
Setelah makan, dan beristirahat sesiangan tadi, tubuh Lana sudah lebih kuat. Dia masih merasakan sakit di bagian wajah dan leher, tapi obat yang diminumnya ampuh membantu mengurangi rasa nyeri.
Lana dalam kesendiriannya, berkali-kali mengingatkan diri agar melupakan apa yang dilakukan Petra, sehingga dia tak lagi meledak-ledak seperti tadi. Lana terus melantunkan mantra baik-baik saja di dalam kepalanya.
Dan ketika sore merayap datang, pikiran lain membuat Lana sejenak melupakan Petra.
Lana akan menghabiskan malam di tempat asing untuk pertama kalinya. Lana tidak tahu apa yang akan ditemui saat matahari terbenam nanti. Harapan Lana tentu saja mereka akan terlihat normal, atau mungkin justru tidak ada.
Tapi hal itu hampir mustahil.
Dari semua tempat yang pernah Lana tinggali, ia hanya menemukan satu tempat tidak berhantu.
Lana sempat bergembira sesaat, tapi sayangnya jalanan di sekitar bangunan itu justru memecahkan rekor, sebagai jalan dengan jumlah hantu terbanyak. Lana hanya bisa tinggal di sana selama sebulan, sebelum akhirnya memilih untuk pindah.
Lana sudah sedari tadi mondar mandir gelisah sambil memandang langit di luar jendela.
Pemandangan senja merah merona, yang dilatari oleh pegunungan, seharusnya membuat Lana terpana, tapi keindahan itu tidak berhasil membuatnya lebih tenang.
Detik demi detik merayap dengan lambat, sebelum akhirnya Lana melihat semburat merah terakhir di langit, menghilang.
Langit di luar gelap gulita.
Lana sudah bersiap dengan menghidupkan semua lampu yang ada di sana, sayangnya kamar ini dirancang untuk suasana romantis. Semua lampu yang ada, hanya menghasilkan suasana temaram.
Lana membuka matanya lebar-lebar, mencari dari sudut mana mereka akan muncul.
Satu menit, dua menit, tidak ada gerakan apapun di kamar itu. Lana duduk dengan tegang di sofa sambil terus mengedarkan pandangan ke penjuru kamar.
Lana sudah hampir menyimpulkan bahwa kamar itu kosong, ketika telinganya menangkap bisikan lirih bernada sendu menerobos gendang telinganya. Bisikan itu sangat lirih, tapi cukup untuk membuat Lana berdiri waspada.
Dengan jantung berdebar kencang, Lana menunggu.
Seiring detik berlalu, lagu itu semakin jelas terdengar, masih dengan nada sedih dan nelangsa.
Penantian tanpa tahu kapan akan berakhir menguras keberanian Lana. Tubuhnya dibanjiri oleh keringat dingin.
Lana sekarang mulai jelas mendengar syair dari lagu itu. Liriknya terdengar seperti lagu pengantar tidur untuk anak-anak. Tapi dinyanyikan dengan nada sedih menyayat hati.
Bulu kuduk Lana sekarang berdiri, selain karena hawa dingin mulai menghampirinya, nyanyian sedih ini membuatnya berfirasat buruk.
Dan ketika matanya berkedip, sesosok wanita dengan pelan menembus tembok di sebelah kanan pintu masuk.
Wanita itu berjalan pelan sambil membawa sesuatu yang terlihat seperti kain panjang di tangan kanannya.
Bagian tubuhnya transparan di bagian tangan kiri dan kepala, tapi kemudian berkedip berpindah di bagian kanan. Kedipan itu terlihat seperti glitch pada film kuno di bawah cahaya temaram kamar Lana.
Pada pandangan pertama, Lana menyimpulkan bahwa ia termasuk normal. Wujud wanita itu utuh, dan dia berjalan normal. Rambut panjangnya berserakan tak beraturan, menutup sebagian besar wajahnya.
Tapi pendapat itu segera di ralat olehnya.
Lana mulai merasa ada yang salah, saat perempuan itu terus melangkah maju tanpa memandangnya. Sinar biru yang biasanya membuat para hantu tertarik, tidak membuatnya menoleh.
Jarak mereka masih beberapa meter jauhnya, tapi hawa dingin yang dirasakan Lana, jauh melebihi saat Aubrey mencoba memeluknya. Tubuh Lana sudah menggigil. Ini berarti roh wanita itu memiliki masalah atau mungkin dendam yang berat.
