Blue Light

Blue Light
TUJUH



Lana mengaduk piringnya yang berisi birchermuesli* dengan gelisah.


Bukan karena rasanya yang tidak enak. Lana bisa melihat butiran berbagai jenis berry lezat di sana. Dan butiran itu utuh, Lana biasanya memotong berry menjadi kecil-kecil agar lebih hemat. Sudah pasti birchermuesli ini lebih enak daripada yang biasa dia makan.


Lana gelisah karena tidak ingin meminta sesuatu kepada Lukas. Dia sudah banyak membantunya, dan Lana tak ingin meminta lebih.


Tapi Lana tidak bisa tinggal di kamar itu.


Dia tidak akan bisa tidur dengan adanya makhluk teror yang menyanyikan lagu kematian dengan pedih.


Lana sangat bersyukur, tadi malam Lukas tidak banyak bertanya, saat ia memohon padanya untuk membawanya pergi dari kamar itu.


Pagi tadi juga Lukas tidak berkomentar. Dia hanya membangunkan Lana, kemudian menyuruhnya bersiap, karena akan ada polisi yang datang untuk mengambil kesaksiannya.


Lana yang masih setengah linglung karena bangun tidur, menuruti perkataan Lukas.


Dia mandi dan bersiap di kamarnya sendiri, dia bahkan sudah mengganti pakaiannya dengan baju baru yang telah tergantung rapi di kamar berhantu itu juga. Menurut Lukas, Darla yang mempersiapkan baju itu untuknya.


Lukas masih melengkapi semua itu dengan mengundangnya untuk menikmati sarapan bersama. Lana sungguh merasa seperti sampah bila meminta hal lain setelah semua itu.


Mereka sarapan di gazebo kecil yang terdapat di sebelah kolam renang. Kolam renang itu terletak persis di luar kamar berhantu dan juga kamar yang ditempatinya tidur. Kedua kamar itu berada dalam satu bangunan.


Lana melihat tiga bangunan serupa yang terletak agak berjauhan. Lana membayangkan, itu adalah kamar lain, yang juga menyediakan fasilitas serupa dengan yang dia tempati.


Tentu saja Lana tahu, masih ada kamar lain yang selain ia lihat. Tapi kamar lain terletak pada gedung utama yang berada di kaki bukit. Di sana Lukas menawarkan kamar dengan kelas lebih murah.


Lana sangat mengerti kenapa harga kamar di resort ini mahal.


Semua yang dilihatnya sampai saat ini, tidak hanya mencerminkan kemewahan, tapi juga pelayanan terbaik. Lukas mengelola Merian Resort dengan lihai.


Dan sekarang dia sedang menikmati semua fasilitas kelas satu dengan gratis. Bukannya Lana tidak tahu berterima kasih, tapi ia lebih baik tidur di trotoar dari pada kamar yang sekarang ditempatinya.


"Kau menginginkan menu lain?"


Lukas mengalihkan perhatiannya dari ipad yang ada di tangan. Melihat piring Lana yang masih setengah penuh.


"Oh.. tidak, ini lezat. Aku tidak membutuhkan yang lain"


Makanan ini sudah beratus kali lebih baik dari semua sarapan yang pernah dia makan.


"Polisi akan datang sekitar pukul 10.00. Dan juga tadi Joan menghubungi, dia akan datang setelah makan siang" kata Lukas, sambil meminum kopinya sampai tandas.


Lana mengangguk, ia tidak suka harus berurusan dengan polisi. Tapi ini perlu, tak mungkin dia membiarkan Petra berkeliaran. Lana akan merasa sangat bersalah jika di masa depan ada lagi korban seperti dirinya, jikalau dia membiarkan Petra bebas.


"Baiklah, aku harus bekerja. Kau bisa menikmati semua fasilitas di bangunan ini. Tapi jangan mendekati bangunan lain" kata Lukas.


Lana masih dengan menunduk, mengangguk sekali lagi. Sampai ia mendengar decakkan tak sabar Lukas.


