
Lana memandang ponselnya dengan termangu, karena masih tidak percaya dia baru saja meng-iya-kan ajakan Lukas.
Aku pasti benar-benar gila!! Lana meneriakkan rasa putus asanya dalam hati.
Lana ingin tetap bersikukuh menolak, tapi Lukas bukan lawan yang enteng untuk diajak berdebat.
Segala alasan yang diutarakan Lana ditangkisnya dengan mudah. Setelah menghabiskan hampir dua puluh menit berbantahan, Lana kalah telak dan menyerah.
Lana hanya bisa tersenyum pasrah saat seruan kegembiraan Lukas terdengar di telinganya.
Tapi begitu panggilan itu berakhir, akal sehat Lana mengendap, dan ide menghabiskan waktu bersama Lukas mulai terdengar berbahaya.
Jari Lana kembali meraba nama Lukas yang ada di layar, dia hanya tinggal menyentuhnya dan mengatakan pada Lukas, jika tidak ingin perg. Tapi ada dorongan dalam hati yang melarang untuk melakukannya.
Dorongan yang berasal dari rasa gembira.
Rasa gembira karena setelah hampir satu minggu tidak mendengar suara Lukas, akhirnya Lana bisa mendengarnya tadi.
Gembira karena bayangan berjalan menikmati festival bersama Lukas terlihat menyenangkan.
Lana tidak terbiasa merasa gembira, rasa hangat yang asing menyelinap ke dalam hatinya dan membuatnya ingin menyimpannya disana.
Dia menyukai kehangatan itu.
Kedamaian saat menikmati sarapan, tidak pernah datang sesuai dengan harapan Lana.
Dia malah lebih sering menghabiskan waktu paginya dengan melirik ke arah kabin milik Lukas dengan gelisah.
Berbagai tanya berputar di kepalanya. Apakah Lukas tidak ada di rumah? Apakah dia beristirahat dengan cukup?
Beberapa hari ini, setiap kali melewati kabin Lukas saat berjalan pulang, Lana selalu melihatnya dalam keadaan gelap gulita. Menandakan Lukas masih bekerja di Merian, dia benar-benar sibuk.
Saat menyadari keberadaan pikiran tidak pantas itu, Lana segera menyingkirkannya jauh-jauh, bukan urusannya bagaimana keadaan Lukas. Dia tidak perlu merisaukan hal itu.
Sudah beberapa saat ini, Lana menyimpulkan kemungkinan besar Lukas telah berpisah dari istrinya.
Laki-laki beristri tidak akan pindah ke rumah baru bersama dengan saudara sepupunya.
Lagi pula dia juga tidak pernah melihat keberadaan cincin di jari Lukas, satu-satunya kemungkinan adalah Lukas tidak lagi bersama istrinya.
Dan Lana gembira dengan kenyataan tersebut. Lana tentu saja sudah berusaha dengan keras menyingkirkan rasa gembira yang tidak pantas itu. Sekali lagi bukan urusannya apakah Lukas masih memiliki istri atau tidak.
Tapi bagaimanapun keadaannya, berjalan-jalan dengan Lukas adalah ide gila, ia tak bisa melakukan perbuatan yang membuat hubungannya dengan Lukas menjadi semakin dekat.
Lana seharusnya menjauhinya.
Bagaimana bisa dia melupakannya? Wajah Aaron yang kesakitan terbayang dengan jelas di mata Lana. Dia telah melakukan perbuatan ceroboh dengan menerima ajakan Lukas.
"Lanaa!! Kau belum tidur? Beberapa jam lagi matahari akan terbit. Kau akan kelelahan besok"
Aubrey menembus pintu kamarnya sambil mengomel.
"Ya, aku akan segera tidur" kata Lana, menarik selimutnya sampai menutupi kepala.
"Kau harus benar-benar tidur. Aku akan terus berada di sini untuk memastikannya"
Lana memejamkan matanya ketika mendengar ancaman Aubrey. Dia tidak pernah bercanda soal seperti itu, Lana hanya bisa menurutinya, dan mencoba untuk
------------0O0-------------
Keraguan terus mendera Lana sampai keesokan siangnya.
