
"AAAGGGGGGHHHHHH.............................!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
Jeritan Lana membuat telinga Lukas berdenging.
Lana akhirnya menyadari keberadaan Lukas di dalam apartemennya. Sayangnya keadaan Lana yang setengah telanjang membuat Lukas seperti kriminal.
Lana mulai melempar benda apapun yang berada dalam jangkauan tangannya, mulai dari vas plastik, bantal, guling, selimut. Tapi sedikitnya barang yang ada di sana membuat Lana cepat kehabisan amunisi.
"Stop!! Aku yang membelinya, dan akan sangat marah jika kau membantingnya" kata Lukas dengan kalem, saat tangan Lana meraih snow globe yang ada di meja.
Dia sudah memprediksi amarah dan kepanikan Lana, sehingga bisa menghadapinya dengan tenang.
"How---Why--When-----" mulut terkejut Lana tak bisa merangkai kalimatnya dengan sempurna.
"Aku akan berbalik, dan kau akan memakai baju. Setelah itu kita akan mengobrol panjang sambil minum teh. Aku harap kau tidak keberatan, aku tadi membuat dua cangkir dengan teh yang aku temukan di almari" kata Lukas sambil berbalik badan menghadap pintu.
Lukas tersenyum saat mendengar gumaman Lana sebagian besar berisi umpatan.
"Bagaimana kau bisa ada di sini?" akhirnya Lana bisa berbicara dengan normal.
"Apakah aku sudah boleh berbalik?" tanya Lukas.
"Ya.."
Dan Lana sudah berpakaian dengan lengkap.
"Bagaimana kau bisa tahu tentang tempat ini?" Lana tak memberi Lukas kesempatan, wajahnya terlihat murka, dan dengan tegas menggeleng saat Lukas menawarinya untuk duduk.
"Kau seharusnya tidak menghubungi agen properti itu. Pemilik agen itu adalah ibu Neff"
Lana kembali mengumpat, kali ini mengucapkannya dengan keras.
"Kenapa kau ingin lari dan bersembunyi? Lari dan bersembunyi tidak akan menyelesaikan masalah, kau tahu itu" tanya Lukas.
"Aku lari karena itu adalah hal yang tepat!" bentak Lana
"Aku lari karena aku hampir membuatmu tewas"
Kali ini bentakkan Lana mulai bergetar, karena amarahnya telah bercampur tangis.
"Aku lari karena ingin menyelamatkanmu!" Dan air mata Lana mengalir turun.
Lana berbalik, tak ingin memperlihatkan air matanya pada Lukas.
"Aku baik-baik saja dan tidak tewas, dan apa maksudmu dengan menyelamatkan? Kepergianmu meninggalkan sejuta pertanyaan yang tak terjawab. Aku tak akan menilai itu sebagai tindakan penyelamatan"
"Kau bisa mati, Lukas. Kau selamat hanya karena keberuntungan!!" teriak Lana, sambil berusaha keras menahan air matanya, tapi kelenjar air matanya memiliki keinginan lain.
"Lana......"
Lukas melangkah menghampiri Lana, tak tahan melihat Lana menangis.
"STOP.....!!! Jangan mendekat! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau mendekatiku" seru Lana, seraya mundur teratur menjauhi Lukas.
"Aku akan menanggung resikonya" kata Lukas, dan dia bersungguh-sungguh.
Lukas tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi apapun itu dia akan menerimanya.
"Tidak....Aku mohon, jangan seperti ini!!" Lana mulai panik saat Lukas terus melangkah, mengejar kemanapun ia bergeser.
Lukas berhasil menangkap tangannya dan menyentak tubuh kurus Lana ke dalam pelukan dengan sekali tarikan
"Jangan Lukas, kau bisa mati!!" Lana masih mencoba untuk meronta, dan mendorong tubuh Lukas.
Tapi kekuatannya tidak berarti banyak dan Lukas sudah bertekad tidak akan mengalah pada Lana.
Lukas memeluk Lana yang tangisannya semakin keras, dan akhirnya Lana menyerah.
Dia hanya bisa terisak dalam pelukan Lukas, walaupun terus bergumam bahwa hal yang Lukas lakukan sangat berbahaya.
"Look at me Lana, I'm fine" kata Lukas, ia melepas pelukannya dan menenangkan Lana yang masih tersedu sedan.
