Blue Light

Blue Light
LIMA BELAS



Lukas menatap langit-langit rumah sakit yang berwarna pucat dengan mata kosong.


Dokter sedang sibuk memeriksanya, sambil menanyakan beberapa hal tentang apa yang dia rasakan.


Lukas menjawab dengan seadanya, karena otaknya sibuk memikirkan hal lain. Dia ingin Dokter menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin, sehingga bisa berbicara pada Neff.


Neff sedang berdiri bersandar tak jauh dari ranjang.


Wajahnya muram, dan Lukas tidak menyukainya. Neff jarang berwajah muram kecuali ada sesuatu yang sangat gawat mengganggunya.


"Keadaan anda sudah hampir normal, tapi kami masih perlu melakukan pengamatan lebih lanjut. Jika tetap seperti ini, anda bisa pulang besok" kata Dokter Keller, sambil melepaskan stetoskop dari telinganya.


"Bagus, aku sudah tak sabar lagi! Terima kasih, Dokter" kata Lukas, sedikit terburu-buru, menyiratkan usiran halus untuknya.


Dokter Keller tersenyum penuh pengertian, setelah memberi anggukan sopan pada Neff, dia keluar dari kamar inap Lukas.


"Dimana Lana?" Lukas menanyakan hal pertama yang berputar dibenaknya sedari tadi, seraya mengatur tinggi ranjangnya agar posisi kepalanya bisa lebih tegak, dengan remote yang ada di sebelah ranjang.


Neff langsung mengeluh mendengarnya, itu pertanyaan yang paling tifak ingin dijawabnya.


"Pergi! Aku tak bisa menemukannya. Dia sudah keluar dari Grindelwald entah bagaimana caranya"


Lukas mengepalkan tangannya, menahan rasa frustasi di dada.


Dia kehilangan kesadaran selama dua hari menurut dokter, jadi Lana bisa berada dimanapun saat ini. Sudah sangat terlambat untuk melacak jejaknya sekarang.


"Lana pelarian yang sangat berpengalaman, kau sudah melihat betapa banyaknya jumlah kota yang pernah ditinggali olehnya. Dan sekarang, tingkat kesulitan untuk melacaknya semakin bertambah, karena aku tak bisa menemukan jejaknya dari catatan bank lagi. Semenjak pindah ke Swiss, dia mendapatkan rekening dengan pengamanan maksimal. Pihak bank menolak memberikan catatan transaksi Lana, jika aku tidak membawa surat perintah dari hakim. Surat yang mustahil aku dapatkan, karena Lana tidak melakukan kejahatan apapun. Dan ini, adalah ponsel Lana yang ditinggalkannya disebelahmu."


Neff menyodorkan ponsel Lana kepada Lukas, dia memuntahkan semua rasa frustasi yang dirasakannya dua hari terakhir ini dalam usahanya mencari jawaban soal keberadaan Lana.


"Dia memang tidak melakukan apapun padamu bukan? Ketika dokter mengatakan bahwa keadaanmu persis sama seperti Petra, aku mulai meragukan kepolosan Lana. Apakah dia melakukan sesuatu yang membuatmu sakit?" tanya Neff, tiba-tiba meragukan ketidakbersalahan Lana.


"Aku yang masuk akal, akan menjawab tidak. Tapi aku yang mulai gila, akan menjawab iya" jawab Lukas setelah berpikir selama beberapa saat dengan hati-hati.


"Jawaban macam apa itu?" bentak Neff.


Mulai marah karena masih mendapatkan jawaban tak masuk akal lain, setelah dua hari menunggu Lukas sadar.


"Karena aku melihatnya Neff, cahaya remang-remang berwarna biru yang dikatakan oleh Petra saat di pengadilan, aku juga melihatnya. Dia tidak berbohong atau berpura-pura gila" kata Lukas, menatap Neff dengan seksama, untuk menegaskan keseriusannya.


Neff langsung mengumpat sambil menghempaskan tubuh di kursi di sebelah ranjang Lukas.


Jika bukan Lukas yang berbicara, tanpa ragu Neff akan menganggap hal itu adalah tanda-tanda penyakit kejiwaan.


Tapi Lukas tidak sedang gila, dia pernah melihat Lukas dalam keadaan sedikit gila, namun keadaannya sekarang sangat waras.


"Dia menyebut nama Ellza, dan juga Barnabas"


Neff langsung mengangkat kepala dengan kaget mendengarnya.