Lana seperti memakan buah simalakama, dia tak bisa memutuskan apa yang harus diperbuatnya. Seharian itu Lana sengaja menyibukkan diri untuk membuatnya lupa dengan segala keresahan.
Di tengah rasa bimbang Lana, entah bagaimana caranya, Joan bisa mengetahui soal rencana Lukas mengajaknya berkeliling di festival.
Karena itulah, Joan terus mendesaknya untuk segera bersiap sedari tadi.
Joan sejak awal memang sudah menjanjikan libur selama setengah hari pada hari terakhir festival, karena dia ingin Lana juga menikmati festival pertamanya di Grindelwald.
Dengan bersemangat Joan menjelaskan, menurutnya saat-saat Lana menikmati festival akan semakin sempurna karena Lukas akan menemaninya.
"Lana! sudah berapa kali aku katakan, tinggalkan benda itu di lantai! Kau harus segera bersiap, Lukas sudah datang" seru Joan, yang membuat Lana sedikit terperanjat.
Joan mengeratkan giginya melihat Lana masih berusaha membenahi tumpukan kotak yang berisi bahan makanan di gudang.
"Ayo cepat!"
Joan tidak sabar melihat gerakan pelan Lana meletakkan kotak di lantai.
Semangat menggebu Joan justru membuat Lana semakin ragu. Tapi semuanya sudah terlambat, dia sudah tak bisa membatalkannya lagi. Lukas sudah menunggunya di depan.
Maka sambil mengepalkan tangan dia menuruti Joan dan melangkah keluar untuk mengambil mantel dari gantungan.
"Apa yang kau lakukan?!" decak Joan di belakang Lana.
Rupanya ia mengikuti Lana ke depan.
"Jangan bilang kau akan berkeliling di festival memakai baju itu, Lana!"
Joan menunjuk sekujur tubuhnya yang terbalut oleh mantel tebal tak bermodel.
"Sudah kuduga!" sahut Joan, ketika melihat anggukan Lana.
"Kemarilah!" Joan menarik tangan Lana, mengajaknya masuk ke dalam kamarnya.
Di atas ranjang, Lana melihat kardus besar tipis terikat dengan tali.
Joan menyodorkan kotak itu pada Lana yang masih terlihat bingung.
"Ganti bajumu dengan ini. Aku tidak akan membiarkanmu berjalan berkeliling dengan penampilan seperti penggiling adonan" kata Joan.
Dengan tak sabar, Joan melepas mantel Lana, yang memang berwarna coklat seperti kayu penggiling adonan roti. Dia juga mulai membuka paksa kaos longgar yang dipakai oleh Lana.
"Baik, baiklah.. aku akan memakainya" seru Lana dengan panik.
Lana sudah akan menolak, tapi tangan Joan tidak berhenti melepas bajunya. Joan hanya berhenti setelah Lana setuju.
Dengan senyum puas, Joan melangkah keluar kamar sambil memberinya peringatan terakhir, "Jangan terlalu lambat, Lukas tidak akan suka menunggu lama"
Lana membuka kotak itu, dan mendapati gaun wol merah turtleneck dengan panjang melebihi lutut serta jaket pendek berwarna hitam. Gaun itu sangat lembut di sentuh, dan yang pasti hangat.
Tanpa sadar, air mata Lana berlinang.
Kebaikan Joan sangat berlebihan, dia tak pantas menerima semua ini. Tidak setelah semua penolakan dan sikap dinginnya terhadap Joan.
"Cepatlah Lana. Dan pakailah sepatu boot hitam yang ada disamping tempat tidur. Aku juga menyiapkannya untukmu" seruan Joan kembali terdengar dari pintu.
Lana langsung menghapus air matanya, dan segera memakai baju merah maroon itu.
"Hampir sempurna, masih ada sedikit kekurangan" kata Joan, saat Lana keluar dari kamarnya. Dia membawa Lana masuk lagi ke dalam kamar dan mendudukkannya di meja rias.
Lana tidak pernah belajar atau memikirkan soal make up, ia memandang dengan bingung deretan alat make up yang ada di meja. Joan menggelengkan kepala tak percaya melihat Lana malah diam mematung,
"Kau tak pernah memakai make up sebelumnya?"
Lana menggeleng, Joan langsung memejamkan mata melihat jawaban Lana.
