Birmingham, 1919

Birmingham, 1919
Makan Malam



Suasana makan malam di ruang makan saat ini begitu hening. Hanya ada bunyi alat makan dan mulut yang mengunyah. Anne terus memperhatikan lelaki di hadapannya itu yang makan dengan tenang dan terlihat begitu menikmati hidangan yang disajikan. Entah apa yang berada dalam kepala lelaki itu, sampai dia terpikirkan untuk menikahi adik dari kubu lawan. Dengan wajah seperti itu, tentunya lelaki itu bisa menikahi wanita mana saja. Tapi kenapa harus Anne?


Anne seketika tahu, Thomas bukanlah lelaki bodoh. Dari balik mata biru itu, pasti tersimpan maksud lain.


"Apa aku akan dibunuh sesaat setelah malam pernikahan?" pikir Anne dalam benaknya.


"Akhem!" William memecah keheningan.  "Kini kau sudah bertemu dengan Thomas Scott, Anne. Kau mau bertanya sesuatu padanya?"


Anne mengambil gelas winenya, lalu menatap Thomas. Orang yang ditatapnya, kemudian mengelap bibirnya dengan lap di pangkuannya lalu melakukan hal yang sama dengan Anne.


"Apa kau bermain catur?" tanya Anne.


Thomas meneguk winenya, kemudian tersenyum tipis. "Yang jarang adalah apakah seorang wanita muda sepertimu bermain catur?"


"Wanita muda? ****! Apa dia meremehkanku?" gejolak Anne dalam hati. "Kau sudah selesai makan? Ayo kita bermain catur di ruang kerja."


William dan Charlotte menatap Anne, takut adiknya merusak rencana yang sudah disepakati.


Thomas beranjak dari tempat duduknya. "Sebaiknya kita tidak membuang waktu."


Semua orang pun bangkit dari kursinya. Namun Anne menghentikan Wiiliam dan Charlotte beranjak dari tempatnya. "Izinkan aku untuk memiliki waktu berdua dengan calon suamiku, Kak," ucap Anne kemudian melirik William. "Mari ikuti saya, Tuan Thomas!"


Anne dan Thomas pun masuk ke dalam ruang kerja Wiiliam, tak lupa Anne menutup pintu agar kakaknya tidak menginterupsi. Di depan meja kerja, terdapat sebuah meja dengan kursi saling berhadapan dengan papan catur di atasnya.


"Silahkan!" ucap Anne, mempersilahkan.


Thomas duduk di hadapan Anne. Thomas memilih bidak hitam, sementara Anne putih. Thomas pun mempersilahkan Anne jalan lebih dulu. Anne menjalankan pionnya sebagai awalan.


Thomas mulai menjalankan pionnya tanpa memperlihatkan perlawanan. "Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Thomas, seperti sudah tahu maksud ajakan Anne bermain catur.


"Apa  tujuanmu sebenarnya? Apa kau akan membunuh kami?" tanya Anne tanpa berbelat-belit, sembari tetap melanjutkan permainan.


"Terlalu disayangkan bila aku membunuhmu dan keluargamu." balas Thomas, sembari tetap berjalan tanpa memperlihatkan perlawanan.


"Lalu? Kau ingin merebut pasar bisnis keluargaku?"


"Memang seperti itu tadinya, tapi kakakmu melawan dan aku tidak punya pilihan lain selain membalas."


'TAP' Anne menaklukkan pion kuda milik Thomas.


"Hem.. London begitu strategis, capital. Aku harus bisa masuk ke pasar ini. Tapi karena kakakmu tidak mau memberikannya padaku. Aku bermurah hati untuk memberikan penawaran perdamaian."


"Dengan menikahiku?"


'Sreett.. TAK' Pion milik Thomas berhasil mematikan kubu lawan dengan skakmat.


"Dengan menikahimu. Sebuah win-win solution bukan?" ucap Thomas, kemudian menatap Anne dengan mata birunya. Tatapannya tidak tajam, namun dalam.


Anne terdiam melihat posisinya yang kalah.


"Apa kau bersedia menikah denganku, Nona Maria Anne?"


"Pertama, aku tidak mencintaimu. Tapi aku akan melakukan apapun untuk melindungi keluargaku," balas Anne.


"Cukup bijak."


Thomas pun berdiri dari kursinya kemudian membuka pintu ruang kerja. Anne menyusul dari belakang. Di luar ruang kerja, William dan Charlotte sudah berdiri.


"Apa yang terjadi?" bisik William pada Anne.


"Kakak, aku bersedia menikah dengan Tuan Thomas," ucap Anne dengan lantang dan terdengar oleh Thomas.


Thomas meraih mantel hujannya, kemudian berbalik pada Anne dan kedua kakaknya.


"Pernikahan akan berlangsung besok lusa, dan setelah makan malam kita akan kembali ke Birmingham," ucap Thomas, mengakhiri acara makan malam itu.


"Hah? Secepat itu?"


Thomas pun membuka pintu rumah dan terlihat barisan anak buahnya yang siap siaga di depan berhadapan dengan anak buah William. Thomas dan semua anak buahnya pun pergi meninggalkan kediaman William.


Di dalam mobil, Thomas menepuk pundak sopirnya. "Besok pagi, kau jemput keluargaku. Kita akan melangsungkan pernikahan di London!"


"Baik, Tuan," jawab sopir itu kemudian melaju menuju hotel tempatnya menginap di London.


***