang dibayangkan oleh Lana, kakinya mulai gemetar saat mereka berdua menaiki cable car di Merian.
Neff walaupun enggan, sebenarnya tidak ingin tertinggal apapun yang akan dilakukan Lana.
Tapi begitu mereka tiba di Grindelwald, salah satu anak buahnya menghubungi, Dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang telah tertunda, dan tidak bisa menghindar lagi.
Dengan muka kecewa, Neff akhirnya berpamitan pada mereka, sambil menjanjikan akan segera menyusul ke Merian begitu pekerjaannya selesai.
Lukas sendiri akhirnya hanya bisa diam, ketika Lana masih tidak mau menjelaskan apa yang sebenarnya akan dia lakukan.
Namun Lukas mulai bisa menebak, ketika Lana mengatakan dia ingin langsung menuju blok exclusive.
"Apa yang akan kau lakukan disana Lana?" Lukas tak tahan lagi dengan sikap diam Lana
"Diell melihatnya setiap hari"
Lana mempertimbangkan ini adalah saat yang tepat untuk mengatakan semuanya pada mereka. Lukas tidak akan bisa mencegahnya lagi, jika ternyata tak setuju.
"Melihat apa?" tanya Lukas, penjelasan Lana terlalu luas untuk bisa disimpulkan.
"Maaf, tapi aku harus mengatakan ini" kata Lana dengan hati-hati.
Bagaimanapun Anja pernah menjadi istri Lukas. Ia harus mempertimbangkan perasaannya. Dan lagi Diell masih ada di dekatnya. Gadis kecil itu terlihat menikmati pemandangan di luar cable car.
"Roh yang meninggal dengan bunuh diri berada dalam keadaan yang berbeda dengan yang lain. Mereka biasanya akan terikat pada tempat mereka meninggal. Kemudian mereka akan mengulangi adegan bagaimana mereka meninggal berulang kali setiap harinya"
Lana melirik ke arah Diell yang sekarang memperhatikan Lukas.
"Astaga!!!!....."
Lukas merasa lututnya lemas dan jatuh terduduk di lantai cable car itu. "Itu mengerikan" gumamnya lagi.
"Apa yang kau lihat di kamar itu?" tanyanya setelah beberapa detik mencerna cerita Lana. Lukas masih duduk di lantai sambil menopang tangannya.
"Kau tidak perlu menanyakannya!" kata Lana, tapi Lukas menggeleng tak setuju.
"Katakan Lana, aku harus tahu" Lukas memaksa, sambil berdiri dan berjalan keluar.
Cable car yang mereka tumpangi , sudah sampai ditujuan.
Mereka berdua turun, tapi kemudian Lukas berbelok menuju tepi tebing yang berpagar. Dia memandang jurang hitam yang ada di hadapannya dengan mata kosong.
Lana bimbang, dia tidak ingin membuat Lukas tersiksa dengan detail bagaimana Anja meninggal, tapi dilain pihak, dia juga merasa tidak bisa jika harus menghadapinya sendiri.
Ketika pandangan matanya jatuh pada Diell, dia melihat bagaimana Diell mengangguk kecil kepadanya. Dia memberi persetujuan pada Lana.
"Tapi aku harus pergi Lana, aku tak suka berada di sini"
Sebelum Lana bisa memberi balasan, Diell sudah berlari kecil dan menghilang dari pandangan.
Lana sangat paham, kenapa hanya sekali itu dia melihat Diell disini. Diell pasti menghindari blok ini, karena apa yang dilihatnya di kamar itu.
Tapi dengan menghilangnya Diell, Lana bisa berbicara dengan lebih bebas pada Lukas.
"Anja------ biasanya masuk dengan menembus tembok di sebelah pintu, sambil bernyanyi kecil. Lagu pengantar tidur dalam bahasa Italia" Lana mengawali ceritanya dengan sedikit tersendat.
"Itu lagu yang sering dinyanyikannya untuk Diell. Saat otaknya tidak dalam pengaruh alkohol, dia biasa menyanyikan lagu itu saat menemani Diell tidur" jelas Lukas.
Matanya masih memandang jauh. "Apakah dia masih ada disini?" tanyanya sambil melihat ke sekeliling.
Lana menggeleng, "Diell pergi begitu kita sampai tadi"
"Itu lebih baik" kata Lukas, sambil melambaikan tangannya pada Lana, menyuruhnya kembali bercerita.
"Dia menggantungkan kain panjang pada suatu benda di atas langit-langit, dan begitulah" Lana memutuskan untuk tak menceritakan dengan lebih detail. Dia tak tahan melihat Lukas tidak berdaya menghadapi serbuan emosinya.
"Aku ingin membantunya pergi" tambah Lana.
