
Musim dingin di New York tidak seburuk yang disangkanya, Lukas masih bisa merasakan udara hangat saat berjalan menuju gedung ini tadi.
Tapi mungkin dia merasa hangat karena banyaknya mahasiswa yang sedang berkumpul. Kampus sedang sangat sibuk, setelah libur panjang akhir tahun.
Tapi Lukas gembira, orang yang akan ditemuinya bersedia meluangkan waktu sejenak, setelah tahu dia jauh-jauh datang dari Swiss.
"Silahkan masuk Mr. Merian. Kuliah sebentar lagi akan selesai, Profesor akan menemui anda setelah itu" kata wanita berambut pirang, yang tadi menyambutnya.
Gadis itu mungkin dua atau tiga tahun lebih muda dari Lana, Lukas menebak dia mahasiswa tingkat akhir di universitas ini.
Dengan berani gadis itu beberapa kali melirik Lukas, dan tentu saja Lukas mengerti apa tujuan lirikan mata itu.
Tapi Lukas tidak menanggapinya, hari-hari berburunya sudah lewat jauh dibelakang.
Tak lama sosok yang sedari ditunggunya muncul dari pintu. Lukas langsung mengenali mata abu-abu pucat miliknya. Dia datang pada tempat yang tepat.
"Profesor Fayra?" sapa Lukas sambil mengulurkan tangan.
"Ya, dan maaf saya lupa nama anda" Pria itu menyambut uluran tangan Lukas sambil tersenyum malu.
Dan lagi Lukas bisa melihat kemiripan Lana dengan ayahnya. Senyum mereka persis sama.
"Mari, kita akan berbicara di dalam"
Ayah Lana berjalan menuju ruang kantornya yang segera diikuti oleh Lukas.
"Aku tidak tahu desain yang aku buat membuat seseorang dari tempat yang jauh akan tertarik" katanya, setelah meletakkan buku bawaannya ke meja.
Lukas tahu, dia harus mengatakan semuanya sekarang.
Maka Lukas menarik kartu namanya dari dompet, kemudian menyerahkannya pada ayah Lana.
"Maaf, karena saya telah berbohong sebelumnya. Perkenalkan, saya Lukas Merian, seperti yang tertulis dalam kartu itu. Saya memang pengusaha hotel, tapi saya datang ke sini bukan untuk melihat rancangan bangunan yang anda buat. Saya kesini untuk menyerahkan ini"
Lukas menarik undangan pernikahannya dengan Lana dari dalam mantel, yang sekali lagi diterima oleh ayah Lana dengan wajah bingung.
"Apa ini?"
"Saya akan menikah dengan Solana seminggu dari sekarang"
Ruangan itu sunyi senyap begitu Lukas selesai berbicara.
Profesor Fayra terlihat seperti robot yang dihentikan dengan paksa, karena tangannya masih terangkat di udara menerima uluran undangan dari Lukas.
Mata abu-abu itu berkedip pelan, memandang Lukas dengan tidak percaya.
"Lana...Lana?" setelah berhasil menguasai diri, akhirnya dia bisa bersuara.
"Ya, Solana Fayra, putri anda. Saya harap anda bisa datang. Adalah kebohongan jika saya mengatakan Lana mengharapkan kedatangan anda, karena Lana tidak tahu soal keberadaan saya di sini. Perbuatan ini adalah inisiatif saya sendiri"
Lukas menjelaskan dengan detail.
Dan lagi, dia hanya mendapat balasan kesunyian.
Setelah beberapa menit tanpa kata, akhirnya Lukas memutuskan untuk pergi. Dia meraih mantel yang tadi diletakkannya di kursi. Tujuannya sudah tercapai, walaupun tidak mendapatkan hasil seperti yang diinginkannya.
"Apakah kau tahu tentang-------"
Ayah Lana tidak meneruskan kalimatnya, tapi Lukas juga tidak memerlukannya untuk mengerti.
"Tentu saja, saya mengetahui semuanya"
"Dan kau mempercayainya?" suaranya ayah Lana sedikit bergetar sekarang.
