Birmingham, 1919

Birmingham, 1919
Grace's Secret



Birmingham, 1916.


Thomas menatap dinding kamar di apartemennya di pusat kota Birmingham. Di balik dinding yang terhalangi lukisan itu terdapat lorong berdiameter setengah meter dengan panjang satu meter. Di dalamnya Thomas menyimpan sebuah barang yang berharga. Suatu saat barang itu akan dia jual kepada para penguasa dan gengster lain. Barang itu adalah barang seludupan yang dia curi saat pulang dari Perang Dunia.


Setelah Thomas pulang dari perang, wajahnya tak bersinar seperti sebelumnya. Ketakutan selalu menyelimutinya, meski dia selalu bisa menutupinya dari orang lain. Dia mengalami kesulitan untuk tidur. Sekalipun tidur, dia akan mudah terbangun karena mimpi buruk. Mimpi buruk dengan kejadian pada saat perang yang menewaskan sahabatnya di medan perang.


Bisnis pertama yang dijalankan The Blinders adalah bisnis judi pacuan kuda. Pacuan kuda adalah hiburan populer bagi seluruh lapisan masyarakat di Inggris. Para bangsawan dan menengah mereka menambah keseruan dengan berjudi. Mereka akan memasang sejumlah uang kepada kuda-kuda yang diprediksi akan memenangkan balapan.


Di saat kuda taruhannya menang, maka dia akan memenangkan uang dari orang-orang yang bertaruh pada kuda yang kalah. Uang-uang taruhan itu akan dikumpulkan dan dicatat oleh The Blinders dan mereka akan mendapatkan bagian dari orang-orang yang memenangkan judi. Terkadang Thomas bermain untuk memicu orang-orang untuk ikut bertaruh.


Dari bisnis itulah The Blinders mulai bangkit dan bisa membayar para pekerja dan para polisi. Musuh The Blinders pada saat itu adalah mereka yang kalah dan mengendus kecurangan-kecurangan yang timbul akibat kalah dalam berjudi. Salah satu musuh The Blinders di Birmingham adalah Lee Bersaudara.


Lee Bersaudara adalah gengster yang berasal dari kaum gipsy. Salah satu orang penting dari Lee Bersaudara pernah bertaruh dan mengalami kekalahan, yang rupanya diakibatkan oleh Thomas yang memancing orang-orang untuk bertaruh pada kuda yang diberikan sihir agar menang.


Lee Bersaudara seketika membenci The Blinders, terutama Thomas dan berniat untuk mencuri buku yang berisikan pencatatan keuangan. Lee Bersaudara yakin jika buku itu berhasil dicuri dan dibongkar, maka semua orang akan mengetahui kecurangan The Blinders dan The Blinders akan hancur.


'Kring Kring'


Bunyi pintu pub terbuka dan membunyikan lonceng di ujungnya. Lonceng itu akan berbunyi setiap pintu terbuka.


Thomas duduk di meja bar dan heran melihat wanita berambut pirang pendek sebahu di pub itu. Pub itu adalah tempat favorit Thomas, tapi wanita itu belum pernah dia jumpai.


Thomas berdiri di bar, wanita itu pun mendekat.


"Berikan aku wiski," kata Thomas.


"Irish atau Scoth?" tanya wanita pirang itu.


"Irish."


Wanita itu pun memberikan apa yang diinginkan oleh Thomas.


"Kau baru di sini?"


Wanita itu mengangguk. "Grace."


Thomas mengambil pesanannya dan menyimpan bayarannya di atas meja bar. Itulah awal pertemuan mereka. Thomas adalah lelaki yang dingin terhadap wanita. Dia hanya mendatangi wanita penghibur hanya jika dia menginginkannya. Seiring berjalannya waktu Grace, berhasil membuat hatinya hangat hingga dia mulai mempercayainya.


'Kreek'


Sore itu Grace masuk ke dalam kamar apartemen milik Thomas. Matanya mengarah ke berbagai penjuru dan berhenti pada lukisan rusa yang cukup mencolok di seberang tempat tidur. Thomas menutup pintu kemudian menyimpan jas dan topinya di gantungan kemudian berjalan menuju meja bar mini di ujung ruangan.


"Seperti biasa?" tanya Thomas mempersiapkan minuman.


"Ya."


Grace menyimpan jas dan tasnya di gantungan kemudian menghampiri Thomas di meja bar mininya.


"Sepertinya banyak wanita yang datang ke tempat ini."


Thomas terkekeh. "Tidak pernah."


Grace mengambil minumannya kemudian berjalan menuju hadapan lukisan itu. Thomas mengikutinya.


"Katakan padaku cerita tentang lukisan ini," ucap Grace.


"Apa aku dapat mempercayaimu?"


Grace berbalik kemudian menatap Thomas lekat. Perlahan dia mendekatkan bibirnya ke atas bibir Thomas. Thomas pun menerimanya dengan senang hati.


'PRAK!'


Gelas yang dipegang keduanya tergeletak di atas lantai begitu saja. Sementara para pemiliknya sedang sibuk bergumul di atas tempat tidur. Thomas mencurahkan seluruh hasratnya pada wanita yang berada di atas tubuhnya itu. Pertama kalinya setelah sekian lama dia tidak merasakan aktivitas bercinta yang bergelora. Grace, berhasil mencairkan hati dinginnya.


"Huufftt...."


Thomas menghisap rokok dan mengepulkan asapnya ke udara. Tubuhnya yang berpeluh dia sandarkan di kepala ranjang, sambil menatap ke lukisan. Grace perlahan menyelimuti tubuhnya yang polos dengan selimut kemudian memeluk Thomas.


