Blue Light

Blue Light
LIMA



Lukas turun ke lobby dan langsung melihat penyebab kenapa Darla menyuruhnya turun cepat-cepat.


Joan terlihat sedang memaksa salah satu bellboy untuk naik memanggilnya.


"Joan, Erich" Lukas memanggil mereka, untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan. Joan bisa sangat nekat jika sedang ingin.


Biasanya dia wanita yang lembut, tapi kau tak ingin bersamanya saat dia sedang kalap, seperti saat ini. Joan berjalan dengan langkah lebar menghampirinya, diikuti oleh Erich yang berwajah cemas.


"Di mana Lana?" tanya Joan tanpa basa-basi ataupun sapaan halo, padahal ini pertama kalinya Lukas bertemu Joan, selama hampir dua tahun berlalu.


"Siapa Lana?" Lukas bertanya balik dengan heran.


Lukas mengira Joan kesini, karena ada masalah di tanah pertaniannya. Tapi dia malah menanyakan tentang orang yang tak dikenalnya.


"Lana, perempuan yang kau bawa kesini!" Joan berseru dengan tak sabar.


Tidak sadar ucapannya membuat semua pegawai hotel yang ada di sana, menoleh dengan tertarik. Kabar tentang Lukas membawa wanita ke sini, tentu saja merupakan berita hangat, Sangat layak untuk didengar.


"Lana? Apakah yang kau maksud adalah Solana?" tanya Lukas, dengan suara lebih pelan.


Lukas akhirnya mengerti, Joan pasti mengenal Solana karena mereka bertetangga.


Joan menangguk dengan puas. "Kenapa kau membawanya kesini? Apa yang sebenarnya terjadi?"


Lagi, Joan bertanya tanpa memberi Lukas kesempatan untuk menjawab.


Erich yang menyadari istrinya sedang kalap, meletakkan tangan kanannya pada bahu, Joan untuk menenangkan, dan luar biasanya hal itu berhasil.


Nafas Joan langsung melambat, "Aku ingin bertemu Lana!" ia masih terdengar menuntut, tapi dengan suara yang lebih pelan.


"Kemarilah, kita tak bisa membahasnya di depan umum!"


Lukas mengajak mereka berdua masuk kembali kedalam lift. Ruangan kantornya terletak di lantai 3.


 "Apa yang sebenarnya terjadi? Meier menolak menjelaskan apapun padaku. Dia mengatakan, kau melarangnya bercerita kepada siapapun, hanya berkata kau membawa Lana"


Efek sentuhan tangan Erich sudah menghilang begitu lift bergerak naik. Joan kembali tak sabar dan memberondong Lukas dengan pertanyaan.


"Karena menurutku itulah hal yang paling baik. Aku tak ingin gosip murahan tersebar soal Solana. Kau tahu sendiri bagaimana cepatnya gosip menyebar di desa. Dan makin lama, gosip itu akan menjadi semakin tidak masuk akal"


Lukas menjelaskan dengan bibir menipis. Kekesalan itu bukannya tanpa alasan, dia pernah menderita hanya karena beberapa gosip murahan itu.


"Segawat itukah keadaanya?" kali ini Erich yang bertanya, dengan lebih tenang.


Lukas mengangguk muram. Memang seburuk itulah keadaan Solana dan dia harus membuat mereka mengerti, agar bisa bersikap yang sepantasnya jika bertemu dengannya nanti.


"Tapi keadaannya baik-baik saja sekarang?" Joan langsung duduk di sofa begitu mereka sampai di kantor Lukas.


Dan menurut Lukas hal itu lebih baik, mereka menjadi berjauhan. Tangan Joan bisa jadi sangat ringan jika sedang jengkel. Berada diluar jangkauan tangannya, adalah posisi yang paling aman.