"Sulit, tapi saya percaya dan belajar untuk menerimanya. Saya mencintai semua apa yang ada pada Lana"
Lukas sedikit canggung, karena ia kembali ditinggalkan dalam diam. Akhirnya dia memutuskan untuk bertanya terlebih dahulu
"Kenapa anda tidak pernah mencari Lana setelah dia lari dari rumah?"
Profesor Fayra kehilangan ketenangan diri setelah Lukas menanyakan hal itu, matanya dengan liar berpindah memandang Lukas dan sekelilingnya.
Lukas mengenali perilaku itu sebagai rasa bersalah.
"Maaf, jika pertanyaan saya lancang, tapi anda adalah satu-satunya keluarga Lana yang masih tersisa. Pengabaian anda sangat menyakiti Lana"
"Aku tahu, tapi apa yang bisa aku lakukan? Mempercayai semua omong kosong itu adalah kemustahilan!"
Akhirnya Lukas mendapat bantahan seperti yang seharusnya.
"Lana adalah putri anda, bukankah sudah sewajarnya jika anda seharusnya berusaha lebih keras untuk menerima keadaan khususnya itu?"
Lukas tidak menyukai bagaimana dia masih menyebut kemampuan Lana sebagai omong kosong. Ayah Lana pasti melihat cahaya biru itu saat istrinya diserang. Bukti itu sudah cukup kuat untuk menerima kenyataan bahwa Lana berkata jujur.
"Kau benar-benar sangat yakin akan hal itu rupanya"
Sekarang dia malah mempertanyakan keyakinan Lukas.
"Anda sudah melihat cahaya biru itu keluar dari tubuh Lana, bukti apalagi yang anda inginkan?" Sikap keras kepala itu mengingatkan Lukas pada Lana.
Profesor Fayra berjengit saat Lukas menyebut cahaya biru itu.
"Kau juga melihatnya?" tanyanya ragu.
"Ya, dengan sangat jelas, saat aku hampir terbunuh karenanya. Tapi saat itu aku mungkin memang pantas menerimanya"
"Kau hampir terbunuh olehnya, dan masih ingin menikahinya?" seru ayah Lana.
"Tentu saja, karena aku memilih untuk belajar mengerti dengan keadaan Lana, bukan meninggalkannya sendiri dalam kesepian. Dan aku bersyukur karena tidak pernah berkeinginan untuk mengabaikan Lana"
Ayah Lana kembali diam.
"Jika anda mau sedikit saja berusaha percaya pada Lana, anda akan mengerti bahwa semua yang terjadi pada istri anda adalah kecelakaan. Mungkin selama ini anda menyalahkan Lana, padahal dia sama sekali tidak bersalah"
Lukas mengatakan terlalu banyak hal, bukan haknya untuk menjelaskan hal itu pada ayah Lana. Itu adalah urusan Lana dengan ayahnya. Tapi Lukas tidak tahan melihat sifat pasifnya.
Lukas akhirnya berdiri, tidak ada lagi yang bisa dikatakannya.
Ayah Lana harus memikirkan sendiri apa yang harus dilakukan setelah ini. Dia tidak bisa ikut campur lebih jauh lagi.
"Di dalam undangan itu, terdapat tiket untuk penerbangan menuju Swiss. Jika anda memutuskan untuk hadir, saya akan sangat gembira"
Melihat tidak ada reaksi dari lawan bicaranya, Lukas menundukan kepala menghormat, "Saya permisi"
"Kau kesini hanya untuk memberi undangan ini? Bukankah seharusnya kau meminta restu sebelum memberi undangan?"
Jika tidak ingat dia sedang berbicara dengan siapa, Lukas mungkin sudah mengumpat.
"Maaf. Saya akan berterima kasih karena anda telah merawat Lana sampai dia remaja tapi luka yang anda torehkan pada hati Lana, membuat anda tidak berhak lagi untuk memberikan restu pada kami. " kata Lukas dengan nada rendah yang dingin.
Prof. Fayra terperangah mendengar ucapan Lukas, tapi tidak membantah, karena semua yang Lukas katakan adalah benar.
Tanpa repot-repot berpamitan. Lukas berbalik.
