
"Kau yakin ini alamatnya?" tanya Neff, sambil melihat keadaan sekeliling dengan wajah ragu.
Tempat itu sedikit kumuh dan mencurigakan, jika dibandingkan dengan keindahan kota Luxembourg yang tadi mereka lewati.
"Menurut peta kita berada ditempat yang tepat" kata Lukas, sambil memeriksa peta di ponselnya sekali lagi.
Tapi dia benar, tanda merah yang mereka tuju memang bangunan tua ini.
"Apa tidak sebaiknya kita menunggu pagi? Dia pasti sudah tidur" bisik Neff, saat mereka berjalan masuk ke lorong yang memisahkan beberapa plot apartemen studio di gedung itu.
Waktu saat ini menunjukkan tengah malam telah lewat beberapa menit.
Perjalanan mereka sedikit terhambat karena badai salju mengacaukan jadwal penerbangan.
Lukas berhenti melangkah dan berbalik menatap Neff. Dia tidak bersuara sedikitpun, tapi Neff mengerti arti pandangan Lukas itu.
Mata Lukas kurang lebih berarti 'jika kau mengatakan hal seperti itu lagi, aku akan membunuhmu'.
Setelah sampai di depan pintu, Lukas tiba-tiba merasa gugup. Dia tidak tahu harus berkata apa jika bertemu Lana. Mereka berpisah pada situasi yang tidak menyenangkan.
TOK TOK TOK!!
Tangan Neff terulur dari belakang Lukas, dan mengetuk pintu Lana.
Lukas menatapnya dengan mata melotot.
"Kita sudah sampai disini dan sekarang kau baru berpikir?!" ejek Neff.
Lukas sudah ingin menginjak kaki Neff, tapi sadar, ini bukan saat yang tepat bagi mereka untuk bertengkar.
Lukas kembali menghadap ke pintu dengan tegang, menunggu Lana membuka pintu. Tidak ada suara apapun yang terdengar dari dalam.
"Dia sudah tidur!" tukas Neff, mengutarakan tebakannya lagi.
"Lana sangat mudah terbangun, ketukan tadi seharusnya membangunkannya" Lukas mengangkat tangannya dan mengetuk pintu itu sekali lagi.
Dan masih sama, hanya suara gema yang menyahut.
"Dia pasti belum pulang, apa yang dilakukannya di luar sana?" Lukas menghentakkan kakinya ke lantai.
Lana adalah wanita, tak sepantasnya ia masih berkeliaran di luar tengah malam begini.
"Kita akan menunggu?"
Lukas mengangguk,"Tentu saja!"
Tapi begitu mulutnya tertutup, angin dingin yang mengandung butiran salju berhembus ke arah mereka. Membuat mereka berdua merapatkan mantel secara bersamaan.
Mereka berada di lorong dengan atap kokoh, tapi tempat ini sama dinginnya dengan di luar, karena tidak ada pintu yang memisahkan mereka dengan udara luar. Mereka bisa terkena hypothermia jika berdiri di situ lebih lama lagi.
"Minggir!" kata Neff, mengusir Lukas dari depan pintu.
Lukas yang bingung, menurutinya begitu saja.
Neff merogoh kantongnya, dan mengeluarkan dompet yang berisi lencana polisi miliknya. Dari belakang lencana ia menarik besi pipih sepanjang jari telunjuk, kemudian berjongkok menghadap ke lubang kunci.
"Untuk apa kau membawa benda seperti itu?" Lukas tak habis pikir.
"Lebih baik kau tak tahu alasannya" jawab Neff dengan nada misterius.
Lukas sudah akan mengacau rambut Neff dengan tangannya, ketika suara dentingan pelan terdengar.
Neff membuka pintu itu dalam waktu kurang dari semenit. Lukas sangat yakin ini bukan pertama kalinya Neff melakukan hal seperti itu.
"Kau polisi bukan?"
Menurut Lukas sangat ironis, jika ternyata Neff justru sangat ahli membobol kunci seperti pencuri.