"Apa maksudmu? Apa yang sebenarnya terjadi?!!"


Lukas bisa melihat kepanikan menyerbu Neff, apa yang akan mereka bahas setelah ini akan menyerang inti dari setiap ilmu yang dipelajari Neff beberapa tahun kebelakang. Sikap gugup Neff mengisyaratkan gambaran apa yang a menebak apa yang akan dibahas oleh Lukas.


Lukas menceritakan kejadian sore itu dengan lengkap dan detail, sampai saat dia kehilangan kesadaran, ketika sinar biru temaram yang berasal dari tubuh Lana, membuat organ dalamnya terasa seperti tersiram nitrogen cair dan membuatnya sesak nafas.


"Sebelum aku kehilangan kesadaran, dengan jelas aku mendengar Lana memohon kepada seseorang dengan nama Barnabas untuk menolongku" kata Lukas, menutup cerita panjangnya.


Semakin lama mendengar cerita Lukas, posisi duduk Neff semakin merosot. Karena apa yang didengarnya sangat bertentangan dengan akal sehatnya.


Pertama, dari mana Lana tahu soal nama Ellza dan Barnabas?


Kedua, mereka berdua sudah meninggal. Ellza meninggal empat tahun yang lalu, dan  kakeknya Barnabas, meninggal dua tahun kemudian. Lana tidak mungkin bisa meminta tolong padanya.


"Mungkin Joan sudah menceritakan semua apa yang terjadi padamu kepada Lana. Dan dia menyebut nama itu secara tidak sengaja karena panik" kata Neff, mencoba memberi asumsi yang lebih masuk akal.


Lukas meraih ponselnya di meja sebelah ranjang dan memencet nomor Joan.


"Lukas? Kau sudah sadar rupanya. Bagaimana keadaanmu? Dan dimana Lana?"


Seperti biasa, Joan akan menjejalinya dengan pertanyaan, sebelum dia bisa menarik nafas.


"Aku baik-baik saja, Joan. Dan aku tidak tahu dimana Lana" jawab Lukas, mencoba bersabar.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian berdua saat festival? Apa hubungan kepergian Lana denganmu yang jatuh sakit?"


"Aku tak bisa menceritakan apapun karena aku juga tak mengerti kenapa dia pergi. Tolong berhentilah bicara, aku harus bertanya tentang sesuatu" kata Lukas, akhirnya memohon dengan kesal, karena Joan terus mengoceh.


"Apakah kau pernah menceritakan tentang Ellza pada Lana?" tanya Lukas sambil menggigit bibir.


Menyebut nama Diell selalu membuat jantungnya berdenyut menyakitkan.


"Untuk apa aku menceritakan hal menyedihkan seperti itu pada Lana? Dia sudah cukup muram tanpa perlu mendengar cerita sedih. Dan kenapa kau menanyakan hal seperti itu?" tanya Joan, penuh dengan nada heran.


"Apakah kau pernah menceritakan soal nenek kepadanya? Atau paling tidak menyebut namanya di hadapan Lana?" tanya Lukas, tak mengacuhkan pertanyaan Joan.


"Tidak! Aku tak menceritakan apapun soal rumah itu padanya, untuk apa? Lana tinggal sendirian di rumah itu, bisa-bisa ia lari ketakutan jika tahu ada dua orang yang meninggal di rumah itu sebelumnya. Ada apa lagi ini??!"


Joan mulai terdengar tak sabar, karena menurutnya Lukas menanyakan hal yang tidak berguna.


Jawaban yang masuk akal, "Baiklah, terima kasih"


Lukas langsung memutuskan panggilan dan mematikan ponselnya. Joan bisa dipastikan akan menelponnya lagi, saat ini dia tak ingin menjawab apapun pertanyaannya.


"Kau salah! Joan tak pernah menceritakan apapun pada Lana. Dia berbohong padaku ketika mengatakan bahwa ia tahu soal Aubrey dari Joan. Sebelumnya, dengan jelas dia menyebutku sebagai cucu Aubrey. Aku seharusnya bertanya lebih lanjut saat itu " sesalnya.


"Ini gila Lukas!! Gila dan tidak masuk akal"


Neff sudah mengucapkan hal itu berkali-kali tapi terus mengulanginya.