"Tapi kau keadaanmu menjadi sangat buruk saat pertama kali kau melihatnya, Lana" Lukas melontarkan keberatannya, dia kini sudah berbalik dan kini memandang Lana.
Lukas akhirnya mengerti apa yang menyebabkan Lana berada dalam keadaan mengenaskan malam itu. Dia tidak hanya hancur karena perbuatan Petra, tapi juga karena horor dan rasa dingin dari roh Anja.
Lana menggeleng pelan, untuk memberitahu Lukas, ada hal lain yang harus dikhawatirkan selain dirinya.
"Diell bisa melihat kejadian itu setiap harinya, aku harus segera membantu Anja untuk 'terlepas'"
"Dan aku mengira hal yang kau katakan tak bisa menjadi lebih buruk lagi" kata Lukas, sambil menggosokkan tangannya yang berkeringat pada mantel.
Lukas kemudian berbalik dan mencengkeram pagar pembatas itu dengan sangat kencang, Lana sampai takut jika dia tiba-tiba akan melompat.
Tapi setelah menggumamkan sesuatu yang tidak bisa Lana dengar, Lukas menoleh ke arahnya.
"Hal apa yang akan kau lakukan untuk membantu Anja?" tanyanya.
Lana mengangkat bahunya pelan, "Aku harus mengajaknya berbicara terlebih dahulu, setelah itu aku baru bisa tahu apa yang diinginkannya"
"Then..Let's finish this d*mn task" kata Lukas, sambil melangkah lebar ke arah kamar Anja.
Dan Lana setuju, lebih baik menyelesaikan hal ini secepat mungkin.
"Tunggu sebentar!!" kata Lana, saat Lukas akan menempelkan card locknya pada pintu.
Lana kembali dilanda rasa tidak nyaman, dia sudah bisa mendengar nyanyian Anja, dan suara itu masih memberinya rasa ngeri setelah sekian lama.
"Kau yakin akan melakukannya?" tanya Lukas, sekali lagi.
Lana mengangguk, "Aku hanya harus membiasakan diri" kata Lana.
Setelah Lana memberi tanda dia akan baik-baik saja, Lukas menempelkan cardlock pada pintu dan membukanya.
Lana langsung merasakan hembusan hawa dingin yang mengalahkan dinginnya salju di luar. Lukas yang ada di depannya menepuk tangannya sekali untuk menyalakan lampu.
Kini selain mendengar nyanyian Anja, Lana bisa melihat sosok roh Anja yang sedang menyeret benda yang akan dinaikinya.
Langkah Lana kembali terhenti, dia masuk pada saat yang tidak tepat. Lana tidak suka jika harus melihat saat dimana leher Anja patah.
"Ada apa?" Lukas berbisik pada Lana yang sekarang berdiri sambil memejamkan mata.
Lana memberi tanda pada Lukas agar diam, dia harus menunggu sampai Anja mengulang ritualnya lagi sebelum mengajaknya berbicara.
Lana bergidik, saat suara derakan itu memenuhi udara. Tapi Lana akhirnya berani membuka mata dan maju memasuki ruangan.
Lana menunggu, dan nyanyian Anja kembali terdengar.
Dengan langkah pelan, Lana mendekati Anja, sebelum dia mencapai tengah ruangan tempatnya menggantung diri. Lana merapatkan mantelnya, karena suhu Anja benar-benar membekukan.
Dibelakangnya, Lukas hanya bisa menatap Lana dengan bingung, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi situasi ini.
"Anja, apakah kau bersedia mendengarku sebentar saja?" tanya Lana, sesopan mungkin.
Dan Lana hampir menjerit saat dengan gerakan menyentak, kepala Anja menoleh padanya, menampakkan wajah yang sebagian besar tertutup rambut, tapi Lana masih melihat bagaimana mata Anja terfokus padanya.
Tapi setelah semua itu, gerakan rutin Anja tidak berhenti. Dia tetap melakukan apa yang seharusnya.
"Berhentilah, aku mohon" Lana berkata dengan lirih, sementara tubuhnya sudah mulai menggigil, karena mantel yang dipakainya tidak banyak membantu melawan hawa dingin Anja.
"Lana, aku rasa sebaiknya kita keluar dari sini" kata Lukas, yang melihat keadaan Lana yang mulai memburuk.
Tapi Lana menggeleng dengan tegas, dia harus menyelesaikan ini. Setelah untuk kedua kalinya Lana berjengit mendengar patahan leher Anja, Lana mencoba lagi.
"Anja, aku ingin tahu apa yang membuatmu terikat pada tempat ini"
Dan sekali lagi Anja hanya menatapnya dengan mata melebar, tapi kali ini dengan durasi lebih lama.
Tanpa disangka oleh Lana, tiba-tiba Anja maju mendekatinya dengan langkah cepat. Lana dengan reflek mundur menghindar.