"Ada apa?" Lana sedikit mengangkat kepala.


"Tegakkan kepalamu! Kenapa kau selalu menunduk? Pantas saja kau tak mengenaliku. Jika seseorang mengajakmu berbicara, seharusnya kau menatap wajahnya" ujar Lukas.


Dia tidak mengucapkannya dengan amarah atau nada tinggi, tapi Lana tahu dia kesal.


Mendengar itu, Lana menegakkan kepala dan menatap Lukas dengan lebih baik.


Dia selalu menundukkan kepala untuk membuat orang menjauhinya. Dan untuk Lukas hal itu tidak berpengaruh banyak. Ia sudah melakukan semua hal yang tak bisa Lana perkirakan.


Sejenak Lana tertegun, ia baru menyadari Lukas----


Menarik!!


Lukas lebih tinggi darinya, dan bertubuh tegap. Rambutnya berwarna pirang sangat pucat, terlihat sedikit warna gelap di bagian akar, jadi warna pirang pucat itu berasal dari cat rambut,


Wajahnya berahang tegas, dengan sedikit warna gelap bekas cambang yang dicukur rapi. Dan matanya berwarna biru tua, dilapisi oleh kacamata baca bergagang hitam mengkilat.


Lukas mewujudkan gambaran sosok pengusaha muda sukses dengan sempurna. Apalagi dia sedang memakai setelan jas untuk bekerja. Lana mengakui, dia merasa bodoh melewatkan semua hal itu.


Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara, mereka hanya saling memandang. Lukas sendiri terlihat puas, karena berhasil membuat Lana melihatnya secara langsung.


"Aku harus pergi"ujar Lukas, sambil melepas kacamata dan memasukkannya ke dalam jas, tempat biasanya benda itu berada, dan berdiri.


"Ow... you look much better with the glasses." Ucapan itu adalah reflex yang langsung disesali oleh Lana.


Pendapat jujur, karena menurut Lana, mata biru Lukas terlihat lebih indah saat ia menggunakan kacamata. Tapi setidaknya Lana mengucapkan kalimat tadi dalam bahasa Inggris, bukan Jerman.


Lukas menghentikan gerakannya dan memandang Lana sambil tersenyum.


"Really?-- I'll remember that".


Lukas menimpali ucapan Lana dengan bahasa Inggris yang sempurna, bahkan tanpa aksen.


Dengan senyum semakin lebar karena melihat wajah Lana yang terkejut, Lukas berlalu menuju kantornya.


Lana hampir tak bisa menahan umpatannya.


Dia mengerti!


Seharusnya dia tidak meremehkan Lukas. Dia adalah pebisnis handal dengan rekan kerja dari negara lain, sudah sewajarnya jika dia menguasai bahasa Inggris.


-------------0O0-------------


Lukas berdiri di tepi pagar sambil melirik jam yang melingkar di tangannya dengan wajah berkerut.


Dia benci jika seseorang terlambat. Tapi terlambat adalah nama tengah Neff.


Dengan jengkel ia menarik sebatang rokok dari dalam jas dan menyulutnya.  Diiringi kepulan asap tebal, Lukas mencoba mengorganisasi benaknya yang kacau.


Sepagian ini ritme kerjanya hancur.


Lukas meninggalkan beberapa detail laporan yang seharusnya sudah selesai, melupakan janjinya dengan supplier, dia bahkan menghilangkan dokumen laporan Darla, sehingga ia harus mencetaknya ulang. Dan tentu saja Darla melakukannya sambil mengomel panjang pendek.


Lana....Lana dan Lana.


Itu saja yang memenuhi benaknya.


Berjuta pertanyaan tentang dirinya menguasai seluruh otaknya. Bagaimana keadaannya? Apakah dia sudah tenang? Apakah dia menangis lagi? Pemikiran seperti itu terus berputar bergantian di benaknya.


Dan tentu saja fakta bahwa dia sangat menikmati sarapan bersamanya, membuat Lukas luar biasa heran.