"Tentu saja, dan jangan memandangku dengan mata curiga seperti itu. Percayalah, aku selalu menggunakan keterampilan ini untuk menyelamatkan seseorang" kata Neff sambil menjulurkan lidahnya.
"Saat ini juga kau hitung sebagai menyelamatkan?"
"Ya, kita sedang menyelamatkan Lana dari kehidupan yang menyedihkan"
Neff menangkis tuduhan Lukas dengan lihai, kemudian memutar kenop dan pintu itu terbuka.
Dengan ragu Lukas mengikuti Neff melangkah masuk, ia masih tidak yakin dengan legalitas perbuatan mereka.
Tapi bagi Lukas memang lebih baik mereka menunggu di dalam. Selain untuk menghindari udara dingin, kesempatan Lana untuk lari lebih kecil jika mereka sudah ada di dalam rumahnya.
Lana meninggalkan kamarnya dalam keadaan lampu yang menyala terang.
Lukas ingat, Lana tidak pernah suka dengan kegelapan, dia selalu tidur dengan lampu menyala. Mungkin itu ada hubungannya dengan kemampuannya yang istimewa.
"Ini benar tempat Lana bukan? Bagaimana jika kita salah?" Neff mulai khawatir, dia akan mendapat masalah besar jika ternyata mereka salah.
Seperti umumnya studio apartemen, ruangan itu terbuka lebar tanpa ada penyekat yang memisahkan ruangannya kecuali untuk kamar mandi.
Dari pintu, mereka bisa ranjang besar di sudut barat, di seberangnya terdapat dapur kecil dengan kulkas berwarna biru.
Tak jauh dari dapur, meja makan dengan dua kursi memenuhi sebelah timur ruangan. Sofa tua teronggok di bawah jendela.
Ruangan itu hanya berisi benda-benda umum tadi, tidak menunjukkan benda pribadi yang bisa menunjukan identitas si empunya. Neff tak bisa mengatakan dengan tepat apakah ini apartemen kamar Lana.
"Ini apartemen Lana" kata Lukas dengan yakin, dia melangkah mendatangi meja kecil di sebelah ranjang, dan mengangkat pajangan mungil yang ada di sana.
Itu adalah snow globe yang dibelinya untuk Lana.
"Kau yakin?" tanya Neff.
Lukas mengangguk," Aku yang membeli benda ini"
Lukas menggoyang pelan snow globe itu dan tersenyum puas. Harapannya kali ini tidak akan kandas, karena dia sudah berada di tempat yang tepat.
"Baguslah, sekarang lebih baik kita menunggu dia pulang" kata Neff sambil mencoba menyamankan diri dengan duduk di atas sofa.
Setelah meletakkan benda itu pada tempatnya kembali, Lukas berjalan ke seberang ruangan dan mengikuti Neff duduk di sofa.
"Terima kasih untuk semuanya" ucap Lukas dengan tulus kepada Neff.
Dia tak akan sampai sejauh ini tanpa bantuannya. Neff sudah banyak membantunya sejak sebelum Lana menghilang.
"Jangan bersikap sopan yang berlebihan, kau ingin aku memuntahkan makan malamku lagi?" kata Neff, dengan nada jijik, tapi mulutnya tersenyum.
"Dan juga untuk pengertianmu" kali ini Lukas memandang Neff dengan penuh arti.
"Apa maksudmu?" Neff bertanya dengan nada biasa, tapi Lukas bisa mendengar nada gugup yang mencoba disembunyikannya.
"Aku tahu kau juga----menyukai Lana" kata Lukas dengan lugas.
Neff akhirnya menyerah, dia tersenyum dan menyandarkan punggungnya pada sofa.
"Sejelas itukah?" tanyanya.
"Sebenarnya tidak, tapi kita sudah saling mengenal selama puluhan tahun. Tentu saja aku tahu"
"Ck...Ck. Ini kedua kalinya kita tertarik pada wanita yang sama" kara Neff sambil tertawa geli. Selera mereka berdua soal wanita bisa dikatakan mirip.