Dan saat pandangan mata mereka bertemu, Lukas melihatnya lagi, sesuatu runtuh dalam jiwa Lana.
Lana meraung pedih, dan mengguncang tangan Lukas.
"Kau tidak mengerti Lukas. Ini berbahaya!! Aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi. Petra mungkin pantas menerimanya, tapi kau dan Aaron tidak" rintih Lana.
Lukas sangat ingin tahu siapa Aaron, tapi dia menahan rasa penasarannya karena Lana dalam keadaan yang payah.
"Aku memang tidak mengerti, karena itu aku ada disini. Buat aku mengerti tentang rahasiamu Lana" bujuk Lukas.
"Tenangkan dirimu" lanjut Lukas, kembali memeluk Lana.
Dan kali ini tidak ada penolakan, Lana masih terisak, tapi menerima pelukan Lukas dengan rela.
Lukas merasa sangat lega, karena tak terjadi apapun padanya. Dan juga senang, Lana mau lebih terbuka padanya.
Lukas tidak mau lagi melihat Lana berjuang menyembunyikan emosi dihadapannya, dia akan menghancurkan tembok yang dibangun Lana untuk bersembunyi.
"Duduklah!" kata Lukas, menarik Lana ke kursi, dan menyodorkan teh hangat yang dibuatnya.
Lukas kembali melihat Lana yang menurut dengan gembira. Lana kadang keras kepala, tapi pada saat seperti ini, dia terlihat seperti kucing yang telah dijinakkan.
CEKLEK...!!
Suara pintu yang terbuka membuat Lana terperanjat.
"Aku harap kehadiranku tidak mengganggu, tapi di luar dingin sekali. Aku tidak bisa berada di luar terus" kata Neff dengan tubuh menggigil.
Lana melihat Neff dengan terkejut, tapi kemudian hanya mengangkat bahu, paham jika mereka berdua datang bersama.
"Sudah berapa lama kau ada di luar?" tanya Lukas dengan heran.
"Hmm... Sekitar dua puluh menit yang lalu" katanya, sambil nyengir.
"Kau seharusnya masuk saja" kata Lukas sambil menyodorkan teh hangat yang ada di meja. Neff terlihat lebih membutuhkannya. Bibirnya berwarna biru.
"Thanks!" kata Neff menghirup teh hangat itu dengan penuh rasa terima kasih.
"PUHHHHHH!"
Dua detik kemudian, Neff menyemburkan teh itu.
"Apa yang kau lakukan? Itu menjijikkan!!" Lukas melompat menghindari hujan teh lokal dari mulut Neff.
"Aku tidak menjijikkan, teh ini yang menjijikkan!!" ujar Neff sambil menunjuk gelas yang ada ditangannya. "Apa kau sudah mencoba meminumnya?"
Lukas menggeleng sambil nyengir dengan bersalah. Dia belum mencicipi teh itu tadi.
"Ha..Ha..Ha..Ha..Ha!!"
Suara tawa terbahak yang berdering memenuhi apartemen itu, membuat Lukas dan Neff tertegun.
Suara tawa itu berasal dari Lana!
Ketegangannya yang sudah jauh berkurang membuat Lana melepaskan emosinya begitu saja.
"Apakah kau baru saja tertawa?" Lukas memandang Lana yang bahunya masih terguncang oleh tawa.
Ini pertama kalinya dia dan Neff melihat Lana tertawa lepas. Ia sering melihat Lana tersenyum, tapi tertawa terbahak-bahak? Ini kejadian langka.
"Apa kami selucu itu Lana?" tanya Neff, masih dengan takjub.
"Ya, kalian berdua lucu. Selalu lucu" kata Lana, sambil mengusap air mata yang tersisa di matanya.
"Oh... selamat!! Kau berhasil membuat Lana tertawa dengan teh buatanmu" kata Neff, meneruskan lelucon dengan menjulurkan tangan untuk menyalami Lukas.
Lukas tentu saja menampik tangan itu.
"Jangan minum teh itu, Lana" kata Lukas, sambil mengangkat teh yang tadi diberikannya pada Lana.
"Tapi aku tidak punya teh, aku belum pernah membeli teh semenjak pindah ke sini" kata Lana, sambil melihat cangkir itu dengan wajah bertanya-tanya.