Tapi kalah cepat, Anja kini berada persis didepannya, melihat Lana dengan seksama, dan dengan sangat perlahan mulut Anja terbuka.
Sangat sulit mendengar apa yang dikatakan Anja, selain karena Lana dilanda rasa takut yang amat sangat, suara Anja terdengar seperti gumaman samar terpatah-patah.
Apalagi setiap Anja membuka mulut, Lana bisa merasakan udara dengan suhu dingin mematikan keluar dari sana.
Lana hanya bisa memejamkan mata menghadapi ini, keberaniannya telah larut tak bersisa.
"Lana....!!"
Dalam pandangan Lukas, Lana terlihat buruk.
Lukas tidak bisa melihat Anja, tapi dia bisa melihat bagaimana Lana berusaha melakukan sesuatu yang sebenarnya membuatnya tersiksa, dia ingin sekali membawa Lana keluar dari ruangan ini.
Maka tanpa mempedulikan protes Lana, Lukas menarik tangannya ke arah pintu keluar. Saat itulah sesuatu membuat langkahnya terhenti.
"Luu~~~kaaass!!"
Dan Lana kembali bergidik, suara Anja tidak terdengar seperti suara roh lain yang pernah didengarnya.
Suara itu terdengar seperti seseorang mencoba berbicara di dalam air, dengan volume yang dikeraskan beberapa kali lipat
Lukas sendiri langsung berbalik, tapi sayang, dia masih tak bisa melihat Anja.
Lukas mendengar panggilan itu, tapi masih tidak bisa melihat Anja.
"Anja?" Lukas sedang mencoba untuk membantu Lana.
Tapi niat baik Lukas, berakibat fatal. Panggilan Lukas seolah membangunkan sesuatu pada ingatan Anja.
Detik berikutnya, tangan Anja yang dingin mencengkeram leher Lana yang berada lebih dekat dengannya.
"Akkhh...." Nafas Lana langsung terhenti.
Anja tidak mencekiknya secara fisik, tapi hawa dingin membekukan jalan udara Lana, mencegahnya mengambil oksigen. Efeknya hampir sama dengan kabut biru Lana.
"Lana.....!!!" Lukas hanya bisa berseru dengan panik.
Dia sama sekali tiak tahu apa yang sedang terjadi. Lukas hanya melihat Lana berada dalam posisi yang sangat aneh, kakinya berjinjit nyaris melayang dari tanah dan lehernya mendongak ke atas.
Dia menarik tubuh Lana untuk turun, tapi justru suara cekikan yang terdengar dari Lana semakin keras.
"Lana... apa yang aku harus lakukan?" seru Lukas dengan putus asa, dia melihat dengan putus asa, bagaimana wajah Lana mulai membiru karena dingin dan kekurangan udara.
"Lana...."
Tanpa tahu akan berakibat apa, Lukas memeluk tubuh Lana sembari mencoba menariknya menjauh.
"Aku mohon, lepaskan dia!" gumam Lukas.
"Aku akan menolongmu, tapi kau harus berjanji akan menjaga Lana, dan jangan pernah lagi membuatnya takut setelah ini"
Lukas merasa sedang bermimpi, karena dia bisa mendengar suara lain di dalam kepalanya.
Suara itu mengingatkannya akan remaja yang baru mengalami perubahan suara karena pubertas, dan Lukas sangat ingin memprotes karena dia tidak pernah membuat Lana takut .
Tapi saat ini bukan saat yang tepat, dan Lukas tidak mau berpikir panjang. Karena siapapun itu, dia menawarkan bantuan padanya.
"Aku berjanji, aku akan menjaganya" kata Lukas.
Dan begitu mulutnya tertutup, Lukas seperti terlempar ke alam lain, dan dia menutup matanya.
Tubuhnya terselubungi oleh sesuatu berwarna biru, dan rasa dingin yang sudah sangat dikenalnya, menjalar di tubuhnya.
Tapi tidak seperti sebelumnya, rasa dingin itu tidak menyakiti Lukas. Indera perasa di tubuhnya hanya merasa sedikit tergelitik.
"Buka matamu" suara itu memerintahnya lagi.
"LANA!!!!"
Lukas langsung berseru, karena pemandangan yang dilihatnya begitu mengerikan.
Lana yang saat itu berada di pelukannya, sedang berjuang untuk melepaskan lehernya. Sementara roh Anja terus menguarkan hawa dingin yang mematikan.
Lukas tidak hanya bisa melihat Anja, tapi ia juga bisa merasakan dinginnya roh itu. Dengan cepat, dia mencengkeram tangan Anja yang ada di leher Lana.