"Maksudmu setelah Grace? ayolah itu hanya cinta monyet, Neff" tapi Lukas ikut tertawa mendengarnya.
Dia masih mengingat bagaimana mereka berebut untuk mendapatkan perhatian Grace, gadis tetangga Neff.
Kehadirannya membuat Lukas dan Neff berkelahi untuk pertama kalinya. Neff meninju hidung Lukas sampai berdarah, sedangkah Neff mendapat oleh-oleh bibir pecah karena Lukas menendangnya.
Aubrey sangat murka saat melihat mereka berdua terluka, lalu menghukum mereka, selama dua hari hanya boleh memakan roti.
Tentu saja pertengkaran itu tidak bertahan lama, karena Grace akhirnya pindah mengikuti orang tuanya ke negara lain.
"Kau memang baik pada umumnya, tapi kau sudah berbuat ekstra dengan mengikutiku pindah ke kabin itu. Saat itu aku tahu, kau memiliki perasaan yang lebih untuk Lana" kata Lukas.
"Dan aku tahu kau tertarik pada Lana, sejak kau ingin membawanya pulang ke Merian dari rumah sakit. Kau baik pada umumnya, tapi perbuatanmu sudah jauh melebihi ekstra" balas Neff sambil tertawa geli,
"Ahh... ya. Aku saat itu juga sangat heran kenapa ingin melakukannya"
Lukas menyisir rambutnya, kemudian mengikuti Neff menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Lana terlihat rapuh, tapi sekaligus berani. Dan semakin mengenalnya, Lana tidak pernah gagal membuatku semakin terpesona"
Lukas mengingat bagaimana dengan tegas Lana mempertanyakan soal keberadaannya di Merian.
"Lana masuk di jajaran orang paling berani yang pernah aku kenal. Aku orang yang sangat rasional, aku tidak yakin bisa tetap hidup jika menjalani semua hal yang menimpanya"
Neff bertepuk tangan kecil mengapresiasi Lana.
CEKLEK.. BLAG!!!
Suara pintu yang terbuka dengan brutal membuat mereka berdua kaget dan dengan otomatis berdiri. Karena terlalu sibuk mengobrol, mereka berdua tidak mendengar suara langkah kaki Lana mendekat.
"Tidak malam ini Chantal, maaf. Aku harus tidur. Aku berjanji akan mendengarkanmu besok"
Lukas sudah akan bersuara untuk memberitahu Lana soal keberadaan mereka, tapi niatnya terhenti, karena Lana jelas sedang berbicara dengan sesuatu yang tak bisa mereka lihat.
"Chantal, berhenti bicara. Please! Aku hanya memiliki waktu tidur tiga jam sebelum pekerjaan pagiku dimulai!"
Suara Lana terdengar sangat letih, dan tanpa dinyana, Lana mulai membuka kemeja yang dipakainya begitu saja.
Lukas secepat kilat menutup mata Neff dengan tangannya, dan tentu saja dia juga menutup matanya sendiri.
"Apa maksudmu dengan orang asing? Please... aku hanya ingin tidur dengan tenang Chantal" suara Lana kembali terdengar.
Sepertinya makhluk apapun yang tak bisa dilihat oleh Lukas dan Neff, sedang mencoba memperingatkan Lana soal kehadiran mereka di dalam kamar, tapi Lana terlalu lelah untuk mendengarkan.
Lukas dan Neff diam sempurna tanpa berani bergerak.
Lana rupanya tidak memperhatikan sekelilingnya dengan baik. Dia masih tidak menyadari kehadiran dua makhluk asing di kamarnya.
Mereka terlihat dengan jelas, tapi Lana mungkin tidak pernah membayangkan akan ada orang yang menyelinap ke kamarnya.
Udara yang dingin tidak menghentikan Lukas untuk berkeringat dengan gugup. Dia terlalu takut untuk bersuara pada saat yang tidak tepat, tapi juga tak tahu harus bersikap bagaimana jika Lana melihat mereka.
Lukas tak tahu sudah berapa lama mereka berdua berdiri dalam diam, karena sekarang ruang apartemen itu sangat sunyi.
