
‘PRAAK!’
George melemparkan gelas minumannya ke dinding
hingga pecah berserakan. Dia begitu marah setelah dikhianati oleh Lee
Bersaudara. Bisa-bisanya dia membayar mahal untuk gangster yang tidak loyal
seperti itu. Gipsy memang mementingkan keluarga dibandingkan segalanya.
“Fooking family!” umpat George.
Dia pun beranjak dan segera mempersiapkan rencana
terakhir. Dia mengangkat gagang telepon dan menutar beberapa angka.
“Persiapkan tiker pelayaran menuju Skotlandia untuk
dua orang,” ucap George.
“Baik tuan,” jawab suara asistennya dari sambungan
telepon.
Siang itu Anne sedang tidak ingin kemana-mana.
Thomas sudah berada di markasnya sedari pagi. Anne kini sudah mulai bisa masuk
ke studio lukisnya. Dia tidak merasakan mual lagi. Perutnya sudah mulai
terlihat membuncit meski hanya sedikit. Aura kecantikannya semakin terpancar
dari wajahnya.
Orang bilang jika seorang wanita semakin cantik saat
sedang mengandung, maka dia sedang mengandung bayi laki-laki. Sebaliknya, jika
seorang wanita terlihat kusam saat mengandung, maka dia sedang mengandung bayi
perempuan, seolah-olah kecantikan ibunya diserap oleh sang bayi.
Apapun itu, baik laki-laki maupun perempuan, Anne
dan Thomas sangat menanti-nantikan kedatangannya.
Anne menggoreskan kuasnya. Di kanvas itu Anne kembali
melanjutkan karyanya yang tertunda. Dia sedang melukis potret dirinya dengan
suaminya. Anne dengan gaun merah duduk di sebuah kursi, sementara Thomas dengan
stelannya berdiri di belakangnya. Sudah hampir selesai, tinggal sentuhan final.
Brrrmmm
Anne terhenti ketika mendengar suara mesin mobil. Dia
menyimpan peralatannya kemudian berjalan menuju balkon dan melihat siapa yang
datang dari sana. Mobil itu bukanlah miliki Thomas. Seorang lelaki pun turun
dan mata Anne terbelalak.
“George? Sedang apa dia di sini?” gumam Anne.
Tak lama seorang asisten rumah tangga muncul. “Nyonya, Tuan
George menunggu di ruang tamu untuk bertemu dengan Nyonya.”
“Baiklah. Jangan katakan dia datang pada Thomas,” tambah
Anne.
Anne menghampiri George di ruang tamu. George tersenyum
melihat Anne, namun kemudian senyumannya pudar saar melihat perut Anne yang
membuncit.
“Thomas sialan!” umpat George dalam hati.
“Ada apa kau ke sini?” tanya Anne. “Semuanya sudah selesai,
bukan?”
George mengangguk. “Ya, aku ke sini hanya ingin mengucapkan
salam perpisahan.”
Mendengar kata perpisahan, membuat Anne merasa lega. Namun
jauh di lubuk hatinya, Anne pun merasa kasihan dengan George. Dulu mereka telah
berbagi cerita indah bersama dan tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja
mereka memang tidak berjodoh.
“Kau akan kembali ke Skotlandia?” tanya Anne.
George mengangguk. “Sebagai tanda persahabatan, aku ingin
jalan-jalan denganmu. Apa kau tidak keberatan? Untuk yang terakhir kali?”
Anne berjalan menuju lemari jas dan memakai jas panjangnya.
Seorang asisten datang dan membantu Anne memakainya.
“Aku mau keluar dulu sebentar,” ucap Anne.
“Apa mau saya antar Nyonya?” tanya asisten itu.
“Tidak usah. Aku akan kembali sore, sebelum Thomas datang.
Kau persiapkan saja makan malam,” ucap Anne pada asistennya.
George pun membawa Anne ke dalam mobilnya. Di dalam mobil,
George didampingi oleh seorang sopir. George dan Anne duduk di belakang.
“Kita akan kemana?” tanya Anne.
“Bagaimana kalau ke danau?” jawab George.
Anne mengangguk. “Baiklah. Aku tidak bisa lama.”
“Tenang saja.”
George menatap perut Anne. Anne yang merasakan tatapan itu
kemudian mengelus perutnya.
“Kau sedang mengandung?” tanya George.
Anne tersenyum dengan bahagia. “Iya.”
Seketika aura wajah George berubah. Terlihat kesal dan menyeramkan
di mata Anne.
“Aku selalu membayangkan kau mengandung anakku, Anne. Bukan
si gangster itu!” teriak George.
Anne terkejut ketika George meneriakinya seperti itu.
“George! Kau masih belum sadar juga? Aku sudah bukan siapa-siapamu. Aku sudah
bahagia dengan Thomas, kau tidak mengubah takdirku.”
‘PLAK!’
Tamparan keras mendarat di pipi mulus Anne. Baru pertama
kali dia mendapatkan tamparan dari seorang lelaki. Bahkan Thomas saja tidak
pernah menamparnya. Kini dia baru tahu sifat asli George.
“Anne, maafkan aku..” George merasa kelewat batas.
Anne memegang pipinya yang terasa panas. Dia menahan air
matanya. “Turunkan aku disin!” seru Anne.
Sopir itu terus saja menjalankan mobilnya. Tak mengindahkan
perintah dari Anne.
“Maafkan aku Anne…”
George mengeluarkan sebuah kain dari sakunya, kemudian
membekap Anne dengan kain itu. Anne sempat berontak namun akhirnya dia tak
sadarkan diri menghirup aroma menyengat dari kain yang disumpalkan ke hidungnya
itu. Anne tak sadarkan diri di pelukan George.
“Segera jalan ke pelabuhan!” perintah George pada sopirnya.
***
Thomas masuk ke dalam rumah tepat waktu. Dia mencari-cari
Anne ke setiap ruangan rumahnya. Namun dia tak menemukan Anne. Saat seorang
pelayan melintas, Thomas segera menghentikannya.
“Dimana istriku?” tanya Thomas.
Pelayan itu yang ekspresinya sudah mencurigakan akhirnya
menjawab. “Tadi ada seorang tamu Tuan, lalu Nyonya pergi bersamanya. Nyonya
bilang akan segera pulang sebelum Tuan datang, tapi sampai sekarang Nyonya
belum pulang,” jelas pelayan itu.
Thomas pun mulai khawatir. “Siapa tamu itu?”
“Eh… Tuan George,” jawab pelayan itu.
Dengan segera Thomas pun kembali memakai jasnya dan keluar
dari rumahnya memacukan mobilnya dengan secepat yang dia bisa.