Lukas merasa seperti sedang memegang air yang luar biasa dingin. Roh Anja tidak padat, tapi wujud itu cukup bagi Lukas untuk bisa memegangnya, walaupun hampir saat itu juga, tangannya terasa membeku.
"Lepaskan dia, Anja!" kata Lukas, sambil terus mengguncang tangan Anja.
Dan Lukas langsung putus asa karena tangan itu hanya bergeser beberapa mili.
"Lepaskan, kau tidak memiliki dendam apapun padanya. Jika kau ingin marah, marahlah padaku" seru Lukas, sambil mengerahkan segala tenaga yang dipunyainya untuk melepaskan Lana.
"Luu~~kass!!!"
Dan Lukas berhasil, Anja mengalihkan perhatian padanya, dan melepaskan Lana.
Lana jatuh ke lantai kamar dengan bunyi yang nyaring, tapi dari sudut matanya, Lukas bisa melihat Lana masih dalam keadaan sadar dan sedang berusaha menarik nafas. Pemandangan itu membuatnya lega.
"Kaauu\~\~membuatkuu\~\~ kehilangan Ellzaaa\~\~"
Masih dalam suara berdeguk yang menggema, Anja mulai menunjuk kepada Lukas.
Tapi berbeda dengan Lana, Lukas sama sekali tidak merasa takut, dia hanya melihat Anja yang sedang marah dihadapannya.
"Tidak, Ellza meninggal karena kecelakaan dan kecerobohan" kata Lukas dengan tenang.
Anja dengan langkah tertatih mendekat pada Lukas.
"Kauuu menguruu~~~ngku di ~~desa ini!!" teriak Anja sambil berusaha menyerang Lukas.
Tapi Lukas sudah memperhitungkan hal ini, maka ia justru meraih tangan Anja dan menariknya mendekat, dia ingin Anja mendengar jawabanya dengan lebih jelas.
"Tidak!"
Tuduhan Anja berikutnya yang berikutnya juga dibantah Lukas dengan tidak kalah tegas.
"Aku membujukmu untuk tinggal, kau bisa tetap pergi jika memang ingin. Aku tidak akan mencegah atau mencarimu setelahnya. Kau tinggal demi Ellza, kita bertahan untuk Ellza"
"Ellllzaaaa~~~~ Ellzaaaa!!"
Sambil menyerukan nama Diellza, Anja sekali lagi menyerang Lukas. Dan kali ini dia berhasil, karena Lukas lengah, mengira dia akan berhasil membujuk Anja.
"Tidakk!!!" Lana berteriak kencang, ketika melihat tangan Anja terulur ke arah Lukas
Lana sendiri, berusaha berdiri untuk membantunya. Tapi akibat dari serangan Anja yang bercampur dengan hawa dingin, membuat tubuhnya pulih dengan sangat lambat. Dia hanya bisa beringsut beberapa langkah dalam usahanya mendekati Lukas.
"Lepaskan Lukas!!" serunya.
"Mommy..... kau menyakiti ayah!"
Bersamaan dengan teriakan Lana, suara tangisan Diell terdengar dari belakang Lukas.
"Kau menyakiti ayah, lepaskan dia"
Diell terlihat ingin mendekati Lukas, tapi dari tangis dan raut wajahnya, Lana bisa menebak ia sedang merasa sangat takut. Dia takut pada sosok ibunya yang berubah menjadi mengerikan.
"Anja! kau membuat Ellza takut, lepaskan Lukas" seru Lana.
"EEELLZAA~~~"
Bersama seruan itu, Anja tiba-tiba menangis dengan sedu sedan yang menyayat. Seketika amarahnya terlupakan dan melepaskan cekikan pada leher Lukas.
Anja mencoba kembali pada ritualnya, ia beralih menatap kain yang sudah tergantung di langit-langit.
"Jangan Anja---- hah...hah" Nafas Lukas sangat pendek akibat cekikan itu, tapi ia berhasil menahan tangan Anja sebelum dia melangkah.
"Kau hanya menyiksa dirimu sendiri"
"ELLZAA~~" ratap Anja, yang sekarang jatuh terduduk sambil mengulurkan tangan berusaha meraih Diell yang masih menangis di belakang Lukas.
Tapi Diell yang masih takut, tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
"Dia tak akan pernah bisa kembali, walaupun kau melakukan ini berjuta kali. Pergilah Anja!" Lukas memohon dengan sangat lembut.
"ELLZAA~~ MAAF"
Lolongan Anja, semakin keras sekarang.
"Kemarilah sayang" Lukas yang telah sedikit pulih memanggil Diell agar mendekatinya.
Dengan hati yang hancur, Lukas melihat sosok Diell yang terlihat basah.
Penjelasan Lana sangat tepat, sosok Diell terlihat seperti saat dia menemukannya di danau.