Perempuan itu terus berjalan, dengan mulut yang tak berhenti menyanyikan lagu pilu itu.
Lagu itu, tak lagi terdengar seperti lagu pengantar tidur, karena justru menjauhkan Lana dari rasa nyaman. Setiap nadanya mengirimkan perasaan ngeri dan juga sedih.
Wanita itu akhirnya berhenti tepat di tengah kamar, berjarak satu meter dari tempat Lana berada.
Dengan keraguan dan ketakutan yang parah, Lana mengumpulkan keberaniannya untuk menyapa.
Tapi belum sempat ada suara yang keluar dari mulut Lana, perempuan itu melakukan sesuatu yang aneh.
Dia melemparkan kain yang dibawanya ke atas, dan satu sisi kain itu dengan sukses menyangkut pada benda yang tak ada lagi di sana. Kemudian dengan pelan tangannya mengikat kain itu menjadi berbentuk seperti ayunan yang tinggi.
Lana yang masih belum bisa berkata-kata, melihat semua itu dengan hati bertanya-tanya.
Apa yang akan dilakukannya?
Setelah memastikan kain itu tersangkut, perempuan itu melangkah menuju ke pojok ruangan dan menarik benda yang juga tak kasat mata, karena sudah berpindah, lalu kembali berhenti di tempat yang sama.
Begitu perempuan itu menaiki benda yang tadi diseretnya, Lana seketika paham apa yang akan terjadi, dan dia langsung berseru tertahan.
"Tidak!!! Jangan lakukan itu"
Wajah Lana memucat, seputih kertas, dipenuhi dengan ketakutan yang amat sangat.
Perempuan itu menolehkan kepalanya ke arah Lana. Tatapan mata perempuan itu terlihat kosong pada awalnya, tapi kemudian bola matanya bergerak terfokus pada sosok Lana.
Dia mendengar seruan Lana, tapi tak menghentikan apapun yang dilakukannya.
Dengan sangat pelan, masih dengan wajah terpaku pada Lana, wanita meletakkan leher pada ayunan kain yang tadi dibuatnya.
"Aku mohon berhenti"
Lana merintih sementara air mata mulai menuruni pipinya.
Dalam hitungan detik, Lana menyaksikan dalam gerak lambat, perempuan itu terlihat seperti menendang sesuatu dengan kakinya, dan nyanyian itu langsung berhenti, berganti dengan suara derakan yang berasal dari leher yang patah.
CRAAKKK!!!!! bunyi itu bergema dalam kamar Lana yang sunyi.
"Tidak!!" jerit Lana, sambil menutup wajah.
Perempuan menyedihkan itu bunuh diri dengan menggantung leher. Sosoknya menggantung lemas tanpa daya di hadapan Lana.
Tubuh Lana langsung lemas, ia jatuh terduduk di atas karpet sambil terisak. Ia menekuk lutut dan membenamkan wajahnya di sana.
Pemandangan yang dilihatnya melebihi batas toleransi ketakutan Lana.
Tubuhnya tak lagi menggigil hanya karena dingin, tapi juga karena terguncang. Pemandangan horor yang mengerikan dan mengenaskan itu, akan selamanya terpatri di benak Lana.
Belum sempat Lana memulihkan diri, nyanyian merana itu kembali terdengar. Perempuan itu akan terus mengulangi ritual kematiannya sampai matahari terbit nanti
"Tidak!! berhenti"
Lana tanpa sadar berteriak keras, tangannya bergerak menutup telinga, mencoba memblokir suara itu.
Dengan pelan Lana beringsut ke pojok ruangan untuk menghindar. Melihatnya sekali saja sudah cukup untuk membuatnya hancur.
"Berhenti, aku mohon, berhentilah"
Lana menggumamkan kalimat itu berkali-kali, sambil terus menutup telinganya. Tapi ia tetap mendengar lagu itu, seolah suara itu telah tertanam di otaknya.
Pikiran Lana yang sedang tidak stabil, mulai mencampuradukkan trauma. Ingatan tentang Petra dan perbuatannya, menghajar benak Lana tanpa ampun.
