
"Lana!!!!!"
Jeritan Aubrey mungkin akan membuat orang menyangka sedang terjadi kecelakaan mengerikan di rumah tua itu. Barnabas, sampai menutup kupingnya.
Sementara Lana bersyukur, karena hanya dia yang bisa mendengar suara itu.
Aubrey langsung menubruknya, begitu Lana membuka pintu, mengabaikan tubuh Lana, yang dalam waktu sepuluh detik mulai menggigil.
"Aubrey, kau akan membuatnya sakit"
Barnabas menarik tangan Aubrey dan membuatnya menjauh dari Lana.
"Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau tidak pulang? Aku sudah membayangkan yang terburuk"
Lana tersenyum simpul, betapa anggapan Aubrey tidak terlalu salah. Hal yang sangat buruk telah terjadi padanya.
"Aku kembali ke Amerika untuk mengurus sesuatu, Aubrey. Maaf, pemberitahuannya sangat mendadak. Aku tidak bisa berpamitan, karena harus berangkat hari itu juga"
Lana merasa tidak perlu membebani Aubrey dengan cerita yang sebenarnya, hanya akan membuatnya histeris. Aubrey akhirnya mengangguk puas.
"Aku senang kau baik-baik saja, Lana" kata Aubrey, sambil mengelus kepala Lana pelan.
Lana tersenyum, dia kemudian menyeret koper pemberian Lukas, dan menyandarkannya di sebelah sofa.
Koper itu adalah keajaiban yang lain bagi Lana, karena berisi baju baru. Mungkin bukan sangat baru, tapi yang pasti bukan baju bekas.
Koper itu berisi baju yang dipakainya di Merian.
Lana sempat menolak untuk membawanya pulang, tapi Lukas memberinya pandangan yang kurang lebih berarti 'Kau pikir tumpukan baju itu akan berguna untukku?'
Maka Lana membawa semua baju itu pulang, tidak mungkin juga ia memberikannya pada Darla. Ukuran mereka sangat berbeda. Darla mungkin tidak gemuk, tapi tubuhnya sangat berisi dibandingkan dengan badan setipis papan Lana.
Dan lagi Lana tidak bisa membayangkan Darla bersedia memakai baju bekas orang lain. Dia adik ipar Lukas, nominal uang tabungannya kemungkinan besar memiliki empat nol lebih banyak dari Lana.
Darla adalah adik ipar Lukas, Lana mengulang fakta itu dalam hati.
Darla sudah mengungkapkan hal ini sejak mereka pertama bertemu, tapi entah mengapa Lana dengan mudah melupakannya.
Dia baru mengingatnya, saat tadi Lukas menurunkannya di rumah Joan.
Lukas mengambil langkah itu, karena kunjungannya ke tempat Joan tidak akan mengundang kecurigaan.
Pada awalnya, Lana ingin turun di kaki bukit, tapi Lukas melarangnya. Dengan alasan akan menimbulkan gosip liar jika Lana terlihat keluar dari mobil Lukas.
Lana juga tidak menginginkan menjadi bahan gosip murahan penduduk desa, tapi dalam hati dia bertanya-tanya, kenapa Lukas sangat peduli dengan gosip? Hampir sebagian besar alasan perbuatannya untuk menghindari gosip.
Dan jawaban muncul begitu saja di benak Lana. Darla adik ipar Lukas.
Lukas adalah lelaki beristri!
Tentu saja ia peduli dengan gosip yang akan muncul jika mereka terlihat berduaan.
Lukas sampai membawanya keluar dari Merian lewat pintu pribadi VVIP, sekali lagi untuk mencegah siapapun melihat Lana bersamanya.
Sesuatu yang baru tumbuh di hati Lana.
Campuran antara rasa tidak menyenangkan dan bersalah. Lana menyingkirkan rasa tidak menyenangkan dari pikirannya, karena itu tidak penting, dan fokus pada rasa bersalahnya.
Bersalah karena telah menyita begitu banyak waktu Lukas saat berada di Merian.