"Kau terlihat cantik sekali" kata Lukas mencoba tersenyum, agar tidak membuat tangis Diell lebih menjadi.
"Mommy sangat menakutkan" kata Diell, sambil menghambur dalam pelukan Lukas.
Dan Lukas tak bisa lebih gembira lagi,tak percaya bisa memeluk Diell lagi. Tapi rasa dingin yang mengiringi pelukan itu mengirimkan rasa nyeri kedalam hatinya. Lukas sadar mereka berada di dunia yang berbeda.
"Diell, kau tak perlu takut pada Mommy, dia hanya sedang marah" jelas Lukas, sambil mengelus kepala Diell yang basah.
"Tapi Mommy sangat dingin, dan mommy selalu naik"
Diell menjelaskan dengan polos sambil menunjuk ke arah kain yang digantung oleh Anja.
Dan Anja kembali meraung saat mendengar ucapan Diell.
" EEL~~ZAA"
"Mommy sangat merindukanmu sayang, karena itu ia menjadi marah. Dia sangat ingin bertemu denganmu" jelas Lukas.
"Apakah kau tak ingin menyapanya?" Lukas membujuk Diell, berharap kehadirannya bisa menenangkan Anja.
"Ayo, Ayah akan menemanimu" Lukas mengulurkan tangannya.
Dengan gerakan yang masih ragu, Diell meraih tangan Lukas yang kemudian menuntunnya mendekat pada Anja.
"MAAFKAN MOMMY~~~"
Saat Diell mendekat pada Anja, Lukas dan juga Lana yang telah berhasil menyeret kakinya mendekat, melihat perubahan yang luar biasa.
Sosok Anja tidak lagi terlihat menyeramkan, suara tangisnya yang bergema juga berubah menjadi isak tangis biasa. Hawa dinginnya juga telah jauh berkurang.
"Maafkan Mommy Ellza, Mommy seharusnya menjagamu"
Suara Anja terdengar biasa, tak lagi bergema menusuk telinga.
Tangan Anja terulur pada sosok Diell yang ada di depannya. Diell yang melihat Ibunya telah terlihat lebih normal, langsung mendekat tanpa ragu dan memeluknya.
"Maafkan Mommy"
"Aku ingin menyelamatkan anak kucing yang jatuh di danau Mommy, kau tidak bersalah" kata Diell, sambil mengusap air mata Anja.
"Kau dengar itu, Anja. Tak seharusnya kau berada di sini" suara Lukas terdengar tercekat, karena menahan air matanya di tenggorokan.
"Maafkan aku Lukas, aku seharusnya tak melanggar janjiku hari itu" Anja memandang Lukas dengan rasa bersalah.
Lukas menggeleng, "Itu bukan sepenuhnya kesalahanmu, aku seharusnya memberi perhatian lebih saat kau dalam masa rehabilitasi. Maafkan aku"
"Apakah kau akan naik ke sana lagi Mom? Aku tak suka melihatnya"
Diell merajuk dengan suara khas anak kecil sambil menunjuk ke kain itu lagi.
"Tentu saja tidak, Mommy tidak akan melakukannya lagi" kata Lukas sambil melihat ke arah Anja.
Dan dengan gembira dia melihat bagaimana Anja akhirnya mengangguk.
Tak hanya Lukas, Lana juga menghembuskan nafas lega. Misinya berhasil walaupun tidak berjalan sesuai dengan keinginannya.
Anja tiba-tiba bangun, dan melihat semua yang ada di kamar itu bergantian.
"Apakah kau mau memaafkan Mommy?" tanyanya pada Diell, yang dengan cepat mengangguk.
Dengan senyum yang sangat cantik, Anja berlutut dan mencium dahi Diell.
"Terima kasih sayang" bisiknya, sebelum bagian transparan dari badannya meluas, dan akhirnya menelan dengan utuh seluruh tubuhnya .
Sosok Anja tidak terlihat lagi.
"Apakah Mom pergi?" tanya Diell sambil melambaikan tangan pada udara kosong, tempat Anja tadi berdiri.
"Mommy sangat ingin meminta maaf padamu, karena itu dia marah saat tak bisa bertemu denganmu. Tapi sekarang Mommy telah bertemu denganmu dan meminta maaf, dan tentu saja dia tak lagi marah. Karena itu Mommy bisa bebas pergi dari sini"
Lukas berusaha sejelas mungkin memberikan penjelasan pada Diell.
"Mommy tidak akan ke sini lagi?"
"Apa kau akan sedih karena tak bisa melihatnya lagi" tanya Lukas.
Diell menggeleng, " Aku senang Mommy tak lagi menyeramkan"
"Gadis pintar" Lukas tersenyum puas.