Saat ini, Lana tak lagi bisa membedakan, apakah ia sedang memohon kepada wanita itu untuk berhenti menggantung lehernya, atau sedang memohon kepada Petra yang ada di kepalanya untuk berhenti melakukan perbuatan bejatnya.
Lana begitu tenggelam dalam ketakutan dan ilusinya, sampai tak mendengar suara Lukas memanggilnya dari balik pintu.
-------------0O0-------------
Lukas sedang berada di kamarnya untuk mengambil berkas kerja yang tertinggal. Ketika ia tiba-tiba mendengar suara teriakan dari kamar Lana.
Lukas langsung berhenti melakukan kegiatannya dan mendengarkan dengan lebih seksama, dengan cara mendekat ke arah tembok sebelah timur kamar. Lukas sehari-harinya memang tinggal di resort, dan kamarnya berada persis di sebelah kamar yang ditempati Lana.
Dia tidak punya pilihan lain saat menempatkan Lana di kamar itu. Saat membawa Lana ke Merian, hanya kamar itu yang kosong. Blok eksklusif telah terbooking penuh. Kamar itu kosong, hanya karena memang sudah lama tidak disewakan.
Lukas sangat menjaga privasi di blok exclusive, karena itu juga dijadikan sebagai daya tarik bagi tamu VVIP. Tempat ini sangat cocok untuk menyembunyikan Lana dari masyarakat yang gemar bergosip.
Untuk kedua kalinya, Lukas mendengar teriakan, dan kali ini yakin itu suara Lana.
Lukas bergegas keluar dan mengetuk pintu kamar Lana. Tapi tidak ada jawaban, dan ini justru membuatnya semakin cemas.
Akhirnya dengan master cardlock yang dimilikinya, ia membuka paksa pintu kamar Lana.
Sesaat Lukas bingung karena tidak mendapati Lana dimanapun, sampai akhirnya dia mendengar gumaman dari pojok ruang utama.
Dan untuk ketiga kalinya, Lukas melihat Lana dalam kondisi menyedihkan.
Tubuh kurus itu menggigil dalam posisi meringkuk menekuk lutut, dengan wajah tersembunyi, dan tangan menutup telinga. Sekarang Lukas bisa mendengar jelas, bahwa Lana sedang memohon kepada seseorang untuk berhenti.
Lukas mengeratkan tangannya dengan marah.
Dia semakin menyesal, karena tidak menghancurkan wajah Petra seperti yang diusulkan Joan.
Bagaimana bisa dia menyerang makhluk selemah Lana? Dan kini terlihat jelas, dia tidak hanya melukai tubuh Lana tapi juga jiwanya.
Dengan langkah pelan Lukas mendekati Lana, dan berjongkok di hadapannya. "Lana"
"Aaaghhhh"
Lana menjerit saat tangan Lukas menyentuh kulitnya.
Sentuhan itu tak hanya mengejutkan Lana, Lukas juga terperanjat karena kulit Lana sedingin es. Padahal kamar ini mempunyai penghangat otomatis yang akan selalu membuat suhunya sejuk.
Dengan pandangan nyalang, Lana berusaha melihat siapa yang menyentuhnya.
"Lukas? "
"Ya, ini aku. Tenanglah, kau tak perlu takut. Petra tidak akan bisa menyakitimu lagi"
Begitu selesai mengatakan hal itu, Lukas seolah melihat sesuatu pecah di dalam tubuh Lana. Mata Lana perlahan meredup, dan air mata membanjir dengan seketika.
Dengan gerungan keras, Lana menangis sejadi-jadinya.
Dia bahkan berusaha membanting tubuhnya ke lantai dengan putus asa. Tapi untunglah Lukas berhasil mencegahnya, tanpa banyak berpikir, Lukas menarik tubuh kurus itu dan memeluknya.
Lukas tidak bertanya atau apapun, dia hanya diam sambil mengelus lembut punggung Lana . Menurutnya Lana memerlukan tangisan itu, dan tidak akan menghentikan atau menyuruhnya diam.
"Bawa aku pergi dari sini!" Lana berbisik pelan diantara tangisnya.
"Eh...? " Lukas bingung dengan permintaan aneh Lana yang tiba-tiba itu.
"Kemanapun, asal tidak di kamar ini! "
Lana kembali memohon pada Lukas, kali ini sambil mengguncang badannya.