Lana tidak mengajaknya mengobrol atau apa, dia hanya mengaduk makanannya dengan tidak bersemangat. Tapi dirinya yanga aneh menikmati moment itu.


Dia menikmati bagaimana kulit Lana yang kecoklatan, tampak berkilau terkena matahari pagi. Dia sangat terpukau oleh rambut hitam Lana, yang berkibar saat angin musim gugur menyapunya.


Dan Lukas menyesal saat dia meminta Lana memandangnya, karena mata abu-abu gelap itu seolah memerangkapnya dengan sempurna. Dia malas mengakhiri kontak mata itu.


Apa yang sedang aku lakukan? Lukas membatinnya dengan jengkel, karena tentu saja tidak akan ada yang menawarkan jawaban padanya dengan gratis.


"Lukas, apa kau menungguku?" Suara yang sudah sangat akrab menyapanya dari belakang.


"Dan seperti biasa kau terlambat, Neff!" dengus Lukas.


Tidak mempedulikan gerutuan Lukas, Neff tertawa dan memeluk Lukas singkat.  "Ibuku mengundangmu makan malam hari ini!  Kau bisa datang?"


"Ibumu pasti ingin mengorek segala informasi dariku.  Apakah dia tahu soal Lana?" Lukas langsung curiga.


Ibu Neff adalah orang terakhir yang ingin kau temui saat ingin menyembunyikan sesuatu.  Mata elangnya jarang melewatkan detail apapun.


Neff menggeleng, "Tapi dia tahu kau terlibat dengan sesuatu yang besar,  dia akan mengupas segalanya jika kau datang"


"Katakan saja aku sibuk!!" Lebih baik ia mencari jalan aman dari pada menyesal.


Neff langsung setuju, ia tahu benar, bila suatu berita sudah ada di tangan ibunya, hanya akan membutuhkan beberapa detik sebelum menyebar ke semua warga desa.


"Kasus Lana akan mudah bukan? " tanya Lukas,  sambil membuka pintu cable car yang akan membawa mereka ke blok exclusive di atas.


Lukas membangun cable car ini khusus untuk membawa tamu ataupun karyawannya ke blok exclusive, dengan begitu tamunya bisa mencicipi sedikit pemandangan yang akan mereka nikmati setelah membayar mahal.


"Aku sungguh berharap akan begitu. Tapi Petra mengatakan bahwa Lana sengaja menggodanya. Ia juga menyatakan, malam itu, Lana menunggunya di toilet laki-laki. Petra tentu saja menganggap semua itu sebagai pertanda positif untuk mendekatinya"


"Positif??!!!  Kau tidak melihat luka di wajah Lana?  Jika itu berarti pertanda positif aku akan melompat dari jendela ini!!"


Lukas menunjuk jendela cable car yang sudah bergerak naik.


"Tak perlu memarahiku,  aku tahu apa yang dikatakannya adalah sampah. Tapi aku juga mendapat keterangan bahwa memang Lana masuk ke dalam toilet pria dengan sengaja malam itu. Banyak tamu yang melihatnya. Aku tidak mungkin menghilangkan fakta itu"


Neff  memandang Lukas dengan heran. tidak biasanya ia melihat Lukas kehilangan kendali. Lukas adalah tipe orang yang hanya akan menyindir bukan membentak atau memarahi.


"Berarti Lana akan butuh pengacara, aku akan menghubungi Widmer" Lukas langsung menarik ponsel dari dalam jas.


Kerutan di dahi Neff semakin dalam.


Apakah Lukas baru saja menawarkan untuk membantu menyewa pengacara bagi Lana?  Dan dia menghubungi Widmer.


Widmer adalah pengacara mahal yang memiliki kantor pusat di Bern.


Lukas biasanya menggunakan mereka untuk mengurus semua hal yang berkaitan tentang hukum.


Tapi mereka sangat mahal, dan menurut catatan Neff, Lana termasuk dalam pro bono**.  Dia tidak akan mampu membayar pengacara manapun, terlebih yang berasal dari Widmer.