"Lana, apakah Mommy menyakitimu? Jangan marah ya, kata Ayah Mommy sedang kesal"
Diell menghampiri Lana yang sudah jauh lebih baik. Lehernya sudah terasa lebih lega.
"Aku tidak akan marah Diell. Aku justru senang karena Ibumu tak lagi marah"
Diell tersenyum manis mendengar jawaban Lana.
"Kau tidak ingin pergi seperti Mommy?" tanya Lukas, untuk sejenak dia tadi berperang dalam hati.
Lukas tentu saja ingin melihat Diell lebih lama lagi, tapi dia tahu itu bukan langkah yang benar. Dia juga harus bisa melepas Diell.
Tapi Diell menggeleng,
"Aku akan pergi jika Ayah bahagia"
Lukas mencengkeram dadanya, karena tiba-tiba ia merasa seperti ditusuk oleh sebilah pisau. Perkataan Diell hampir membuatnya tidak bisa menahan air mata.
"Aaku bahagia" Lukas menahan berjuta emosi yang ada di dadanya dan berusaha tersenyum lebar dihadapan Diell.
Tapi Diell masih menggeleng, "Ayah bohong!"
"Lukas, kau tak bisa memaksakan keadaan itu. Diell akan mengetahuinya dengan mudah" kata Lana.
Lana sudah menduga keinginan Diell tidak akan mudah terpenuhi. Roh anak kecil yang ditemuinya sebelum ini, selalu mengatakan keinginannya begitu dia mengajak mereka berbicara.
"Aku akan tahu kapan Ayah bahagia, aku akan pergi setelah itu"
Lukas menatap Lana, meminta bantuan. Tapi Lana menggeleng, dia juga tak bisa berbuat apa-apa. Keinginan roh tidak akan berubah, roh seperti Diell tidak bisa dibantu oleh Lana.
"Selesai!!"
Seruan yang tiba-tiba dari dalam kepala Lukas membuatnya tersentak. Dia sama sekali lupa dengan suara itu.
"Aku tahu siapa kau!" Lukas akhirnya paham.
Setelah beban pikirannya terangkat, Lukas dengan mudah menyimpulkan siapa yang telah membantunya.
"Kau berbicara dengan siapa?" tanya Lana sambil memandang sekitar Lukas dengan bingung, ia hanya melihat Diell.
"Kau tetap tak bisa melihatnya?"
Lukas sempat mengira Lana akan melihatnya setelah dia membagi sedikit kekuatan pada dirinya. Lana menggeleng bingung.
"Kabut biru yang mengikuti kemanapun kau pergi adalah Rozh, dia yang membantuku sehingga aku bisa melihat Anja dan Diell " kata Lukas.
"TIDAK!!!!!!!...... Itu tidak mungkin" seru Lana.
Dia menatap Lukas dengan wajah pias.
"Aku tidak pernah melihatnya, kenapa aku tak pernah melihatnya?" Lana, mulai menangis.
Saat pertama kali dia sadar tentang kemampuannya, Lana mencari Rozh.
Tapi dia tidak pernah menemukannya. Setelah pertemuan dengan Hans, dengan lega Lana menganggap Rozh tak memiliki keterikatan apapun pada dunia.
Kenyataan yang diucapkan Lukas, adalah kejutan menyedihkan yang paling tidak diinginkan olehnya.
"Lana, tenanglah" Lukas mengguncang bahu Lana, untuk menyadarkannya dari rasa terkejut.
Dan lagi dia sudah tak ingin melihat Lana menangis, sudah cukup banyak air mata Lana yang tertumpah hari ini.
"Tapi kenapa ia melakukan hal itu? Kenapa dia---Mom?"
Lana semakin tak mengerti sekarang. Rozh tidak akan mungkin menyakiti Ibunya.
Berlawanan dengan keinginan Lukas, air mata Lana justru mengalir dengan lebih deras.
"Dia ingin melindungimu Lana"
Lukas langsung merasa aneh, karena jawaban itu muncul begitu saja di bibirnya. Sepertinya Rozh menghubungkan kesadarannya dengan otak Lukas.
"Melindungi?" sesaat air mata Lana terhenti, karena bingung mendengar jawaban Lukas.
"Saat itu, ibumu bersikeras membawamu kembali ke rumah sakit jiwa, padahal kau sangat membenci tempat itu. Rozh menyerangnya, karena kau menangis saat ibumu mengatakan kau benar-benar gila?" Lukas mengucapkan jawaban Rozh dengan sedikit tak percaya.
Dia tidak percaya Ibu Lana bisa mengucapkan hal seperti itu kepada gadis remaja yang sedang terpukul.
Lukas sangat mengerti kemarahan Rozh, karena dia juga bisa merasakan bagaimana emosinya mendadak naik. Tapi hal itu tidak bisa menjadi alasan bagi Rozh untuk menyakiti Ibunya. Dan tentu saja Lana juga berpendapat sama.