"Apakah Lana baik-baik saja?" tanyanya, saat tangan Lukas menyentuh kenop pintu.
"Dengan mudah saya akan menjawab iya. Tapi kenapa anda tidak melihatnya sendiri? Anda bisa menilai saat melihatnya nanti"
Setelah yakin tak akan ada pertanyaan lanjutan, Lukas keluar dari ruangan itu.
Dia hanya bisa menunggu sampai saat hari pernikahannya tiba, untuk tahu apakah misinya kali ini berhasil atau gagal.
Tentu saja dia berharap akan berhasil, dengan begitu kegembiraan Lana akan lengkap.
------------0O0-------------
"Lana!!"
Aubrey kembali menubruknya, saat Lana muncul di rumahnya lagi. Bahkan Barnabas yang biasanya dingin, tersenyum melihat Lana kembali.
"Kau baik-baik saja, syukurlah kau baik-baik saja. Kau pergi sambil menangis Lana. kau membuatku khawatir"
"Maafkan aku. Saat itu, aku tidak punya cara lain"
"Kau harus menjelaskan semuanya atau aku akan sangat marah" ancam Aubrey, dengan suara bergetar.
"Tentu kau boleh bertanya tentang apa saja, aku akan menjawabnya" Lana mengangguk dengan jujur. Dia akan berterus terang pada Aubrey.
Lana sekarang benar--benar menyesal, karena Aubrey mulai berkaca-kaca. Dia pasti sangat gelisah saat Lana pergi meninggalkan Lukas yang sedang pingsan.
"Bagaimana dengan Lukas?" tanya Barnabas.
"Aku kesini untuk itu juga" Lana melambai ke arah pintu.
Lukas masuk dengan langkah ragu, matanya melirik ke segala penjuru, di belakangnya Neff, mengikuti dengan sikap yang jauh lebih hati-hati. Dia masih belum senyaman Lukas saat terlibat dengan sesuatu yang berhubungan dengan hantu.
"Oh--syukurlah dia sehat. Neff juga terlihat jauh lebih tampan setelah dietnya berhasil"
Aubrey melayang menghampiri mereka berdua. Dengan gembira, dia mengitari Lukas dan Neff, yang tentu saja tidak mengetahuinya. Mereka masih memandang dengan takut-takut ke sudut-sudut rumah.
"Ellza!!" Barnabas yang berseru, saat melihat sosok Diellza yang sealu basah merayap masuk di belakang ayahnya.
"Kakek!!' Kali ini Diell menubruk kakeknya dengan gembira. Pertemuan mereka yang kedua lebih tenang, Tanpa drama seperti yang dulu.
"Aubrey, Barnabas. Lukas dan Neff ingin berbicara dengan kalian"
Mereka berdua memadang Lana dengan bingung. "Aku yang akan menjadi perantaranya" lanjut Lana.
"Mereka tahu soal kemampuanmu dan keberadaan kami?" seru Aubrey. "Ya, mereka tahu" kata Lana.
"Itu luar biasa. Dan mereka percaya? Neff sangat rasional, dia tidak mungkin percaya dengan hal-hal seperti itu"
Aubrey memandang mereka berdua dengan takjub. Dan rupanya dia sangat mengenal Neff.
"Menurut Lukas, Neff sedikit sulit menerimanya. Tapi dia sudah tidak ragu lagi sekarang" jawab Lana.
Lukas tersenyum mendengar perbincangan Lana yang terdengar ganjil. tapi dari jawaban Lana , dia bisa menebak hal apa yang dibicarakan oleh kakek dan neneknya. Sementara Neff mengerut dengan tidak nyaman.
"Duduklah--duduklah, perbincangan ini akan lama" Dengan riang Aubrey melambai ke arah sofa.
"Ayo--" Lana menunjuk ke sofa, mengajak mereka berdua duduk.
"Oh--- padahal tadi pagi masih baik-baik saja saat aku mendudukinya" Lana melihat lubang di sofa tua itu dengan kecewa.
"Lana--umur sofa ini lebih tua dariku. Adalah wajar jika rusak, Yang tidak wajar adalah keinginanmu untuk menyimpannya" kata Lukas dengan sabar.