"Aku menemukannya di sana" Lukas menunjuk kabinet yang menempel di atas wastafel.
"Ow... aku bahkan belum pernah membukanya" kata Lana.
Dengan gerakan lambat, Lukas dan Neff menggeser kedua teh itu menjauh.
"Maaf" kata Lukas, menyesal karena membuat Neff meminum teh milik Chantal.
Neff mendelik kearahnya, sementara meletakkan makanan dan minuman yang dibawanya ke meja.
"Kita akan mengobrol lebih baik saat perut kita terisi". Neff menarik kursi tinggi di dapur dan memakainya untuk duduk.
Mereka bertiga menikmati sarapan dengan damai, seperti saat mereka masih berada di Grindelwald.
Bedanya Lana terlihat jauh lebih santai.
"Kenapa kau ingin menjual rumah itu? " tanya Neff, meneguk kopi panasnya dengan puas.
"Karena itu adalah tindakan yang tepat. Aku tidak seharusnya bertemu dengan kalian lagi. Aku membeli rumah itu dengan mahal, aku ingin uangku kembali" jawab Lana, mengutarakan alasan yang sangat realistis.
"Siapa yang melarangmu? Kenapa kau mengatakan 'seharusnya'?" Lukas menghentikan suapannya dan melihat Lana.
"Aku tidak tahu" dan suara Lana kembali berubah muram.
Jawaban yang tidak diduga oleh Lukas maupun Neff. Mereka berharap Lana memberikan jawaban. Tapi sepertinya dia juga tidak terlalu tahu.
"Bagaimana jika kau menceritakan semuanya dengan jujur. Kami tak akan menghakimi atau membantah ceritamu, sekonyol apapun itu"
"Mengenal siapa kalian, aku rasa kalian sudah menyimpulkan sesuatu mengenai keadaanku" kata Lana.
"Oh wow... !! Jadi ini dirimu yang sebenarnya. Tajam dan langsung ke intinya" sahut Neff dengan mata terbelalak.
Lana sudah menanggalkan semua persona palsu yang gagal menipu mereka. Lukas sendiri tidak terkejut, ia sudah pernah beberapa kali melihat Lana yang seperti itu saat bersamanya di Merian.
"Kami menyimpulkan kau mempunyai kemampuan untuk melihat roh orang yang sudah meninggal" kata Lukas dengan gamblang.
Neff langsung mengkerut mendengarnya, dia percaya dengan kemampuan Lana, apalagi setelah mendengar Lana mengobrol dengan Chantal, tapi masih tak nyaman saat Lukas menyebutnya dengan jelas.
"Itu benar" jawab Lana singkat, dan dengan mata yang bersungguh-sungguh.
Dan Neff menggerung tersiksa mendengarnya.
"Apakah kau bersedia menceritakan bagaimana kau bisa mendapatkan kekuatan itu? Kami tahu kau mendapatkannya saat remaja, bukan sejak lahir"
Lukas meminta dengan hati-hati. Lana mungkin sudah jinak, tapi Lukas tahu topik itu sangat sensitif. Dan itu terbukti dengan diamnya Lana.
Lana terlihat berpikir dalam-dalam.
"Kenapa kalian mempercayai hal absurd seperti ini? Seharusnya kalian menganggapku gila, itu lebih masuk akal" tanyanya balik.
"Percayalah, aku juga ingin mengambil kesimpulan lain. Tapi tidak bisa, semua bukti yang tersedia tidak mengijinkan aku mengambil rute yang lain" Neff menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Karena kau memanggil nama-----Diell. Di dunia ini hanya aku yang memanggil Ellza dengan nama itu. Dan aku memanggilnya seperti itu hanya saat kami berdua, bahkan Neff tidak tahu"
Lukas menahan sengatan kesedihan dengan tersenyum, senyum yang hambar tentu saja.
"Diell? Aku tidak pernah mendengar ini"
Seperti yang dikatakan oleh Lukas, Neff memang tidak tahu tentang hal ini. Dia terlihat tercengang.
"Aku memanggilnya seperti itu, karena kata Diell, ayahnya suka memanggilnya dengan nama itu" kata Lana pelan.
Dia bisa melihat luka di mata Lukas saat membicarakannya.