Dan mustahil Lukas tidak tahu tentang ini, Neff memberikan semua info tentang Lana sebelum ia membawanya ke sini. Dia menghubungi Widmer dengan kesadaran, bahwa dia yang akan membayar semua biayanya.


Lukas memandang Neff dengan bingung, dia tak menjawab karena tidak mengerti maksud pertanyaannya.


"Ah, sudahlah! " Neff mengibaskan tangannya. Dia merasa menjelaskan pertanyaannya hanya akan membuang waktu.


"Apa yang kau gelisahkan? Aku sudah lama tidak melihatmu menghisapnya!"


Neff mengubah pertanyaannya sambil menunjuk rokok kedua yang dinyalakan Lukas. Neff sangat hafal kebiasaan Lukas.


Lukas tidak akan menyentuh rokok, kecuali ada hal yang membuatnya gelisah.


Lukas merokok dari usia muda, tapi kemudian ia dengan mudah berhenti ketika menikah. Tapi kebiasaannya akan kambuh jika dia menghadapi situasi yang menyita pikiran. Dan dia akan berhenti dengan mudahnya begitu pikirannya kembali terorganisasi.


Dan Neff sudah melihat dua batang rokok dihabiskan oleh Lukas. Itu berarti hal yang dipikirkannya sangat gawat.


"Aku sedang mencoba mengerti kenapa aku melakukan semua ini"


Suara Lukas terdengar frustasi, Neff menjadi tak tega melanjutkan pertanyaannya.


Lagipula mereka sudah sampai di tujuan. Neff mendahului turun, karena Lukas harus mematikan rokoknya sebelum turun. Dia tidak akan menghancurkan reputasinya di depan tamu.


Di Grindelwald, merokok sembarangan sama buruknya dengan mabuk dipagi hari.


Lukas membawa Neff ke  kamar Lana, setelah mengetuk pelan dan mendengar jawaban Lana, mereka berdua masuk.


Lana terlihat gugup, Lukas menduga ini karena ini pertama kalinya ia berurusan dengan polisi.


"Lana, perkenalkan ini, adalah Neff Reiner. Dia polisi yang akan mewawancaraimu"


Sebenarnya Neff bisa menyuruh anak buahnya untuk melakukan ini. Tapi untuk kasus kali ini sedikit sensitif, maka Lukas meminta Neff untuk melakukannya sendiri.


Tapi perkenalan itu, tidak mendapatkan balasan.


Lana yang sedari tadi duduk tiba-tiba berdiri dengan gelisah. Ia melihat ke seluruh penjuru ruangan dengan mata nyalang.


"Ada apa?"


Lukas maju menghampiri Lana. Tapi Lana semakin gelisah saat Lukas mendekat.


"Apakah kalian membawanya kesini?" tanya Lana.


"Siapa?" Lukas bertanya dengan bingung.


Lana mulai menampakkan tanda-tanda histeris seperti kemarin, tangannya gemetar hebat, dan tubuhnya bergerak tak tenang di tempatnya berdiri.


"Petra!"


"Tentu saja tidak! Kenapa aku harus membawanya kesini? Dia ada akan ada di penjara begitu dokter menyatakan ia sehat" jelas Neff dengan nada geli.


Anggapan Lana sangat mustahil terjadi.


Tapi kemudian Neff menghapus senyum di wajahnya, dia bisa melihat Lana mendekati tangis karena ketakutan.


"Tapi aku mencium aromanya. Dia pasti berada di dekat sini. Aku bisa mencium bau tembakau. Mulut Petra berbau seperti ini saat ia mencium---"


Lana tidak meneruskan perkataannya. Tangannya mulai menggosok leher dan wajahnya dengan kasar. Lana kembali berusaha menghapus jejak Petra dari tubuhnya.


Wajah Lukas langsung pucat, sadar bahwa sumber kegelisahan Lana adalah dirinya.


