Blue Light

Blue Light
SEBELAS



Lana mencium aroma kopi hangat yang ada di tangannya dengan puas. Sarapannya yang terdiri dari roti dengan selai kacang, dan kopi sudah siap.


Kadang Lana merindukan saraan mewahnya saat berada di Merian, tapi dia mengusir perasaan itu jauh-jauh. Bukan haknya untuk merindukan kemewahan seperti itu.


Masa singkatnya di Merian adalah mimpi manis berbalut petaka. Dia tidak ingin mengingatnya lagi. Karena tusukan rasa bersalah terus mengganggunya, setiap kali dia mengingat Lukas----dan tentu saja istrinya.


Lana mengibaskan tangan, mengusir ingatan itu dengan jengkel.


Dia kemudian membawa sarapannya keluar di teras samping rumah, untuk menikmati udara pagi yang segar seperti biasanya.


Dari sana, Lana bisa melihat pemandangan pepohonan yang sejuk, sempurna untuk mengawali hari.


Dengan pelan Lana, meletakkan piringnya di meja kecil kemudian duduk di atas ayunan besi panjang yang juga berada di teras.


Ayunan itu sudah tua, seperti keadaan rumah itu, tapi masih kokoh. Lana sudah memeriksanya, sehingga dia tak perlu takut saat menaikinya. Ayunan itu di tata menghadap ke arah lahan terlantar di samping rumahnya.


Ayunan ini adalah benda favorit dari semua peninggalan Aubrey. Lana sangat menyukai buaian perlahan dari benda itu, saat menikmati kopi paginya .


Hal itu menenangkan pikiran.


Udara pagi ini sudah cukup dingin, karena musim gugur sebentar lagi berakhir, tapi belum membuat Lana menggigil. Ia cukup memakai sweater lengan panjang dan sudah merasa hangat.


Lana menggunyah pelan sambil sesekali menghirup kopinya. Pikirannya melayang pada pekerjaan yang harus diselesaikannya hari ini.


Hampir tiga minggu ini ia bekerja di tempat Joan, dan Lana cukup menikmatinya.


Tugasnya adalah membantu menjelaskan apa saja pekerjaan pertanian yang akan  dilakukan kepada tamu yang baru datang, termasuk membawa mereka berkeliling. Setelah itu, dia akan kembali ke rumah Joan, dan mengurus tamu yang sudah ada.


Rumah pertanian Joan, mampu menerima sekitar 15 tamu, dalam 10 kamar yang ada. Nyaris seperti hotel.


Bedanya, Joan tidak menawarkan pelayanan kamar, seperti mencuci atau membersihkan kamar. Tamu yang menginap bertanggung jawab atas hal itu sendiri. Joan hanya menyediakan makan tiga kali sehari.


Karena itu tugas Lana tidak terlalu berat.


Saat pagi Lana akan bertanya pada setiap tamu di kamar tentang menu apa yang mereka inginkan, kemudian juga menginformasikan jadwal pekerjaan yang harus mereka ikuti untuk hari itu.


Setelah itu, dia membersihkan dan merapikan ruangan di depan yang berfungsi seperti lobby tempat berkumpulnya tamu saat malam tiba.


Joan sudah melarangnya melakukan hal ini, karena bukan termasuk tugasnya, tapi Lana memaksa. Dia tidak suka duduk diam sementara menunggu tamu datang.


Lana juga ingin membantu pekerjaan Lana di dapur, tapi dengan lebih tegas Joan menolaknya. Sudah ada dua orang yang membantu Joan di dapur, dan katanya masakan Lana tidak lulus test untuk bekerja di sana.


Tapi Lana  kadang masih membantu pekerjaan di dapur jika waktunya senggang, bukan pekerjaan yang berkaitan dengan memasak, dia hanya membantu membelanjakan barang kebutuhan dapur yang tidak dihasilkan oleh lahan Joan, seperti keju dan susu, maupun roti.


Lana tetap sibuk, tapi dengan irama pekerjaan yang lebih santai daripada Melina.


Joan dan Erich memberikan arti yang baru dari kata pengabaian.


Lana sudah berusaha sekuat tenaga menjauh dari mereka. Dia selalu menolak, jika Joan mengajaknya mengobrol santai dengan alasan sibuk. Lana juga menolak kebaikan Erich yang tak pernah bosan mengajaknya makan bersama.


Tapi biasanya tidak pernah berhasil.


Joan selalu dapat menemukan alasan untuk sekedar mengajaknya berbicara, dan Erich dengan tegas melarangnya pulang sebelum dia makan. Maka dengan terpaksa Lana mengabulkan permintaan mereka.