"Diellza, aku memberinya nama yang berarti matahari, karena dia memang matahari untuk kehidupanku. Kehilangan Diell adalah kiamat dalam kehidupanku. Aku nyaris tidak berhasil melewatinya. Tapi aku bertemu dengan psikiater handal, dan bisa berfungsi seperti biasa sekarang"
Lukas mencoba tersenyum, walaupun di mata Lana, senyuman itu justru terlihat menyedihkan.
Mata Lana berkaca-kaca, tentu saja ia mengerti bagaimana duka Lukas. Dia sangat mengerti. Setelah mengambil nafas panjang. Lana akhirnya menceritakan semuanya.
"Aku sebelum semua ini, adalah gadis biasa dalam keluarga normal seperti kebanyakan, tinggal bersama dengan kedua orang tuaku, dan juga adik laki-laki yang bernama Rozh"
Sepercik rasa lega menyelinap di hati Lukas, satu nama yang pernah ia dengar disebut oleh Lana, hanya berstatus sebagai adiknya, tinggal nama Aaron yang masih menjadi misteri.
"Aku dan Rozh sangat dekat, karena umur kami yang tak jauh berbeda. Keadaan Rozh yang sedikit istimewa membuatnya tak bisa bergaul dengan anak sebayanya. Rozh divonis menderita autisme oleh dokter"
Nama Rozh yang disebut berulang-ulang membuat air mata Lana mulai terbit.
"Aku tak pernah keberatan menghabiskan waktu dengan Rozh, apapun yang dikatakan orang tentangnya, dia adalah anak yang sangat manis. Tapi semua tidak lagi sama, ketika aku mulai beranjak remaja beberapa teman-temanku mulai menyadari keadaan Rozh, dan mereka mulai mengejekku"
"Dan aku adalah remaja ***** dengan pikiran sempit, ejekan itu membuatku lupa bahwa korban sebenarnya adalah Rozh, aku memihak pada sisi yang salah. Aku menjauhi Rozh sesuai dengan keinginan teman-temanku"
Lana yang tertelan rasa bersalah, mulai gelisah dan menggosok kedua lengannya.
"Kami mengerti Lana, kita semua melakukan kebodohan saat remaja. Dan aku yakin daftar kebodohanku jauh lebih panjang dari milikmu" kata Lukas menghiburnya. Lana hanya tersenyum kecil mendengarnya.
"Tentu saja hal itu tak berakibat baik bagi Rozh, ayahku tidak pernah lelah memberi peringatan soal ini, tapi aku tak mengacuhkannya. Dan kemudian yang terburuk menjadi kenyataan"
Lana menelan ludah, bersiap.
"Malam itu, aku dan teman-temanku sedang merayakan malam liburan musim panas pertama kali. Kami berkumpul di salah satu rumah temanku dan mengadakan acara barbecue. Pada awalnya kami bersenang-senang seperti biasa. Tapi kemudian salah satu temanku menemukan Rozh di dekat pagar rumah. Rupanya dia mengikutiku dan bersembunyi di tempat itu sedari tadi"
Lukas mulai bisa menduga akan terjadi hal buruk setelah itu.
"Aku langsung menyuruhnya pulang saat itu, karena Rozh tidak terbiasa dengan keberadaan banyak orang. Tapi teman-temanku yang sedang dalam keadaan euphoria mempunyai ide lain. Mereka terus menggodanya, setelah tahu keadaannya yang istimewa. Aku berkali-kali menarik Rozh agar menjauh dan pulang. Temanku akhirnya marah karena aku mencampuri kesenangannya, dia mendorongku dengan keras, sampai aku terpelanting ke arah alat panggangan. Tapi sebelum aku menimpanya, Rozh menarik tubuhku, dan dia yang menggantikanku menimpa alat pemanggang itu"
Lana berhenti sejenak dan menarik nafas dengan bersusah payah.