"Kau mau tahu cerita lukisan itu?" tanya Thomas.


Grace mengangguk.


"Aku membelinya di Chinatown."


"Kau menyukai seni?"


"Tidak terlalu. Aku membelinya untuk menutupi sesuatu."


Grace terdiam sejenak. "Apa itu?"


Kedua bola mata Grace terbelalak. "Lalu akan kau apakan senjata itu?"


"Aku akan menjualnya. Tapi tidak sekarang. Sekarang polisi sedang mencarinya. Aku akan menunggu waktu yang tepat."


***


Malam itu semua anggota keluarga Scott sudah meninggalkan markasnya. Namun seorang anak kecil bayaran sore tadi berhasil menyusup ke markas untuk membuka pintu. Beberapa orang bersenjata dari gengster Lee Bersaudara kemudian muncul dari gang gelap dan masuk ke dalam markas The Blinders.


Di sana hanya ada Greg yang sedang menghitung uang taruhan untuk pertandingan pacuan kuda besok.


"DOR! DOR!"


Suara tembakan saling berkeliaran ke seluruh ruangan. Greg pun tak sadarkan diri karena mendapatkan tembakan di perut dan lengannya.  Mereka pun segera menjarah semua uang taruhan dan uang keuntungan The Blinders dari berangkas, kemudian menyimpan perangkap di sana.


'BRAK! BRAK!'


Seseorang mengetuk pintu apartemen Thomas dengan kepalan tangan. Thomas yang sedang bersama Grace segera berpakaian, meninggalkan Grace di atas tempat tidur. Thomas membuka pintunya dan terlihat Jhonny datang dengan terengah-engah.


"Markas kita dibobol!" seru Jhonny.


"****!"


Dengan segera Thomas pun pergi menuju markas. Setibanya di sana semua anggota keluarga Scott sudah berkumpul dan terbelalak dengan kekacauan.


"Greg!" seru Arthur saat melihat Greg terkapar bersimbah darah. Arthur segera mengecek nadinya kemudian menatap Jhonny. "Jhonny! Bantu aku membawa dia ke dokter! Dia masih hidup!"


Jhonny segera bergegas membantu Arthur mengangkat tubuh Greg dan pergi dari markas menuju kediaman dokter. Bibi Poly dan Adda mengecek brangkas dan terduduk lemas.


"Mereka tidak menyisakan satu pound pun. Semua raib," ucap Bibi Poly lemas.


Thomas terdiam kemudian melihat sesuatu. Sebuah tang kabel tegeletak di atas meja. Tang itu tidak pernah ada di markas itu. Kemudian dia teringat sesuatu. Tang itu adalah tanda bahwa di tempat itu terdapat perangkap bom listrik.


"Semua jangan bergerak!" teriak Thomas.


Adda dan Bibi Poly menatap Thomas yang menatap jeli ke seluruh penjuru.


"Ada apa?"


"Ini ulah Lee Bersaudara. Pada saat perang mereka ahli merakit bom listrik. Tang ini adalah pemberitahuan bahwa dia memasang perangkap itu," jelas Thomas.


"Dimana bomnya?" tanya Adda.


Thomas menggeleng. "Bom itu tidak mungkin ada di sini. Jika ada di sini, mungkin sudah meledak dari tadi."


Thomas berpikir keras. Lee Bersaudara bermasalah dengannya secara personal maka sudah pasti bom itu akan dia tujukan untuk dirinya sendiri. Segera Thomas berlari keluar mencari mobilnya yang terparkir di garasi markas. Tadi dia datang dengan mobil Jhonny.


Terilhat seorang bocah laki-laki sedang duduk dan memainkan stir mobil.


"Finn, apa yang kau lakukan?" tanya Thomas berhati-hati.


"Aku sedang berpura-pura menjadi dirimu," jawab Finn, anak kecil itu.


"Dari pintu mana kau masuk ke dalam sana?"


"Aku tidak menggunakan pintu. Aku masuk loncat lewat jendela."


"Baiklah, Finn dengarkan apa yang kukatakan. Kau keluarlah dengan cara yang sama, jangan keluar melewati pintu!" ucap Thomas sambil perlahan mendekat.


Finn tertawa dan terpancing. Melihat Thomas mendekat perlahan begitu, seperti dia hendak menangkap bocah itu. Sambil tertawa riang, Finn kemudian membuka pintu mobil dan keluar. Dengan segera Thomas mengambil bom yang tertempel di gagang pintu mobil, kemudian segera melemparnya ke udara.


"AWAS!"


"DUAARRR!"


Beberapa orang yang berjalan di sekitar jalanan itu terkejut saat mendengar suara ledakan. Finn pun segera memeluk Thomas karena terkejut.


"Itulah kenapa, kau tidak boleh berpura-pura menjadi diriku," ucap Thomas pada Finn.


Thomas akhirnya kembali ke apartemennya dengan lemas, sembari memikirkan solusi atas permasalahan yang menimpanya. Thomas kembali terkejut saat pintu apartemennya terbuka lebar dan dia segera masuk.


"Grace!" teriak Thomas sambil mencari Grace ke sekeliling.


Thomas terhenti saat melihat lukisan rusanya tergeletak di lantai dan brangkas di baliknya terbuka lebar dan isinya kosong. Grace pun tak terlihat lagi di Birmingham sejak hari itu.


"****!" teriak Thomas, yang merasa dikhianati oleh wanita yang baru saja dia percayai.