Tangannya yang ingin menghentikan Lana menggosok leher, terhenti di udara, sadar bahwa kontak mereka akan memperburuk keadaan Lana.


Neff yang akhirnya mengerti langsung maju.


"Lana, dengarkan aku. Aroma ini bukan berasal dari Petra. Tenangkanlah dirimu. Lukas tadi merokok selama perjalannya ke sini. Aroma itu berasal darinya" Neff menjelaskan semuanya dengan nada kebapakkan.


Neff menjadi kepala polisi karena keterampilannya bernegosiasi, dia mengantongi master di bidang psikolog. Pengalaman memberitahunya, Lana sedang dalam keadaan panik dan trauma.


Lana melirik ke arah Neff, wajahnya sudah agak tenang. Matanya yang tadi melihat tak tentu arah dengan liar, mulai fokus, dan sekarang Lana melihat Neff dan Lukas bergantian.


"Maaf, aku akan berganti baju"


Lukas langsung berbalik dan keluar dari kamar Lana. Dua batang rokok itu menjadi mimpi buruknya. Dia melemparkan bungkus sisa rokoknya di tempat sampah, dan berjanji tidak akan menyentuhnya lagi.


Lana yang kembali tenang, duduk sambil menggosok tangannya. Dia menyadari baru saja melakukan perbuatan bodoh.


"Lana, kau tahu siapa aku?" Neff duduk di depan Lana, masih dengan nada sangat lembut.


Menurut diagnosa Neff, Lana mengalami trauma yang cukup dalam. Perkataan Petra bisa dipastikan adalah omong kosong atau ia sedang berhalusinasi.


Jika Lana menggodanya, ia tidak akan bersikap ketakutan saat mencium aroma tembakau.


Lana menjawab pertanyaan Neff dengan anggukan. Melihat Lana telah tenang, Neff mulai menjelaskan apa maksudnya ke sini.


Sikap Lana sangat berbeda dengan yang tadi, dia tenang dan terlihat memikirkan segala hal sebelum mengatakan sesuatu.


Lukas kembali ke kamar, dengan menyebarkan aroma maskulin yang segar.


Dia tak hanya mengganti baju, tapi mandi dan menumpahkan hampir separuh cologne miliknya ke badan. Menghilangkan seluruh bau rokok yang mungkin masih tersisa.


Lana terlihat tidak terusik lagi, dia terus menyimak pertanyaan Neff dan menjawabnya.


Tapi sesekali Lana melirik ke arah Lukas, seolah ingin menegaskan bahwa dia benar-benar Lukas, bukan Petra. Hal itu membuat Lukas semakin menyesal.


Dituntun oleh pertanyaan mendetail oleh Neff, Lana dengan tenang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Dia mengakui memang berada di toilet laki-laki, tapi bukan dengan tujuan yang dituduhkan Petra.


Lukas mendengarkannya dengan lega. Dia tidak pernah meragukan Lana, tapi Lukas lega, karena apa yang diutarakan Lana sangat masuk akal dan mudah untuk dibuktikan.


Pengacaranya akan menyelesaikan kasus ini dengan mudah.


Neff berpamitan setelah menyelesaikan tanya jawab dengan Lana. Lukas kembali mengantarnya ke bawah, karena cable car tidak akan berfungsi tanpa cardlock Merian.


Setelah cable car bergerak turun Neff masih terus memandang bangunan tempat Lana berada.


"Ada apa?" Lukas melihat pandangan itu.


"Dia lebih 'rusak' daripada yang terlihat, Lukas. Dia menjawab semua perkataanku dengan jujur, tapi aku bisa melihat bahwa dia menyembunyikan sesuatu. Aku tidak pernah bertemu seseorang yang begitu berhati-hati dalam berbicara. Jika bukan psikiater, aku akan menyangka dia orang yang bodoh, karena sering terlalu lama berpikir"


Dan tentu saja Lukas tahu Lana bukan orang yang bodoh. Tidak ada orang bodoh, yang menguasai tiga bahasa.