Lukas menarik nafas panjang dan menjatuhkan badannya di sofa yang ada di hadapan Joan, "Dia baik-baik saja menurut dokter, tidak terluka parah. Tubuhnya baik-baik saja, tapi mungkin tidak dengan jiwanya"


"Apa..." sebelum Erich menyelesaikan pertanyaan itu, Lukas memotongnya.


"Salah satu pegawai Melina berusaha memperkosa Solana, dua hari yang lalu" Lukas mengatakannya sambil menggertakan gigi.


Joan langsung menjerit dan melompat bangun dari duduknya.


"Apa?!! Kau bilang apa? Oh ... Ya Tuhan. Lana..?"


Joan kalap dan berjalan mondar-mandir di depan sofa.


Dia meracau dengan suara keras penuh amarah, sebelum akhirnya air matanya turun dan terisak. Erich menariknya duduk dan Joan menangis dalam pelukan Erich.


"Siapa yang tega melakukan perbuatan kotor seperti itu? Lana--- gadis itu tak akan mampu melawan siapapun. Tubuhnya kurus kering"


Erich sedikit tercekat saat mengucapkan hal itu, terlihat jelas dia juga sedang menahan amarah.


Lana mungkin tidak banyak bicara dan selalu kikuk.


Tapi Erich dan Joan tahu, Lana adalah gadis baik-baik, serta pekerja keras. Mereka berdua sering memuji betapa beraninya Lana hidup sendiri di negeri orang, padahal terlihat jelas dia bukan orang yang mudah bergaul.


Lana bukan tipe gadis yang bisa memancing seseorang untuk melakukan perbuatan kejam itu.


"Petra" jawab Lukas pendek. Karena tidak ingin menambahkan umpatan lain dibelakang nama itu.


"Aku akan membunuhnya!! Dimana dia sekarang? Aku akan membunuhnya!!" Joan bangkit dengan wajah penuh air mata dan berteriak pada Lukas menuntut jawaban.


"Mungkin akan sulit, karena dia sedang berada di rumah sakit. Dan polisi menjaganya dengan ketat. Kau tak akan bisa mendekatinya"


"Kenapa dia ada dirumah sakit? Dan kau bilang tadi dia mencoba?"


Erich yang berpikir lebih tenang, menanyakan hal yang semestinya disadari oleh Joan dengan mudah.


"Apa hubungannya kejadian itu dengan dirimu?" Joan malah sekarang menanyakan hal lain, sebelum Lukas bisa menjawab Erich.


"Aku akan menceritakan kejadiannya dengan lengkap"


Hanya dengan cara itu mereka akan puas dan berhenti bertanya.


Maka beberapa menit berikutnya Joan dan Erich mendengarkan cerita Lukas dengan wajah serius.


"Oh ya Tuhan Syukurlah..." Joan langsung lega mendengar bahwa Petra belum melakukan hal itu pada Lana.


"Ya, tapi aku rasa Solana masih sangat ketakutan, ia berusaha menyerangku saat siuman tadi. Aku rasa pikirannya masih terguncang" kata Lukas.


"Tentu saja, dia tidak mengenalmu. kau mungkin sudah menolongnya, tapi ia sedang pingsan dan tak sempat melihatmu" tukas Joan.


"Kami pernah bertemu sebelumnya di Melina, Joan. Kami berbicara cukup lama. Dia sempat membantu ketika aku membutuhkan penerjemah bahasa Spanyol. Seharusnya dia mengingatku"


"Oh....Lana bisa berbahasa Spanyol? " Erich menyahut dengan takjub.


Lukas mengangguk.


"Kau dengar itu Erich, aku sudah pernah mengatakan padamu, bahwa dia adalah gadis yang cerdas. Aku tahu itu!" Joan menyahut dengan puas ketika mendengar fakta itu.


Dan Lukas setuju, mata Solana memang terlihat cerdas. Dan mengingat dia berasal dari Amerika, berarti dia menguasai tiga bahasa, karena dia berbicara memakai bahasa jerman padanya.


Lukas sendiri menguasai Jerman, Perancis dan Inggris.