Dengan pelan Lukas mencoba membuka mata, dan tentu saja Neff juga menurunkan tangan Lukas dari wajahnya setelah merasakan gerakan.
"Dia sudah tertidur?" bisik Neff dengan heran.
Lana sudah berbaring di ranjang, dan mereka bisa mendengar nafasnya yang teratur. Hanya berselang tiga menit dari saat Lana masuk tadi, dan kini ia sudah nyenyak
"Bagaimana bisa?!" Neff masih tak percaya.
Lukas menempelkan telunjuk ke mulutnya, memberi isyarat agar Neff tidak bersuara dengan berisik.
Dia mungkin ingin menemui Lana, tapi tak akan tega membangunkannya sekarang, wajah Lana pucat menandakan keletihan.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Tidur!" jawab Lukas. Dia akan menunggu pagi. Tak akan ada gunanya jika nantinya dia malah akan membuat Lana sakit karena tidak bisa beristirahat.
"Kita tidak akan membahas siapa Chantal yang tadi disebut oleh Lana?"
"Kau ingin membahasnya? Aku tidak!" kata Lukas dengan tegas.
Membayangkan ada seseorang yang tak bisa dilihatnya berada di dalam ruangan yang sama membuat Lukas merinding, lebih baik dia tidak mengingat hal itu.
Mendengar itu, Neff langsung menghempaskan tubuhnya kembali ke sofa. "Mungkin bukan ide yang bagus kita menyelinap seperti ini" kata Neff, tapi dia sudah menutup matanya mencoba untuk tidur.
"Hmmm..." Lukas menanggapinya setengah hati. Perhatiannya sudah teralihkan sepenuhnya pada sosok Lana di ranjang.
Lukas melangkah mendekati salah satu kursi makan dan memindahkannya dengan sangat perlahan.
Dia sudah melepas sepatunya tadi. Kakinya yang hanya terbalut kaos kaki melangkah tanpa suara melintasi kamar Lana.
Lukas menaruh kursi itu di sebelah ranjang Lana, dari sana dia bisa dengan mudah menikmati wajah yang selama ini dirindukannya,
Lukas merasakan tusukan menyakitkan saat melihat pipi Lana kembali cekung. Lana kehilangan banyak berat badan. Lukas mendecak dengan tak sabar, lalu mengulurkan tangan dan mengusap pelan pipi pucat itu.
"Kau terlalu menyiksa diri Lana" kata Lukas dengan sedih.
"Maafkan aku..."
Lukas tersentak dan menarik tangannya hampir seketika.
Mengira Lana terbangun karena sentuhannya. Tapi mata Lana masih terpejam erat. Rupanya Lana hanya mengigau seperti biasanya.
Kenapa dalam mimpi dia selalu meminta maaf? batin Duke.
"Maafkan aku----Lukas" dan air mata Lana perlahan turun.
Lukas hanya bisa tertegun saat Lana menyebut namanya. Tapi kemudian air mata Lana, memberinya tusukan rasa sakit yang lain.
"Kau tidak bersalah Lana, Kau tak perlu meminta maaf" bisik Lukas, berharap suaranya bisa menembus mimpi Lana.
Dengan lebih berani, Lukas menggenggam tangan Lana yang tergeletak di luar selimut.
Dia senang ketika melihat Lana tidak terganggu dan tangisnya berhenti. Nafas Lana juga lebih teratur.
"Sweet dream girl" Bisiknya.
------------0O0-------------
Lukas bangun dengan tersentak, ketika merasakan gerakan.
Punggungnya berteriak kesakitan saat dia berdiri. Posisi tidur yang tidak nyaman mengakibatkan seluruh badannya pegal.
Saat mengangkat kepalanya, Lukas terkesiap, seperti mendapat serangan jantung mini. Untunglah dia sudah menutup mulutnya dengan tangan sebelum rasa terkejutnya menjadi teriakan.
Ini kedua kalinya dia melihat Lana, dalam pose mengerikan.