Lukas menemaninya sarapan bahkan makan malam. Lana tidak pernah memikirkan hal ini dengan lebih dalam. Dia hanya menerima begitu saja ajakan Lukas. Apakah dia seharusnya menolak ajakan itu?
Lana membayangkan bagaimana perasaan istri Lukas saat itu.
Tunggu dulu!! Ini bukan salahku!! Lana berseru dalam hati.
Itu adalah tanggung jawab Lukas, dia sama sekali tidak berniat apapun saat menerima ajakan Lukas saat itu. Lana menerima perbuatan baik Lukas karena ia mengatakan Lana telah berjasa membantu bisnisnya, hanya itu.
Kau mulai memikirkan hal yang tidak perlu!! Lupakan pria itu, dia bukan dan tidak akan pernah menjadi bagian dari duniamu! Lana membatin sambil mengepalkan tangan dan menghembuskan nafas panjang.
Mereka tidak akan bertemu lagi, dan itu adalah jalan yang terbaik untuknya.
"Kau terlihat resah Lana"
Aubrey mendekati Lana yang tak kunjung duduk setelah menaruh kopernya, dia justru berdiri sambil melamun.
"Oh maaf, aku hanya memikirkan soal pekerjaan" elak Lana.
"Apakah Meier memecatmu?" tanya Barnabas dengan suara beratnya.
"Tidak, aku mengundurkan diri. Tidak adil jika aku terus berada di sana, padahal aku pergi tiba-tiba selama dua minggu"
Lana sekali lagi berbohong.
"Hmm... Tak apalah, aku tak suka kau bekerja di sana, Lana. Mereka mempekerjakanmu terlalu keras. Kau selalu pulang malam dan terlihat sangat letih. Dengan ini kau bisa mencari pekerjaan lain yang lebih ringan sekarang"
Aubrey berkata dengan wajah cerah.
"Joan menawarkan aku bekerja di tempatnya, dan aku sudah setuju"
"Itu bagus, Joan adalah perempuan yang baik. Dia sedikit terlalu bersemangat kadang. Tapi baik" Aubrey bertepuk tangan mendengarnya.
Lana menyetujuinya tadi. Itu juga yang membuatnya baru sampai rumah saat matahari telah terbenam.
Lukas mengantarnya ke tempat Joan sebelum makan siang, tapi Joan tidak melepaskannya sebelum malam tiba. Lukas juga berada di sana sampai sore.
Joan tentu saja tak melewatkan kesempatan itu, untuk menawari Lana pekerjaan.
Lana tadi bertemu beberapa tamu Joan. Dan memang mereka berasal dari berbagai macam kewarganegaraan. Selama ini Joan dan Erich bergantung pada translator pada ponsel untuk berkomunikasi dengan tamunya.
Mereka nyaris memohon pada Lana saat menjelaskan betapa hal itu sangat merepotkan.
Lana juga sempat menolong salah satu wisatawan asal Rusia yang sedikit kesulitan, karena bahasa Perancisnya tidak terlalu sempurna. Joan bersorak gembira ketika akhirnya tahu Lana tidak hanya menguasai tiga bahasa, tapi enam.
Bahkan Lukas juga tak luput untuk memujinya.
Kejadian itu semakin mengokohkan niat Joan agar Lana bekerja padanya. Akhirnya, karena tak tahan dengan permohonan Joan, Lana menerimanya.
Pekerjaannya tidak terlalu berat, karena tugasnya hanya menerjemahkan dan juga mengurus beberapa pembukuan. Pekerjaan yang membutuhkan otak, bukan otot seperti di Melina.
Lana akan mulai bekerja besok.
Semangat Lana untuk memulai sesuatu yang baru, sedikit tercemari dengan kecemasan. Dia tentu saja takut dengan apa yang akan terjadi jika terlalu dekat dengan Joan dan Erich.
Lana menggosok lengannya dengan keras, mengusir pikiran buruk itu.
Dia bertekad akan bekerja seperti biasanya, bekerja dengan rajin dan baik, tanpa harus beramah-tamah. Lana harus sering mengingat hal ini, karena kebaikan Joan sangat sulit untuk diabaikan.