Tapi ia tak akan menghitung Jerman dan Perancis sebagai prestasi, karena dua bahasa itu yang banyak di pakai di Grindelwald.


Dia memperoleh keterampilan itu dalam kehidupannya sehari-hari. Tapi Lana hidup di Amerika yang hanya menggunakan bahasa Inggris, pencapaiannya terhitung sebagai prestasi.


"Aku ingin bertemu Lana!" Joan kembali menuntut.


"Tentu saja, tapi aku mohon kalian tetap merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi kepada orang lain. Aku tidak ingin Solana mendapat perlakuan yang berbeda dari warga desa hanya karena kejadian ini. Dia sudah cukup menderita. Saat ini yang tahu persis tentang hal ini, hanya aku, Meier dan juga polisi"


Lukas khawatir, bagaimana warga desa akan bersikap terhadap Solana jika mereka tahu.


Sebagian besar mungkin akan merasa kasihan, dan Lukas tidak keberatan dengan hal ini, tapi pasti akan ada beberapa orang dengan jalan pikiran aneh, yang akan menganggap Solana sebagai perempuan murahan. Hal ini yang paling membuatnya khawatir.


"Marco, aku rasa Marco juga tahu. Dia


menolak untuk bertemu denganku ketika aku bertanya. Dia jelas-jelas menghindar dariku, ketika tadi pagi kami bertemu di pasar" sanggah Erich.


Lukas mengangguk, mungkin Meier yang mengatakan padanya. Dia mengenal Marco cukup baik, dan tahu Marco bukan termasuk orang yang bermulut besar. Rahasia itu akan aman bersamanya.


"Solana ada di blok exclusive, aku akan mengantar kalian" kata Lukas sambil bangkit dari kursi dan mengajak mereka keluar.


Untuk sejenak Joan dan Erich berpandangan dengan heran.


Blok exclusive adalah kamar paling mahal di resort ini, dan Lukas merelakannya untuk ditempati dengan gratis?


Itu agak janggal, karena Lukas yang mereka kenal sangat cermat dalam memperhitungkan untung dan rugi.


Lukas mungkin tidak pelit karena selalu memberikan bonus pada karyawannya dengan royal, tapi Lukas hampir tak pernah memberikan apapun yang tidak menghasilkan timbal balik. Perbuatannya kali ini diluar kebiasaan.


-------------0O0-------------


"Perkenalkan namaku Darla, dan pertama, percayalah padaku, tak akan ada yang menyakitimu disini"


Gadis itu melambaikan tangan dengan kaku. Lana bisa melihat bahwa dia sedikit gugup.


Lana mengangguk sambil memperbaiki posisinya. Ranjang tempatnya duduk sangat empuk, tubuhnya tidak terbiasa menerima kemewahan seperti itu.


"Dimana ini? Bagaimana aku bisa sampai disini?" tanyanya.


"Hmm... kau sedang berada di Merian Resort, dan untuk bagaimana kau bisa sampai disini, aku sendiri tidak terlalu jelas. Aku rasa yang bisa menjelaskan hal itu dengan lebih baik adalah Lukas"


"Merian Resort?? The Merian Resort?" seru Lana.


Nama tempat itu membuat Lana meragukan kemampuan telinganya untuk mendengar.


Darla kembali mengangguk, dia terperanjat karena teriakan Lana. Tapi seruan itu masuk akal bagi Lana. Merian Resort adalah tempat dimana dia tak mungkin berada.


Merian Resort adalah resort paling mewah yang ada di Grindelwald.


Dia pernah melihat resort ini dari kejauhan saat berjalan-jalan, dan langsung tahu bahwa ini adalah tempat yang tak akan pernah bisa ia masuki seumur hidupnya.


Lana tahu dari Joan, untuk menginap disini semalam saja, harganya mencapai hampir seribu dollar. Itu untuk kamar biasa, Lana tidak ingin tahu berapa harga kamar yang paling mewah di sini.