Ini kesekian kalinya Lukas harus mengingatkan Lana soal gaya hidup hematnya yang sudah keterlaluan.
"Baiklah---kita duduk di tempat makan" kata Lana, tapi matanya masih melirik sofa rusak itu dengan tidak rela. Jika diperbolehkan oleh Lukas, dia masih ingin memperbaikinya.
Neff mendahului mereka duduk di sana.
Barbabas dan Aubrey menyusul dengan pelan. Barnabas masih tidak berkata apa-apa, dia hanya memandang Lukas dan Neff bergantian, seakan sedang menyusun kalimat yang tepat. Sementara Diell sudah menjelajah rumah itu dengan sikap tak acuh khas anak-anaknya.
"Bisa kau beritahu di mana mereka berada? Aku tidak tahu harus berbicara ke arah mana" bisik Lukas. Bermaksud merahasiakan permintaannya. yang tentu saja tidak berhasil, karena Aubrey berada persis di sebelahnya.
Aubrey tertawa renyah mendengar perkataan Lukas, "Dia selalu berusaha sopan ketika ingin mengatakan sesuatu yang penting. Aku jadi penasaran apa yang ingin dia katakan"
"Aubrey berada persis di sebelahmu, dan Barnabas ada di sebelah Neff"
Neff langsung berjengit menjauh. Tapi salah arah, dia justru condong semakin dekat ke Barnabas.
Lana menikmati rasa terkejut dan ketidak berdayaan mereka dengan tawa renyah. "Oh--Lukas, Aubrey sangat penasaran sekarang. Dia ingin tahu hal apa yang ingin kau katakan"
"Em..." Lukas menoleh ke arah Aubrey berada, sesuai arahan Lana. Kali ini wajahnya sudah jauh lebih santai.
"Pertama, aku ingin meminta maaf karena telah menjual rumah ini. Seharusnya aku tidak melakukannya"
"Oh----Lukas, kau tidak perlu meminta maaf. Aku tahu kau melakukannya untuk melupakan kenangan tentang Ellza. Kalian berdua menghabiskan banyak waktu disini" kata Aubrey, sambil mengelus kepala Lukas dengan sayang.
"Tapi memang seharusnya kaku tidak menjualnya begitu saja" sahut Barnabas, mulutnya tajam seperti biasa, tapi kepalanya mengangguk mengerti.
Lana menyampaikan jawaban Barnabas dan Aubrey kepada Lukas apa adanya.
Lukas sudah bercerita pada Lana, alasan dia menjual rumah ini. Lukas menjualnya karena dia ingin melupakan semua kenangan yang menyakitinya. Tidak hanya rumah ini, dia juga menjual rumah yang dulu ditempatinya dengan Anja.
Lukas berharap bisa memulai lembaran baru saat melakukannya.
"Aku gembira kalian terlihat sehat dan gembira, terutama kau Lukas. Kami menanti saat dimana kau akan datang lagi ke rumah ini. Kami ingin kau kembali ceria seperti dulu" Aubrey terisak saat mengucapkannya.
Dia sangat merindukan Lukas dan Neff. Saat ini, Aubrey sedang berusaha memeluk Lukas, tapi tentu saja Lukas tidak merasakan apa-apa.
Lana kembali menyampaikan perkataan Aubrey, matanya ikut berair melihat Aubrey yang terharu.
"Maafkan aku. Rumah ini mempunyai banyak kenangan tentang Diellza. Aku tidak sanggup datang tanpa merasa hancur" kata Lukas. Dia mencoba tersenyum, walaupun dia terlihat merana.
"Aku mengeti sayang---kami mengerti" Aubrey melirik Barnabas yang mendongak memandang langit-langit. Dia mencoba menahan air mata.
Kehilangan Diell tentu juga merupakan pukulan berat bagi mereka berdua. Terutama Barnabas.
Lana bisa melihat, mata Barnabas jarang lepas dari sosok Diell yang terus berkeliling tak bisa diam.
"Aku juga ingin meminta maaf, karena sangat jarang mengunjungi kalian, setelah Ellza-- Aku tidak bisa menghibur kalian saat itu--" Neff tiba-tiba menyahut dengan suara lirih.