Dengan kesibukan baru, Lana juga berharap, rasa tidak menyenangkan karena istri Lukas akan terhapus dengan sendirinya.
-------------0O0-------------
Lukas memutar kemasan rokok yang ada di tangannya dengan gelisah, dia sedang berjuang memerangi keinginannya untuk menyulut salah satunya.
Kakinya bergoyang dengan gelisah.
Lukas bukan perokok berat, karena dia tidak pernah menyentuhnya dalam keadaan normal.
Tapi otaknya sedang kusut, dan seperti biasa, menagih suntikan nikotin. Padahal dia sudah berjanji untuk tidak menyentuhnya lagi.
Wajah Lana yang ketakutan saat dia mencium aroma tembakau, membuat Lukas bertekad tidak akan merokok lagi, tapi otaknya terus menuntut jatah nikotin.
Lukas mengepalkan telapak tangannya untuk menguatkan tekad. Otaknya tidak memerlukan nikotin untuk bekerja!!
"Apa kau seorang masochist? Jika kau ingin berhenti, buang jauh-jauh. Kenapa kau malah menggenggamnya?"
Neff meraih bungkus rokok itu, kemudian meremasnya, dan menyelipkan sampah itu ke dalam saku celana.
"Aku harus bisa menahan godaan, karena itu aku memegangnya. Jika membuangnya, bisa jadi suatu saat aku akan memungutnya"
Neff terkekeh pelan mendengar perkataan Lukas. Sangat khas Lukas, dia memang selalu menjalankan niatnya dengan sungguh-sungguh.
"Baru satu minggu berlalu, dan kau sudah seperti seseorang yang terkena serangan panik. Kau jatuh lebih dalam dari pada yang aku kira"
Neff memandang Lukas dengan senyum penuh arti.
"Apa maksudmu?! Kau muncul tiba-tiba dan mendiagnosaku dengan penyakit jiwa lain? Aku hanya sedang berperang dengan keinginan tubuhku untuk menghisap nikotin"
Lukas menggosokkan tangan pada kakinya, agar berhenti bergerak.
"Puha...ha..ha. Kau? Kecanduan nikotin? Ayolah Lukas!"
Neff tidak lagi hanya terkekeh. Dia tertawa terbahak sampai air matanya terbit. Jengkel melihat hal itu, Lukas melempar bantal yang ada di sebelahnya tepat ke wajah Neff.
"Kau sedang mengingkari kenyataan, Lukas. Sadarlah!"
Neff menghindar, dan bantal itu terbang dengan mulus, kemudian mendarat di permukaan kolam.
Lukas memang sedang duduk di tepi kolam renang. Dia sudah kembali menempati kamarnya, setelah selama dua minggu mengungsi ke kamar lain di blok exclusive.
"Kau tidak pernah kesulitan dalam memutus keinginanmu untuk merokok sebelumnya Lukas. Apa yang membuat saat ini berbeda?"
Neff akhirnya memutuskan berhenti untuk menggoda Lukas.
"Aku benci jika kau bertanya sesuatu yang aku tidak tahu jawabannya" Lukas menggerutu.
"Otakmu gelisah bukan karena menagih nikotin"
Neff memberi jawaban gratis yang membuat Lukas mengerutkan kening.
"Jika kau selama ini kau kecanduan nikotin, kau akan merokok lebih sering. Bukan hanya saat kau sedang gelisah. Aku malah berpikir kau yang telah memanfaatkan nikotin"
Pola pikir Lukas memang sedikit langka, bahkan untuk Neff yang sering berurusan dengan rumitnya akal manusia.
Lukas mempunyai tekad baja jika sudah menetapkan niatnya. Lukas merokok disaat sedang merasa gelisah, hanya karena dia membutuhkan sesuatu untuk mengalihkan pikiran. Itu saja!
"Aku akan mengganti pertanyaanku, apa yang membuatmu tidak ingin merokok lagi, sampai kau mati-matian menyiksa diri seperti ini?"