Mereka juga tidak pernah keberatan dengan sikap dingin Lana. Joan tetap mengajaknya berbicara walaupun Lana jarang menanggapi dan jawabannya selalu singkat


Mereka berdua menutup mata dari sifat defensif Lana.


Dan Lana akhirnya hanya pasrah, aia tak berusaha menjadi lebih ramah, tapi ia juga tidak akan mencoba menjadi jahat dengan berbuat kasar.


Bagaimanapun dia membutuhkan pekerjaan, dan tempat Joan memberinya gaji yang lumayan. tidak lebih besar dari Melina, tapi cukup, karena hampir semua makanannya di suplai oleh Joan.


Termasuk roti dan selai kacang sarapannya itu. Ia hanya perlu membeli kopi. Ini berarti dia bisa menabung hampir semua gajinya. Bagi Lana ini adalah faktor yang sangat penting. Karena itu dia bertahan


Dan lingkungan kerja malamnya juga tidak buruk.


Lana tidak menghabiskan waktu yang lama berada di rumah Joan, ketika matahari telah terbenam, Lana biasanya bebas pulang setelah makan malam selesai.


Tapi singkatnya waktu malam yang dihabiskan di sana, sudah membuat Lana sibuk.


Dia tidak hanya membantu satu, tapi dua hantu melepaskan diri dari rumah itu. Jika bukan karena ingin bekerja lebih lama di sana, Lana sudah pasti akan mengabaikannya.


Hantu yang pertama, membuat Lana menjatuhkan piring karena kaget.


Hantu itu tidak muncul mendadak di hadapannya, tapi suara tangisannya bergema di sekeliling rumah. Tidak seburuk nyanyian nina bobo yang didengarnya di Merian, tapi cukup untuk membuat bulu kuduk Lana berdiri.


Setelah tiga hari mencoba untuk tidak peduli, akhirnya Lana menyerah dan mencari dimana sebenarnya hantu itu berada, sambil berharap tidak akan bertemu hantu bunuh diri lagi.


Lana menyelinap ke atas begitu makan malam selesai, dan lega karena dia hanya menemui hantu wanita muda yang meratap di loteng. Hantu itu menangis di lantai loteng menghadap jendela tertutup


Tapi kelegaan itu langsung dimentahkan oleh wujudnya yang tidak menyenangkan.


Wanita itu sepertinya meninggal karena kecelakaan.


Wajahnya membuat Lana tak bisa memandang lama ke arahnya, karena sebagian besar sudah tidak berbentuk lagi.


Tangan kanannya mencuat dalam posisi yang aneh karena patah. Dan salah satu kakinya, jelas hanya menyisakan sedikit daging yang membuatnya masih menempel.


Lana sebenarnya sudah akan keluar dari ruangan itu dan membatalkan niat baiknya, tapi pandangan mata --atau sebagian mata yang tersisa darinya-- mereka bertemu.


Dan tentu saja Lana tak memiliki pilihan, selain mulai menyapa dan mengajaknya mengobrol.


Setelah perkenalan rumit dan pembicaraan panjang selama dua malam berturut-turut, hantu itu ternyata berkeinginan untuk melihat pemandangan gunung Eiger yang cantik untuk terakhir kalinya dari loteng itu.


Wanita itu adalah pemanjat tebing, dan sering menginap di tempat Joan setiap kali ia mengunjungi Grindelwald. Dia meninggal jatuh dari tebing saat melakukan pemanjatan di gunung Eiger.


Lana membayangkan ia jatuh pada jurang berbatu tajam, karena tubuhnya terkoyak dengan mengerikan.


Menurutnya, pemandangan paling indah dari gunung itu bisa dilihat dari loteng ini.


Dengan bersemangat, Lana berusaha keras membuka jendela loteng yang sudah aus. Joan pasti tidak pernah membuka jendela itu selama bertahun-tahun.


Dengan bantuan alat seadanya yang ditemukan di sekitar, Lana akhirnya berhasil membukanya. Mulut yang tak lagi berbentuk milik wanita itu, langsung berseru ceria, tapi kemudian kembali kecewa, karena yang terlihat hanya pemandangan malam gelap.


Dia kembali ceria setelah Lana mengatakan matahari akan terbit sekitar dua jam lagi, dan berkata akan menunggu dengan sabar.


Lana sempat berperang dalam hati untuk memberitahunya bahwa ia akan 'tertidur' begitu matahari terbit, Tapi Lana akhirnya diam, tak tega merusak harapannya.


Yang bisa dilakukan Lana adalah mendengarkan ceritanya sambil sesekali melihat jam, agar tak melewatkan kapan matahari akan terbit.