Hati Lana semakin terenyuh melihat itu. Neff biasanya ceria dan sedikit tak acuh. Tapi dia terlihat benar-benar menyesal. Matanya memerah.
"Jangan bodoh Neff, kami tahu kau sibuk. Dan lagi kau juga sedang menghadapi masalah dengan ayahmu. Aku sudah cukup senang kau bisa mengatasinya dengan baik" kata Aubrey, dia juga mencoba mengelus pipi Neff.
Lana hanya mengatakan apa yang Aubrey sampaikan, dia tidak bertanya soal masalah ayah Neff, karena itu urusan pribadi mereka.
Suasana sunyi melingkupi ruang makan. Aubrey mencoba untuk menenangkan diri. Lukas dan Neff juga sama. Mereka menarik nafas panjang beberapa kali.
"Oh--kabar baiknya. aku sudah membeli rumah ini lagi. Rumah ini sekarang milikku dan aku berjanji tidak akan menjualnya lagi" kata Lukas, dengan sungguh-sungguh. Dia sudah lebih tenang.
"Oh--- kenapa? Apakah itu berarti Lana akan pindah dari Grindelwald?" Aubrey tiba-tiba panik, bahkan Barnabas terlihat tidak rela.
Lana menyampaikan pertanyaan Aubrey dengan pipi memerah, karena sangat tahu apa jawaban Lukas.
"Jangan khawatir, Lana akan tetap di Grindelwald. Karena kami akan menikah beberapa hari lagi" kata Lukas, sambil meraih tangan Lana dan menggengamnya hangat.
"Kau apa??" Barnabas dan Aubrey berseru berbarengan.
"Ini luar biasa---ini luar biasa" Aubrey langsung melenting bagai balon karena gembira.
"Aku tahu ada sesuatu yang terjadi diantara kalian setelah hari itu. Tapi aku tidak tahu akan secepat ini perkembangannya" kata Barnabas. Dia mengajuk pada hari dimana Lukas menerjang pintu depan untuk berbicara pada Lana.
"Aku mencintai Lana, dan Lana juga tidak menolak. Jadi tidak ada gunanya menunggu lebih lama" kata Lukas.
"Selamat sayang" Aubrey memeluk Lana dengan erat.
Dan Lana membalasnya, dia bertahan sedikit lebih lama. Tapi Lana terkejut, saat Barnabas mengikuti Aubrey memeluknya. Dia belum pernah melakukan hal itu sebelumnya.
Tapi dua roh bersamaan terlalu berat untuk Lana. Hanya butuh dua menit sebelum tubuh Lana akhirnya menggigil.
"Maaf--maafkan kami" Aubrey kembali terisak bahagia, sambil bergerak menjauh.
"Terima kasih karena telah menerima Lukas. Dan tolong bahagiakan dia" bisik Barnabas, sebelum menjauh.
"Pasti" kata Lana, seraya mengusap air matanya.
"Apa yang mereka katakan?" tanya Lukas dia bingung karena Lana hanya menjawab dengan singkat.
"Jangan!!' isak Lana, menyambar tangan Aubrey yang terasa semakin ringan.
Lana merasakan saat tubuh Aubrey memeluknya tadi. Kepadatan Aubrey semakin berkurang.
"Maafkan kami. Tapi keinginan kami adalah untuk melihat Lukas kembali bahagia saat berada di rumah ini. Dan kami bisa merasakan dia sangat bahagia Lana. Dia bahagia karena dirimu" kata Barnabas.
"Jangan pergi!!" Lana memohon dengan bodoh. Dia tahu benar, kepergian mereka tidak bisa dicegah.
"Lana ada apa?" Lukas merengkuh Lana yang kini bercururan air mata.
"Mereka akan pergi?" Neff menyahut dengan suara bergetar. Tangannya mengusap setetets air yang lolos dari matanya.
Dalam pelukan Lukas, Lana mengangguk.
"Tidak!! Kenapa?------ Kita baru saja bertemu!" Lukas juga sama, suaranya yang biasanya mantap, kini goyah..
"Keinginan mereka----adalah bertemu denganmu di rumah ini" Lana mencoba menjelaskan diantara tangisnya.
