Birmingham, 1919

Birmingham, 1919
Kemarahan



‘PRAAK!’


George melemparkan gelas minumannya ke dinding


hingga pecah berserakan. Dia begitu marah setelah dikhianati oleh Lee


Bersaudara. Bisa-bisanya dia membayar mahal untuk gangster yang tidak loyal


seperti itu. Gipsy memang mementingkan keluarga dibandingkan segalanya.


“Fooking family!” umpat George.


Dia pun beranjak dan segera mempersiapkan rencana


terakhir. Dia mengangkat gagang telepon dan menutar beberapa angka.


“Persiapkan tiker pelayaran menuju Skotlandia untuk


dua orang,” ucap George.


“Baik tuan,” jawab suara asistennya dari sambungan


telepon.


Siang itu Anne sedang tidak ingin kemana-mana.


Thomas sudah berada di markasnya sedari pagi. Anne kini sudah mulai bisa masuk


ke studio lukisnya. Dia tidak merasakan mual lagi. Perutnya sudah mulai


terlihat membuncit meski hanya sedikit. Aura kecantikannya semakin terpancar


dari wajahnya.


Orang bilang jika seorang wanita semakin cantik saat


sedang mengandung, maka dia sedang mengandung bayi laki-laki. Sebaliknya, jika


seorang wanita terlihat kusam saat mengandung, maka dia sedang mengandung bayi


perempuan, seolah-olah kecantikan ibunya diserap oleh sang bayi.


Apapun itu, baik laki-laki maupun perempuan, Anne


dan Thomas sangat menanti-nantikan kedatangannya.


Anne menggoreskan kuasnya. Di kanvas itu Anne kembali


melanjutkan karyanya yang tertunda. Dia sedang melukis potret dirinya dengan


suaminya. Anne dengan gaun merah duduk di sebuah kursi, sementara Thomas dengan


stelannya berdiri di belakangnya. Sudah hampir selesai, tinggal sentuhan final.


Brrrmmm


Anne terhenti ketika mendengar suara mesin mobil. Dia


menyimpan peralatannya kemudian berjalan menuju balkon dan melihat siapa yang


datang dari sana. Mobil itu bukanlah miliki Thomas. Seorang lelaki pun turun


dan mata Anne terbelalak.


“George? Sedang apa dia di sini?” gumam Anne.


Tak lama seorang asisten rumah tangga muncul. “Nyonya, Tuan


George menunggu di ruang tamu untuk bertemu dengan Nyonya.”


“Baiklah. Jangan katakan dia datang pada Thomas,” tambah


Anne.


Anne menghampiri George di ruang tamu. George tersenyum


melihat Anne, namun kemudian senyumannya pudar saar melihat perut Anne yang


membuncit.


“Thomas sialan!” umpat George dalam hati.


“Ada apa kau ke sini?” tanya Anne. “Semuanya sudah selesai,


bukan?”


George mengangguk. “Ya, aku ke sini hanya ingin mengucapkan


salam perpisahan.”


Mendengar kata perpisahan, membuat Anne merasa lega. Namun


jauh di lubuk hatinya, Anne pun merasa kasihan dengan George. Dulu mereka telah


berbagi cerita indah bersama dan tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja


mereka memang tidak berjodoh.


“Kau akan kembali ke Skotlandia?” tanya Anne.


George mengangguk. “Sebagai tanda persahabatan, aku ingin


jalan-jalan denganmu. Apa kau tidak keberatan? Untuk yang terakhir kali?”


Anne berjalan menuju lemari jas dan memakai jas panjangnya.


Seorang asisten datang dan membantu Anne memakainya.


“Aku mau keluar dulu sebentar,” ucap Anne.


“Apa mau saya antar Nyonya?” tanya asisten itu.


“Tidak usah. Aku akan kembali sore, sebelum Thomas datang.


Kau persiapkan saja makan malam,” ucap Anne pada asistennya.


George pun membawa Anne ke dalam mobilnya. Di dalam mobil,


George didampingi oleh seorang sopir. George dan Anne duduk di belakang.


“Kita akan kemana?” tanya Anne.


“Bagaimana kalau ke danau?” jawab George.


Anne mengangguk. “Baiklah. Aku tidak bisa lama.”


“Tenang saja.”


George menatap perut Anne. Anne yang merasakan tatapan itu


kemudian mengelus perutnya.


“Kau sedang mengandung?” tanya George.


Anne tersenyum dengan bahagia. “Iya.”


Seketika aura wajah George berubah. Terlihat kesal dan menyeramkan


di mata Anne.


“Aku selalu membayangkan kau mengandung anakku, Anne. Bukan


si gangster itu!” teriak George.


Anne terkejut ketika George meneriakinya seperti itu.


“George! Kau masih belum sadar juga? Aku sudah bukan siapa-siapamu. Aku sudah


bahagia dengan Thomas, kau tidak mengubah takdirku.”


‘PLAK!’


Tamparan keras mendarat di pipi mulus Anne. Baru pertama


kali dia mendapatkan tamparan dari seorang lelaki. Bahkan Thomas saja tidak


pernah menamparnya. Kini dia baru tahu sifat asli George.


“Anne, maafkan aku..” George merasa kelewat batas.


Anne memegang pipinya yang terasa panas. Dia menahan air


matanya. “Turunkan aku disin!” seru Anne.


Sopir itu terus saja menjalankan mobilnya. Tak mengindahkan


perintah dari Anne.


“Maafkan aku Anne…”


George mengeluarkan sebuah kain dari sakunya, kemudian


membekap Anne dengan kain itu. Anne sempat berontak namun akhirnya dia tak


sadarkan diri menghirup aroma menyengat dari kain yang disumpalkan ke hidungnya


itu. Anne tak sadarkan diri di pelukan George.


“Segera jalan ke pelabuhan!” perintah George pada sopirnya.


***


Thomas masuk ke dalam rumah tepat waktu. Dia mencari-cari


Anne ke setiap ruangan rumahnya. Namun dia tak menemukan Anne. Saat seorang


pelayan melintas, Thomas segera menghentikannya.


“Dimana istriku?” tanya Thomas.


Pelayan itu yang ekspresinya sudah mencurigakan akhirnya


menjawab. “Tadi ada seorang tamu Tuan, lalu Nyonya pergi bersamanya. Nyonya


bilang akan segera pulang sebelum Tuan datang, tapi sampai sekarang Nyonya


belum pulang,” jelas pelayan itu.


Thomas pun mulai khawatir. “Siapa tamu itu?”


“Eh… Tuan George,” jawab pelayan itu.


Dengan segera Thomas pun kembali memakai jasnya dan keluar


dari rumahnya memacukan mobilnya dengan secepat yang dia bisa.