"Gila dan tak masuk akal, tapi menjelaskan semua keanehan Lana"


Lukas melanjutkan kalimat Neff dengan suara lebih pelan. Semua hal ajaib yang dilakukan Lana mendadak menjadi masuk akal.


"Jangan!! Jangan meneruskannya, karena hal itu mustahil" bentak Neff.


Lukas sebenarnya juga tidak suka dengan arah kesimpulan yang akan mereka ambil. Tapi itu satu-satunya jawaban logis yang menjelaskan perilaku Lana.


Lukas sudah membentuk kesimpulan itu, satu detik setelah Lana meneriakkan nama Barnabas.


Walaupun dia sulit untuk mengakui kebenarannya. Kesimpulan itu sangat absurd. Dan mendengar nada putus asa Neff, Lukas tahu, dia sedang memikirkan hal yang sama dengannya.


"Beberapa hari sebelum festival, aku bertemu Lana. Dia terlihat sangat kerepotan karena harus membawa sekotak kentang dan sekantong apel. Aku membantunya membawa kotak kentang itu ke truck Erich. Pada awalnya kami berjalan bersama seperti biasa, tapi Lana mulai aneh ketika rute yang kami ambil melewati menara jam. Dengan kukuh, dia menolak untuk melewati jalan itu, padahal truck Erich terparkir di dekat Melina.  Lana memilih untuk melalui jalan yang lebih jauh. Kami akhirnya memutar menghindari menara jam. Ketika aku bertanya kenapa, dia hanya berkata bahwa dia tak mau lewat di depan menara jam"


"Dan kau menceritakannya karena?" Lukas tak mengerti arah cerita Neff.


"Kau ingat ketika Lana bersikeras untuk tidur di kamarmu saat di Merian?"


Lukas mengangguk, tentu saja dia ingat.


"Sikapnya persis sama dengan saat itu. Aku rasa, dia menghindari kedua tempat itu karena alasan yang sama" ucap Neff dengan enggan, karena akan menyinggung masalah yang sangat sensitif.


"Aku tak mengerti Neff, bicaralah dengan lebih jelas" Lukas mendesaknya dengan tak sabar.


"Aku mengetahui hal ini dengan tidak sengaja. Sehari sebelum festival dimulai aku harus menyelesaikan laporan rumit soal tingkat kejahatan dan kecelakaan yang terjadi di Grindelwald, karena pemerintah ingin mengukuhkan Grindelwald sebagai tempat teraman di bumi menurut catatan Guinness World Record. Untuk itu, aku harus menggali catatan dari seratus tahun sebelumnya"


Lukas sebenarnya sudah tak sabar karena cerita Neff melebar tak tentu arah. Tapi dia menahan lidahnya.


"Aku sangat terkejut ketika menemukan data, bahwa sebelumnya, pernah terjadi peristiwa bunuh diri di menara jam itu. Kira-kira 45 tahun yang lalu. Seorang pemuda melompat dari sana dan langsung tewas menghantam tanah dengan tubuh rusak."


Neff mengangkat tangannya mencegah Lukas berbicara, karena dia belum selesai menjelaskan.


"Aku tahu ini mengerikan. Dan bisa saja hanya kebetulan, tapi aku telah meneliti dari semua sudut untuk mencari kesamaan dari kedua tempat itu, dan hanya ini yang berhasil aku temukan. Tapi tentu saja, saat itu aku menertawakan fakta ini. Dan aku berharap kau akan mengatakan hal ini hanya kebetulan semata"


Sayangnya harapan Neff hancur, karena Lukas justru terlihat memikirkan perkataannya dengan serius. maka Neff melanjutkan penjabarannya lagi.


"Aku juga sempat curiga mungkin saja ada yang memberitahu Lana soal Anja, dan juga tentang pemuda malang itu. Tapi di dunia ini, hanya ada tiga orang yang tahu, tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Anja di kamar itu. Dan aku yakin tak satupun dari kita, yang dengan waras akan bercerita pada Lana soal hal itu, dan aku bertaruh dengan segala kekayaan yang aku punya, bahwa Darla juga tidak"


Lukas menutup wajahnya dengan tangan, karena penjelasan Neff terdengar mengerikan, tapi sekali lagi terdengar sangat masuk akal jika benar adanya.


Wajah Neff langsung mengkerut tak suka.