"Kita akan membahas hal ini kapan-kapan. Bagaimana bisa---" Joan kembali menggelengkan kepala.
Tangan Joan dengan cekatan mulai memulaskan berbagai produk kecantikan ke wajah Lana, dan terakhir dia memilih lipstik beraroma cherry untuknya.
"Perfect!!" kata Joan, dengan nada puas.
Lana membelalak tak percaya ketika akhirnya bisa melihat pantulan wajahnya di cermin.
Dia nyaris tidak mengenali wajahnya sendiri.
Bayangan yang ada di cermin terlihat begitu anggun dan cantik.
Joan tidak memberi warna yang tajam untuk make upnya, Lana menyukai bagaimana bibirnya terlihat pink alami, walaupun tadi Joan menyapunya dengan kuas berkali-kali.
"Apakah---"
"Ya Lana, kau sangat cantik bukan?" Joan sudah menjawab sebelum Lana selesai bertanya.
Dia membelai lembut rambut Lana yang juga telah rapi. Joan menguncirnya tinggi di belakang kepala, agar lebih ringkas.
"Terima kasih, Joan. Kau sebenarnya tak perlu...."
"Ssttt.... simpan ucapan itu untuk nanti, OK? Lukas sudah menunggu" Joan menutup mulut Lana dengan jari telunjuknya.
"Dan jangan menangis, Lukas akan memarahiku jika melihat matamu memerah" lanjutnya, sambil mengusap air mata yang menggenang di mata Lana.
Lana hanya bisa mengangguk, dan dengan pelan melangkah ke lobby, sambil berharap tidak akan terjadi sesuatu yang buruk hari ini.
------------0O0-----------
Ini tidak adil!!!
Lukas berseru kencang dalam hati. Tidak adil karena Lana bisa lebih mempesona daripada biasanya.
Gaun merah yang dipakai Lana sangat cocok untuknya. Warna merah membuat rambut hitam yang dikuncir tinggi di belakang kepala semakin terlihat berkilau, dan kulitnya yang putih sangat kontras dengan warna merah itu.
Dengan langkah pelan, Lana berjalan melintasi lobby.
Lukas menjadi salah tingkah, ketika matanya menyusuri seluruh tubuh Lana.
Gaun itu tak hanya sangat cantik di pakai olehnya, tapi juga sangat pas, tidak menyisakan celah. Tubuh Lana yang sudah semakin berisi terlihat-----indah.
Hanya kata itu yang berani dimunculkan oleh pikiran Lukas. Karena kata yang lain membuatnya merasa seperti serendah Petra.
Lukas menampar pipi kanannya, agar mata dan pikirannya bisa teralih dari lekukan tubuh Lana.
"Apa yang kau lakukan?" Lana yang sampai di depan Lukas, memandangnya dengan mata abu-abu yang melebar.
Lana menunjuk pipi kanannya yang memerah.
"Ah---tidak apa-apa" Lukas menggeleng dengan malu.
Lana rupanya melihat perbuatan konyolnya tadi. "Kita sebaiknya segera berangkat" .
Lana menjawab ajakan itu dengan kepalanya.
Udara musim gugur yang sejuk dan segar menyapa mereka, begitu meninggalkan bangunan rumah Joan.
"Kau sebaiknya memakai jaketmu. Udara akan semakin dingin nanti" Ujar Lukas, melihat jaket hitam yang ditangan Lana.
Gaun dari wol sebenarnya sudah cukup, tapi Lukas tak akan membiarkan siapapun melihat lekukan tubuh Lana. Bisa-bisa mimpi buruknya terulang kembali.
"Oh..." Lana menurutinya, dan segera memakai jaket hitam itu.
Lukas melihatnya dengan puas, menurutnya itu lebih baik. Bagian tubuh Lana yang paling mengundang, tertutup dengan aman.
Lukas memulai tur festival musim gugur dengan membawa Lana melihat karnaval kostum yang berlangsung di jalan raya utama Grindelwald.
Perjalanan mereka ke sana cukup lama, selain karena jarak, kerumunan manusia yang memiliki tujuan yang sama mulai memenuhi jalan.