"Jangan bersedih, kami akan baik-baik saja" kata Aubrey sambil memeluk Lukas dan Lana bersamaan.
Tak lupa dia juga memeluk Neff, yang menunduk dalam-dalam menyembunyikan tangis.
Masih dengan air mata, Lana tetap menyampaikan semua perkataan Aubrey.
"Ellza? Apakah kau ikut dengan kami?" tanya Barnabas sambil berjongkok di depan Diell.
Diell menggeleng. "Aku ingin melihat ayah lebih bahagia lagi"
Lana merasakan setetes air membasahi pipinya, saat Lana menyampaikan ucapan Diell. Air mata Lukas akhirnya turun mendengar tekad Diell.
"Baiklah anak manis. Tolong jaga ayahmu" Barnabas mengelus kepala Diell dengan lembut.
"Kami pergi!" Aubrey mengelus kepala Lana sekali lagi, sebelum tubuhnya terurai di udara. Barnabas memberinya lambaian tangan untuk terakhir kali sebelum menghilang.
Lana meraung di dada Lukas saat tidak bisa lagi melihat mereka berdua. Barnabas dan Aubrey memberinya rasa rumah setelah sepuluh tahun kehidupannya berjalan dengan kesepian. Mereka berdua adalah keluarga yang berharga bagi Lana, seperti Hans.
"Lana, kau tahu ini harus terjadi. Dan lebih baik seperti ini" bisik Lukas. Mencoba menghibur Lana, meskipun dari suaranya yang sengau, jelas Lukas juga sedang berduka.
"Ya Lana, masih ada aku" Lana merasakan dingin menempel di punggungnya. Diell memeluknya dari belakang.
"Terima kasih" Lana menghapus air matanya, lalu berbalik memandang Diell dengan senyum. Lana tidak ingin terlihat sedih di depan Diell.
"Lebih baik kita pulang!" Neff tidak menunggu jawaban, dia bangkit dan berjalan menuju pintu depan, yang masih menguarkan aroma cat baru.
"Ayo!' Lukas menarik Lana berdiri.
"Aku mencintaimu" bisik Lana.
"Ada apa ini?" Lukas tersenyum mendengarnya.
"Itu caraku untuk menghiburmu. Kau selalu tersenyum saat aku mnegucapkannya" kata Lana.
"Cara yang sangat jitu" kata Lukas mengakuinya.
Senyum itu adalah reaksi otomatis, karena Lukas merasa sangat bahagia setiap mendengar ungkapan cinta Lana.
------------0O0-------------
"Apakah kita harus terus melakukannya saat siang hari?" tanya Lukas, sambil menarik tubuh polos Lana mendekat.
Lana yang baru saja ingin memakai baju, harus membatalkan niatnya itu.
Dia hanya bisa pasrah saat Lukas kembali membenamkannya ke balik selimut.
"Sebenarnya tidak, Diell lebih suka menjelajah keluar saat kita tidur. dia pernah berkata, dia akan bosan jika terus melihatmu saat tidur" jawab Lana.
"Dan kau baru mengatakan hal itu setelah aku bertanya?"
Lukas mencubit pipi Lana dengan gemas.
Saat ini mereka masih berlibur di Maldives sebagai bagian dari bulan madu, tapi nanti jika kembali ke Merian, **** siang hari akan nyaris tidak mungkin.
Lukas sangat bersyukur, karena setelah kematian Diell, dia menjalani hari-harinya seperti seorang pendeta. Lukas tidak bisa membayangkan jika Diell ada didekatnya saat dia sedang 'melakukannya'.
Tapi jawaban Lana tadi membuatnya lega. Dia hanya harus berpura-pura tidur sebelumnya.
"Masih ada beberapa jam lagi sebelum matahari terbenam Lana" bisik Lukas, yang seketika membuat Lana meremang.
Dan tentu saja Lukas sudah lupa akan tekadnya untuk memperlakukan Lana dengan lembut, apalagi setelah tahu Lana tidak setenang yang dibayangkannya.
Harapan Lukas, Darla akan memberinya lebih banyak waktu untuk liburan ini.