"Trauma yang disebabkan oleh pria busuk itu sangat parah. Dan dia masih bernyali mengatakan Lana menggodanya. Selera humornya patut mendapat penghargaan" ujar Lukas sarkastik.


Lukas kemudian menceritakan kejadian saat Lana ingin menyerangnya saat terbangun dari pingsannya,  dan juga bagaimana Lana meratap di lantai tadi malam.


"Kejadian itu memberi luka besar yang tak terlihat pada Lana. Tapi ada hal lain yang pernah terjadi di hidupnya. Pikirannya terlatih untuk berpikir cepat dan melakukan hal yang benar. Kejadian yang kau ceritakan menandakan dia kehilangan kendali, seperti saat kau masuk tadi. Aroma tembakau memicu traumanya. Tapi dengan cepat Lana mengatasi semuanya. Dia kembali seperti biasa dalam hitungan menit. Memerlukan keterampilan dan tekad yang luar biasa untuk mengatasi trauma seperti itu. Kau tak bisa memperolehnya dari sekedar teori"


Lukas sekali lagi setuju dengan pemikiran Neff, Lana juga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk tertidur tadi malam.


Dan sebagai mantan pengidap insomnia yang parah, Lukas sangat kagum karena Lana bisa langsung tertidur setelah mengalami ledakan emosi sedahsyat itu.


"Apakah Lana membutuhkan psikiater?" tanya Lukas, teringat akan niatnya. Neff berpikir sejenak sebelum menjawabnya.


"Lana pintar menyembunyikan emosinya, dia pasti menyesal telah kehilangan pengendalian diri di hadapan kita tadi. Tapi itu berarti satu, pertahanan dirinya lemah karena Petra. Dia meneror pikiran Lana, lebih dari yang biasa Lana tanggung. Untuk lebih amannya, Lana harus menemui psikiater"


"Dia tak akan setuju, kau seharusnya melihat bagaimana ia bersikeras untuk pulang. Dia baru menurut setelah aku mengatakan kau yang menyuruhnya tinggal"


Lukas kembali menceritakan sifat keras kepala Lana yang membantahnya kemarin.  Dan bagaimana Lana dengan mudah tersenyum saat berada di hadapan Joan.


"Ini menarik! Lana menutupi semua sifat aslinya. Dia membuat persona palsu untuk kita semua!!"


Neff tiba-tiba berseru senang, seolah berhasil menemukan sesuatu yang berharga.


Lukas yang tudak mengerti ilmu psikolog, menerjemahkan kata-kata Neff sebisanya, "Maksudmu dia berbohong?"


"Tidak, dia berusaha keras untuk terlihat kuat, acuh tak acuh, dingin dan tidak bersahabat. Tidakkah kau melihatnya? Sifat aslinya keluar ketika trauma menyerang. Dia sesuatu yang lain, dan aku ingin tahu apa"


Neff sekarang terlihat seperti anak kecil yang menemukan katak di kebun dan siap membedahnya untuk diteliti.


"Kau seharusnya membantu Lana mengatasi depresi, Neff. Aku tidak akan mengijinkannya menjadi kelinci percobaanmu"


Lukas gusar melihat sikap Neff.


"Siapa bilang aku akan membantunya? Aku ke sini sebagai polisi. Dan kenapa aku harus meminta izinmu? Dia bukan salah satu properti milikmu!"


Neff tertawa penuh kemenangan saat mengucapkan hal itu, dengan nada kepuasan yang sama saat ia menemukan masalah Lana.


Dan Lukas sama sekali tak memiliki jawaban untuk pertanyaan Neff.


Dia sama sekali tak mempunyai hak untuk keberatan dengan pernyataan Neff, tapi kenapa ia merasa sangat marah mendengar Neff mengatakan semua itu?


 


 


 


*  Hidangan sarapan khas Swiss,  terbuat dari oatmeal dan buah-buahan segar


* Kasus pengadilan yang membutuhkan layanan pengacara gratis, karena tidak mampu membayar jasa pengacara