Melihat wajah Lana yang penuh air mata, Lukas memutuskan untuk memenuhi permohonannya seketika itu juga. Dengan cepat Lukas menarik tubuh lemas itu agar berdiri dan memapah Lana keluar menuju kamarnya.
Sangat beresiko membawa Lana ke bangunan utama saat ini, karena malam mulai larut. Bisa jadi akan ada orang yang melihat mereka.
Keberadaanya bersama Lana dalam situasi normal saja sudah akan menyebarkan kabar seru kepada penduduk desa, apalagi jika ada yang melihat keadaan kacau Lana, Lukas tak bisa membayangkan cerita liar macam apa yang akan tersebar.
"Duduklah"
Lukas melepas tangan Lana yang sedari tadi digenggamnya.
Lukas melakukannya karena tangan Lana sangat dingin. Dia lega sekarang tangan itu terasa lebih hangat. Lukas mengambil selimut kemudian menyampirkannya pada bahu Lana.
Lana dengan patuh duduk di sofa, dan menekuk lututnya lagi untuk menyembunyikan wajah. Lana kembali menangis, tapi hanya dalam isakan kecil, bukan lagi raungan merana seperti tadi.
Lukas berharap itu berarti dia sudah lebih tenang.
Lukas berjalan menuju dapur mini di sudut kamar, kemudian membuat secangkir kopi untuk Lana dan juga dirinya. Ia meletakkan kopi itu di hadapan Lana.
Tapi Lana masih tak bereaksi, maka Lukas kemudian duduk di sebelah Lana dan diam. Meraih ipad dan kacamatanya dan mulai bekerja memeriksa laporan.
Atau mencoba bekerja.
Konsentrasinya berkelana tak tentu arah, seluruh perhatiannya disedot oleh Lana, membuatnya tersangkut pada satu halaman laporan tanpa kemajuan.
Gadis yang sedang meringkuk disebelahnya, memberikan berjuta teka-teki yang membuat otaknya berpikir keras.
Lana memprotes dengan gigih semua hal yang telah diatur olehnya.
Lukas tentu saja berbohong soal polisi yang menyuruhnya tetap berada di sini. Mereka tidak akan peduli Lana berada dimana. Jika Lana berada di rumahnya sendiri, hanya akan berarti Neff harus berjalan lebih jauh, ketika ingin memperoleh keterangan,
Lana juga terlihat tidak terpengaruh, saat sadar dia berada di Merian dan baru saja bertemu dengan pemiliknya.
Bukan masalah besar bagi Lukas, tapi biasanya ia mendapatkan perlakuan berbeda setelah lawan bicaranya tahu siapa dia sebenarnya.
Tapi Lana tidak, ia malah terlihat memaksakan diri saat memanggilnya Mr. Merian.
Dan anehnya, hal itu malah membuat Lukas jengkel, ia lebih suka Lana memanggil namanya saja.
Tapi semua semangat dan juga cahaya di mata Lana hilang begitu saja.
Kini dia kembali berkubang dalam depresi ketika malam tiba. Tapi Lukas bisa mengerti, tidak ada perempuan di dunia ini yang pantas menerima perlakuan seperti itu.
Trauma dan juga stress jangka panjang karena peristiwa pemerkosaan bisa membuat seseorang menderita PTSD. Lukas berharap Lana tak akan perlu menanggung beban itu juga.
Mungkin Lana memerlukan psikolog, apakah ia harus menelpon dokter untuk lebih amannya?
Lukas tidak menyukai bagaimana tadi Lana mencoba untuk berpura-pura tegar di hadapan Joan.
Senyum Lana yang dipaksakan membuatnya jengkel, karena itu ia menyuruhnya berhenti tadi, tapi Lukas menyesal, karena menyuruhnya berhenti sambil membentak.
Tapi mengapa kau sangat peduli Lukas?
Benak Lukas mempertanyakan perbuatannya. Lukas menjadi bingung.
Apa yang didapatnya dari menolong Lana?
Dia memang berhutang budi karena Lana menolongnya saat bersama Diaz, tapi dirinya yang biasa hanya akan memberikan beberapa ribu euro sebagai ucapan terima kasih. Itu adalah niat awalnya sebelum menemukan Lana di lorong itu.
Kenapa sekarang dia ingin membantu mengatasi semua masalahnya? Lana bahkan tidak bisa mengingat siapa dirinya.