Tapi karena Lukas mengenal jalanan Grindelwald sebaik rumahnya sendiri, dengan mudah dia membawa Lana menyusuri jalan-jalan kecil yang sepi dari kehadiran turis.
Lana yang belum pernah melewati jalanan itu. Matanya dengan perlahan mulai hidup melihat pemandangan di sekitar jalan yang dilewatinya.
Jalan yang dipilih oleh Lukas sangat mempesona. Grindelwald yang biasa sudah cukup indah, dengan dimulainya festival, semua warga desa mengeluarkan daya dan upaya yang lebih untuk menghias desa.
Lampion yang tergantung di bersilang di atas jalanan memang belum dinyalakan, tapi bentuknya yang cantik, cukup untuk membuat Lana kagum.
Tembok-tembok bangunan di Grindelwald juga tertutup oleh berbagai macam mural indah dengan berbagai macam warna.
Lukas menjelaskan pada Lana, bahwa cat itu hanya akan bertahan selama beberapa minggu. Cat itu akan hilang terbawa air begitu salju turun.
Ketika mereka sampai di dekat jalan raya, Lukas menarik Lana untuk masuk ke dalam salam satu rumah di tepi jalan.
"Kita akan kemana?" tanya Lana bingung. Bukankah mereka seharusnya berdiri di tepi jalan?
"Kita tidak akan bisa melihat apapun dari tepi jalan karena banyaknya orang berkerumun. Percayalah, tempat pilihanku tidak akan membuatmu kecewa" kata Lukas sambil tersenyum.
Sampai di lantai dua, beberapa orang sudah ada disana. Mereka jelas sedang menikmati karnaval dari balkon.
"Lukas---- senang melihatmu!!" seru mereka semua hampir bersamaan.
Mereka semua menyapa Lukas dengan ramah. Rumah ini milik salah satu teman bibinya--ibu dari Neff--. Dengan senang hati mereka memberikan tempat khusus untuk Lana dan juga Lukas.
Lana terlihat canggung karena tiba-tiba harus berkenalan dengan orang lain.
Tapi sebisa mungkin dia bersikap sopan. Beberapa dari mereka juga menggoda Lukas tentang kebersamaannya dengan Lana, tapi dia sengaja memberi jawaban mengambang.
Akan lebih baik jika ada rumor yang beredar soal hubungannya dengan Lana. Karena tidak akan ada pemuda di Grindelwald yang ingin bersaing dengannya dalam hal mendapatkan wanita.
Lana akan aman dari kerumunan lalat pengganggu.
Tidak seperti kemarin, saat ini kebersamaannya dengan Lana melalui fase pendekatan yang normal. Jika mereka melihat Lana di Merian sebelumnya, gosip yang beredar tidak akan seringan itu.
Lana sendiri sudah tidak memperhatikan keadaan sekeliling begitu karnaval di mulai.
Lautan baju berwarna-warni, kereta dengan bunga berbagai bentuk, musik hingar-bingar, bersatu membentuk suasana penuh euforia, yang membuat Lana meninggalkan rasa resahnya.
Wajah Lana yang kini penuh senyum, membuat Lukas merasa girang. Semua rasa kikuk dan resah yang Lukas lihat selama perjalanan kesini, tidak berbekas lagi.
Lana dengan bebas, tertawa mendengar ceritanya, melambai pada wanita berkostum kupu-kupu di atas kereta, bahkan menangkap jutaan mahkota bunga yang sengaja ditebar oleh peserta.
Setelah karnaval berakhir, Lukas membawa Lana ke pasar yang menyediakan makanan dan juga cendera mata.
Banyak toko dan cafe yang tutup, tapi mereka memindahkan barang dagangannya di lapangan dengan tenda besar yang khusus di bangun untuk mereka.
"Ini luar biasa!!' Lana berseru senang saat mereka tiba disana.
Di lapangan yang biasanya kosong itu, telah berdiri tenda raksasa berwarna merah dan hijau. Lukas bisa mengerti kenapa Lana melakukannya, segala macam warna dan hingar bingar itu, membuat Lukas merasa seperti sedang mengunjungi sirkus.
Bau harum makanan dan juga bunga memenuhi udara di bawah tenda.
"Ini baru festival" kata Lukas, sambil menghirup aroma menggiurkan yang menghampiri hidungnya.