Dan ketika warna merah langit akhirnya mewujud dan memunculkan matahari, Lana bisa mendengar ucapan terima kasih yang tulus dari wanita itu sebelum sosoknya semakin transparan dan akhirnya tidak terlihat lagi.


Lana berharap pemandangan remang-remang yang hanya bisa dilihatnya dalam waktu singkat tadi cukup untuk menenangkannya.


Keesokan malamnya Lana makan malam dengan hati ringan.


Karena suara tangisan itu tidak terdengar lagi. Lana berhasil membuat wanita itu pergi, walaupun harus membayar mahal usahanya itu.


Lana hampir jatuh pingsan karena dua hari berturut-turut tidak tidur. Tubuhnya nyaris ambruk menimpa tumpukan kayu untuk perapian, jika saja salah satu tamu yang sedang didampingi, tidak menangkap tubuhnya dengan cekatan.


Untunglah tamu itu berasal dari Seattle, sehingga Lana bisa memanipulasi penjelasannya pada Joan menjadi tidak berlebihan.


Lana hanya mengatakan bahwa ia terpeleset, dengan sengaja melewatkan arti kata 'pass out' dan 'fall' saat mentranslasi ucapan tamu itu.


Joan terlihat ragu, tapi akhirnya melepaskan Lana, dengan syarat dia bekerja di dalam saja. Joan sendiri yang akhirnya mengantar tamu itu ke kamar. Jatah pekerjaan Lana, banyak yang dipotong oleh Joan hari itu. Dan sekali lagi Lana merasa sangat berterima kasih.


Hantu kedua yang ditemuinya di dapur Joan, agak sedikit lucu.


Dia bertemu dengannya, ketika salah satu pembantu Joan di dapur tidak bisa datang, Dengan sangat terpaksa Joan mengijinkannya membantu di dapur, meskipun tugasnya hanya mencuci perabotan seperti di Melina.


Lana hampir melempar panci yang dipegangnya karena kaget, saat sesosok hantu mewujud di pojok dapur, dekat dengan tempatnya mencuci piring.


Hantu pria paruh baya dengan kepala botak, dengan bersemangat ia mencium-cium aroma masakan di udara.


Lana sudah akan mengabaikannya, tapi pria itu yang menyapanya duluan.


Dia mengetahui usaha Lana mengenyahkan hantu di loteng dan sangat berterima kasih. Dia juga merasa terganggu dengan tangisannya. Dengan gamblang dia meminta pada Lana untuk memenuhi keinginan terakhirnya.


Keinginannya itulah yang membuat Lana tak habis pikir.


Ia sangat tergila-gila dengan masakan Joan, terutama pai daging. Saat masih hidup, hampir setiap hari ia membeli pai daging dari Joan.


Roh itu jatuh sakit selama beberapa bulan sebelum meninggal, hingga membuatnya melewatkan rutinitas itu. Kini dia ingin mencicipinya lagi.


Hantu tidak perlu dan tidak bisa makan tentu saja. Tapi menurutnya, cukup melihat satu loyang mengepul panas untuk membuatnya puas.


Lana sudah pernah mencicipi pai daging Joan, dan cukup mengerti kenapa hantu itu menagihnya. Pai itu lezat, lebih lezat daripada buatan Marco.


Akhirnya dengan malu-malu Lana meminta pada Joan untuk membuatkannya pai itu.


Joan sempat terkejut, tapi dengan senyum lebar penuh semangat, menyanggupinya. Terlalu bersemangat mungkin, sampai seluruh tamu mendapat pai daging dengan gratis malam itu.


Dia menyerukan suara bahagia sambil menghirup aroma lezat pai itu. Dia memutari pai itu dengan perlahan, dan menikmati aroma gurih yang naik bersama dengan uap hangat.


Seiring ucapan terima kasih yang bertubi-tubi, hantu itu menghilang. Untuk kasus yang ini, Lana tidak perlu bergadang. Dia hanya perlu menunggu dapur sepi saat menyerahkannya.


Selain mereka berdua Lana tidak melihat hantu lain, kecuali yang mengikuti tamu.


Tapi Lana sudah ahli untuk bersikap tidak menghiraukan hantu seperti itu.


Meskipun salah satu tamu yang datang minggu lalu, diikuti oleh hantu wanita dengan sosok basah seperti Diell.


Lana hanya bisa menduga hantu itu adalah mantan istrinya, karena ia berada di Grindelwald untuk berbulan madu dengan istri barunya.


Lamunan Lana dipotong oleh suara dengung obrolan dari lahan kebun di samping rumahnya. Lana mencoba memicingkan mata untuk melihat menembus kerumunan pohon.