Lukas ingat bagaimana dia merasa sedikit tersinggung, saat Lana mengatakan tak bisa mengingatnya. Lukas tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu dari perempuan manapun.
Seumur hidupnya, Lukas terbiasa menjadi pusat perhatian karena wajahnya.
Bukannya sombong, tapi harga dirinya sedikit terluka.
Lukas sudah menjalani semua siklus hidup impian semua pria, yaitu menjadi playboy ketika muda, sampai akhirnya ia berubah ketika menikah.
Tapi baru kali ini, Lukas mendapati seorang gadis tidak mengingatnya setelah mereka bertemu dan mengobrol selama beberapa menit.
Tanpa sadar Lukas tersenyum miring mengingat hal itu.
Lana gadis yang unik, karena baik wajah maupun kekayaannya tak meninggalkan jejak di pikiran Lana. Singkat kata Lana tidak terkesan dengan sosok Lukas Merian.
Menurut Lukas hal ini sangat menarik!!
Lukas menoleh untuk melihat apakah Lana sudah tenang, untuk mendapati tubuh Lana telah oleng dan menyandar pada sofa.
Lana tertidur dalam posisi menyakitkan, karena kakinya masih menekuk dan kepalanya juga masih menunduk dengan rambut yang menutup seluruh wajah.
Jika Lukas percaya dengan adanya hantu, ia pasti sudah ketakutan. Lana tidak terlihat seperti manusia dalam posisi seperti itu.
Dengan pelan dan sangat lembut, Lukas mengangkat tubuh Lana dan memindahkannya ke ranjang. Lana tidak terbangun, ia hanya menggeliat sambil bergumam tentang sesuatu saat Lukas menyelimutinya.
Lukas lega suhu tubuhnya sudah normal, dinginnya tubuh Lana mengingatkannya akan keadaan Petra. Tapi nafas Lana terdengar baik-baik saja, jadi Lukas membuang kekhawatirannya jauh-jauh.
"I'm sorry Dad----"
Lukas mengurungkan niatnya untuk pergi, dan duduk di sebelah Lana. Memperhatikan bagaimana Lana tidur dengan gelisah.
Lana mengigau dalam bahasa Inggris, tentu saja karena itu bahasa ibunya. Dan Lukas menyukainya, suara Lana terdengar lebih ringan, Lana biasanya berbicara bahasa Jerman dengan suara sedikit berat.
"I'm sorry-- Rozh" Lana kembali mengigau.
Tapi kali ini dengan diiringi oleh air mata. Lana menangis dalam tidurnya.
Siapa Rozh? Kenapa Lana harus menangis karenanya? Mendadak Lukas merasa sedikit kesal.
Lana jelas tidak sehat, Lukas kembali merencanakan untuk memanggil psikiater untuknya. Tapi mengingat sikap Lana yang tak pernah menurut, akan percuma jika Lukas memanggilnya tanpa persetujuan.
Dia harus mencari cara agar Lana setuju.
Lukas menguap dan melirik ke arah jam dinding dan terkejut, karena saat ini sudah hampir tengah malam. Dia harus tidur, tapi ranjangnya telah terisi. Lukas kurang suka tidur di sofa, karena tinggi tubuhnya melebihi panjang sofa.
Sesaat Lukas melirik ruang kosong di sebelah Lana yang sangat menggoda. Ranjangnya berukuran super king size. Masih banyak ruang yang tersisa untuknya.
"Dalam mimpimu, Lukas" gerutunya lelah.
Dia tidak akan melakukan apapun pada Lana, tapi bukan berarti dia bisa tidur di sebelah Lana.
Lukas tak ingin melakukan perbuatan yang akan membuat Lana menjadi salah paham, atau bahkan membuat keadaan jiwanya memburuk.
Maka, Lukas mengambil tiga selimut cadangan di almari dan juga bantal.
Dia menebar dua selimut dilantai dan berbaring di sana. Butuh beberapa saat bagi Lukas untuk bisa tertidur. Lantai itu lebih dingin daripada sangkaannya.
Pilihan lainnya adalah tidur di kamar yang tadi ditempati Lana. Tapi Lukas sama sekali tidak mempertimbangkan pilihan itu. Jika bukan karena Lana, Lukas enggan memasuki kamar itu lagi.