"Kau melakukan itu pada Mom karena dia menyebutku gila?" tanya Lna, dengan lebih pelan.
"Rozh sangat baik Lana, dia hanya tak ingin kau tersiksa lagi di rumah sakit itu"
Kali ini Diell yang mengatakannya.
Diell berdiri di sebelah Lukas dan memandangnya, tapi matanya terfokus pada sesuatu yang ada di dalam tubuh Lukas, Diell bisa melihat sosok Rozh dalam diri Lukas.
"Dia tidak melakukan hal itu dengan sengaja Lana, ia tak tahu jika Ibumu akan tertidur untuk selamanya karena perbuatannya itu. Rozh sangat menyesal"
Lukas terlihat berusaha keras menerjemahkan pikiran Rozh, karena ia sudah mulai gelisah melihat amarah Lana.
Dan perkataan Lukas membuat Lana terhenyak.
Tertidur selamanya, adalah frasa yang digunakannya untuk menjelaskan kematian pada Rozh, saat dia sulit mengerti soal konsep kematian.
Lana akhirnya menjelaskannya dengan kata yang lebih mudah dipahami olehnya.
Cara berpikir Rozh lebih sederhana daripada manusia lainnya, dia hanya bisa membedakan hitam dan putih, tanpa ada abu-abu.
Dia hanya ingin membela Lana, saat ia melihatnya menangis, sesederhana itu.
"Ya... Tuhan!!" Lana menutup wajahnya dengan tangan, sadar dia tak bisa menyalahkan siapapun atas kematian Ibunya.
Seperti Anja dan Lukas, dia hanya bisa menerima bahwa kejadian itu adalah kecelakaan karena kesalahpahaman yang fatal.
"Rozh, bagaimana dengan pemuda yang bernama Aaron?"
Lukas tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Ahhh.... Kalau begitu dia memang pantas menerimanya!" kata Lukas, setelah mendengar jawaban di dalam kepalanya.
"Kenapa dia menyerang Aaron?" Lana masih tak mengerti.
"Pemuda itu merencanakan sesuatu yang jahat kepadamu, dia mencampur bubuk asing pada teh yang dihidangkannya untukmu"
Kaki Lana tak tahan lagi menahan kejutan, sambil tertatih, dia mundur dan menjatuhkan tubuhnya permukaan empuk sofa yang ada di belakangnya.
"Kau tidak apa-apa?" Lukas langsung menyusul Lana duduk. Lana hanya mengangguk pelan mendengar pertanyaan Lukas.
Banyak hal yang ingin ditanyakannya pada Rozh, tapi penjelasannya tentang Aaron, membuatnya sedikit terpukul, dia tidak menyangka Aaron memiliki niat yang sama buruknya dengan Petra.
"Tapi kenapa kau menyerangku?" seolah bisa membaca pikiran Lana, Lukas menanyakan hal yang baru saja terlintas di benaknya.
"Oh... Maafkan aku"
Dua detik setelah Lukas bertanya, dia menunduk sopan sambil meminta maaf pada Lana.
Rohz memunculkan ingatan bagaimana Lukas memojokkan Lana ditembok, saat dia meminta jawaban dari Lana. Perbuatannya itu sangat mirip dengan apa yang dilakukan Petra.
Dan alasan itu cukup bagi Rozh.
Setelah mengerti alasannya, Lukas sadar jika dia sangat keterlaluan saat itu. Karena itu dia meminta maaf.
Dengan senyum pahit, Lukas menjelaskan hal itu pada Lana.
"Rozh....."
Lana kehabisan kata-kata, karena sekali lagi alasan Rozh begitu sederhana tapi masuk akal.
"Rozh, kenapa aku tak bisa melihatmu? Aku ingin melihatmu"
Lana lebih dari siapapun ingin melihat sosok Rohz.
"Rozh berbeda"
Diell menyahut ambil berjalan berkeliling antara Lana dan Lukas.
Dan Lukas kembali kesulitan menerjemahkan jawaban Rozh. Tapi kali ini, karena dia tidak mengerti dengan apa yang coba disampaikan olehnya.
"Kau tak bisa melihatnya karena ia ingin melindungimu?" kata Lukas, setelah bersusah payah mengartikan potongan-potongan informasi dari Rozh.
Seperti Lukas, Lana hanya bisa mengerutkan kening mendengarnya.
"Rozh memilih untuk melindungimu, karena itu ia tak memiliki wujud lagi. Seperti aku, Rozh memiliki kekuatan khusus. Dan Rohz menggunakannya untuk melindungimu, dia akan pergi setelah kau aman"
Diell dengan lidah cadelnya, menjelaskan apa yang dimaksud oleh Rohz dengan lebih baik, dari pada Lukas.