Bagaimana aku bisa ada di sini? Lana kembali menggaungkan pertanyaan itu dalam hati.


"Siapa Lukas?" Lana akhirnya ingat nama yang disebut Darla tadi.


"Oh, dia kakak iparku. Dia yang membawamu kesini. Setelah kau.. mmm maksudku---" Darla menjadi salah tingkah sekarang.


Lana meremas selimut di tangannya dengan sangat erat, mencegah tangis dan rasa mual menyerbu, dan membuatnya kehilangan kendali.


Kau harus kuat Lana, ini bukan apa-apa. Kau akan baik-baik saja! Semua sudah berlalu, kau hanya harus melupakannya.


Lana membatin kalimat  itu berulang kali sambil terus memandang ke arah gunung Eiger yang ada di depannya.


Darla yang melihat Lana terdiam lama, menjadi merasa bersalah, apakah aku terlalu frontal dalam menjelaskannya tadi? sesalnya dalam hati.


"Maafkan aku, tak seharusnya aku menyinggung kejadian buruk itu" kata Darla pelan.


"Apa? Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, tak perlu meminta maaf" kata Lana dengan senyum ceria.


Mungkin senyum itu sedikit dipaksakan, karena pipinya sekarang terasa sakit.


Darla menggeleng, "Kau tidak mungkin baik-baik saja. Perbuatannya padamu----" Darla terlihat seperti ingin mengumpat, tapi menahannya.


Dia akhirnya hanya menggeleng sambil tersenyum kepada Lana. "Lebih baik kita tak membahas hal itu lebih lanjut"


"Aku setuju" sahut Lana dengan senyum yang sama.


Bukan sifat Lana untuk menunjukkan emosinya pada orang kebanyakan.


"Aku akan memanggil Lukas, tunggulah sebentar"


Darla bangkit menuju pintu tanpa menunggu jawaban Lana, suara detak sepatunya di lantai menggema di kamar yang luas itu. Tentu saja kamar mewah ini berukuran lebih besar dari pada ruang tamu rumah Lana.


Lana kemudian mendengar Darla terkesiap saat membuka pintu.


"Aku baru akan memanggilmu!" suara Darla terdengar terkejut.


Lana menoleh ke arah pintu, tapi tak bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di sana, karena letak ranjangnya yang jauh.


"Terima kasih atas bantuanmu Darla" suara tegas dan berat menyahuti perkataan Darla.


Kemudian terdengar suara kaki berderap memasuki kamarnya, dan tak membutuhkan waktu lama bagi Lana untuk melihat siapa itu.


Joan, dengan wajah penuh air mata menghambur ke arah ranjang dan memeluk Lana erat.


"Lana---Lana, apakah kau baik-baik saja? Ya Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi?" Joan terisak sambil membisikkan kekhawatirannya.


Hujan emosi dari Joan, membuat tembok pertahanan Lana hampir rubuh.


Ini adalah saat terberat baginya. Lana ingin sekali menyerah, dan melepaskan semua topeng yang ada di wajahnya, lalu menyambut penghiburan dan pelukan hangat yang diberikan oleh Joan.


Tapi itu tidak mungkin,


Lana kembali mengeratkan genggamannya dan tersenyum "Aku baik-baik saja Joan. Berhenti menangis!"


Joan melepas pelukannya dan memandang wajah Lana dengan teliti.


Sekali lagi Lana berusaha dengan keras untuk tersenyum, dia tidak boleh membuat Joan menangis. Dan Lana lega ketika akhirnya Joan tersenyum dan menghapus sisa air matanya.


"Kami senang kau baik-baik saja Lana" Erich akhirnya mendekat, dan mengusap punggung Joan. Dia tersenyum pada Lana dengan wajah prihatin. "Kau tenanglah, pria bejat itu akan mendapatkan hukuman berat" lanjutnya.