Dia kesal karena Lukas berpikir bisa menemukan sesuatu yang terlewatkan olehnya. Dia sendiri sudah memeriksa catatan itu puluhan kali. Dan juga, karena itu berarti dia harus melanggar salah satu hal peraturan psikiater yang paling mendasar soal membagi info pasien pada orang lain.


"Aku meninggalkannya di kantor. Tapi aku sudah hampir menghafal semua isinya" ujar Neff dengan malas.


Tapi kemudian dia kembali duduk untuk menjelaskan.


"Lana mendapatkan perawatan dari psikiater untuk pertama kalinya saat berumur tiga belas tahun. Di sana tertulis Lana menderita halusinasi akut yang membuatnya tidak bisa tidur, selama berhari-hari. Dokter dengan cepat mendiagnosanya sebagai schizophrenia yang disebabkan oleh shock akibat kematian adiknya beberapa minggu sebelumnya".


"Tapi mereka melupakan satu hal, Lana terlalu rasional. Dia sangat sadar ketika sedang berhalusinasi. Penderita schizophrenia biasanya tidak bisa lagi membedakan mana yang merupakan dunia nyata dan mana yang halusinasi. Sedangkan pada catatan itu, dengan detail menjelaskan, Lana melihat sosok orang-orang yang seharusnya tidak ada. Lana dengan pasti menyebut dirinya sedang berhalusinasi. Aku tidak pernah mendengar hal seperti ini, dan aku yakin para dokter itu juga belum, mereka seharusnya tidak secepat itu memutuskan jenis pengobatan yang akan dilakukan kepada Lana"


Neff menggeleng dengan simpatik, membayangkan penderitaan Lana saat itu.


"Obat schizophrenia memiliki efek samping yang sedikit mengerikan, termasuk kejang-kejang, tremor, gerakan otot yang tidak terkendali, sampai kegelisahan yang akut. Tidak masalah jika memang pasien membutuhkannya, padahal Lana tidak. Dia meminum obat seperti itu selama berbulan-bulan, tanpa menunjukkan perkembangan yang berarti. Setelah itu, orang tuanya memutuskan untuk memasukkan Lana ke rumah sakit jiwa, dengan harapan ia akan mendapatkan perawatan yang lebih intensif"


"Tapi keputusan itu seolah menjadi bumerang, file itu menyebut halusinasi Lana semakin menjadi-jadi saat berada di rumah sakit Jiwa. Lana terlihat normal saat siang. tapi saat matahari mulai terbenam, Lana berteriak-teriak histeris dan menolak untuk berada di sana. Lana hanya akan diam, ketika dokter menyuntiknya dengan obat tidur. Jika efek obat itu habis sebelum matahari terbit, dipastikan Lana akan kembali histeris. Dokter akhirnya bertindak ekstrim dan membiusnya setiap hari sampai matahari terbit"


Lukas meremas selimut dengan sangat erat. Wajahnya memanas, dan penglihatannya menjadi buram. Dadanya dipenuhi dengan gemuruh rasa simpati dan marah. Membayangkan Lana terikat di ranjang rumah sakit dan harus mengalami semua itu, meremukkan hatinya.


Ingatan tentang bagaimana Lana terlihat begitu mengenaskan, saat menangis sambil memeluk lututnya di Merian, semakin memilin hati Lukas. Dan Lana harus mengalaminya setiap hari, tanpa bisa menghindar.


"Bagaimana bisa mereka melakukan hal itu? Itu tidak manusiawi" Lukas mengusap wajahnya untuk menyembunyikan kesedihan.


"Aku juga hampir muntah saat membacanya. Tapi mungkin menurut mereka itu yang terbaik" kata Neff, sambil menepuk tangan Lukas pelan.


"Tapi semua itu berakhir dengan begitu saja. Tiba-tiba suatu pagi Lana menjadi tenang. Dia masih gampang terkejut, dan kadang melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Tapi dia normal, apalagi setelah meminta sesuatu yang kau sudah tak asing lagi, yaitu dia ingin berpindah kamar"


"Apakah kau menyelidiki soal apa yang terjadi di kamar itu?"


"Aku mencobanya. Setelah kau pingsan dengan kondisi yang sama persis dengan Petra, aku kehabisan ide untuk mengambil kesimpulan, dan mencoba mencari jawaban dari sudut yang paling tidak mungkin. Tapi tempat itu adalah rumah sakit jiwa. Catatan pasien yang meninggal dengan bunuh diri dengan mudah bisa mengalahkan ketebalan catatan medis Lana"


"Mengerikan!! Horor macam apa yang dilihat Lana setiap harinya?" Lukas tanpa sadar menggosok kedua lengannya karena bulu kuduknya berdiri.