Tapi tidak terlihat apapun, tapi kemudian suara mesin pemotong, membelah suasana pagi yang sunyi itu.


Berbagai macam binatang kecil yang kaget, terlihat berlari meninggalkan kerumunan pohon. Lana bisa melihat satu tupai yang dengan bergegas menaiki pohon lain di sudut halamannya.


Apakah pemilik kebun itu sedang menebang pohon untuk dijual?


Lana dalam hati menyayangkan hal itu, karena ia menyukai pemandangan sejuk di samping rumahnya itu. Tapi bukan haknya untuk memproses.


Lana hanya bisa berharap pemilik kebun itu tidak membabat semua pohon sampai gundul.


 


 


------------0O0-------------


 


 


Lukas nyaris gagal menyembunyikan senyum di wajahnya, saat melihat Lana berjalan memasuki halaman rumah Joan.


Joan sendiri dengan sangat jelas melihat perubahan wajah Lukas, tapi batal berkomentar, karena Lana sudah dekat.


Wajah Lana terlihat terkejut ketika melihat Lukas duduk di meja makan ditemani oleh Joan dan Erich.


Tapi kemudian dengan segera, dia mengatur mimik mukanya agar menjadi biasa. Lana bahkan tidak bertanya kenapa Lukas ada disini.


Lana hanya menyapa mereka bertiga dengan singkat dan langsung keluar untuk mengerjakan tugasnya.


Lukas tentu saja kecewa, tapi kemudian tersenyum. Itu adalah sikap Lana yang biasa, dan tentu saja menurutnya menarik.


Yang pasti Lukas gembira, karena sekarang Lana terlihat jauh lebih sehat.


Bekerja di rumah Joan, memberinya akses makanan sehat dan berimbang secara rutin setiap harinya. Dan perubahan itu bisa dilihat dari fisik Lana.


Pertemuan sekilas tadi membuat Lukas terperangah bagaimana Lana sangat berbeda.


Tubuhnya tidak lagi kurus, tapi padat berisi.


Perubahan paling kentara adalah wajah Lana yang berkilau. Pipi Lana yang kusam dan cekung, berganti dengan pipi mulus yang memerah dengan sehat, mata abu-abunya terlihat semakin menonjol dengan cantik.


Ada bagian tubuh lain Lana yang sekarang juga terlihat lebih menonjol, tapi Lukas tidak bisa melihat dengan jelas tadi, karena Lana menutupinya dengan baju longgar.


"Air liurmu akan mengotori mejaku, Lukas!!" sergah Joan, melihatnya tak mengedipkan mata memandang Lana.


"Aku akan mengartikan kepindahanmu ke kebun sebelah karena dia?" Erich tersenyum melihat Lukas mencoba mengalihkan perhatian dari Lana.


Lana sudah berada di ruang lobby, tapi ruang makan dan lobby dipisahkan oleh tembok yang berpintu sangat lebar.


Lukas dengan leluasa melihat Lana mondar-mandir merapikan lobby yang berantakan, karena beberapa tamu memutuskan untuk mengadakan pesta ulang tahun di sana tadi malam.


Lukas hanya tersenyum mendengar pernyataan mereka berdua, "Kalian mengenalku dengan sangat baik"


"Tentu saja, aku yang mengganti popokmu saat bayi" kata Joan, yang langsung membuat Lukas mengernyit tak suka.


Masa kecilnya memang di habiskan di rumah neneknya yang sekarang ditempati Lana. Karena itu ia cukup dekat dengan Joan, walaupun umur mereka berbeda sekitar sepuluh tahun.


Joan yang tinggal di rumah ini semenjak kecil, tentu saja mengenal keluarga neneknya dengan baik.


Dia dan Neff yang sering berada di rumah Aubrey, apalagi setelah orang tuanya meninggal. Lukas tinggal secara permanen disana. Hal itu membuat mereka dekat dengan Joan.


Hubungan mereka menjauh setelah Lukas jarang mengunjungi Aubrey, dan apalagi setelah kakek dan neneknya meninggal bergantian hanya dalam jarak beberapa bulan, Lukas tidak pernah lagi mendatangi rumah itu.


Dia hanya menyuruh orang untuk memelihara rumah itu. Lukas sadar, hal itulah yang membuat Joan bersikap tak ramah.


Joan merasa Lukas mengabaikan peninggalan Aubrey, apalagi kemudian menjualnya. Satu-satunya alasan yang membuat Joan tidak bisa memarahinya secara langsung  adalah, dia mengerti kenapa Lukas melakukan semua itu.


Lukas perlu waktu untuk menyembuhkan diri dari semua tragedi yang menimpanya.