Sekali lagi pertahanan diri Lana diuji, penyebutan Petra dalam percakapan membuatnya gemetar. Lana sampai harus menyembunyikan tangan dalam selimut agar Joan tak melihatnya.


"Ya, aku harap juga begitu" Lana akhirnya bisa bersuara dan mengangkat wajahnya untuk melihat Erich sekilas.


Kemudian dia melihat jika ada satu lagi orang di ruangan itu. Laki-laki itu sedari tadi berdiri di sebelah Erich dan terus memandangnya.


"Siapa--"


"Kau tidak mengenalnya?" Joan memotong pertanyaannya.


Lana langsung menggeleng sambil memandang pria itu sekali lagi. Dan Lana masih tidak bisa mengenalinya.


"Kita pernah bertemu di Melina . Kau menolongku menerjemahkan kontrak kerja dengan rekanku dari Spanyol"


Laki-laki itu mengerutkan kening, dan terlihat kesal karena Lana melupakannya.


"Ow... benarkah?"


Sejenak Lana mengingat kejadian yang baginya sudah terasa sangat lama. Dia ingat menolong seseorang setelah bertemu dengan roh gadis kecil yang basah itu.


Tapi sejujurnya, Lana tidak terlalu memperhatikan wajah mereka berdua. Pikirannya sedang sibuk memikirkan kejadian memalukan di kamar mandi malam itu.


"Maaf, tapi ingatanku agak sedikit kacau malam itu. Aku ingat pernah menolong seseorang, tapi aku tak bisa mengingat wajahnya" ujar Lana, akhirnya menyerah.


Pria itu mengambil nafas panjang dan mendekati ranjang.


"Aku mengerti, lagi pula hal itu tak penting lagi. Aku Lukas Merian, kita belum sempat berkenalan malam itu"


Pria itu menjulurkan tangannya ke arah Lana.


Lana dengan reflek mengulurkan tangan kanannya, tapi kemudian menghentikan gerakannya di tengah jalan, karena tangannya ternyata masih gemetar.


Lana memperhatikan tangan itu dengan heran, dia tidak merasa jika tangannya masih gemetar.


Joan menangkap tangan Lana dan menggenggamnya erat.


"Jangan memaksakan diri Lana, kau baru saja mengalami sesuatu yang sangat mengerikan. Kau mungkin merasa baik-baik saja, tapi itu tidak mungkin" tukas Joan.


"Tapi aku baik-baik saja" Lana sekarang mulai tertawa geli, karena Joan seharusnya tidk terlalu khawatir.


Joan sudah akan mengatakan sesuatu, tapi sentuhan tangan Erich di bahu membuatnya berhenti.


"Hentikan itu!"


Lukas tiba-tiba berseru pada Lana, sampai membuat senyumnya menghilang.


"Menghentikan apa?" tanya Lana heran.


Lukas tidak menjawab, tapi ia memejamkan mata erat-erat sambil mengatupkan mulut. Membatalkan apapun hal yang ingin diucapkannya.


"Oh, tadi Darla bilang aku harus bertanya padamu. Bagaimana aku bisa sampai disini?"


Akhirnya Lana bisa menanyakan hal yang sedari tadi mengganggunya.


"Aku yang menemukanmu di lorong itu. Polisi dan ambulance membawamu ke rumah sakit. Setelah semua urusan selesai, aku tidak bisa tetap membiarkanmu tetap berada di rumah sakit bersama lelaki bejat itu. Aku ingin menghubungi keluargamu agar mereka bisa membawamu pulang, tapi menurut Meier kau hidup seorang diri. Aku rasa bukan ide yang bagus untuk membiarkanmu sendirian saat kau sadar. Karena itu aku membawamu kesini"


Lana mencoba mencerna penjelasan panjang yang dipersingkat itu.


"Petra berada dirumah sakit?" Lana bersusah payah menyebut nama itu.


Kali ini ia bisa merasakan tangannya menggigil, tapi ia sudah menyembunyikannya di balik selimut sedari tadi.