Lukas menoleh ke arah pegunungan, "Aku hanya ingin hidup lebih sehat"
Kebohongan yang sangat nyata, karena wajah Lana saat ini menari-nari dibenaknya. Dia hanya tidak ingin Neff menyimpulkan sesuatu yang salah.
"Kau pikir aku bodoh? Aku bertanya bukan karena tidak tahu, jawaban itu sampah!"
Neff langsung mendelik tak suka.
"Karena jawaban yang aku berikan, akan membuatmu mengambil kesimpulan yang salah! Aku tak mungkin me----"
Lukas memotong ucapannya sendiri dengan berbagai umpatan.
"Kenapa kau sangat takut untuk mengakuinya?"
Lukas dengan keras kepala membantah lagi, "Tidak ada yang perlu aku takutkan, karena kau salah! Aku tidak bisa---"
"Tidak bisa? Kau bilang tidak bisa?! Apa yang menahanmu? Kau bisa melakukan apapun yang kau mau"
Neff kehilangan kesabaran dan mulai membentak.
"Jangan terus bersikap bodoh!! Apapun yang terjadi padamu sebelumnya, tidak membuatmu kehilangan hak untuk mencintai siapapun. Kau justru harus keluar dari lubang itu"
Lukas dengan perlahan meletakkan tangan di meja. Tangan dan kakinya tak lagi bergetar gelisah. Seperti yang Neff perkirakan, dia tidak sedang menagih nikotin. Lukas hanya sedang gelisah luar biasa.
Dan Neff bisa mengerti, kejadian masa lalu Lukas, bisa membuat siapa saja dirundung keresahan, tapi ini adalah saatnya Lukas melanjutkan hidup, dan meninggalkan masa lalunya.
Lukas menunduk, dan mengubur wajahnya dengan tangan.
"Aku takut, Neff. Aku yang membuat mereka pergi" bisik Lukas.
Neff menarik nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ini seperti menghadapi Lukas pada masa depresinya dulu. Ia seharusnya sudah berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
"Kau sudah mendengar hal ini jutaan kali, tapi aku akan mengatakannya lagi. Semua yang terjadi bukan salahmu. Itu adalah kecelakaan yang bercampur dengan keputusan bodoh" kata Neff.
"Saat Lana ada di sini, aku bisa melihat Lukas yang seperti dulu. Sosok Lukas yang aku kira tidak akan pernah akan kulihat lagi. Kau terlihat ceria dan ramah, dan lebih baik, karena kebodohanmu sudah sedikit hilang, seiring bertambahnya usia"
Neff tersenyum miring memandang Lukas.
Lukas terkekeh pelan, "Aku tidak tahu pernah menjadi ceria dan ramah"
"Tentu saja pernah. Kau pikir kenapa semua gadis di sekolah menempel padamu? Kau terlalu ramah sampai masuk dalam taraf playboy, karena kau melayani mereka semua"
"Sudah terlalu lama menutup hatimu. Bergeraklah, kau membutuhkannya"
Neff sudah lebih tenang, melihat Lukas tak lagi mencoba menghindar.
"Apakah aku bisa? Apakah aku boleh merasa bahagia?" Senyum yang tadi sempat muncul di wajah Lukas, kembali tersapu oleh resah dan ketakutan.
"Dan mengapa tidak? Mengapa kau tak boleh merasakan kebahagiaan lagi? Aku tidak menyuruhmu untuk melupakan apa yang telah terjadi pada mereka, aku hanya ingin kau berbahagia. Mereka akan terus menjadi bagian dari hidupmu, tapi bukan untuk kau tangisi. Gunakan kenangan itu sebagai pelajaran hidup, bukan alasan untuk tidak hidup"
Lukas kembali tenggelam dalam lamunan, tapi kali ini dengan sikap tubuh yang lebih tenang.
Kakinya tak lagi bergerak, dan matanya kini memandang ke arah pegunungan Eiger, mencoba menikmati pemandangannya.