Dan jujur, Joan sedikit gembira melihat Lukas yang kembali ceria seperti hari ini.


"Aku sempat marah karena kau menjual rumah Aubrey, tapi aku rasa tindakanmu itu membawa keuntungan yang tak bisa aku bayangkan sebelumnya" kata Joan sambil memandang Lukas penuh arti.


Lukas mengangguk. "Aku tdak akan pernah menyesali tindakanku menjual rumah itu" katanya dengan mantap.


"Tapi gadis itu berbeda dengan yang lain. Kau harus berusaha keras membuka hatinya" kata Erich.


"Aku tahu itu" Lukas kembali mengangguk.


"Dia bekerja di sini hampir sebulan lebih dan aku masih tak tahu dari mana asalnya selain Amerika" kata Joan dengan kesal, teringat obrolan irit dengan Lana.


Lukas bisa membayangkan hal itu.


Dia tahu Lana  berasal dari New York berdasarkan info dari Neff. Dia menolak memaparkan apa yang ada di catatan medis Lana, tapi dengan sukarela membagi info Lana yang diperolehnya dari jalur kepolisian.


Lana berasal dari New York, dan selama sepuluh tahun kebelakang dia hidup sendiri, dan telah berpindah alamat lebih dari dua puluh kali.


Fakta yang membuat Neff dan juga dirinya tercengang.


Neff tidak menemukan jejak tindakan kriminal apapun yang bisa menyebabkan Lana berpindah begitu sering. Dia hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa Lana sedang melarikan diri dari sesuatu.


Tapi latar belakang Lana juga sangat bersih. Ia gadis normal dengan orang tua yang normal.


Ayahnya masih hidup, dan bekerja sebagai dosen di salah satu universitas terkemuka di New York, ibunya yang sudah meninggal karena sakit jantung adalah pengacara terkemuka. Catatan mereka tidak menunjukkan kehidupan abnormal yang membuat Lana harus lari.


Info itu hanya membuat Lukas tahu, jika otak pintar Lana adalah keturunan.


Dengan ayah seorang profesor dan ibu pengacara, bukan hal yang mengherankan jika Lana sangat cerdas. Kemampuannya menguasai enam bahasa membuat Lukas ternganga kemarin dulu.


"Kapan kau akan menempati rumah itu?" tanya Joan, pada Lukas sambil menunjuk ke arah kebun di sebelah rumahnya.


"Beberapa hari lagi, setelah pekerjaan mereka selesai, aku akan langsung pindah"


"Bagus, sekarang pulanglah. Kau akan membuat Lana takut jika dia memergokimu sedang memandangnya dengan penuh nafsu"


Joan meraup wajah Lukas sambil berlalu menuju dapur.


"Aku tidak memandangnya dengan penuh nafsu!!" Lukas dengan emosi, berteriak pada Joan.


Lukas merasa sangat rendah mendengar tuduhan Joan. Dia tidak seperti Petra yang dengan hina memaksakan nafsu bejatnya pada Lana.


Erich tertawa melihat pertengkaran itu


"Tenanglah, kau tahu dia tidak serius dengan perkataannya". Ia mengusap tangan Lukas untuk memenangkannya sambil melirik pada Lana yang sempat berpaling mendengar teriakan Lukas.


Lukas yang juga sadar sudah menarik perhatian Lana dengan cara yang salah, akhirnya duduk diam.


"Lana masih menjauh dari kami, tapi sudah mengalami beberapa kemajuan. Kau seharusnya melihat bagaimana Joan sangat terharu saat Lana dengan malu-malu meminta membuat pai daging untuknya. Joan nyaris melayang dari lantai saat mendengarnya"


Erich terkekeh pelan menceritakan kejadian dua minggu yang lalu itu.


"Tapi kemudian Lana kembali seperti biasa, dingin dan jauh" tambah Erich dengan nada menyesal.


"Itu adalah dirinya yang biasa" kata Lukas tidak terkejut mendengarnya.


Dia sudah terbiasa melihat bagaimana Lana tiba-tiba bersikap hangat, tapi dalam hitungan menit, kembali dingin dan terlihat kesal. Seakan kehangatan yang ditunjukkannya tadi adalah kesalahan.


"Well, kau adalah penakluk wanita yang handal, aku harap kemampuanmu belum berkarat" kata Erich, sambil mengangkat cangkir tehnya dengan senyum penuh arti.


"Semoga saja!" keluh Lukas dalam hati, mengikuti Erich meminum tehnya sampai habis dalam sekali telan.


Dia sudah mengambil langkah yang sangat berani, semoga saja tidak berakibat buruk nantinya.