
'BRAK!'
Anne membanting pintu kamarnya, segera dia hempaskan seluruh tubuhnya ke atas tempat tidur. Seketika dia menyesali keputusannya menerima pernikahan politik itu. Anne menangis sambil membenamkan wajahnya ke atas bantal. Dia kesal pada dirinya dan keadaan. Tak adakah cara lain selain menerima Thomas untuk menyelamatkan keluarganya dari pertumpahan darah? Jawabannya, tidak ada.
Anne menghentikan tangisannya, kemudian beranjak menuju meja kerja tempatnya belajar dan membaca. Dia keluarkan secarik kertas dan mulai mengisi penanya dengan tinta.
Dear George.
Kekasihku, aku begitu mencintaimu sehingga tak ingin kehilanganmu. Beberapa hari lalu, kakakku diserang oleh gengster dari Birmingham bernama The Blinders. Sepertinya kelompok kakakku tidak bisa melawan The Blinders. Mereka bernegosiasi dan berakhir dengan kesepakatan perdamaian. Perdamaian atas nama pernikahan. Kakakku menjualku pada pemimpin The Blinders, Thomas Scott. Awalnya aku bersedia karena kupikir, ini saatnya aku menghentikan pertumpahan darah dan menyelamatkan keluargaku. Tapi aku sadar, aku tidak ingin mempertaruhkan kebahagiaanku.
George, besok lusa aku akan menikah di gereja dan setelah menikah aku akan dibawa ke Birmingham. Aku ingin kau datang diam-diam dan bawa aku pergi sejauh mungkin dari Inggris. Mari kita hidup bahagia bersama.
Dari aku, kekasih yang merindukanmu.
Maria Anne.
Anne menyimpan penanya dan melipat kertas itu. Besok dia akan meminta tolong pada Charlotte untuk memberikannya pada George di perpustakaan.
***
Pagi itu rombongan dari Birmingham datang menuju hotel tempat Thomas menginap di London. Dua mobil hitam Bentley berhenti di pelataran hotel. Dari mobil pertama keluar seorang wanita paruh baya namun masih berdandan dengan tampilan elegan dan mengintimidasi, seorang wanita muda cantik berambut pendek dan seorang lelaki muda dengan potongan rambut yang sama dengan Thomas.
Di mobil kedua, turun seorang lelaki yang lebih tua dari Thomas dengan kumis yang panjang dan potongan rambut khas The Blinders beserta istrinya. Mereka semua masuk ke dalam gedung hotel dan langsung menuju suite yang disewa Thomas.
"Dimana Tomy?" tanya wanita paruh baya itu, bernama Poly pada anak buah Thomas yang membukakan pintu kamar.
Belum sempat pertanyaan itu dibalas, Thomas muncul dengan jubah tidurnya. "Selamat datang di London Bibi Poly," ucap Thomas.
Poly menatap tajam dan menghampiri keponakannya dengan kesal. 'PLAK!'
Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Thomas.
"Bibi!" seru Adda, wanita muda berambut pendek itu.
"Kenapa kau tiba-tiba memutuskan untuk melakukan pernikahan dengan anggota keluarga The Alexanders?" tanya Bibi Poly. "Kau bilang kau akan melebarkan sayap bisnismu di London?"
"Itulah yang kulakukan. The Alexanders tidak bisa kukuasai dengan mudah, Pernikahan ini adalah jalan untuk bisnis," jawab Thomas.
"Oh ya? Bukan untuk pelampiasan karena pengkhianatan Grace terhadapmu?" ucap Bibi Poly, membuat semua orang menatapnya.
Kata "Grace" adalah kata yang terlarang diucapkan pada saat ada Thomas.
Thomas memalingkan muka dari Bibinya. Bibi Poly adalah pengganti kedua orangtuanya dan penasihatnya di The Blinders. Kelompok yang dibangun atas dasar ikatan darah dan persaudaraan. Perkataan Bibi Poly kerapkali terlalu jujur, tapi itu yang dibutuhkan oleh Thomas sebagai pemimpin. Penasihat yang jujur.
"Biarkan aku melakukan sesuatu demi keluarga ini dengan caraku sendiri," ucap Thomas tanpa menatap Bibi Poly.
Lelaki yang lebih tua dari Thomas, Arthur, kemudian melangkah menuju adiknya. Arthur memegang pipi Thomas dengan kedua telapak tangannya. "Baiklah. Aku percaya padamu, Brother!" ucap Arthur, mensupport keputusan adiknya.
Arthur menatap anggota keluarganya yang lain. "Ayo kita rayakan pernikahan ini!" serunya.
Arthur adalah yang tertua di antara The Blinders bersaudara, tentunya setelah Bibi Poly. Namun, pemimpin dari The Blinders adalah Thomas, yang merupakan anak nomor dua. Thomas dikenal dengan sikapnya yang tidak mudah tersulut emosi dan cerdas. Kecerdasannya selalu menyelamatkan The Blinders dari berbagai masalah yang diakibatkan oleh anggota lainnya. Arthur terlalu sembrono dalam bertindak dan mudah tersulut emosi. Arthur akan tampil apabila ada perang dan eksekusi lainnya.