"Apakah aku mampu melakukannya? Apakah aku bisa mencintai seseorang lagi?" tanyanya sekali lagi, setelah diam selama beberapa menit
Neff yang mulai bosan dengan pertanyaan berulang itu, melebarkan mata. Ia menyangka sikap diam Lukas akan berarti dia tak lagi ragu.
Ini bukan untuk pertama kalinya mereka membahas semua hal ini.
Sudah lama Neff menyuruh Lukas untuk melanjutkan hidup, tapi pembicaraan mereka tak pernah berakhir baik.
Kehadiran Lana membawa harapan baru bagi Lukas. Neff tidak akan membiarkan kesempatan ini terlewat begitu saja.
"Sudah seminggu ini semenjak Lana pulang, kau tidak bisa hidup tenang. Hampir semua pekerjaanmu kacau, kau juga sulit tidur. Dan jelas-jelas kau merasa membutuhkan nikotin. Jika semua itu tidak berarti kau telah jatuh cinta padanya, aku akan memotong tangan kananku saat ini juga" tukas Neff dengan gusar.
"Dari mana kau tahu itu semua?" tanya Lukas dengan heran. Ini pertama kalinya ia bertemu Neff, setelah ia menyuruhnya memulangkan Lana.
"Darla, dia bosan harus memperbaiki hasil kerjamu. Dan lagi katanya kau terlihat mengerikan dengan lingkaran hitam tebal di bawah matamu. Dan harus aku akui, dia benar, matamu merah seperti zombie"
Lukas mengucek matanya yang terasa pedih. Tadi malam ia hanya bisa memejamkan mata kurang dari dua jam. Dan tentu saja dia juga tahu bahwa pekerjaannya sangat buruk belakangan ini.
Darla sampai bosan menegur. Dia hanya bisa mengumpat setiap kali menemukan kesalahan Lukas.
"Sudah lama sejak aku melakukan pendekatan pada siapapun. Dan terus terang saja, aku sama sekali tak punya ide bagaimana mendekati Lana. Dia tidak tertarik pada wajah maupun uang" kata Lukas, sambil menggeliatkan badannya.
Neff menepuk tangannya keras, "Ah... Itu adalah bagian dari pesonanya. Baru kali ini aku bertemu dengan gadis yang imun dengan wajahmu. Lana adalah idolaku untuk hal ini"
"Kau itu sebenarnya mendukungku atau tidak?" tanya Lukas, jengkel.
"Tentu saja, tapi aku tak bisa membantumu soal ini. Ilmu psikologi milikku terbukti tidak terlalu berguna dalam mendekati wanita"
Neff mengangkat tangan menyerah. Dia masih single di usianya yang ke-30, bukan orang yang tepat untuk dimintai nasehat.
Sejujurnya, Lukas sama sekali tidak memiliki alasan untuk menemui Lana. Kasusnya sudah selesai.
Pengacara yang disewanya tanpa sepengetahuan Lana, membabat kasus itu dengan mudah. Pengacara itu dengan enteng mementahkan tuduhan Petra soal Lana yang menggodanya terlebih dahulu.
Petra sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mengelak.
Petra yang gagal membela diri dengan alasan itu, akhirnya membuat pernyataan tak masuk akal, yang mengatakan bahwa Lana adalah penyihir yang mengeluarkan makhluk aneh berwarna biru yang membuatnya tak bisa bernafas.
Pernyataan yang menggelikan! Apakah dia sedang berusaha meyakinkan juri di pengadilan, bahwa dia gila saat menyerang Lana?
Apapun itu, Lukas lega akhirnya Petra dinyatakan bersalah.
Sayangnya Lukas tidak bisa memakai alasan ini untuk menemui Lana, Neff sudah mengabarkan hasil sidang itu pada Lana beberapa hari yang lalu.
Lukas harus mencari alasan lain untuk bisa mendekati Lana, tanpa mengundang kecurigaannya.
Sifat Lana yang aneh membuat Lukas yakin bahwa ia akan terbang menjauh begitu ia mencium apa niat Lukas.
Lukas harus memastikan Lana tak akan bisa lari, sebelum ia menangkapnya.