"Nah!! Lana, makanan apa yang kau inginkan. Hampir semua jenis makanan ada disini"
"Cheese--- cheese foundae" Lana menunjuk salah satu stal dengan mata membulat dan berbinar.
"Tentu saja, ha..ha...ha"
Lukas menariknya ke dalam antrian stal itu sambil tertawa cerah.
Lana adalah penggila keju. Lukas menyadari ini dari kebiasaannya saat tinggal di Merian.
Lana tidak pernah mengatakannya secara langsung, tapi makanan apapun yang mengandung keju, membuatnya lebih bersemangat, piringnya bisa dipastikan selalu licin tandas.
"Mmmmm.... ini lezat sekali!!" Lana terlihat seperti hampir melayang, saat potongan roti lembut berbalut keju cair yang hangat memasuki mulutnya.
Lukas sangat terhibur melihat bagaimana mata Lana terpejam erat, menikmati makanan itu. Lana datang ke tempat yang tepat, di festival ini ia bisa menikmati segala macam hidangan dari keju.
Setelah menghabiskan semangkuk besar cheese founde, Lana menarik Lukas ke stal berikutnya yang menawarkan racchelete.
Bentuk racchelete yang biasanya dihidangkan di atas piring, sedikit dipermak menjadi makanan take away yang praktis. Daging yang dipakai sudah di potong menjadi kecil-kecil sebelum disiram dengan keju cair berbumbu.
Dan tentu saja Lana bersorak gembira saat potongan daging itu menghilang ke dalam mulutnya.
Di depan matanya, Lukas melihat bagaimana Lana seolah terlepas dari ikatan yang membelenggunya selama ini. Lana dengan bebas menjadi dirinya sendiri.
Tersenyum, tertawa, bergembira seperti yang seharusnya.
Seharusnya Neff melihat ini, dia akan melihat sisi lain dari kepribadian Lana, batin Lukas. Sisi lain Lana yang sangat mengagumkan menurut Lukas.
Suara tawa Lana begitu merdu, dan senyum yang terbentuk di bibirnya yang mungil juga indah. Lana terlihat berkilauan di bawah matahari.
"Kau menginginkannya?" tanya Lukas, ketika melihat Lana sedang mengamati deretan snow globe yang di jual di luar tenda.
Snow globe yang di jual juga sangat khas Grindelwald, karena didalamnya terdapat miniatur pemandangan gunung Eiger yang cukup mendetail.
"Salah satu kenalanku mengatakan jika gunung Eiger adalah gunung terindah yang pernah dilihatnya. Dia sudah mendakinya berulang kali, tapi setiap kali mendaki, dia selalu membawa kenangan pemandangan indah yang baru" kata Lana, sambil mengangkat salah satu snow globe dan menerawangnya di bawah sinar matahari.
Butiran salju palsu yang ada di dalamnya berputar sejenak, sebelum akhirnya dengan tenang jatuh mengikuti gravitasi.
"Aku sangat setuju. Pemandangan gunung ini yang membuatku tidak pernah bisa meninggalkan Grindelwald. Setiap kali aku ingin pergi, gunung itu seolah memanggilku kembali"
Lukas mengikuti Lana menggoyangkan salah satu snow globe yang ada di meja.
Dalam hati Lukas membatin, siapa teman yang dimaksudnya? Lana tidak terlihat pernah bergaul dengan siapapun.
Apakah ia bertemu dengannya di tempat Joan? Banyak pendaki yang menginap di tempat Joan, terutama pria. Apakah salah satu dari mereka mengajak Lana berkenalan?
"Kau pernah ingin meninggalkan Grindelwald?"
Lukas menyingkirkan kecemburuan liar yang tiba-tiba tumbuh di hatinya, dan tersenyum samar mendengar pertanyaan Lana.
"Tentu saja, setiap orang memiliki titik terendah dalam hidupnya bukan? Saat di mana kau mempertanyakan apa yang ingin kau perbuat selanjutnya, saat dimana seolah dunia telah berpaling darimu"
"Itu aneh, aku selalu merasa seperti itu" kata Lana, dan kata-kata itu seolah menjadi saklar yang mematikan daya hidup Lana.