Lana sudah bangun dan dalam berada posisi duduk di atas ranjang, tapi yang membuatnya kaget adalah, rambut panjang Lana yang terurai menutupi seluruh wajahnya dengan berantakan.
Apalagi Lana sama sekali tak bergerak.
"Apakah dia sudah bangun?" bisik Neff dengan heran, dia juga sudah bangun dan berdiri tak jauh dari pintu kamar mandi yang baru saja digunakannya.
Lukas mengangguk dengan perlahan, tapi kemudian menjadi tak yakin.
Bukankah seharusnya Lana berteriak saat melihatku? batin Lukas.
"Lana?" panggil Lukas pelan.
"YA!" sahut Lana dengan cepat, punggung Lana menjadi tegak sekarang, dan rambutnya juga tersibak karena sentakan saat kepalanya terangkat.
Jawaban itu membuat Lukas teringat akan sesuatu. Kebiasaan linglung aneh Lana, setiap kali dia bangun tidur.
Lukas tersenyum mengerti, "Lana, lebih baik kau mandi dan bersiap"
Dan seperti dugaannya, Lana menuruti perkataannya dengan langsung menyibak selimut, turun dari ranjang, dan berjalan menuju kamar mandi tanpa melihat ke arah Lukas maupun Neff yang berdiri di sebelah pintu kamar mandi.
"Apa--itu--tadi?" Neff mengeja pertanyaannya karena merasa sangat bingung.
"Aku sudah pernah menceritakan padamu bukan? Lana lambat dalam memproses saat dia baru bangun tidur. Dan kau melihat buktinya barusan"
Lukas terkekeh, sambil mengangkat kursi makan dan mengembalikannya ke tempatnya semula.
"Itu tadi nyaris seperti berjalan sambil tidur!" kata Neff
"Benarkah?" Lukas tidak pernah berpikir seperti itu.
Neff mengangguk. "Mungkin efek samping dari obat yang diminumnya dulu, atau bisa jadi karena jam tidur yang kurang"
"Aku berharap penyebabnya hanya jam tidur yang kurang" kata Lukas, karena lebih mudah diperbaiki.
"Aku juga berharap begitu" Neff kembali mengangguk. "Kita akan menunggunya selesai?" tambahnya.
"Kenapa kau selalu bertanya hal yang sudah pasti dari kemarin? Membosankan!" kata Lukas sambil berdiri dan menghampiri kulkas. Dia ingin membuat kopi atau mungkin teh, yang akan membantu tubuhnya agar merasa lebih segar.
Tapi hanya mendapati roti tawar keras dan setoples selai berwarna merah di sana.
Menilik dari bersihnya kulkas Lana, Lukas curiga, hanya dua benda itulah yang mengisi kulkas itu semenjak awal.
Pantas saja tubuhnya kembali kurus, batin Lukas, paham.
"Aku akan membeli sesuatu di luar" kata Neff, ia sudah berdiri di belakang Lukas dan menatap isi kulkas dengan lesu.
"Bisa-bisa kita mati kelaparan" tambahnya.
Dan Lukas setuju, makanan terakhir mereka adalah pasta dingin yang disediakan oleh maskapai.
Neff keluar dari apartemen Lana, meninggalkan Lukas yang akhirnya menemukan beberapa kantung teh yang terlihat dalam keadaan baik di kabinet.
Dalam hati Lukas berharap kantung teh itu adalah milik Lana, bukan peninggalan seseorang yang dipanggil Chantal itu.
Lukas membuat 2 gelas teh dan meletakkannya di meja makan. Ia ingin membuat tiga, tapi ia hanya menemukan dua buah gelas di sana.
Lana telah memberi arti baru soal menata rumah dengan minimalis pada Lukas.
Lukas kemudian duduk dan menunggu Lana keluar dari kamar mandi.
Dan setelah beberapa menit yang menyiksa, pintu kamar mandi itu terbuka.
Dan Lukas mengumpat dalam hati, karena Lana keluar dari sana terbalut handuk yang hanya mampu menutupi separuh pahanya.