"Akibatnya, salah satu besi pemanggang barbecue menusuk dada Rozh saat dia jatuh, dan dia meninggal saat itu juga"
Lukas bisa melihat, Lana berusaha sekuat tenaga menahan tangis. Tangannya yang tergeletak diatas meja, gemetar. Lukas menggenggam tangan itu, "Itu sangat mengerikan, Lana"
"Aku yang saat itu langsung pingsan dan tak tahu apa yang berikutnya terjadi. Aku sadar keesokan harinya pada hari pemakaman Rozh. Orang tuaku tidak marah ataupun jengkel, mereka hanya mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah kecelakaan, dan aku tidak perlu merasa bersalah. Tapi bagaimana mungkin?? Aku yang telah jahat karena menjauhi Rozh, dia membutuhkanku, tapi aku membuangnya. Dia tidak akan berada disana, jika saja aku mendengar nasehat ayahku"
Lana tidak lagi menangis, tapi tubuh yang bergetar dan wajah yang menahan sakit, mencerminkan betapa rasa bersalah telah hidup dan menggerogoti hati Lana selama bertahun-tahun.
"Dan mereka benar Lana, kematian Rozh adalah kecelakaan. Kau mungkin bersalah karena sedikit mengabaikannya, tapi akibat yang timbul karenanya bukanlah tanggung jawabmu. Keadaan mental Rozh memang 'istimewa', tapi adalah keputusannya untuk mengikutimu dan juga menyelamatkanmu. Itu semua adalah keinginannya" kata Neff.
"Apakah kau ingin mengatakan itu adalah kesalahan Rohz?" Lana terdengar gusar.
"Tidak! Kau salah mengerti tentang maksudku" Neff tersenyum kecil, sambil menggenggam erat tangan Lana yang lain.
Lukas sangat tidak menyukainya, tapi dia tak bisa melarang. Neff saat ini telah beralih menjadi psikiater bagi Lana.
"Rozh adalah pemuda yang sangat hebat. Dia telah berjuang melawan semua kekurangannya, dan membuat keputusan yang sangat berani --bahkan lebih berani dari beberapa orang yang biasa kita sebut normal-- saat menyelamatkanmu. Perbuatan itu menunjukkan betapa ia sanggup melakukan apapun bagi kakak yang sangat disayanginya. Tidak ada yang salah dari perbuatannya itu\, dan dengan yakin aku menyebutnya pahlawan"
"Tapi kau dan rasa bersalahmu telah merebut gelar itu darinya. Gelar Rozh yang didapat dengan menukar kehidupannya, telah kau tukar dengan gelar 'korban dari kesalahanmu'. Tidakkah kau sadar, selama ini kau mengingatnya penuh dengan rasa bersalah, bukan penuh rasa sayang dan terima kasih?" tanya Neff dengan yakin, dia sangat mengenal tipe rasa bersalah yang di derita Lana.
"Tapi aku sangat berterima kasih" bantah Lana, tapi keyakinannya goyah mendengar perkataan Neff.
Hanya kata maaf yang dia sebut setiap kali mengingat Rozh.
Tak mengacuhkan bantahan Lana, Neff melanjutkan penjelasannya.
"Maka tunjukkanlah. Tunjukkan bahwa kau sangat berterima kasih pada Rohz. Dia menyelamatkan hidupmu dengan harapan agar kau selalu hidup dengan bahagia, bukan dengan larut dalam kesedihan"
"Lalu apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apa yang membuat cahaya biru itu selalu menempel padaku? Bukankah ini adalah kutukan akibat perbuatanku pada Rozh?! Aku mulai melihat semua roh itu, setelah Rohz meninggal" tanya Lana sedikit keras.
Wajahnya yang tadi mulai tenang, tidak bersisa lagi. Matanya kembali penuh dengan kebingungan dan putus asa.
"Eh...."
Neff dengan perlahan melepas tangan Lana, dan beringsut mundur. Pertanyaan Lana sudah berada di luar zona nyaman miliknya.
"Setelah kejadian itu, hidupku tidak pernah sama. Aku melihat mereka yang sudah mati dalam wujud terakhir bagaimana mereka meninggal. Jika ini bukan kutukan kenapa aku harus menjalani ------ semua ini?"
Lana tersendat, dan Lukas tahu mengapa.
Pengalamannya saat menjalani kehidupan di rumah sakit jiwa tidaklah mudah, dan Neff benar, adalah keajaiban Lana bisa keluar dari tempat itu dalam keadaan baik.
"Apa yang membuatmu akhirnya sadar, bahwa kau tidak sedang melihat halusinasi?" tanya Lukas, senatural mungkin.