Adda, adalah adik dari Thomas, anak nomor tiga. Adda adalah anak perempuan satu-satunya dari keluarga Scott. Ada selalu bersama Bibi Poly untuk mengurus urusan dalam dari The Blinders. Adda dan Bibi Poly adalah pengendali The Blinders apabila para lelaki di keluarga itu tidak ada di Birmingham.
Jhonny adalah anak lelaki paling muda dalam keluarga Scott. Dia masih suka bersenang-senang dan berlagak dengan nama The Blinders yang tersemat di namanya. Jhonny akan selalu ada apabila kakak-kakaknya membutuhkannya.
***
Anne begitu hati-hati saat mengeluarkan gulungan kertas dari dalam sakunya pada Charlotte. William sedang berada di ruang kerja. Dia tidak ingin rencananya untuk melarikan diri bersama George gagal karena ketidakhati-hatiannya.
Charlotte menerima gulungan kertas itu. "Apa ini?"
"Ini surat untuk George. Siang ini, tolong berikan ini pada George di perpustakaan. Kau tidak akan diikuti oleh Martin. Aku minta tolong padamu, untuk pertama dan terakhir kali," ucap Anne memelas, dengan suara berbisik.
Charlotte menatap Anne dengan ragu. Namun akhirnya dia mengangguk. "Aku akan bersiap-siap."
Anne mengangguk kemudian memeluk Charlotte. "Terima kasih."
Charlotte masuk ke dalam kamarnya dan perasaannya begitu berkecambuk. Perlahan dia buka gulungan kertas itu dan membaca isinya tanpa sepengetahuan Anne. Matanya terbelalak saat membaca rencana pelarian itu. Dia prihatin dengan nasib Anne, tapi dia lebih takut apabila William mati oleh The Blinders.
"Tidak, aku tidak boleh menggagalkan pernikahan ini," ucap Charlotte.
Dengan cepat dia menuju meja kerja dan mengeluarkan secarik kertas dan membasahi penanya dengan tinta, kemudian menulis sebuah surat. Dengan hati-hati, Charlotte menirukan tulisan tangan Anne.
Dear, George.
Kekasihku, aku adalah seorang wanita yang begitu mencintaimu sehingga aku tak mampu bertemu untuk menyakitimu. Dengan surat ini, berat hati aku sampaikan bahwa kita tidak akan bisa bertemu lagi selamanya. Saatnya aku menjadi penyelamat untuk keluargaku. Aku akan menikah untuk menyelamatkan keluargaku dari pertumpahan darah. Maafkan aku. Kau akan dengan mudah mendapatkan wanita yang baik untukmu.
Dari aku, si wanita malang.
Maria Anne.
Charlotte menyimpan penanya, kemudian menggulung kertas itu kemudian membuang surat asli yang Anne tulis untuk George. Setelah itu dia pun bersiap untuk pergi ke perpustakaan.
***
Charlotte berhati-hati saat pergi ke perpustakaan. Dia pastikan tidak ada satu pun anak buah dari kekasihnya mengikutinya. Sesuai petunjuk Anne, dia akan bertemu George di lorong rak buku paling ujung di perpustakaan.
George menunggu kedatangan Anne sambil membaca buku di lorong. di antara rak buku. George melihat kedatangan Charlotte. George dan Charlotte pernah bertemu saat Anne mengenalkan George pada William dulu.
"Charlotte?" bingung George.
"Kau masih menjalin hubungan dengan Anne?" tanya Charlotte dengan suara tertahan, agar tidak terdengar orang lain.
George mulai khawatir, apakah hubungannya sudah terbongkar oleh William. Dia khawatir terjadi sesuatu pada Anne. "Apa William tahu?"
"Ya," ucap Charlotte, dusta. "Aku ke sini masih dengan kemurahan hati. Lebih baik kau pergi dari London sebelum anak buah William menemukanmu, demi keselamatanmu."
George terdiam.
Charlotte mengeluarkan gulungan kertas dari dalam tas tangannya. "Ini untukmu dari Anne. Anne memintaku untuk memberikannya padamu."
George menerima kertas itu.
"Satu lagi, jika kau benar-benar mencintai Anne, tinggalkan dia," akhir Charlotte kemudian pergi dari tempat itu.
Charlotte merasa tidak enak hati terhadap Anne, tapi dalam pikirannya dia sedang dalam misi menyelamatkan The Alexanders dari pertumpahan darah. Kebohongan demi kebaikan, diperbolehkan bukan?
George termenung sambil menatap kertas berisikan perpisahan dari kekasihnya itu. Hatinya hancur dan tak berdaya. Apalah daya, dia hanya rakyat jelata yang mencintai seorang putri keluarga kaya dan berbahaya.