"Mmmm--- apakah kita setuju untuk mengakui ----'hal itu'?" Neff dengan panik mondar-mandir di sekeliling kaki ranjang.


Dia adalah psikiater handal, dan juga polisi yang terbiasa menyimpulkan sesuatu berdasarkan bukti dan fakta.


Dan kali ini Neff merasa dikhianati, karena bukti dan fakta yang ada, justru membawanya ke kesimpulan yang berada di luar nalar manusia. Neff tentu saja kesulitan mengakuinya,


Lukas juga sama, tapi dia yang menyaksikan bagaimana Lana berubah dengan drastis saat matahari terbenam. Ia yang tahu bagaimana menderitanya Lana menghadapi semua itu. Dan ia sendirian menghadapinya. Bagaimana bisa Lana sendirian jika orang tuanya masih hidup?


"Apa yang terjadi setelah Lana dinyatakan membaik?" tanya Lukas, ingin mendengar lanjutan kisahnya.


"Begitu Lana tidak memperlihatkan tanda-tanda masih melihat halusinasi. Dokter memulangkannya. Selama kurang lebih 3 bulan dia hidup bersama orang tuanya. Tapi kemudian, dokter menerima telepon dari ibunya yang mengatakan bahwa penyakit Lana kambuh. Dokter tentu saja langsung menyarankan agar Lana dibawa ke rumah sakit kembali. Tapi kemalangan lain menimpa Lana, ibunya meninggal karena serangan jantung keesokan harinya, sebelum ia sempat membawa Lana kesana. Kem----"


"TUNGGU!! Kau bilang serangan jantung? Apakah ini juga serangan jantung seperti yang kita tahu? Seperti aku dan Petra?" Lukas membelalakkan mata dengan kaget.


Neff menepuk lututnya dengan keras "Aghhhh... aku bodoh sekali!! Kenapa aku tidak berpikir ke arah situ?!!" kutuknya dengan kesal.


Neff menarik ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Weber, aku ingin kau mencari catatan kematian seseorang, dia berasal dari New York. Aku akan mengirim detail identitasnya lewat pesan. Dan aku ingin laporan yang sangat mendetail. Jika dia meninggal karena sakit, kau harus tahu dengan persis apa gejalanya. Jika perlu kau bisa menelpon dokter yang merawatnya, berilah alasan yang masuk akal. Mengerti?!"


Weber adalah salah satu polisi kepercayaan Neff.


"Kau tak perlu tahu untuk apa! Kerjakanlah seperti biasa" ujar Neff dengan sedikit keras., kemudian memutus panggilan itu.


"Apa kau baru saja menyalahgunakan kekuasaanmu?" kata Lukas.


"Ya, dan akan aku ulangi jika perlu. Lana adalah kasus---unik, aku harus memaksimalkan semua sumber daya yang aku punya. Kau keberatan?" Neff terdengar kesal.


"Tidak, kau boleh menyalahgunakan kekuasaanmu lebih banyak lagi dengan meminta surat perintah dari hakim" desak Lukas.


"Yang kau minta itu bukan penyalahgunaan kekuasaan, tapi keajaiban. Hakim akan meminta lanjutan dari kasus itu nantinya. Apakah kau ingin mengubah Lana menjadi buronan? Tentu saja dengan status itu, dia bisa lebih mudah ditemukan. Tapi polisi yang menangkapnya sudah pasti akan memenjarakannya sebelum kita datang. Kau tega membuat Lana menghabiskan malamnya di penjara? Haaa..?"


Neff rupanya telah sampai batas stress yang bisa ditanggungnya. Dia marah.


Lukas sangat jarang melihat Neff marah, tapi keadaan Lana yang 'istimewa', menekan tombol amarahnya dititik yang rawan.


Lukas akhirnya menggeleng. Menemukan Lana dengan lebih cepat terdengar menggiurkan, tapi jika itu berarti Lana harus menghabiskan malam di penjara, Lukas lebih baik menunggu.


"Kenapa dia memilih untuk pergi?" tanya Lukas, tidak kepada siapapun, karena hanya Lana yang bisa menjawabnya.