"Dia terkena serangan jantung kemudian pingsan, aku menemukan kalian saat dia dalam keadaan setengah sadar. Tapi mungkin aku yang membuatnya pingsan, karena aku sempat memukulnya sekali"


Lukas terdengar menyesal.


"Kau seharusnya menghancurkan wajahnya" Joan menyahut galak.


"Joan!" Erich menegur Joan pelan.


"Aku ingin sekali, sayangnya polisi datang terlalu cepat. Aku rasa mereka sedikit terlalu bersemangat. Bagaimanapun ini adalah tindakan kriminal pertama setelah 5 tahun" kata Lukas, sambil tersenyum getir.


"Terima kasih, kau telah menyelamatkanku" kata Lana, kali ini dengan tulus.


Lukas menggeleng, "Kau sangat beruntung, karena Petra terkena serangan jantung sebelum sempat melakukan apapun padamu. Aku hanya menemukan kalian"


Lukas menolak ucapan terima kasih itu karena merasa tak pantas. Bagaimanapun juga, Lana selamat karena Petra jatuh sakit.


"D--dia belum melakukan----?" suara Lana sedikit terbata saat mengucapkan hal itu.


"Ya Lana, dia belum melakukannya, tapi dia telah melukai wajahmu" Joan mengusap pelan memar di pipi Lana.


"Bagus, itu bagus" ujar Lana sedatar mungkin.


Lana menunduk menyembunyikan emosi apapun dari tiga orang yang ada di hadapannya.


Joan mendesah jengkel sadar Lana menutup diri.


"Apakah kau lapar, kata Lukas kau pingsan selama dua hari. Kau harus makan banyak"


Joan akhirnya mengalihkan diskusi ke ranah yang lebih netral, agar suasana suram itu tak berkelanjutan.


Lukas langsung berjalan menghampiri telepon dan menghubungi room service untuk memesan makanan. Tapi Lana tidak terlalu memperhatikannya.


"Aku baik-baik saja, Joan" Lana tersenyum, sekali lagi mencoba meyakinkan Joan. Karena sedari tadi tangan Joan tak henti-hentinya menggosok pipi Lana, dan juga punggungnya.


"Aku rasa kita harus membiarkan Lana beristirahat" kata Erich, "Sesuai dengan perintah dokter" tambahnya, ketika melihat Joan ingin membantah.


Joan akhirnya hanya bisa menarik nafas panjang, "Baiklah, tapi kau harus berjanji akan langsung menghubungiku ketika membutuhkan sesuatu" katanya, sambil berdiri, bersiap untuk pergi.


"Eh--aku juga ingin pulang" kata Lana, dia sudah merasa cukup sehat.


"Omong kosong macam apa itu?" Lukas langsung menyahut gusar. "Kau akan ada disini sampai keadaanmu normal kembali"


"Aku sudah normal!! Dan kenapa aku harus berada disini? Aku bisa melakukannya di rumahku sendiri jika ingin beristirahat!" sergah Lana, yang mulai heran.


Kenapa pria ini terlihat sangat ngotot ingin menahannya disini?


"Karena kau lebih aman jika berada di sini. Kau tinggal sendirian di atas bukit, lagi pula polisi akan mencarimu ke sini. Mereka yang memberi izin agar kau bisa ada disini, dan mereka juga yang akan mengatur kapan kau bisa pergi" bantah Lukas.


Nada panggilan ponsel yang berisik, memutus pertengkaran Lana dan Lukas.


Erich dengan gugup langsung meminta maaf dan menyingkir ke arah jendela menjawab panggilan itu.


"Polisi?" Lana bertanya dengan lebih pelan, merasa ia tadi terlalu emosi.


"Ya, mereka harus meminta keterangan darimu, agar bisa membuat tuntutan pada Petra"


Pertanyaan Lana sekali lagi di potong oleh Erich yang mendekat kembali ke ranjang.