Dia sebenarnya hanya ingin Lana tak memikirkan hal yang akan membuatnya semakin gelisah.
"Salah satu pasien di sebelah kamarku adalah penderita Agoraphobia yang sangat parah. Pada musim dingin tahun itu, ia terjangkit virus flu akut. Ia tidak bisa bertahan dan akhirnya meninggal dunia. Malam itu, sebelum aku jatuh tertidur karena obat, aku melihatnya berjalan pelan menembus tembok menuju kamarnya"
"Keesokan harinya, aku bangun dengan pemahaman baru. Tidak seperti yang aku sangka selama ini, aku tidak gila"
"FYI, orang dengan gangguan jiwa tidak akan sadar bahwa dirinya gila, jika kau masih bisa berpikir kau telah menjadi gila, aku sangat yakin kau sebenarnya sangat waras" kata Neff, menawarkan pengetahuan yang tidak berhubungan dengan hantu.
"Sayang sekali kau bukan salah satu dokter yang merawat Lana" kata Lukas.
"Apakah semua orang yang meninggal akan menjadi hantu?" tanyanya.
"Tidak, hanya mereka yang masih memiliki keterikatan pada dunia" jawab Lana, kemudian menjelaskan soal obsesi roh pada mereka berdua, seperti yang pernah Hans jelaskan padanya.
"Jadi mereka akan 'pergi' setelah keinginan mereka terpenuhi?" tanya Lukas menegaskan.
Lana mengangguk, sementara Neff sudah menarik diri dari perbincangan ini sedari tadi.
"Apakah kau tahu apa keinginan Diell?"
Pertanyaan Lukas diikuti oleh kesunyian, bahkan Neff yang sedari tadi banyak mengeluh karena topik pembicaraan mereka tak menyenangkan untuknya, terdiam mendengar pertanyaan itu.
Lana menggeleng, "Diell hanya bercerita soal dirimu, dia tak menyinggung soal keinginannya. Dan terus terang saja, aku hanya dua kali bertemu dengannya. Saat berada di Merian, aku tidak pernah melihatnya bersamamu. Karena itu aku sangat terkejut saat melihatnya di festival"
Lukas terdiam lama setelah itu.
"Bolehkah aku meminta pertolonganmu?"
Permohonan Lukas tidak terlalu mendetail, tapi Lana tahu dengan pasti apa yang akan dimintanya.
Dan menurut Lana hal ini tidak akan mudah. Lana mungkin tidak perlu menjelaskan lebih lanjut soal keberadaan Diell, tapi keinginan roh bisa jadi sesuatu yang sangat sulit dipenuhi.
Seperti Chantal yang memintanya untuk menyelesaikan lukisan, hal itu nyaris mustahil, karena bakat Lana dalam seni sama buruknya seperti hasil masakannya.
"Aku mempunyai tebakan bahwa keberadaan Diell kemungkinan besar berhubungan dengan apa yang terjadi dengan Ibunya" kata Lukas dengan nada datar.
Lana berusaha menampilkan wajah biasa saja, tapi dalam hati, sepercik bara kecemburuan mulai menyala dalam hatinya. Jika keinginan Diell adalah agar mereka berdua bersatu lagi, Lana tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Dan kemungkinan besar kau sudah pernah bertemu dengannya" lanjut Lukas, dan dia sudah gagal mempertahankan nada datarnya.
Wajah Lukas sekarang terlihat tidak nyaman.
"Aku? Bertemu dengan istrimu?" Kali ini Lana yang tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
Lana tidak bertemu dengan banyak orang di Grindelwald, dan salah satunya adalah istri Lukas? Lana nyaris tak bisa percaya, tapi Lukas tidak mungkin berbohong.
"Apa yang membuatmu tidak mau menempati kamar yang pertama kali Lukas persiapkan untukmu di Merian?" Neff tiba-tiba menyeletuk, sebelum Lana bisa mendapatkan jawaban dari Lukas.
"Oh... ada seseorang yang meninggal dengan menggantung diri disana, seorang wanita berambut panjang"
Lana menjawab tanpa banyak berpikir.
"Nah, kau memang sudah bertemu dengannya. Wanita itu adalah Anja, istriku" kata Lukas dengan senyum getir.
Lana berseru sambil bangkit dari duduknya.