"Pilihan apa yang dipunyainya? Dia pasti bosan mendengar orang lain menuduhnya gila. atau mungkin malah mencoba memasukkannya kembali ke rumah sakit jiwa. Dia melarikan diri untuk menghindari itu semua" Neff mencoba menebak jawaban dengan mempertimbangkan sifat Lana.


"Apakah karena itu dia mencoba untuk menghindari interaksi dengan orang lain? Agar tidak ada yang menganggapnya gila?"


"Mungkin, dan itu sangat menyedihkan. Dia harus hidup dalam kesendirian selama bertahun-tahun. Dan aku tak bisa lebih kagum lagi karena Lana tetap bisa menjaga kewarasannya setelah semua itu. Manusia adalah makhluk yang membutuhkan hubungan sosial. Membutuhkan tekad dan juga hati sekuat baja untuk memutus hubunganmu dengan manusia"


Neff ingin bertepuk tangan untuk Lana sekarang.


"Atau mungkin ia mengkompensasi kebutuhan itu dengan berhubungan dengan makhluk selain manusia" Lukas akhirnya mengucapkannya.


"F*ck You!! Tak perlu mengucapkannya keras-keras" Neff langsung mengumpat.


Dia tahu kesimpulan yang mereka ambil mendekati sempurna, tapi ia merasa ilmu yang dipelajarinya menjadi sampah jika mengakuinya.


"Lana---bisa--melihat--dan --berkomunikasi--dengan --roh--manusia--yang --sudah--meninggal!"


Lukas mengucapkan satu-persatu dengan pelan dan jelas. Selain untuk memberi pelajaran pada Neff karena sudah mengumpat padanya, juga untuk membuat dirinya sendiri terbiasa.


Kenyataan tentang Lana aneh dan tidak masuk akal.


Tapi Lana adalah Lana, dan dia akan membawanya kembali. Lukaa tidak akan membiarkan Lana menjalani kehidupan mengerikan seperti itu sendirian.


Lukas ingin memberitahu Lana bahwa dia tidak akan pernah menganggapnya gila.


Dan bahwa ia juga mencintainya.


 


 


------------0O0-------------


 


 


Lana menepis tumpukan salju yang ada di sepatu boot berwarna hitam yang dipakainya. Tumpukan salju yang ada di jalan yang menuju tempat tinggalnya sangat tebal.


Tapi Lana tak punya waktu untuk membersihkannya. Pekerjaannya yang baru hanya menyisakan waktu luang untuk tidur.


Saat ini, selain bekerja di sebuah restoran kecil seperti sebelumnya, Lana juga mengambil pekerjaan paruh waktu di sebuah museum sebagai tenaga kebersihan.


Restoran tempatnya bekerja hanya buka saat sore hari, sampai malam. Gajinya tidak akan mencukupi untuk ditabung,  sehingga Lana memutuskan untuk mencari pekerjaan tambahan.


Dengan dua pekerjaan itu, Lana bisa dengan tenang menabung penghasilannya dari restoran setelah dikurangi uang sewa.


Dia menggunakan gajinya dari pekerjaan paruh waktu untuk makan. Bahkan juga kadang juga bisa sebagai tambahan membayar uang sewa, jika ia bisa bertahan memakan roti tanpa keju.


Tapi setelah tinggal di Grindelwald, air liur Lana selalu terbit dengan tak terkendali setiap melihat keju. Dia kadang membelinya jika sedang ingin menyenangkan hati.


Bobot tubuhnya juga mulai menyusut drastis, begitu dia meninggalkan Grindelwald dua bulan yang lalu. Pipinya kembali cekung, dan beberapa bajunya menjadi sangat longgar,


Tapi Lana tidak mempermasalahkan, tidak penting bagaimana penampilannya, tidak ada yang memperhatikan.


Kali ini Lana memastikan tidak berbicara jika tidak sangat penting. Lana hanya bekerja tanpa menyapa siapapun, dan juga tak menanggapi sapaan siapapun.


Dan lagi dengan dua pekerjaan itu, dia memastikan tubuhnya sudah sangat lelah saat sampai dirumah. Lana membutuhkannya untuk mengurangi mimpi buruk. Diell, Aubrey dan juga Lukas hampir setiap malam muncul di mimpinya.


Dengan tubuh yang lelah, Lana juga tidak sempat untuk memikirkan rasa rindunya pada Lukas yang menyiksa.


Bekerja keras adalah jawaban Lana untuk mengurangi dukanya.