"Maaf Lana, tapi kami harus segera pulang. Rombongan turis dari Paris yang memesan tempat sudah datang"


Erich terlihat sangat menyesal saat mengatakannya. Keluhan juga terdengar dari mulut Joan.


"Kalian pulanglah, aku akan baik-baik saja" Lana mulai merasa tak enak, karena menghambat pekerjaan Joan dan Erich.


Diiringi dengan sederetan pesan penghiburan, dan juga pelukan, Joan dan Erich akhirnya keluar dari kamar Lana.


Meninggalkannya dengan Lukas dalam suasana yang canggung. Mereka sedang beradu mulut tadi. Sebenarnya Lana sudah merasa kalah, dia tidak bisa membantah jika Lukas membawa nama Polisi.


Lana akhirnya pasrah dan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.


"Berapa lama aku harus tinggal di sini?" Lana mulai menghitung dalam kepala berapa biaya yang harus dikeluarkannya.


Tabungannya sudah sedikit bertambah, tapi Lana ragu bisa membayar tagihan kamar ini jika tinggal lebih dari tiga hari.


"Seminggu, atau mungkin dua. Sampai dokter menyatakan kau sehat, dan polisi mengijinkannya" jawab Lukas dengan cepat


"APA!!"


Lana langsung merasa situasi ini sangat absurd, bisa-bisa ia harus menjual rumahnya agar bisa membayar semua tagihannya nanti.


"Itu akan sangat mahal! Tak bisakah polisi menempatkanku di hotel yang biasa?" Lana mencoba bernegosiasi.


"Kau anggap apa diriku? Kau tak perlu membayar sepeserpun saat berada disini!" Lukas menyahut kasar, tak bisa lagi menyembunyikan rasa kesalnya.


Perkataan Lukas membuat Lana sadar akan sesuatu,


"Merian, kau Lukas Merian, pemilik Merian Resort?" tanya Lana takjub, kembali merasa bodoh, karena tak menyadari hal ini sedari tadi.


Otaknya bekerja dengan lambat.


"Ya, kau tidak akan menerima tagihan selama apapun kau tinggal di kamar ini"


"Tapi kenapa? Kau tak perlu melakukan semua ini-----Mr. Merian"


Lana mulai maklum dan mencoba bersikap lebih sopan.


Bagaimanapun, pria itu adalah orang yang menolongnya, dan telah memberikan kamar mewah ini dengan cuma-cuma, tapi Lana malah mengajaknya berdebat.


"Lukas, panggil aku Lukas, Solana. Dan apa maksudmu kenapa? Tentu saja karena aku ingin menolongmu"


"Lana, Lana saja cukup" Lana meralat panggilan Lukas dengan otomatis, karena ia masih tak habis pikir kenapa Lukas melakukan hal sejauh ini untuknya.


"Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih karena kau telah memuluskan jalannya kontrak kerjaku dengan pria Spanyol itu. Kau melakukan pekerjaan yang sempurna sebagai translator , Lana"


Lukas sudah merendahkan nada suaranya sekarang, karena Lana juga terlihat tidak lagi ingin beradu pendapat.


Lana hanya mengangguk-angguk kecil dengan wajah menunduk. Dan syukurlah, kesunyian yang kembali canggung dipecah oleh ketukan di pintu.


Petugas room service mengantarkan makan pesanan Lukas.


Tapi Lukas menahan pria itu di pintu dan membawa sendiri makan itu ke dalam.


"Makan, dan kemudian beristirahatlah. Dokter mengatakan bahwa kau tak boleh banyak beraktivitas" kata Lukas sambil menaruh nampan makanan di meja.


"Terima kasih, untuk semuanya" sekali lagi Lana berkata dengan tulus sambil menatap wajah Lukas selama dua detik kemudian kembali menunuduk.


Lukas hanya bisa mengangguk pelan. Setelah mengucapkan kata berpamitan yang kaku, Lukas akhirnya juga keluar dari kamar Lana.