Mata berkilau yang Lukas lihat sedari tadi mendadak padam. Dengan muram Lana meletakkan snow globe yang ada di tangannya dan berlalu keluar dari lapangan.
"Satu!" kata Lukas, dengan terburu-buru membayar snow globe yang tadi di pegang Lana dan mengikutinya berjalan.
"Maaf, jika aku mengatakan sesuatu yang telah menyinggungmu" ujar Lukas, penuh penyesalan, segera setelah ia berhasil menyusul Lana.
Lana menggeleng, "Tidak ada yang perlu dimaafkan"
Lukas ingin sekali menampar pipinya lagi.
Dia pasti telah memicu sesuatu yang tidak menyenangkan bagi Lana. Dan melihat sikap Lana yang sudah kembali dingin, mustahil Lana akan menceritakan penyebabnya.
"Ini" Lukas menyodorkan kantong yang berisi snow globe tadi pada Lana.
"Oh.." bibir Lana membulat karena kaget. "Kau tak perlu---"
"Tidak perlu memang, tapi aku ingin memberikannya untukmu. Aku tak perlu meminta izin untuk memberimu hadiah bukan?"
Lana menggeleng dan tersenyum kecil. "Terima kasih, bukan hanya untuk snow globe ini, tapi juga untuk semua yang terjadi hari ini. Sangat menyenangkan, aku menikmatinya"
Lukas mengangguk dengan lega, Lana mungkin masih tak seceria tadi, tapi semangatnya sedikit terangkat karena Lana sudah tidak semuram tadi.
Yang bisa dilakukan Lukas adalah meneruskan rencana sesuai jadwal, dengan harapan mungkin nanti Lana akan kembali cerah.
Untuk event berikutnya Lukas akan membawa Lana menonton pertunjukan opera dan kembang api yang akan menandai berakhirnya festival tahun ini.
Pertunjukan opera itu akan diadakan di panggung terbuka di sebelah bukit, dan menceritakan sejarah keindahan Grindelawald. Pertunjukan yang patut untuk ditunggu karena biasanya dilakonkan oleh artis opera besar dari Swiss.
Sayangnya, karena pertunjukan itu dilakukan di ruang terbuka, suara angin terkadang mengganggu nyanyian para pemainnya.
Karena itu sepanjang perjalanan menuju ke sana, Lukas menceritakan garis besar kisah itu pada Lana, agar ia bisa menikmatinya dengan lebih baik.
Panggung yang menjadi pusat pertunjukan berada di lembah yang dikelilingi bukit-bukit rendah. Para penontonnya akan duduk di lereng bukit berbatu, yang telah di ubah secara paksa dengan alat berat, sehingga membentuk deretan kursi seperti di dalam stadion.
Mereka menempati barisan paling depan dan sampai di sana tepat pada saat pertunjukan akan di mulai.
Lukas sangat puas, ketika Lana terlihat menikmati opera itu, apalagi setelah tahu ini adalah pertunjukan opera pertama yang ditonton oleh Lana.
Lukas sampai tidak tega menawarinya minuman, ketika melihat bagaimana seriusnya wajah Lana menikmati pertunjukan itu.
Dia baru menyodorkan minuman ketika pertunjukan berhenti sejenak untuk mengganti latar panggung untuk scene terakhir.
"Terima kasih" ucap Lana sambil menerima minuman itu sambil menghembuskan nafas panjang.
"Aku tak tahu kita bisa menikmati makan dan minuman ditengah pertunjukan opera" kata Lana sambil melihat ke sekeliling.
Beberapa penonton yang ada di sebelah juga mulai membuka bungkusan snack dan menikmatinya.
"Tidak bisa jika pertunjukan resmi opera di dalam gedung. Tapi ini festival, Lana, penonton bebas untuk melakukan apapun. Jika kita berada di barisan belakang, kita mungkin akan melihat lebih dari sekedar pertunjukan opera. Banyak pasangan yang sudah setengah mabuk memutuskan untuk membuat film biru setelah matahari terbenam nanti"
Lukas menjelaskan dengan senyum miring.
Lana memerlukan sedikit waktu untuk mengerti penjelasan Lukas, wajahnya memerah begitu pemahaman menghampirinya.