"Kekuatan khusus?"
Lukas masih bingung, tapi Lana sedikit mengerti Diell dan Rohz memang berbeda dengan hantu lain yang pernah ditemui Lana.
"Kami berdua meninggal karena menyelamatkan, karena itu kami mempunyai kekuatan khusus" jelas Diell.
Dan tentu saja ini benar. Diell meninggal karena ingin menyelamatkan seekor kucing.
"Rohz berbeda karena dia bisa menyerang manusia, sedangkan kau berbeda karena bisa pergi sedikit lebih jauh dari hantu lainnya?" tanya Lana pada Diell.
Hantu yang lain tak bisa pergi sejauh Diell.
Diell menempelkan jari telunjuknya pada pipi untuk berpikir sebelum menjawab Lana.
"Bukan hanya itu, aku juga bisa melindungi ayah seperti Rohz melindungimu, aku membuat agar ayah tidur lebih tenang, ayah sering terbangun karena nyanyian Mommy. Aku membuat perlindungan di kamar ayah"
Kali ini Lukas yang tercengang, setelah kematian Diell dan Anja ia memang menderita insomnia yang sangat parah.
Tapi bukankah penyakitnya sembuh karena perawatan Neff? Lagipula ia tidak pernah merasa terbangun karena nyanyian Anja.
"Itu benar Lukas" Lana melihat Lukas kebingungan, dan mencoba menjelaskan.
"Aku tidak bisa mendengar nyanyian Anja saat berada di kamarmu. Karena itu aku memilihnya. Kau mungkin tidak bisa mendengarnya secara langsung, tapi mungkin saja kau sebenarnya terpengaruh dengan kehadiran Anja di kamar ini. Roh Anja sangat kuat"
"Ayah---Rozh ingin kembali pada Lana, kau harus merelakannya. Dia tak bisa kembali jika kau terus menahannya"
Diell memandang Lukas dengan mata galak.
Lukas langsung merasa seperti pencuri yang tertangkap basah, dia bisa merasakan keinginan Rozh, tapi ia mengabaikannya sedari tadi.
Jika kekuatan Rozh kembali pada Lana, dia tak akan bisa melihat Diell lagi. Lukas ingin melihat Diell sedikit lebih lama lagi.
"Aku akan terus disini ayah. Kau tak boleh mencuri Rozh dari Lana"
Lana sedikit terhibur mendengar percakapan itu, karena tak setiap hari kau akan melihat lelaki dewasa mendapat teguran dari gadis berusia enam tahun.
"Senang melihatmu sangat ceria, cantik" kata Lukas, mencoba mengusir kekecewaan dengan senyum simpul.
"Ayah sedang tidak bahagia"
Diell mengerucutkan mulut dengan kesal. Dia bisa merasakan kekecewaan Lukas.
"Maaf, ayah hanya sedih karena tak akan bisa melihatmu lagi"
Lukas mengusap kepala Diell dengan sayang.
Diell memutar bola matanya mendengar itu, "Aku akan ada disini Ayah, dan Lana bisa melihatku. Ayah bisa mengobrol denganku lewat Lana, kau tidak akan meninggalkan ayah lagi bukan?" Diell beralih memandang Lana.
Lana menggeleng sambil tersenyum geli "Kau memang gadis yang pintar" katanya.
Diell sangat ahli membujuk, seperti Lukas, bahkan mungkin lebih mahir.
"Bye...Diell"
Lukas mengelus pipi Diell dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang tangan Lana, sesuai dengan apa yang diminta Rozh.
Lukas kembali merasakan hawa dingin menggelitik, saat dengan lambat, cahaya biru temaram meninggalkan tubuhnya.
"Ayah sebaiknya segera memanggil dokter, Lana akan sangat lelah"
Sebelum sosok Diell menghilang sepenuhnya dari mata Lukas, ia memberi peringatan sambil menunjuk ke arah Lana.
"Apa maksudmu?"
Lukas menoleh memandang Lana, dan melihatnya terkulai lemas di atas sofa, saat kabut biru itu menghilang sepenuhnya merasuk dalam tubuh Lana.
Dan bukan hanya Lana, pada detik yang sama tubuh Lukas tiba-tiba terasa sangat berat.
Dia merasa seperti baru keluar dari laut, setelah berenang berkilo-kilo meter. Tubuhnya sangat letih.Tapi masih bisa mempertahankan kesadarannya selama beberapa saat. Lukas bersyukur karena bisa menemukan ponselnya dengan mudah.
"Help!!"
Hanya itu yang bisa diucapkan Lukas sebelum ia juga kehilangan kesadarannya. Tapi untungnya dia memilih untuk menelpon Neff.