"Oh My--- kenapa mereka melakukannya di sini? Apakah mereka sudah gila?" Lana berseru tidak percaya.
"Well, alkohol sudah terbukti bisa membuat orang menjadi bodoh. Tapi masih banyak orang yang meminumnya. Aku selalu berpikir mungkin kita bukan species paling pintar di muka bumi ini" senyum getir yang terbentuk di wajah Lukas menarik perhatian Lana.
"Kau tidak suka meminum alkohol?"
"Aku pernah meminumnya, saat aku masih pemuda bodoh, tapi tak pernah benar-benar menikmatinya. Aku sudah tak pernah mencicipinya lagi selama beberapa tahun ini, tidak juga wine maupun champagne"
Lukas menghembuskan nafas panjang saat menjawabnya.
Dia sebenarnya malas membahas soal alkohol, tapi Lana terlihat tertarik.
"Bagaimana denganmu? Jenis alkohol apa yang kau nikmati?" tanyanya.
Lana langsung menggeleng "Aku tidak pernah meminum alkohol. Dan tidak akan pernah mencobanya"
Lukas membelalak tak percaya, dia belum pernah bertemu seseorang yang tidak pernah sedikitpun meminum alkohol, kecuali mungkin mereka yang memiliki alasan religius. Dan jelas Lana tidak termasuk diantaranya.
"Tidak pernah? Tidak setetespun?" ulangnya.
Lana mengangguk "Aku tidak suka berada dalam keadaan tidak waspada. Apa saja bisa terjadi ketika kita mabuk, dan aku akan merasa lebih baik dalam keadaan sadar"
Lukas tertegun mendengarnya, karena tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu.
Lukas mengira, mungkin Lana memiliki kondisi tubuh tertentu yang membuatnya tak bisa menerima alkohol. Tapi jawaban unik itu akan membuat siapa saja mengira Lana hidup di medan perang.
Waspada? apa saja bisa terjadi? Lukas sangat setuju dengan pernyataan itu, tapi sekarang ia menjadi penasaran, hal apa yang membuat Lana merasa perlu untuk selalu waspada?
"Oh.... sudah dimulai!" Seruan dan tepuk tangan bersemangat Lana, membawa senyum ke wajah Lukas.
Dia akan menanyakan hal itu ketika sarapan bersama mereka yang berikutnya.
"Baguslah, sebentar lagi matahari terbenam. Dengan begitu kembang api bisa dimulai begitu pertunjukan selesai"
Lukas bisa melihat bagaimana darah seolah terkuras dari wajah Lana begitu dia selesai berbicara. Wajah yang memerah bersemangat, langsung musnah tak sampai sedetik kemudian.
Dengan wajah pucat pasi dan mata penuh rasa takut, Lana menoleh ke arahnya.
"Beberapa menit lagi? Tapi suasana masih terang?" Lana sekarang melihat ke sekitar dengan panik.
Lana menatap langit yang sudah memerah, dan menutup mulutnya dengan kaget. Lana terlihat baru menyadari saat ini sudah senja hari.
Dan kepanikan itu menular pada Lukas, "Ada apa Lana? Suasana masih terang karena lampu di sekeliling panggung ini di tata secara otomatis untuk menyala sesuai dengan keadaan sekeliling"
"Aku harus pulang! Maaf, tapi aku harus pulang" Lana sudah bangkit dari duduknya, tidak mempedulikan keluhan kesal penonton di belakang yang terhalang pandangannya.
"Tunggu, kita tak bisa kembali sekarang!!!"
Lukas berteriak memanggil Lana, yang dengan mengejutkan berjalan dengan sangat cepat meninggalkannya.
Bukan hanya karena Lana akan melewatkan pertunjukkan kembang api jika kembali, jika mencoba keluar sekarang, mereka akan terbelit arus manusia,
Ratusan turis yang tidak tertarik menikmati opera, sudah pasti sedang berarak-arak menuju ke lokasi ini. Mereka ingin menikmati kembang api dari lokasi yang paling bagus, yaitu di sekitar panggung opera.
Lukas hanya bisa mengumpat, sambil mengikuti Lana yang sudah tak mendengar apapun lagi, dan terus maju menerobos kerumunan.